Rabu, 18 April 2012

Salahkan Cinta

    "Tidak..tidak...tidak. Apapun alasannya, aku tidak setuju!"
    Pemuda itu beranjak. Meninggalkan wanita yang telah melahirkannya dua puluh tahun silam itu diteras rumah sendirian. Berlalu tanpa pamit sedikit pun. Tak lama, terdengar daun pintu kamar dibanting dengan keras.
    Wanita itu maklum atas penolakan tersebut. Penyebabnya hanya satu. Usia. Benar kata putranya barusan, "memangnya sudah tidak ada pria yang sebaya dengan ibu?".
    Tapi silakan salahkan cinta yang datang dengan tiba-tiba yang tidak bisa ditolaknya. Apakah pantas ia menyebutnya sebagai korban cinta?
..........
    "Memang tidak ada hukum melarang itu. Tapi apakah tidak ada wanita lain dihatimu. Bukankah Tasya terus mengejar-ngejarmu? Ingat, Zach, ia sebaya dengan ibu."
    Zach tercenung. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh ibunya. Tapi benar juga yang mungkin akan dilakukannya tidak ada salahnya. Salahkan cinta yang datang menghampiri. Anggap saja ia korban cinta.
...........
    "Tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia menerimamu. Terutama Deni. Ia sebaya denganmu. Sangkalnya bukan karena tidak bersedia mendapatkan ayah tiri. Tetapi usiamu yang terlalu muda, Zach."
    Zach memandang lautan lepas dihadapannya. Kemejanya di terpa oleh angin pantai. Hingga tertarik-tarik ke belakang. Begitu pula dengan celana panjangnya. Sementara Xena memilih membelakangi pantai. Jadilah kerudungnya berkibar-kibar tepat dihadapannya.
    "Ibuku juga tidak mempermasalahkan cinta ini. Hanya saja diantara kita ada sesuatu yang tidak lazim di masyarakat."
    "Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Xena.
    Zach mengacak-acak rambutnya sendiri. "Ah..." Tukasnya kemudian.
    "Ada ide?" Zach kembali bertanya.
    "Ku rasa kita tidak mungkin lagi melanjutkan ini semua. Bukanlah laut ini cukup luas untuk menampung sampah cinta diantara kita?"
    "Maksudmu?"
    "Tasya dekat dengan ibumu dan bermimpi ingin menjadi bidadarimu, bukan? Begitu pun dengan aku. Oki terus menanyakan kesedianku untuk menerimanya menggantikan posisi ayahnya Deni."
    "Kau rasa itu yang terbaik?"
    Xena mengangguk.
    Zach meraih HP di saku celananya. Menekan-nekan tomboh disana sejenak. Lalu, "Assalamu'alaikum Tasy, ibuku ingin mendapatkan seorang menantu secepatnya. Maukah kau...?
    Xena juga melakukan hal sama. Membuka tas jinjingnya. HP didekatkan ke telinga kakannya. "Hallo, Oki, kurasa anak-anakku tidak keberatan kau menjadi ayah baru mereka...."

    

0 Messages:

Posting Komentar

 
;