Rabu, 06 November 2013 0 Messages

PEMBALASAN F1ZER

Wah hebat Fizer. Sejak sore, motor antikku itu telah berhasil membuat kalori dalam tubuh kurusku terbakar ludes. Menginjak starter berkali-kali hingga berkeringat. Hidup setelah ganti busi. Kirain langsung beres. Eh, setiap kali berhenti, maunya minta di lap businya. Kebanjiran? Bukan! Minta ganti tuh.

Dan minta ganti itu belum terlaksana lantaran malam menjelma. Aku sangsi kalau masih ada bengkel yang buka. Akhirnya aku mengalah. Mengelapnya lagi dan lagi. Puncak dari itu semua adalah pasca shalat isya di Masjid Tumok. Busi tiga buah gonta-ganti, yang di lap pun tak berbuah manis. Ku guncang itu motor, memastikan bensinnya masih ada. Oh, hampir habis. Seberkas cahaya mulai bersinar. Kios bensin terdekat di muka jalan. Lega rasanya.

Delapan ribu menebus satu liter bensin. Mengenyangkan tangki dan memupus harapanku. Fizer tidak juga mau meraung lantang. Nasib motor tua. Eittss, bagaimanapun si Fizer telah menemaniku sejak kelas dua SMK. Itu artinya, kami telah bersama-sama dalam kurun waktu sebelas tahun. Membanggakan, bukan?

Kembali aku melakoni buka bongkar busi. Fizer hidup sejenak, lalu mati. Sementara itu, gerimis tidak lagi menyejukkan badan. Keringat merembes dari pelipis.

"Itulah, saye lebih suka pakai gerete (sepeda)," seorang remaja bersuara wanita berkata pada gadis di kios.

"Iyelah, payahnye motor kalau mogok. Gerete daan gimane-gimane...." timpal gadis itu.

Uhh...berterus terang sekali. Bergosip di depanku yang tengah berjuang keras menghidupkan si Fizer. Tapi sebaliknya, aku sebenarnya ingin tertawa mendengarnya. Aku bungkam. Kedua tanganku tetap bekerja.

"Ini yang terakhir," ucapku membatin.

Fizer mengamuk setelah di ganti busi yang itu-itu juga. Gumpalan asap menggumpal keluar dari corong knalpot. Secara kebetulan menuju dua sosok manusia di kios, tiga dengan penjaga kios yang diam. Dan itu cukup buat menyumbat mulut mereka, kukira. Mereka terdiam, masuk ke dalam.

Bravo Fizer. Sejak lama, aku hampir percaya kita bisa berkomunikasi dengan cara kita sendiri. Puas? Well, aku harus mendorongmu lagi sejauh lima ratus meter untuk mencapai kos. Besok kita lanjutkan lagi membelah kota kecil ini. OK?
Minggu, 03 November 2013 0 Messages

TES CPNS

Padahal masih genap satu jam ke depan. Tapi pukul enam tiga puluh, aku sudah  keluar dari rumah. Setengah jam sisanya, ku perkirakan bakal sampai di tempat tujuan. Kalau, kalau ....... oh tidak, sudah wajar jalan AS kota khatulistiwa pagi minggu ini sesak. Maka, aku pun memacu laju sepeda motor lebih tinggi.

Persis. Bahkan tujuh lewat tiga, saat ku lihat jam HP, SMAN 2 Pontianak sudahpun ramai manusia. Tujuan sama, sama-sama sibuk, dan bersama-sama mencari tempat duduk. Sesuai nomor ujian tentunya. Bukannya mudah menelusuri ruang demi ruang. Memastikan disanalah jatah kursi kita. Yap, apalagi kalau bukan untuk berkutat dengan soal-soal beberapa menit yang akan datang.

Lega setelah akhirnya ketemu. Tidak juga langsung duduk disana, malah keluar lagi sekedar menenangkan diri. Beberapa peserta sibuk dengan catcil di tangan, memandang keatas sesekali, kembali menekuni apa yang tertulis disana. Berulang-ulang, seolah tiada yang memperhatikannya. Memang demikian, kecuali aku he...he... Ada pula yang seolah tanpa beban. Justru memilih ngobrol kesana kemari menghabiskan waktu bersama rekan. Diantara itu semua, kebanyakan sih sibuk dengan HP masing-masing. Aku? aku sibuk memperhatikan!

Jadi begini? Pertanyaan yang semua jawaban hampir betul. Katanya cari yang paling betul, meski aku sendiri bingung menemukannya. Berlalu saat bel menandakan waktu habis berbunyi. Jeda untuk pergi ke kantin belasan hingga dua puluh menit. Itu rata-rata diisi dengan membicarakan soal no ini dan no itu dengan teman kenalan baru. Sepertinya, kondisi senasib seperjuangan bisa menjalin keakraban sesaat. Syukur-syukur berlanjut.

Ujian selanjutnya digelar. Tak ada bedanya. Aku lebih banyak menjawabnya dengan lamunan jauh kemana-mana. Berharap dengan tidak sengaja, ada menawarkan jawaban gratis. Tahu-tahu, satu per satu, peserta Ujian Tertulis CPNS keluar ruangan. Bisa dipastikan, aku lima yang terakhir.......

............
Koran lokal pagi itu cepat sekali ludes. Kios-kios pinggir jalan kehabisan stok. Kemana lagi harus mencarinya? Belum lagi perasaan dag-dig-dug yang tidak karuan sejak semalam. Berkenaan lulus-tak lulus selalu saja menghantui. Kali ini lebih hebat di banding saat menerima kelulusan UAN semasa SMA.

Selalu ada yang lebih dulu dari yang dulu. Sekarang, media cetak yang me-rekap hasil tes tersampir di tanganku. Dapat dari seorang teman yang tentu ikut mendaftar CPNS juga. Apa peribahasanya, setali dua tali (benarkah?). Namanya tidak ada, begitu pula denganku. Asli, kenyataan begitu menyesakkan. Pelan-pelan kesalpun menyusup di hati.
"Ini," Aku menyodorkan koran padanya.
Eh, ternyata ia dongkol bukan main. Berlebih-lebihan dengan mengatakan, "buang saja!"
Gak segitunya kali.

..........
Di kampus hijau pun masih berlanjut. Lulusnya mahasiswa senior dalam tes CPNS waktu itu menyebar kemana-mana. Banyak yang takjub dan terkesima. Ada pula yang sakit hati. Mendapati bukan dirinya yang dibicarakan. Kecuali, kegagalan.
"Lulus ke?"
Gadis itu bertanya kepadaku basa-basi belaka. Kan kita sudah tahu bersama, kalau lulus pasti sudah ketahuan sebelum aku memarkirkan motor.
Pun jawaban sekedar basa-basi pula. "Tidak."

..........
Oho, kenangan sekitar 8 tahun itu menguak saat mendengar banyak teman yang mengikuti Tes CPNS hari ini. Yah, semoga hasilnya yang terbaik saja ya, sob. Insya Allah.
Senin, 28 Oktober 2013 0 Messages

All Dream World

Aseli, KATA-KATA raib dari diriku. Yah, benda abstrak itu seolah lenyap seiring lajunye waktu. Bantuan Dora pun gak mungkin mengembalikannya. Ada ide?

Wooooww, pekerjaan apa ini. Saat sadar aku tengah memegang tang yang melekat pada gigi seekor binatang buas. tinggal di dimensi yang penuh kreativitas ini memang terkadang cukup aneh. Harimau itu menyeringai kearahku dimana aku tepat berada di bawahnya. Seseorang, tidak jelas juga siapa, ku kira bapak atau siapa pun itu, mengatakan, "mencabut gigi taringnya akan mempertajam gigi baru nantinya." Begitulah. Teori yang tidak pernah masuk akal. "Tidakkah ia akan menerkamku," aku memastikan segalanya baik-baik saja. "Tidak," jawab lelaki itu singkat. 

Sementara aku sibuk bekerja, dua pasang mataku dan Harimau itu beradu. Jauh di kedalaman penglihatan binatang kaki empat tersebut, aku mendapati ia tengah tersenyum. Well, entah bagaimana. Namanya juga mimpi kesorean. 

Belum lagi cerita yang mama Dedeh bergabung dalam sebuah Marching Band. Waduh, luar biasa banget! Bisa-bisa saja sih mencari selingan ditengah sibuknya beliau berdakwah, mengisi program rohani Islam pagi hari dan sesekali menjadi bintang iklan produk komersil. Aku tepat di belakangnya. Kami sama-sama meniup Melofon (sebenarnya tidak tahu namanya, baru saja search di google). Oho...luar biasa. Kalau ini kisah lantaran tidur lagi pasca subuh....Maaf Mama Dedeh. Kalau mo nyalahin, salahkan mimpiku saja.
Jumat, 25 Oktober 2013 0 Messages

Wisuda

Masih dengan secangkir WHITE COFFEE KAPAL API GRANDE plus sekantong kue...dari lantai 1 rumah kos (memang tak ade lantai 2 nye)

............
Bangun awal? Uhh...itu satu hal yang agak ku benci. Tapi hari ini jelas berbeda. Lima seperempat bahkan tubuhku telah menjajaki dinginnya air. Segar bukan main, sesegar pikiranku. Ibu sejak subuh belum bertandang sudah wara-wiri membangunkan kami sekeluarga. Hampir seisi kampung kalut dibuatnya, kalau tidak berlebihan. Memang itulah adanya. Orang-orang di kiri kanan rumah telah hidup dibuatnya. Ayah, terutama yang menjadi sasaran "amukan" wanita yang melahirkanku ke dunia itu dua puluh satu tahun lalu. Mmm...masih saja mengucek mata saat beranjak ke belakang. Patutkah aku merasa kasihan?. Sementara dikejauhan, mesin kapal boat telah dipanaskan. Itu, semakin menambah gairah pagi ini. Aku membayangkannya, tersenyum sendiri jadinya.
.........
Motor boat carteran sesak dan mengantar rombongan ke kota Terigas. Sayangnya aku tidak ada disana. Melainkan disini, digedung Aula Kantor Bupati,beserta ratusan wisuda/wisudawati yang tengah berdebar-debar. Satu kata yang kami sepakati bersama yaitu bahagia. Para pemudanya berwibawa, para ladiesnya pula bersaing siapa yang paling cantik. Aku tak habis pikir, berapa jam yang mereka habiskan untuk make-up seperti itu. Untungnya kami lelaki, pakai ini-pakai itu selesai.

Tak lupa, sebelum acara dimulai pukul 08.00, kebanyakan dari kami jepret-jepret. Mengabadikan salah satu momen terindah. Mungkin untuk pertama dan terakhir. Kecualilah bagi mereka yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, aku yakin tidak termasuk yang itu. Menghabiskan tiga tahun ini pun, meliputi keuangan dan pikiran, aku kepayahan. Apalagi mengambil kuliah tambahan? He..he..
..........
Padat merayap. Aku tidak malu kok membawa seluruh keluarga besar dari kampung. Karena, ini adalah kesempatan menunjukkan pada mereka bahwa kita orang desa juga bisa berprestasi. Meski....ah sudahlah. Paling tidak bisa bergelar sarjana juga. Ucapan selamat terlontar sana sini. Tak lepas photo-photo antar wisudawan/wati pun ada dimana-mana. Baik dengan keluarga serta kerabat maupun rekan-rekan selama mengenyam pendidikan. Setelah puas, kami tanpa dipandu mulai meninggalkan lokasi acara. Inilah akhir perjuangan di dunia akademisi. Sekaligus awal memasuki dunia yang lebih real. Menjawab tantangan dan menguji keabsahan pendidikan yang dikecapi selama tiga tahun silam.

Esoknya, saat ku terjaga di pagi hari, tahu-tahunya ada gelar baru disamping sarjana. Yah, pengangguran. Siap-siap menjawab pertanyaan warga, "kerja dimana, Soe?" Mengenyahkannya bukanlah hal mudah. Lapangan pekerjaan makin hari bukannya makin lebar, justru sebaliknya. Sekali lagi mm.....Aha! Ide cemerlang apa ini? Kenapa mesti cari pekerjaan yang jelas-jelas sulit, bagaimana dengan MEMBUKA USAHA SENDIRI? TERDENGAR MENYENANGKAN, KAN?
............
Congratulation buat temans Sentras dari Politeknik Negeri Sambas yang diwisuda hari ini.
Selasa, 22 Oktober 2013 0 Messages

The Tester

"Tidak enak!"

Sesingkat ia meletakkan kembali susu botol di meja stainless besar. Para ilmuan di laboratorium itu tercengang tidak percaya. Jangan-jangan perusahaannya telah memilih orang yang salah. Pun ide ini terdengar gila. Mereka sepakat untuk yang terakhir itu. Kecuali satu orang dari internal perusahaan.

"Apanya?" kepala bagian Research Development mewakili berbagai tanda tanya.

"Kurang manis dibanding merek sejenis. Dan agak hambar di lidah."
Tanpa jasa pemuda itu, bisa-bisa saja mereka sendiri yang mencicipi susu formula bayi itu. Namun, kesuksesan perdana mengesampingkan semuanya. Jelas-jelas meledaknya variasi sabun bayi terbaru punya produsen perlengkapan bayi menjadi tolak ukur. Disamping kontrak yang mengikat kedua belah pihak tentunya.

Cukup sederhana. Ia digaji besar-besar memang untuk berkata sejujur mungkin dari sudut pandang bayi. Kok bisa? Entahlah, ia sendiri bingung. Bakat, yang lebih tepat di sebut anugrah jenis apa yang menimpanya ini. Yang pasti, ia bersyukur punya kelebihan extra unik ini.

Mahasiswa yang hampir Drop Out itu harus bergegas meninggalkan ruang tersebut, lalu menuju produsen perlengkapan bayi. Setelah mengucapkan pamit, sosoknya menghilang di balik dinding.

Selanjutnya handuk. Yah, handuk. Tidak pernah terbayang kan bagaimana menggunakan handuk bayi? Bukan, ia bukan memakainya tetapi merasakan tingkat kenyamanan tekstur dari benda pengelap air itu. Itulah produsen pertama yang melambungkan namanya. Rasanya tidak berlebihan jika kontrak juga mengikatnya disana. Untuk dua tahun lamanya. Meliputi setiap jenis produk yang tengah di godok untuk diluncurkan ke pasar.

"Nyaman." Satu kata untuk handuk bayi yang siap memangsa market share kompetitor lain.
...............
<< Wuih, merangkak lagi mengumpulkan kelihaian menulis yang memang sekarat>>


Jumat, 18 Oktober 2013 0 Messages

Turn Back??

always like this, pikir Coolio.

Yah, musti turn back ke step awal lagi. Menulis itu laksana.....laksana apa ya? Coolio kebingungan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu. Itu? apa yang dimaksud dengan 'itu'?

Sang penulis amatir tersebut tahu bahwa menulis, membaca, menulis dan membaca lagi adalah syarat utama tuk menjadi penulis sukses. Dan sesering ingatannya akan hal itu, seringkali pula dia memilah dan mencari waktu yang, tepat, katanya untuk menulis. In other word, menulis berdasarkan mood. Wow, seharusnya enggak banget deh. Di pelatihan kepenulisan manapun, kamu bakal mendapatkan sang narasumber berbuih-buih mulutnya menekankan hal diatas. Salah siapa coba, kalau Coolio selama ini tidak pernah mengikuti pelatihan seperti itu, SEKALIPUN! Sekalipun, kecuali mencuri dengar saat ia bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan swasta. Hanya itu.

Coolio mulai mengakrabkan lagi jari-jemarinya dengan dasar tuts keyboard. Meski jauh dari janggal, dia merasa ada yang putus antara hubungan otak dengan kesepuluh jarinya. Memang begitu ya, kamu mungkin bertanya-tanya. Coolio menjawab, "memang begitu."

Lanjutnya lagi, "kebiasaan kita menulis itu lambat laun akan menciptakan sistem kepenulisan dalam otak kita. Sehingga ide yang melintas dalam kepala akan segera diproses ke dalam plot. Baru setelah itu rangkaian demi rangkaian muncul silih berganti. Tahap selanjutnya adalah menyusun puzzle tadi hingga jadi alur. Terakhir, baru menuliskannya. Versiku itu bertolak belakang dengan kebanyakan penulis hebat yang justru menuliskan dulu apa yang dipikirkannya, kemudian baru membabat habis-habisan kalimat sampah."

Ah, kamu sok seorang profesional saja di bidang itu!

He..he...Coolio cuma bisanya manyun. Sebenarnya ia tidak benar-benar harus memulai dari nol lagi sih. Selama kurang lebih satu minggu liburan lebaran kemarin, ia membangun sistem di otaknya. Dengan tidak ada satu hurufpun tertuang dalam kata-kata. Dan setibanya di kota TERIGAS ini, Coolio mulai mencongkel imajinasinya sedikit demi sedikit. Mendapat ucapan selamat ulang tahun ke dua puluh delapan tepat lebaran haji kemarin, tidak lantas membuatnya terlena. Sekarang, "here i am," tukasnya tegas. 
Kamis, 10 Oktober 2013 0 Messages

CINTA BANGKIT DARI KUBUR

Violin terkesiap. Apa yang baru saja didengarnya bak halilintar pembelah cakrawala. Ia mencoba untuk bertahan dan berpikir tenang. Sulit memang, berharap dirinya mampu bahkan untuk berucap sesuatu. Sementara Aval yang ada tak jauh dari dirinya melepas pandangan pada lembah jauh dihadapan mereka berdua. Sisa-sisa embun pagi masih menggumpal diatas pepohonan di bawah sana. Bermukim di desa daerah pegunungan menjadikan keuntungan tersendiri kalau begitu.

"Aku tak bisa memberikan lebih," Justru Aval kembali bersuara. Mencoba menangkap perasaan sang calon pengantinnya. Pengantin? Oh, ia telah merusak segalanya.
Bulan depan rencananya pelaminan akan digelar. Pemuda itu telah mempertimbangkan masak-masak tentang ini sebelumnya. Ia ingin Violin tahu bagaimana hatinya. "Apapun keputusanmu setelah mendengar ini, aku jamin, kesalahan akan tertuju padaku. Jadi untuk yang satu itu tidak perlu khawatir."

Violin masih mematung. Mencerna ucapan calon suaminya diawal pembicaraan, "Aku telah membunuhnya sejak hari itu. Tak tahu apakah masih ada atau tidak. Dan yang terakhir adalah jawaban atas perjodohan ini kalau kau ingin tahu." Itu mustahil, pikir Violin. Kata-kata Aval tak lebih dari keputusasaan. Mencintai yang bukan halal dan sayangnya terlalu berlebihan. Inilah akibatnya. Justru yang paling tragis, rasa cinta yang seharusnya anugrah di lubuk hati manusia, bagi Aval menjadi kebencian yang mendalam. Terpancar dari wajah sosok yang dijodohkan kedua orang tuanya.

Namun Violin tetap membiarkan keheningan membungkus mereka.

Aval tidak benar-benar yakin. Kata "membunuh" yang digunakannya sebenarnya bermaksud "mengubur". Jelas berbeda antara keduanya. Dimanakah itu? Akan terjawab ketika menemukan pendamping hidup yang dicintainya sepenuh hati. Itu tidak ditemukannya dalam diri Violin. Meski seandainya Violin mengabaikan keterusterangannya, lalu mereka melaju kepelaminan, bukan berarti ujungnya bakal manis. Pernikahan yang tidak berlandas cinta, ia tidak habis pikir itu ada! Tetapi Aval sendiri yang barangkali bakal melakoninya.

"Yah, terima kasih karena kamu telah berkata jujur," singkat, padat, dan jelas. Violin telah mengambil keputusannya hari ini.

.........
"Terima kasih, atas semuanya."
5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Perjuangan memenangkan cinta suaminya dari sisa-sisa kelam masa lalu berbuah. Violin mendapati doanya terijabah hari ini. Ia telah mengenali tanda-tanda sejak setahun terakhir, tetapi hari ini terungkap sejelas ia melihat hamparan luas lembah dibawah sana. Rasa terima kasih kikuk dari Aval, suaminya disambutnya dengan penuh suka cita.

"Sama-sama."

Bagi Aval pula, empat tahun bukanlah hari-hari yang mudah untuk menghapus berjuta kenangan dengan seseorang. Semakin keras ia berjuang, semakin kuat pula bayangan itu menghantui. Violin terkadang memang terlepas dari pandangannya. Sekarang, pasangan hidupnya itu bukan hanya bertindak sebagai istri sempurna baginya, Violin telah membangunkan Cinta yang terkubur.

Sebelum mereka duduk saling menautkan bahu, Violin berteriak kecil pada si kembar buah hatinya, "Alvin, Alvina, jangan jauh-jauh ya...."

Apa yang lebih indah dari itu??????

He... 06:00 WIB
@ Ruang kamar 3 x 3 m berteman segelas White Coffee Grande dan Gorpis <Goreng Pisang>
Sambas

Tadinya mikir mo tidur lagi pasca subuh. Eeeh ada yang nangkring di pikiran, ketik deh.... have a nice read aja
 
;