Rabu, 15 Mei 2013 0 Messages

Jahitan di Poster

Terlambat penasarannya! Uh...terserah saja. Yang terpenting sekarang aku sudah tahu bagaimana membuatnya seperti itu. 

Tiba-tiba aku bertanya-tanya bagaimana sih nge-print sesuatu yang hasilnya terpotong-potong. Memuaskan diri, maka akupun menghidupkan komputer beserta printer, lalu mengotak-atik ke bagian properties dalam keadaan siap print. Teng-ting-tong. Dan...dapat. Oh, rupanya ada setting-an khusus yang dinamai POSTER. Seringaiku mengembang. Tapi hati yang melakukannya. 

Percobaanpun bermula. File yang kupilih adalah pamplet Sentras (nama usaha jasaku saat ini) yang baru saja kuselesaikan siangnya. Tre...t-tre...t-tre...t. Jadi. Sejatinya pamplet yang berhalaman satu, setting poster menjadikannya empat halaman kertas A4 penuh. Sempurna. 

Sayangkan jika itu harus berakhir di tong sampah. Membuang tinta printer sekaligus kertas yang terpakai meski bekas. Ide ku muncul seketika. Berhubung azan Isya telah berkumandang, apa yang terlintas dipikiranku itu dipending sampai keesokan harinya. 

Esok harinya aku bergegas menunaikan hajat yang tertunda malam sebelumnya. Setelah menggenahkan posisi spanduk kecil punya rekanan di muka kios, saatnya aku mencipta karya. Untungnya sisa double tip yang menempel di dinding masih bisa digunakan. Dan pas sekali untuk ditempeli empat lembar kertas. Tempel sana-sini dan selesai juga akhirnya. 

Sayangnya, pertemuan antar sisi kertas tampak jelas sekali. Berpikir-berpikir-berpikir! Cukup banyak sisa sterofom yang terbengkalai. Memotongnya selebar jari dan agak memanjang menjadi pilihanku. Kemudian ditempel pada pinggir kertas dengan tidak biasa. Sebuah bingkai tidak utuh. Persis yang kubayangkan. 

Selanjutnya memberi sentuhan pada garis perpotongan empat lembar kertas bagian dalam. Ku raih pensil, lalu menggambar titik banyak-banyak secara berpasangan, vertikal dan horizontal. Selanjutnya adalah menarik garis untuk menghubungkan antar titik. Aha! Seolah-olah kertas itu dijahit sebelum ditempel ke dinding. Kesan jahitannya begitu mencolok dan berhasil mengaburkan tiap sisi perpotongan kertas. 

Tak lama berselang aku jadi berpikir. Setiap orang pasti punya kekurangan. Sepertinya tidak perlu menyembunyikan kekurangan tersebut. Justru seharusnya menjadikan diri lebih sempurna dengan kekurangan yang ada.  
Selasa, 14 Mei 2013 0 Messages

Rekans dari Politeknik Terpikat Sambas

Berkaca tahun lalu, beberapa pekan kedepan sepertinya akan intens berinteraksi dengan mahasiswa dari Politeknik Negeri Sambas. Kalau sekarang mereka tengah sibuk dengan laporan magang beserta revisinya, setelahnya akan berkaitan dengan pembuatan Tugas Akhir. 

Ku pikir paling tidak ada juga gunanya ilmu sewaktu kuliah dulu untuk dibagi. Pada teknik penulisan misalnya. Soalnya, Tugas Akhir itu sebenarnya kurang lebih dengan skripsi. Hanya saja yang terakhir itu lebih kepada teknis di lapangan. 

Ada kesenangan tersendiri bisa membantu mereka. Barangkali teringat saat-saat seperti itu ketika masa perkuliahan. Belum lagi keluhan mereka yang terkadang lebih terdengar seperti joke di pagi hari. Bercerita tentang cerewetnya ibu ini, susahnya bapak itu, dan bla-bla-bla. 

Dan kesenangan itu bertambah-tambah saat membayangkan mereka berbalut toga beberapa bulan setelahnya di suatu pagi kelak. Berfoto sambil menggamit tangan kedua orang tuanya masing-masing. Meski susahnya mencari kerja mau tidak mau tetap membayangi pasca kelulusan, satu kalimat di hari itu "itu urusan belakangan".

Berkaca lagi pada tahun sebelumnya, disaat itulah interaksi secara finansial biasanya berakhir. Kalau adapun satu dua jumlahnya. Jelas saja, setelah itu jiwa serta raga mereka sibuk mencari pekerjaan. Belum lagi tuntutan orang tua. Namun perhubungan sebagai teman tetap berlanjut. Bila perlu tiada batas waktu. 
0 Messages

Kisah Burung

Suara anak-anaknya yang masih merah membangunkannya dari lelap. Tubuh-tubuh mungil itu berlomba-lomba untuk direngkuh segera. Ia tersenyum dengan caranya sendiri. Juga mengungkapkan sayang pada generasinya itu dengan caranya sendiri. Saat memanjangkan leher dan mengintip ke luar, semburat cahaya biru muda mengambang di langit timur. Kini saatnya. 

Awalnya ia kaku mengepakkan sayap di pagi ini. Namun itu tidak berlangsung lama. Kemampuannya menaklukkan angin tidak lagi diragukan. Ia terus saja berkeliling menjelajahi hutan yang tidak lagi rimbun. Instingnya sebagai hewan mampu merasakan ancaman akan keberlangsungan hidup habitatnya dimasa hadapan. Pepohonan kekar dan menjulang semakin banyak yang rebah. Berduyun-duyun, seolah setiap saat jumlah pemalak kayu semakin bertambah saja. 

Ia terus melebarkan sayapnya. Sorotan matanya menangkap mangsa pertama. Seekor cacing tengah berkeliaran di tanah becek. Dalam satu kali patukan mudah, binatang merah memanjang itu telah ada di paruhnya. Di sarangnya, ia disambut gembira oleh anak-anaknya yang membuka mulut lebar-lebar. Tiga-empat kali atau lebih ia melakukan itu. Sampai anak-anaknya kekenyangan. 

Waktu berburu kembali tiba. Entah kenapa ada kekhawatiran saat berpisah dengan anak-anaknya. Jelas saja, usia yang masih sangat belia seperti itu sangat rentan dimangsa. Ular pohon paling tidak, dan burung buas lainnya. Diantara semua itu, ada yang lebih membuatnya gusar. Ya, deru mesin penebang kayu semakin hari semakin dekat dengan sarangnya. Bagaimana jika kediaman mereka hari ini mendapat giliran. Tetapi, ia berhasil juga mengesampingkan pikiran tersebut. Ia dilepas dengan teriakan anak-anaknya lagi. 

Hingga sore. Rupanya ia bertualang terlalu jauh hingga memasuki pemukiman warga di pinggir hutan. Tidak seperti biasanya, sekarang tengah musim layangan yang bergentayangan di langit. Menandai musim panen telah berakhir dan manusia akan segera mulai lagi menyemai bibit. Banyaknya benda segi empat itu mengapung di udara, menyempitkan ruang geraknya. Terlanjur ia ada disana, mau tidak mau ia harus melintasi benda-benda tersebut. Padahal sewaktu ia datang tadi tidak demikian. 

Sepasang sayapnya dengan tangkas membuat dirinya meliuk-liuk. Cukup mudah, pikirnya. Tinggal beberapa kepakan kedepan, ia akan terbebas. Tidak ada lagi yang menghalanginya membumbung. Kecuali, sreeet...

Apa ini? teriaknya keras. Sebuah pisau tajam, ah bukan, bukan pisau tapi tali tajam. Tali tajam? Apapun itu  telah berhasil menyabet sayapnya bagian kanannya. Terbangnya pincang, lalu keseimbangannya hilang. Oh, untuk pertama kali atau mungkin saja yang terakhir melihat keadaannya, ia akan mendarat dengan tragis. Sayap kirinya bukannya mencoba untuk mengepak, justru merapat ketubuhnya sendiri. Dalam waktu singkat jaraknya dengan bumi kini semakin pendek. Daya gravitasi menariknya dengan cepat tanpa ampun. Ia terhempas, pasrah, dan tergolek. Bahkan tidak sempat untuk memikirkan anak-anaknya. 

Sementara di tempat berbeda, sebuah pohon sebesar rentangan tangan orang dewasa kembali tumbang. Bersamaan dengan itu, lima ekor anak burung yang baru kemarin menatap dunia harus ikut rebah. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu tubuh mereka telah terpental dan keluar jauh dari sarangnya.


Kamis, 09 Mei 2013 0 Messages

Cerita Pagi

Aha! akhirnya menang juga dipagi ini. Godaan kasur selepas shalat subuh begitu kuat dan biasanya aku termakan untuk tidur lagi. Namun hari ini, memikirkan sepeda motor yang berbedak debu mengalahkan itu. Dengan susah payah aku berjalan ke belakang, mengisi ember dengan deterjen dan sunlight. Bergegas ke jamban mumpung air sungai lagi pasang. Juga lagi, mumpung belum ada orang beraktifitas di sana. Kurang dari satu jam, selesai! Clinggg....motor kembali bersinar cerah (gak segitunya juga). 

Setelahnya, ada godaan lain muncul. Kali ini berasal dari air sungai itu sendiri. Wah-wah, sudah lama sekali tidak mengambang disana. Oleh karena itu, kuputuskan saja untuk terjun. Tentu sebelumnya harus mengantar motor ke teras dan peralatan mencuci tadi pada tempatnya. Mengganti celana panjang ke yang lebih pendek. Siap? 1-2-3! Luar biasa! Seolah semua permasalahan hidup melebur bersama jernihnya air. Aku menyelam beberapa saat. Sebuah motor air membelah badan sungai yang membuat gelombang kecil. Jelas memaksa tubuhku untuk mengikut iramanya. Aku rela saja. 

Tidak perlu berlama-lama. Rutenya hanya antar jamban yang kuperkirakan tak lebih dari dua puluh meter. Cukuplah untuk sekedar meregangkan otot. Barangkali besok lagi, kalau memang memungkinkan. Naik kerumah, lalu membilas diri sebagaimana biasanya. 

Menyiapkan minuman panas dari kopi putih instan adalah yang kulakukan beberapa menit kemudian. Disamping itu, netbook pun dinyalakan. Berselancar sejenak di dunia maya. Bla-bla-bla, hampir pukul tujuh, kesadaranku mulai berkurang. Entah bagaimana, saat memandang layar yang sepuluh inci itu membuatku mengantuk. Tak ayal lagi, netbook kumatikan, kopi yang mulai dingin ku tutup sekenanya, lalu rebah lagi. Setumpuk pakaian yang belum sempat dilipat menjadi sasaranku. Sepertinya enak tiduran disana, dan ohoo tidak salah sama sekali. Alarm hp ku stel hingga pukul delapan kurang dua puluh. Itu jam dimana aku harus bersiap-siap berangkat keluar rumah. Setelah itu, HP sengaja ku-off kan. Tak ingin terganggu. Waktu berjalan seperti keong. Singkat namun lamban. Bermimpi atau tidak, aku tidak pasti. Yang kutahu, tidur dalam waktu puluhan menit tersebut terasa begitu lama durasinya. Dan aku terjaga satu menit lebih awal dari seharusnya.


Senin, 06 Mei 2013 0 Messages

First Experience to Find A Job

Hari itu menyenggat sungguh. Debu terbang sesuka hati tanpa ampun dari dum-truk yang melenggang santai. Seolah senang akan lubang jalan yang bertaburan dimana-mana. Sepeda motor dan kendaraan umum tidak mau ketinggalan ambil bagian. Di kawasan Jeruju, aktivitas tidak pernah terhenti barang sedetik. Riuh rendah dari manusia dan desing mesin-mesin. Dan aku bergabung disana.  

Sengaja aku memacu kendaraan dengan alot. Berharap tentunya apa yang dicari segera ketemu. Papan nama bertuliskan sebuah lembaga bahasa kursus Inggris. Alamatnya memang ada dijalan ini, tapi nomor bangunan yang tidak lagi tersusun apik sungguh menyulitkan. Terlebih, di kota ini aku adalah orang baru, orang pendatang. 

Berhenti mengambil nafas sejenak serta menambah sedikit informasi. Mudah-mudahan ada hasilnya. Rupanya nihil sama sekali. Orang yang kutanyai keberadaan lembaga kursus bahasa Inggris tersebut bisanya cuma menggelengkan kepala. Yah, semoga saja aku tidak mengganggu jualan buahnya. Toh, beliau memang tidak tengah melayani pembeli kok. 

Aku terus bergerak. Kiri kanan mataku melihat. Memastikan tidak ada yang terlewat. Kuakui ini cukup berbahaya. Konsentrasi pecah antara menjejaki dan berkendara. Hingga akhirnya, diantara ribuan papan nama dari yang ada, nama lembaga itu terselip kecil disitu. Di sebuah pasar yang padat pengunjung atau sekedar lalu lalang.

Suatu pagi di beberapa hari setelahnya. Sejuknya kota hanya bertahan sampai pukul menjelang tujuh. Atmosfir hangat merambat dari aspal yang di tindih berbagai bentuk pengguna jalan. Gesekan antara karet ban dengan tubuh aspal, menciptakan panas tidak tertahankan.

Untungnya aku lepas dari itu semua. Sengaja pergi berpagi-pagi dengan tujuan datang tepat waktu. Dan ternyata tidak hanya tepat waktu, kedatanganku terlalu pagi. Terserah dari definisi manapun, lembaga itu tidak menerapkan disiplin ketat. Bahkan waktunya selentur karet gelang. Padahal seharusnya acara interview dan seleksi dimulai pukul tujuh, tujuh kurang lima menit pintu depan masih tergembok. Kalau tidak salah, beberapa puluh menit setelahnya baru datang sesosok wanita melepas kuncinya. Ia adalah seorang custumer service.

Tetek bengek pun berlanjut dengan tergesa-gesa. Ruang praktek mengajar sepertinya belum disiapkan, termasuk sang interviewer belum datang. Sementara peserta lain sepertiku mulai bermunculan satu per satu. Berkenalan dengan sesama pelamar, eh rupanya dia memang sedang kuliah di ABA (akademik bahasa asing), jurusan bahasa Inggris pula. Aku ciut? Tidak, toh ku anggap ini adalah pengalaman melamar pekerjaan perdana. Berbekal pengetahuan autodidak belajar bahasa Inggris, kukira memang tidak mungkin ada lembaga yang mau mempekerjakanku sebagai instruktur. Bagaimanapun, proses selesksi berjalan dan aku mengikuti saja.

Pertama-tama mengisi beberapa soal sederhana yang dilanjutkan dengan speaking test. Disini setiap orang diberi tugas untuk menyampaikan materi tertentu. Kebetulan aku dapatnya kebagian mengajarkan tentang "take". Pelamar lain sungguh mantap bahasa Inggrisnya! Cuma aku yang keteteran dan musti mencampur bahasa Indonesia sedikit. Sedih gak tu?

Sudah dapat ditebak hasilnya. Aku memang tidak terlalu berharap untuk lulus seleksi. Berkaitan dengan letak lembaga itu cukup jauh dari rumah, juga mengukur kemampuan diri baru setipis kulit ari.

Waktu terbang memasuki hitungan tahun sejak hari itu. Saat melintasi lembaga kursus tersebut, plang nama yang menunjukkan keberadaannya tidak ada lagi. Kemungkinan pindah ke tempat yang lebih besar. Atau kemungkinan lain, lembaga itu hanya tinggal sebuah sejarah. Entah bagaimana, hati kecilku cenderung pada pendapat kedua. Mengingat sistem yang belum terbangun dan fasilitas lembaga yang kalah bersaing kala itu.


Jumat, 03 Mei 2013 0 Messages

Bakat Terpendam

Senang bisa menemukan satu lagi hal yang dapat mengusir kejenuhan, selain memasak dan menulis tentunya. Menggambar memang bukanlah hal asing bagiku. Hanya saja terlampau lama ditinggalkan. Kalau istilah sekarang, kurang terupdate. Jadinya bakat itu tidak pernah berkembang sama sekali. 

Dan kesempatan itu terbuka lebar. Namun justru bingung untuk memulainya dari mana agar menjadi profesional. Simpel saja sebenarnya, tinggal ikut kelas melukis yang pastinya tersedia paket dari pemula hingga  advance. Memang sih, namun masalah klasik menjadi kendala. Apalagi kalau bukan tentang money. So, pilihan yang paling masuk akal adalah autodidak. Meski tidak ada ukuran jelas atau barangkali kabur untuk menuju kepada keahlian mapan. 

Ah, kalau di pikir-pikir ini sebenarnya masa menemukan diri. Saat menanyai mbah google mengenai cara mengenal potensi diri, jawabnya tak lebih dari "kalau kau selalu senang dan tidak ingat untuk makan ketika melakukannya, di situ lah potensimu."

Aku tidak menyangkal. Saat memasak, segala permasalahan menguap seperti air dibawah terik mentari. Pikiran menjadi terbuka, dan senang ketika kita atau orang lain menyantapnya dengan lahap. Itu yang pertama. Kedua, menulis ini punya momok tersendiri. Tidak perlu dipertentangkan lagi bahwa mood terkadang mengambil alih potensi yang satu ini. Banyak praktisi yang berasal dari penulis hebat menekankan jangan menulis berdasarkan mood atau peralatan tertentu. Menulislah! tegasnya. Saat mengetik kata demi kata, membuat plot atau alur cerita, memberikan sentuhan emosional pada tokoh kita, ya kalau semudah itu, biasa menulis menjadi hal yang sungguh menyenangkan. Tidak sabar rasanya untuk menuntaskannya segera. Dan lainlah kalau yang terjadi justru sebaliknya. Nanti lah....adalah kata pamungkas untuk membenarkan kemalasan diri. Makanya hingga kini karya tulisan baru setipis kulit ari. 

Terakhir, menggambar. Kalau memasak iramanya adalah desisan api biru dan berdendang hentakan jari, saat menggambar aku lebih senang bernyanyi. Kayak anak kecil saja. Nyatanya memang begitu. Saat menggambar animasi tertentu, sadar tidak sadar justru mulutku menyanyikan soundtracknya. Saat menggambar sketsa lady, entah bagaimana yang keluar adalah lagu tentang cinta. Uh...

Dan ini adalah gambar keempat yang kutempel pada dinding dimana telah ada dua gambar lainnya. Sekedar mengisi waktu senggang. 
Rabu, 01 Mei 2013 0 Messages

Behind the 2 Pics

Aku tengah corat-coret diatas kertas putih polos ketika temanku itu datang. Beliau bekerja di salah satu bank swasta syariah di kota ini. Kami berjabat tangan dan ia langsung duduk setelahnya. Pembicaraan selanjutnya bertukar kabar dan hal-hal yang ringan. Hingga akhirnya pada topik apa yang ditempel di dinding.
Alamak!
Terlanjur tampak, aku langsung menjelaskan saat beliau mengungkapkan, "ada bakat terpendam nih, bang."

Menggambar atau melukis sebenarnya bukanlah hal asing bagiku. Hobi ini telah menjalar sejak SD. Siang, setelah pulang sekolah dan makan, aku biasanya tengkurap sendiri di beranda ditemani pen dan buku bekas. Tak lain, yang tengah kukerjakan adalah menggambar kartun. Masa anak-anak adalah masa dimana imajinasi kita bergerak tanpa batas. Kalau anak-anak lain barangkali perlu dongeng sebelum tidur, maka aku mendongengi diri sendiri lewat coretan-coretan tak jelas tersebut. Tak peduli lah bentuknya lain sama sekali dengan superhero andalan, yang penting alur cerita yang direka bisa menghanyutkan. Lembar pertama adalah untuk menggambar sang jagoan dan musuhnya. Lembar kedua, mungkin, aku lupa, dimana dua sosok tadi tengah bertempur, dan begitulah seterusnya. Tak lama kemudian, tahu-tahu mata pena tidak lagi bergerak, sementara aku telah hanyut dalam mimpi.

Menggambar pakai pensil tidak seru! Oleh karena itu, pena apapun tidak boleh menganggur sedikit. Dan yah, pena bapak yang selalu menjadi korban. Ketahuan, beliau menggerutu. Aku monyong sebelum berhenti. 

Aku tertawa, "ah, biasa saja. Sikit-sikit bisalah." Itu sekedar respon atas tanggapan temanku tadi. 

Sambil menunggu pelanggan datang, kuraih pensil 2B dan kertas HVS ukuran A4. Tekstur permukaan meja komputer yang bergelombang-gelombang, menjadikan enak mengarsir diatasnya. Dan.....inilah hasil perdananya kemarin siang. Dan ini pula yang kucari kemana-mana sejak pagi. Eeh, rupanya tadi malam ku tempel dengan senang hati di dinding. Padahal niatnya mau di lepas saja keesokan harinya. Ketahuan deh!












Perbincangan kami berlanjut ke pembahasan lainnya. Sopan tidak sopan, entahlah. Aku berbincang sambil menarikan pensil 2B di atas kertas HVS yang berukuran A4 lagi. Tema ini telah ku rekam dalam memori sejak kemarin. Visualisasinya baru nampak sedikit. Kami berbincang, tanganku menggambar. Karya kedua, ini dia.....ku beri nama RoseLady. Komentar teman di FB mengatakan "Pujangga Baru". 


Sore ini, ada gambar yang hendak di buat dengan tema berbeda tentunya. Nyatanya, kemampuan menggambarku masih cetek. Semakin banyak coretan yang dibuat, sebanyak itu pula penghapus menyamarkan jejak. Itu petanda hasilnya tidak bakal maksimal kalau dipaksakan. Lebih baik mencari aktivitas lain. Kusadari, menggambar dua karya diatas tidak dilandasi dengan unsur pemaksaan diri. Mengalir begitu saja seperti air. Besok saja, kalau memungkinkan. 

Gambar dua telah ku tempel dengan yakin tepat dibawah gambar pertama. 



 
;