Senin, 13 Februari 2012 0 Messages

Panggung Cinta Bertopeng (Bagian 5)

    "Good Job, kawan. Selamat proposalmu diterima."
    "Alhamdulillah, ini semua tak lepas dari bantuan dari rekan-rekanku."
    Proposal penelitian daerah perbatan RI-Malaysia yang aku ajukan berhasil lolos. Dan proyek penelitian itu menjadi tanggungjawabku sekarang. Tentu ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi karirku.
    "Apa langkahmu selanjutnya?"
    "Ini memang bukan penelitian untuk pertama kalinya mengenai daerah perbatasan. Namun, kami akan melebarkan sayap lebih luas dimana bukan hanya pada aspek ekonomi dan politik, tapi sosial, budaya dan lingkungan juga akan include di dalamnya."
   Aku diam sejenak. Menyeruput cappucino yang masih mengepul-ngepulkan asap kemudian menghilang. Sementara Nasution tengah sibuk memikirkan apa yang barusan didengarnya. Tangannya memainkan sendok didalam gelas berisi cairan pekat. Sesekali kepalanya turun naik.
  Ku melanjutkan ucapanku tentang rencana tim penelitian kami selanjutnya.
    "Dalam waktu dekat kami akan menggandeng World Wildlife Fund dan dua universitas dari Malaysia untuk menggelar workshop internasional dengan tema "Pembangunan Berbasis Lingkungan di Daerah Perbatasan Indonesia-Malaysia-Brunei, Kawasan Heart of Borneo: Sebuah Pendekatan Multi Disiplin." * Brunei juga termasuk negara yang terlibat disini. Karena negara tersebut juga berbatasan langsung dengan pulau kita."
    "Menarik." Jadi apa yang bisa kami lakukan dari pihak pemerintah daerah.
    "Aku kesal. Apa saja sih pekerjaan kalian disana. Aku meminta atas nama sahabat, warga dan akademisi agar kamu dan lembaga yang menaungimu segera berbuat sesuatu. Menonton tidak akan menyelesaikan masalah."
    "Tidak semudah itu kawan. Meskipun posisiku sekarang sebagai Kepala Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Pedalaman dan Daerah Tertinggal, namun kita bekerja ada aturannya."
    "Selalu. Itulah senjata pamungkas kalian."
    Nas mendesah. Mungkin terlalu bingung untuk menjelaska padaku. Tepatnya memberikan pengertian. Ia tersenyum sinis sendiri.
   "Apakah makan siang ini hanya sebuah penghakiman buat diriku?" Kemudian Nas mencoba mengalihkan pembicaraan.
   "Aku menagihnya kembali lain kali selama kau duduk disana tanpa berbuat apa-apa."
   Nas menempelkan telapak tangan kanan diatas jidatnya. "Ya ampun." Tukasnya kemudian.
   "Kamu ingat Laras? Teman SMU." Ku memutar stir pembicaraan.
   "Laaras." Susah payah Nas mengingat sosok pemilik nama itu. Bayangan teman-teman wanita semasa SMU berkelebat di pikirannya.
   "Anggap saja mantan ku." Jujur aku tidak suka menggunakan kata "mantan". Tapi apa boleh buat. Itu akan memudahkan Nas untuk mengingat wanita itu.
    "O..iya. Baru aku ingat. Primadona SMU." Nas bersiul.
    "Tadi aku melihat wajahnya. Maksudku, mahasiswa bimbingan skripsiku memiliki wajah yang mirip dengannya. Bagai pinang tidak dibelah." Aku menjelaskan inti pertemuan kami sesungguhnya.
    "Sekalian saja dibelah sepuluh." Nas memunculkan tabiatnya yang suka usil terhadapku.
    Ia melanjutkan, "Apakah kamu berencana mencari pengganti Maya secepatnya?"
    "Enam bulan seharusnya cepat berlalu. Tetapi tidak sepeninggalannya. Aku terasa kewalahan menangani Hani sendirian. Meskipun akhirnya aku sudah sangat terbiasa. Tapi tetap saja tidak sama antara laki-laki dan perempuan. Perempuan itu punya sense yang cukup dalam. Sedangkan aku. Aku memang tidak menyukai anak-anak kecuali putriku sendiri. Itulah masalahnya. Berbeda dengan Maya, sebelum menikahpun ia sudah menunjukkan sifat keibuannya."
     "Aku mengerti perasaanmu. Kamu tentu sangat merindukan Maya kan, Dan?"
     Aku mengangguk.
     "Apakah kamu masih mencintai Laras?"
     "Gadis bernama J itu mengingatkanku padanya. Boleh jadi dia anaknya." Aku mengangkat gelas berisi minuman kecoklatan itu sebagai tegukan terakhir.
     "Apakah kamu masih mencintai Laras?" Takut-takut Nas bertanya lagi.
     "Tidak. Tetapi mungkin, jika ada kesempatan kedua."
     "Apakah kamu lupa bagaimana ia mencampakkanmu demi Reynold?"
     "Seandainya Maya ada disini. Tentu aku tidak akan pernah memikirkan ini lagi walaupun kesempatan kedua itu benar-benar ada. Maya bagai malaikat buatku. Melaluinya aku mendapat hidayah. Aku sangat bersyukur atas iman ini."

Next-------->  Insya Allah

* Referensi: Kompas.com

Minggu, 12 Februari 2012 0 Messages

Panggung Cinta Bertopeng (Bagian 4)

     "Hey J" Bu Lena menyapa gadis yang mengikuti belakangku
     Sapaan yang terdengar sangat akrab dari seorang dosen pada mahasiswanya. Tapi itu lumrah. Aku hanya tidak menyangka.
     "Ya, bu" Mahasiswi yang dipanggil J itu membalas malu-malu.
     "Silakan duduk. Saya tidak punya banyak waktu." Aku meminta.
     "Kamu beruntung pak Daniel." Lagi bu Lena sok ambil peduli terhadap ku. Tapi kata "beruntung" mengusik rasa penasaranku.
    "Beruntung?" Aku mengerutkan kening
    Bu Lena tiba-tiba gusar. Seperti ada yang salah dengan kata-katanya sendiri. Padahal yang menjadi sasaran ku adalah kata "beruntung". Tapi sepertinya bukan kata itu yang membuatnya gelisah. Sejenak ia terdiam. Mencari kata yang tepat untuk menjawab sekaligus menjelaskan apa yang kutanyakan.
    Terbata-bata ia mengatakan "J, J itu anak yang cerdas."
    "Well, semoga. Bukankah begitu J"
    Sekarang aku hanya tidak ingin berlama-lama dengan mahasiswi ini. Aku tahu dia sangat perlu berkonsultasi denganku sama perlunya aku ingin menghadiri pertemuan pagi ini.
     Mahasiswi tersebut langsung duduk di depan meja. Kami saling menghadap. Baru kali ini aku benar-benar melihat rupa wajahnya dengan seksama. Tak sadar aku terpaku. Wajah itu?.
     Lamunan ku buyar seketika ia memanggil namaku pelan. Ingatanku melampaui puluhan tahun silam. Tentang sesosok yang mirip gadis itu dan juga tentang harapan-harapan indah kala itu. Beruntung, ia berhasil menarikku kembali ke saat sekarang ini. Mengingatkanku untuk apa kami saling berhadapan.
    "Jayanti Rahman. Apa yang kau angkat lady" Ku baru tahu nama lengkapnya dari naskah skripsi yang disodorkannya kepadaku. Boleh jadi panggilan "J" diambil dari huruf depan namanya.
    Ia menjelaskan sekilas judul beserta tema penelitiannya. Mataku menjelajahi secara random dan membolak-balik tiap halaman. Sementara, penjelasannya tidak terlalu ku gubris. Sebenarnya aku hanya ingin mengetahui apakah ia benar-benar menguasai apa yang telah dituliskannya.
    Panjang lebar ia menjelaskan. Intinya telah ku dapat ketika membaca poin latar belakang.
    "Lalu apa yang kau temukan?"
    "Pergeseran itu terjadi pada dasawarsa terakhir. Hipotesis itu diterima. Tetapi, seperti yang saya tuliskan pada bab terakhir, bahwa ini belum bisa digeneralisir. Karena, persebaran media komunikasi di Indonesia masih belum merata. Meskipun sudah memasuki pelosok-pelosok negeri. Disini juga tertulis beberapa kendala yang dihadapi oleh perusahaan penyedia jasa telekomunikasi. Diluar perspektif biaya tentunya."
    Aku memuji naskah sekaligus isi skripsi ini. Aku sangat setuju dengan hipotesis yang menjadi dasar penelitian ini. Cukup bagus untuk mahasiswa S1. Aku tidak ingin membuatnya besar kepala dengan memujinya saat itu juga.
    "Baiklah J, saya perlu waktu lebih lama untuk mengoreksinya. Insya Allah pekan depan kita ketemu lagi. Saya pikir lebih baik pukul sepuluh saja."
    "Ya, Pak."
    J langsung keluar dari ruang jurusan. Meninggalkan aku dan bu Lena yang suka mencampuri urusan orang lain. Katanya berbela sungkawa atas meninggalnya Maya, tapi pada hari itu ia sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.
    "Betul kata ibu, J anak yang pintar. Ups..sorry, cerdas" Aku menggaris bawahi "cerdas" secara tampak kepada rekan wanita seprofesiku.
    Ia hanya tersenyum puas. Dan aku tidak tahu apa arti senyumnya itu.


Next-------> Insya Allah

   
Sabtu, 11 Februari 2012 1 Messages

Panggung Cinta Bertopeng (Bagian 3)

     Tepat pukul delapan kurang tujuh menit aku sampai di kampus hijau. Setelah sebelumnya mengantarkan Hani bertemu dengan teman-temannya membuatku juga bahagia seperti apa yang dirasakan Hani. Yayasan Hidayah menjadi rumah kedua bagi Hani. Setelah bundanya tidak ada tentunya.
     Ku mencari celah kosong diantara jejeran motor dosen, staf dan karyawan kampus dan akhirnya dapat. Terkadang aku tersenyum mengingat statusku saat ini. Masih jelas teringat ketika ditempat ini, dikampus hijau ketika aku berstatus mahasiswa. Dan perubahan itu tidak banyak, selain pada diriku sendiri. Dari mahasiswa menjadi salah satu pengajar.
     Karir akademikku tampak ketika aku menjadi mahasiswa cum laude diangkatanku. Begitu lulus aku mengambil peluang untuk menjadi asisten dosen.
    "Dari sinilah awalnya." Begitu pak Hasan ketua jurusan Ilmu Ekonomi waktu itu mengapi-apikan batinku. Dan aku terbakar.
    Waktu bergerak tanpa ku ingat seberapa pantas hingga akhirnya aku mendapatkan beasiswa pasca sarjana di UNPAD dimana sebelumnya aku telah diterima sebagai pegawai negeri. Butuh satu tahun setengah bagiku untuk menyelesaikan studiku kala itu. Dan kembali lagi ke tempat dimana karirku berawal. Kota Khatulistiwa.
    ................
    Seorang mahasiswi menyerobot mendekatiku yang baru saja akan membuka pintu jurusan. Itu membuatku cukup terkejut.
    "Maaf pak." Mahasiswi itu berucap
    "Kamu yang nelpon tadi?" Aku menerka.
    "Ya, pak" Jawabnya kemudian
    "Tapi kamu tidak perlu terburu-buru jika mau. Sebenarnya saya harus melakukan pertemuan sebentar lagi."
     Aku melihat guratan muka memelas di gadis itu. Ku dengar pelan ia mendesah. Aku kasihan padanya. Diluar kesedihan karena harus ku tunda untuk ia berkonsultasi denganku atau ada sebab lain.
      "Baiklah. Tunggu diluar dulu. Sebentar lagi kupanggil. Ada yang harus kulakukan."
   Jelas mahasiswi itu girang. Ia tunjukkan lewat anggukannya yang spontan tanpa kata-kata. Aku meninggalkannya sendirian ketika keceriaan mulai menghiasi wajahnya. Didalam ruangan jurusan kutemukan satu-satunya dosen hanyalah bu Lena. Ku pikir dosen lainnya tengah mengajar atau mememang belum datang. 
      "Pagi bu." Sapaku kepada wanita paruh baya berkerudung itu.
      "Pagi pak." Balasnya kemudian. Dan senyap seketika.
      Aku langsung mengeluarkan laptop dari dalam ransel hitam ku. Lalu menghidupkannya. Aku memastikan   slide-slide merangkum semua yang ingin aku sampaikan dalam rapat nanti.
      "Susah ya pak?" Bu lena membuka bicara
      "Maksud ibu?" Aku mengalihkan pandangan kearahnya
      "Sendirian. Menjadi orang tua tunggal maksudku."
      Aku terdiam. Tidak menyangka akan membahas hal ini pagi-pagi begini. Aku tahu bu Lena hanya ingin menyampaikan rasa bela sungkawanya. Seharusnya aku bersyukur, terutama kepada rekan-rekan di kampus ini yang care dan perhatian kepadaku.
       Sepertinya bu Lena mempunyai pendapat sendiri atas diam mendadakku.
       "Maaf pak. Apakah itu menyinggung bapak?" Ia bertanya kemudian.
   "Oh, tidak bu. Sama sekali tidak. Pikiranku hanya tengah berbagi tadi. Maaf kurang konsen mendengarkan. Tentang itu ya. Saya sudah mulai beradaptasi koq bu. Saya tidak boleh harus berlama-lama berkabung. Itu tidak baik bagi diri dan semata wayangku, Hani. Kami harus lepas dari cobaan ini." Aku menjelaskan panjang lebar.
       "Ya, begitu seharusnya pak. Setiap masa itu ada pertemuan dan perpisahan. Masing-masing dari kita hanya menunggu kepan datangnya masa itu."
       "Betul bu." Tukas ku kemudian. 
       Bu Lena kemudian diam. Itu juga yang kuharapkan dari dirinya. Namun jika ingin berbicara, alangkah baiknya jika ia memilih topik yang berbeda. Aku melupakan diskusi singkat barusan. Ku rasa saatnya untuk memanggil mahasiswi yang kutinggalkan berdiri didepan pintu tadi. 
        Ku buka pintu dan menemui ia tengah duduk diselasar tepat didepan pintu. memunggungiku dan melihat taman. 
        "Kamu. Silakan masuk."
        Ia menoleh.
Next ---------->
"Special  Thanx for Qhu"  

     
Minggu, 15 Januari 2012 0 Messages

Panggung Cinta Bertopeng (Bagian 2)


Keluar komplek, ku putar stang motor ke kiri. Melewati perumahan yang beberapa di huni oleh para dosen universitas. Tampak rapi, megah dan beberapa terlampau mewah. Berbeda dengan tempatku yang terlalu sederhana. Jalanan terasa menggenjot ketika melintasi polisi tidur yang dibuat terlalu tinggi dan berlabuh dengan kasar setelahnya. Tubuhku, tak lepas juga tubuh Hani melompat dari posisinya semula. Ku perbaiki dudukan Hani. Ia menampakkan wajah cerianya. Selalu. Ketika dibawa berjalan-jalan seperti ini. Terlebih jika ia lebih mengetahui kemana tujuan kami
Kesibukan jalan A Yani  luar biasa. Mobil mewah merayap teratur di tubuh jalan bagian kanan. Motor-motor segala merek ternama bahkan lebih banyak berseliweran. Pengendaranya beragam dan kebanyakan tidak tahu irama di jalanan. Anak sekolahan lebih memimilih meliuk-liuk di tengah kepadatan. Berharap menjadi pemenang dan mungkin saja agar tidak telat setibanya di sekolah. Beberapa mahasiswa dan mahasiwi mengendara lebih santai. Pegawai kantoran instansi pemerintah dan swasta justru lebih tergesa-gesa lagi. Harus mengantar anak-anaknya ke sekolah masing-masing baru menuju tempat kerja.
        Aku mengikut arus. Pelan-pelan bukanlah pilihan di jalanan saat itu, kecuali jika ingin mendapat umpatan dari pengendara lain. Sikut-sikut kecil sering pula terjadi. Tetapi penduduk disini masih terlalu ramah untuk mempermasalahkan itu. Tapi tidak untuk orang-orang tertentu.
            Hawa pagi tidak lagi terasa. Gerah mulai terasa meskipun tetap dingin. Ku tatap Hani seperti menghitung-hitung jumlah pengendara.
            “Berapa, sayang?” Ku belai lembut pipinya yang menghadap ke depan.
            Lampu kuning baru saja berubah merah di bundaran UNTAN. Di tengah bundaran, tertancap bambu raksasa yang siap menghujam langit. Berwarna kuning  Orang-orang menyebutnya tugu Digulis. Kendaraan berhenti termasuk aku yang jauh di belakang. Beberapa buah motor menerobos dan di sambut dengan suara nyaring klakson oleh pengendara dari arah berlawanan. Tapi jelas terlihat pakaian yang mereka kenakan putih abu-abu. “Itu sering terjadi di kota besar.” Pikirku.
            Kendaraan mulai bergerak perlahan sesaat setelah lampu hijau menyala. Di garis depan bahkan sudah ada yang melaju mendahulu lampu tersebut. Tak sabar. Sepertinya disana ada hadiah bagi siapa yang lebih dahulu sampai.
            Ku memutar di bundaran dan menuju berbalik arah dari sebelumnya, tetapi aku berada di jalur seberang. Tidak bisa ku pacu laju sepeda mesin ini. Semuanya berjalan seirama. Kami melintasi sebuah gedung belanja mewah, transaparan dan memiliki empat lantai. Tetapi sepagi ini gedung itu masih sepi pengunjung. Operasionalnya baru berjalan mulai pukul sepuluh. Namun sudah ada beberapa orang yang bertugas jaga dan bersih-bersih kaca yang menjulang tinggi dan mengkilap. Untuk apa memikirkan lebih jauh tentang bangunan itu, toh ia hanya tampak dari luar yang memikat. Tetapi dalamnya jauh lebih memikat, hedon dan hura-hura. 
            Next ---------->
Jumat, 13 Januari 2012 0 Messages

Panggung Cinta Bertopeng


Pagi datang begitu cepat. Baru saja aku melelapkan mata dari bergadang, suara panggilan Tuhan sudah bergema. Jika dituruti, aku pasti memilih tidur kembali. Tetapi kewajiban itu mengharuskanku. Aku ingat, Maya sering membangunkanku dan sedikit memaksa jika aku membandel. Begitulah seharusnya, saling mengingatkan. Tetapi Maya lebih sering melakukan itu terhadapku. Tak jarang gerutuku terkuak di hati. Bangkit dengan ketidakkeihlasan. Sekarang aku rindu untuk itu. Dan aku menangis. Bukan berarti itu suatu kelemahan yang ku maksud, meskipun tidak salah semuanya. Aku hanya merindu. Sekuat tenaga aku bangkit dan menuju menghadap sang Khaliq. Aku tidak boleh terburuk di ujian ini. Hikmah dibaliknya akan lebih indah dari yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Semoga.  
"Bagaimana tidurmu, nak?"
Hani sudah pandai tertawa. Ia tumbuh lebih cepat dari yang ku duga dan lebih dewasa menyikapi kepergian ibunya. Justru rasa iba terbersit di hatiku. Kenapa anak sekecil ini sudah harus berpisah dan tak berkesempatan menatap ibunya.
"Astagfirullah" hatiku berucap. Kenapa aku seolah-olah lebih tahu. Mendahului dan berlagak sombong akan ketentuan Ilahi. Hanya di tinggal seseorang yang aku mencintainya, hatiku sudah menghakimi. Bisa saja jika kesenangan yang lain juga terangkat, mungkin hatiku akan menghujat. Kembali aku berucap dan memohon ampunan atas kekhilafan yang dibisikkan oleh syetan. 
"Saatnya mandi, sayang. Badanmu sudah terlalu wangi."
"Bi, airnya sudah siap?"
"Sudah, pak."
Sejak sebulan kepergian Maya, aku jadi terbiasa memandikan Hani. Itu lebih senang ku lakukan sendiri. Ku tahu bi Atin sibuk dengan pekerjaan yang lain, meskipun tidak salah jika aku menyuruhnya lagi. Toh ia ku gaji untuk itu. Tapi aku tidak mau melewatkan masa-masa ceria bersama anakku seperti yang sudah aku lakukan kepada almarhumah istriku. Kecuali jika aku terlalu sibuk untuk melakukan sesuatu. Maka bantuan Bi Atin sangat ku perlukan.
"Dingin? uh...nah sekarang pakai sampo dulu ya. Biar rambutnya cantik"
Hani merengek kedinginan meskipun air yang kupakai mengeluarkan uap. Seharusnya tidak dingin. Atau Hani hanya ingin bermanja-manja denganku. Aku maklum.
Hati-hati aku memegangi dan melumurkan sampo bayi ke kepalanya. Kemudian menyabuni tubuhnya. Cukup. Terakhir, menyiram seluruh tubuhnya dengan air bersih. Beres. Tangis Hani menjadi tanda berontak. Tidak lama. Berhenti ketika tubuhnya ku keringkan dengan handuk berbulu halus. Ia tertawa girang. 
"Tuh kan, habis mandikan segar. Sekarang baru benar-benar wangi."
"Bi...tolong ambilkan bedak dan bajunya Hani"
Bi Atin datang dengan barang yang ku pesan. Segera ku mengalihtangankan Hani padanya. Seseorang memanggil.
“Ya, sekitar jam sepuluh Insya Allah saya ada di kampus.” Ku kembali mengarah pada Hani. Menimangnya ketika di baringkan di atas kaki bi Atin. Membedaki dan mengolesi perutnya dengan minyak telon.
Aku beranjak menuju kamar. Menuju lemari pakaian dan mengambil sebuah amplop. Dan keluar lagi menemui Hani dan Bi Atin. Ku sodorkan amplop berisi gaji keenamnya. Delapan lembar pecahan limapuluh ribu terselip di dalamnya. Bi Atin membantu ku disini dari subuh sampai seluruh pekerjaan rumah selesai. Mencuci piring, baju, menyapu se isi rumah yang tidak terlalu besar dan memasak serta hal-hal yang tidak aku ketahui tentang pekerjaan rumah. Tak lupa, terkadang memandikan Hani.. Biasanya semua itu rampung sebelum waktu zuhur tiba. Dan ia pun pulang kerumahnya yang hanya berselang empat rumah dari rumah ku.
Aku telah siap untuk berangkat ke tempat mengais nafkah, melaksanakan tanggungjawab. Berdasi belang-belang hitam-putih dan kemeja panjang biru muda yang ku kenakan. Dipadu dengan celana panjang kain tentunya berwarna hitam. Hani juga telah siap berangkat bersweater pink tebal, celana wol hitam dan kaos kaki motif bunga matahari kecil-kecil.
“Ayo sayang. Saatnya kita pergi.” Ku memasang kursi khusus di sepeda motor untuk Hani agar terduduk di selangkangku. Bi Atin mengantar kami hingga depan pintu. Ku angkat tangan kanan Hani untuk melambai-lambai kearahnya.
“Kami berangkat, Bi. Assalamu’alaikum. O ya bi, jangan lupa kunci pintunya ya!” 
                                                                                   Next ----------------->>>
Kamis, 12 Januari 2012 0 Messages

The Last Tengkuyung

Aku gamang ketika harus ulang-alik mengitari tempat yang asing ini. Seorang manusia membawa paksa dari alam kami. Disini tempatnya tidak lagi berpasir, meskipun sama-sama berair. Lebih sempit dan terbatas. Lebih terasa semakin terasing ketika ku temukan aku sendirian. Bukannya aku melarikan diri kawan, aku hanya ingin menjelajahi medan ini. Apakah sama menantangnya dengan tempat kita dulu?
Ku mendaki dinding-dinding kayu dan juga semen. Kemana kalian? Apakah aku telah melakukan sesuatu yang menyakiti hati kalian. Sampai hati kalian meninggalkan aku sendirian, kesepian.
Langkah alotku masih ku lakoni. Semakin tinggi ku mendaki benda berwarna biru. Sesekali aku terjatuh ketika kelelahan sangat merajai. Tapi aku masih penasaran, ada apa di bangunan sebelah. Wadah besar mengepul-ngepulkan asap. Sepertinya sangat menyenangkan ada di dalamnya.
Kembali kucoba untuk mendaki. Tidak ingin gagal untuk kali ini. Perlahan tetapi pasti, aku lalui. Nah, ini pendakian tertinggi yang bisa kucapai selama berada disini. Pantas untuk dimasukkan dalam rekor kebangsaan.
Tidak!. Ini tidak mungkin bisa terjadi. Ku lihat kawan-kawanku menggapai-gapai di dalam benda itu. Lebih tepatnya tidak lagi menggapai2 pada umumnya. Mereka berenang2 sementara ujung tubuhnya telah terpotong. Aku baru sadar ternyata mereka tengah di rebus dan siap-siap dimasukkan oleh manusia ke dalam perutnya. Aku bergidik. Terbersit sebuah pertanyaan dihatiku. Apakah aku beruntung, karena bisa melarikan diri?
Tubuhku lunglai dan terasa mati. Tidak mampu aku bertahan di ketinggian ini dalam keadaan lemas seperti itu. Aku terjatuh untuk yang terakhir kali. Tubuhku terhempas keras ke dasar semen dan mengurat keretakan dimana-mana. Aku semakin tidak berdaya. Tubuhku remuk dan tidak mampu untuk sekedar membetulkan tubuh. Mataku, entah kenapa semakin sayu dan mengantuk tiba-tiba. Nafasku juga ikut tersengal-sengal kemudian. Dari kejauhan ku lihat sesosok menghampiri. Sangat tinggi. Aku terpejam. Tak lama setelah itu, beban luar biasa berat menindihku dan mengakhiri nyawaku. "Braak..." Cangkangku pecah berantakan. Tak sempat walau sedetik, aku sudah berkumpul kembali bersama teman-temanku yang lain di tempat terindah yang pernah ku lihat. 
Selasa, 10 Januari 2012 0 Messages

Alhamdulillah, honor perdana

Sebagian orang mungkin akan meremehkanku. Mana aku peduli. Biarkan saja toh itu mereka. Aku adalah aku. Yang pasti hari ini aku mendapatkan salah satu sesuatu yang spesial buat diriku. Dan aku semakin yakin, jalan ini mungkin yang harus ku tempuh selanjutnya. 50.000 bukanlah jumlah yang banyak. Memang. Tetapi namanya yang pertama itu pasti punya rasa tersendiri. Terima kasih kepada siapapun yang telah sudi menerima karyaku berupa untaian kata-kata yang belum ada apa-apanya....
 
;