Jumat, 24 Mei 2013 0 Messages

Wali Murid

Itu diluar kebiasaan setiap pagiku. Aku bangun awal dalam rangka memenuhi janji dengan seseorang. Melihat lahan tanah yang ditawarkannya. Dan setelah menyurvei secara langsung, ada semacam ketidakcocokan. Entah apa itu. Sulit dijabarkan. Tapi ini akan tetap kusampaikan pada kakak tertuaku yang berniat membeli tanah tersebut. Mulai dari jalan menuju area tersebut hingga letaknya yang dikelilingi rumah penduduk. Cuma itu kapasitasku.

Lokasi yang kami datangi tadi sebenarnya tepat di kampung sebelah dimana aku menyewa rumah. Sepulang dari sana, sebuah sms masuk. Sebuah permintaan tolong lantaran ia mendapatkan kecelakaan. Bukan untuk membantu fisiknya, tapi pada urusan disekolah. Ya, hari ini adalah penerimaan amplop kelulusan. Anak dari sepupuku itu terjatuh ke parit bersama dengan ibu dan adiknya dalam perjalanan menuju kota ini. Memang niatnya adalah untuk mengambil amplop kelulusan. Takdir bicara lain. Dan aku tidak heran, soalnya beberapa hari sebelumnya permintaan ini telah kuterima. Hanya saja, katanya hari itu tidak jadi. Karena ia akan mengajak ibunya sendiri yang datang ke sekolah.

Anggaplah, saya mematut diri sembari merapikan seragam. Memastikan semuanya tampak sempurna, meski sejatinya apa yang  ingin kutahui tidak ada hubungannya dengan kerapian. Sama sekali tidak. Hari itu,  hanya terdapat dua kata yang seharga mati. Lulus atau Tidak Lulus.

Beberapa jam kemudian, saat ibu membuka segel amplop dengan hati berdebar-debar,  aku justru pucat sepertinya. Dan kata didalam surat pernyataan itu melunturkan rasa tegang yang terus membayangi sejak turun dari rumah tadi. Alhamdulillah. Ah, itu sudah sepuluh tahun silam. Sungguh tidak begitu terasa masa berlalu. 

Dan pagi ini tahu-tahu aku berada diruangan bercat kuning. Luapan emosi, kekhawatiran, ketegangan serta was-was, semuanya berbaur. Awalnya, kupikir tidak akan termasuk salah satu yang merasakan seperti itu, eh, rupanya aku salah. Padahal tidak ada alasan tepat untuk aku merasakan hal tersebut. Namun tetap saja aku berharap hasil yang bakal diperolenya setimpal dengan usahanya selama ini. Dengan kata lain, lulus memang yang terbaik sepertinya.


Selasa, 21 Mei 2013 0 Messages

The Miracle of Woman's Hand

Kalau yang ini masih berkaitan langsung dengan satu entry sebelumnya. Title yang kuberikan diatas adalah apa yang terjadi dalam satu hari ini. 

Tangan salah satu kaum hawa yang akan segera menuntaskan masa remajanya telah menyulap gubuk sewaan kami berkilauan. Yang sebenarnya kumaksudkan adalah, dia berhasil menguras meski tidak habis, kesan "kapal pecah" terhadap tempat kami bernaung tersebut. Bangunan yang dalam kesehariannya kami beresi seadanya. Dan kedatangannya cukup membuat banyak perbedaan. Mmmm....
Senin, 20 Mei 2013 0 Messages

New Comer

Wow-wow-wow! Tangan ini rasanya gatal melihatnya melakukan itu. Sesuatu yang amat sangat langka terjadi dirumah ini. Seorang gadis menyiangi sayuran untuk makan malam kami lalu memasaknya kemudian. Ada ketidaktenangan disana. Bukannya tidak senang, suka malah. Hanya saja kukira perlu membiasakan diri untuk menghadapi ini. Lebih-lebih kalau dia jadi tinggal disini. Bersama kami. Aku lantas berpikir, apakah ini juga yang akan kurasakan pertama kalinya nanti melihat istriku bekerja didapur. Haruskah aku menghilangkan saja hobi memasakku? Jawabanya lugas, tentu saja TIDAK!

Namanya adalah rahasia. Gadis itu keponakanku. Lebih tepatnya anak dari salah seorang sepupuku yang malam ini menginap dirumah. Dan rencana kedepannya, dia juga akan melanjutkan kuliah di kota kecil ini. Ya benar. Dia akan tinggal disini. Makanya tadi kukatakan, harus mulai membiasakan diri sejak dini. Karena sedikit banyak, sentuhan tangan seorang kaum hawa pastinya akan banyak mengubah rumah ini. Paling tidak,  bangunan layaknya kapal pecah ini tertata agak apik. Dan urusan dapurpun akan sedikit-banyak terbagi antara aku dan dia. Aku yakin sepenuhnya diberikan kepadanya pun ia tidak keberatan. Tipikalnya memang seperti itu. Ia sudah terbiasa berkat pengalamannya kerja dirumah orang hampir genap tiga tahun. Cuma aku yang memastikan itu supaya tidak sepenuhnya terjadi. Urusan dapur toh bisa-bisa saja dibagi. Lagian, memasak kan salah satu rahasia pengusir sakit kepalaku. He..he..

Intinya, aku senang atas hadirnya penghuni baru dirumah ini. Semoga dengan itu aku bisa lebih fokus lagi menapaki tujuanku. Membagi bukan berarti menyerahkan, kan. 
Minggu, 19 Mei 2013 0 Messages

Kapal Kehidupan

Mau tidak mau harus mengaku juga bahwa diri ini adalah seorang berjenis introvert. Apapun definisi yang 'agak' negatif terkait itu, aku yakin tercipta memang bukan untuk menjadi orang lain. Aku adalah diriku sendiri. Pengakuanku juga dalam hal bersosialisasi dan bekerja sama. Dua poin tadi merupakan sesuatu yang sangat mengerikan bagiku. Meski buat kebanyakan orang justru biasa-biasa saja. Memang demikian adanya. 

Makanya aku lebih senang bekerja pada bidang yang cuma memerlukan sepasang tanganku. Bekerja dalam tim jelas-jelas bukan bagian dalam hidupku. Paling tidak untuk saat ini. Barangkali terdengar egois bila ada istilah sukses sendiri. Mmm...bagiku itu biasa saja. Kalau ada orang yang sukanya sukses bareng orang lain, kenapa pula tidak mesti ada orang yang suksesnya sendiri-sendiri. Titik kritisnya cukup terletak pada kata 'berbagi' setelah mencapai kesuksesan. Benar-salahnya pendapatku itu, terserahlah. 

Dan interaksi tadi malam dengan seorang kerabat keluarga sempat menyentakkanku. Tapi setelahnya aku tersadar, betapa lucunya reaksi spontanku tadi. Toh memang setiap orang punya pendapat sendiri, kalau tidak bisa disebut sebagai usulan. "Kenapa tidak mencoba saja melamar PNS!" Kuberi tanda seru diujung sebagai bentuk tekanan. 

Mencoba. Kata itu dalam sepekan kudengar dua kali yang dipadukan dengan kalimat serupa. Lalu, setelah mencoba dan lulus? Apa yang akan terjadi? Jujur, aku tidak bisa membayangkannya kecuali melepasnya begitu saja. Ada "mencoba" yang lain yang mesti ku kejar. Dan ketika kerabatku itu menanyakan apa itu, aku berkilah menyembunyikan. Sulit bagiku menjelaskan, karena aku lebih senang membuktikan. Sulit bagiku  memaparkan, karena memang jenis itu masih termasuk profesi langka. Kata singkatnya, aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil alih kapal kehidupanku. 

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Ini pepatah yang kuanut saat ini. Keras kepala dan sedikit egois untuk menggapai cita-citaku yang menggantung dilangit. Hampir, perlu beberapa buah anak tangga ajaib lagi. Insya
Allah dalam waktu dekat ini. 




0 Messages

Pulang Kampung 1 Juta


Pulang kampung satu juta, sampai detik ini belum banyak memberikan inspirasi tambahan. Tapi cukup signifikan sebagai angle (sudut pandang) tulisan selanjutnya. Setelah beberapa hari berkutat dengan frame serupa, baru malam ini mendapat sedikit pencerahan harus dari mana mulai adegannya.

Tidak usah getol memikirkan selanjutnya, karena pengalaman berbicara, itu akan mengalir atau bahasa lainnya mengikuti seiring semakin bertambahkan kata yang dituliskan. Ada momen-momen tertentu yang akan memunculkan ide segar lainnya. Sehingga plot tidak kaku dan membosankan. Aku hanya berharap kedatangannya tidak terlalu lama. Soalnya jatah semakin menipis setiap harinya. Kurang dari dua pekan setelah ini.

Dan perjalanan pulang kembali ke kota Sambas mudah-mudahan kembali mendapatkan secuil sketsa cerita. Sehingga setibanya di rumah, aku tinggal merangkainya menjadi sebuah cerita utuh. Dua hari, mungkin gak ya? Peranyaan yang tidak perlu jawaban secara verbal. Melainkan dengan sebuah action nyata.
Eittss tunggu dulu, ada satu cerpen kelar yang belum tersentuh publikasi. Bagaimana kalau itu saja dipoles dengan ide yang ada. Mmmm…menarik untuk dicoba nih..

= Well, dua topik yang kudengar dalam dua hari ini seolah lecutan semangatku. Semuanya berasal dari kerabat keluarga. Ternyata kesitu juga larinya. Sekarang aku memilih bungkam saja, Insya Allah, waktu saja yang mewakiliku berbicara suatu hari nanti =

Jumat, 17 Mei 2013 0 Messages

AKU - DIRIKU

Aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri. "Benar gak sih pengin jadi penulis hebat?"
Lalu aku menjawab, "ya." 
Aku yang bertanya tadi bertanya lagi, "kalau begitu, sudahkan bersungguh-sungguh atau berdarah-darah?
Aku yang ditanya hanya bisa bungkam. Pelan-pelan berkata, "belum."  Atau aku sendiri, kurasa terlalu cengeng pada diri sendiri. Kurang konsen barangkali. Pokoknya sukanya mengulur-ulur waktu. Padahal....
"Padahal apa? Padahal banyak ide yang bergelantungan. Begitu?"
"Kok tahu?!"
"Ya iyalah. Masa iya dong. Aku kan dirimu juga."
"Bukan. Kamu bukan bagian dari diriku."
"Yah, paling tidak benar. Aku memang bukan bagian dari dirimu selama kamu tidak mau mengakui keberadaanku. Aku selalu saja berkata jujur, kan?"
"Kuharap, suatu saat. Ketika kau sudah menyatu dengan diriku, jangan biarkan aku jadi seperti sekarang ini. Ingatkan aku meski kadang mungkin terasa 'agak' menyakitkan."
Aku yang bertanya tadi memandangku dengan seksama dan sedikit sinis, "akan kucoba."
"Bagus...eh, maksudku terima kasih."
"Kalau begitu, maukah kau mengakuinya dengan mantap?"
Jalan berbalik sudah tertutup dibelakang. Mau tidak mau aku harus mengakuinya dengan mantap, seperti mintanya. "Aku belum melakukan yang terbaik untuk cita-citaku sebagai seorang penulis!"
"Okke...selanjutnya, menulislah karena aku akan selalu ada dalam dirimu. Membohongiku sama artinya membohongi dirimu sendiri. Pesan terakhirku, kau akan menemukan gaya menulismu sendiri seiring giatnya latihan yang kau lakukan."
"Sip."

0 Messages

TEROPONG


Sekeluarnya dari masjid pasca shalat Maghrib, kami heboh bukan main. Pasalnya seorang tetangga yang
termasuk salah satu jamaah kehilangan sepeda motornya. Yamaha merek Vega warna biru donker. Komentar bernada heran meluncur deras.  
"Disini ni!" Kata bang Ervin selaku korban sambil menunjukkan dimana tadi ia memarkir motornya. 
Sejauh ini kesimpulannya masih pada tahap 'barangkali orang salah bawa', meski tidak dipungkiri kemungkinan dicuri cukup terbuka. Beberapa waktu silam kasus kehilangan motor juga sempat membuat panik warga se-gang kami dan sekitarnya. Seorang warga mengaku sepeda motornya raib. Hanya saja, kala itu ternyata ada satu motor lainnya yang tertinggal. Dan dalam hitungan beberapa jam kedepan, pemilik motor yang terparkir lebih dulu melapor ke pihak berwajib dan mengakui bahwa ia khilaf. Bukan lantaran bermaksud mencuri, hanya salah bawa motor.

Kami semua mencocokkan jumlah motor dengan jumlah jamaah yang belum pulang. Cocok! Artinya motor bang Ervin benar-benar hilang untuk sementara ini.
.........sampai disini cerita nonfiksinya tamat.......

Aku bersegera menuju base camp. Yang kumaksudkan adalah kios ukuran empat kali tiga dimana aku sehari-hari menjemput rejeki. Akhir-akhir ini tidak ada kasus yang cukup menarik. Secara keseluruhan membosankan. Gardu meledak gara-gara tali kawat layang-layang, perkelahian remaja di dini hari, ibu-ibu gosip bareng di beranda rumah dan yang semacam itu lainnya. Semuanya bukan urusanku. Kali ini beda. Saatnya memungsikan TEROPONG ciptaanku lebih jauh. Mudah-mudahan berhasil.  

Tidak perlu tergesa-gesa kupikir. Toh kemungkinan tidak hilang seperti yang saya sebutkan diatas masih ada. Oleh karena itu, setibanya di base camp aku memilih melanjutkan tilawah dulu. Jika tidak, menuntaskan juz 8 bakal memecahkan rekor. Dalam 4 hari! Apa saja sih sebenarnya yang aku lakukan!

Dan kini waktunya tiba. Aku memilih icon berbentuk teropong hitam. Ya, apalagi kalau bukan TEROPONG. Kemampuan software ini adalah mendeteksi titik-titik keramaian massa. Menggunakan kemampuan satelit, dilayar akan memunculkan spot merah seperti titik api, namun ketika kita mengarahkan mouse kesana, akan muncul sebuah tag berisi situasi terkait. Informasi yang disuguhkan cukup akurat walau terkadang perlu dipastikan dengan fakta dilapangan. Pengembangan ini terus kulakukan karena prospek kedepannya cukup meyakinkan. Menyaingi google earth dan sesuatu yang berharga untuk ditawarkan pada pihak media massa. Lumayan. 

Radius kupersempit dengan mengetikkan desa dan kota dimana aku berada pada kolom search. Ada tiga titik merah dilayar sekarang. Aku mengabaikan dua lainnya, langsung menuju lokasi dimana aku ada disana beberapa waktu lalu. "Belasan orang berkumpul. Membicarakan sepeda motor hilang. Belum diketahui keberadaannya." Demikianlah kalimat dalam tag pada titik tersebut. 

Lagi, pada kolom search, ku tambahkan nomor plat sepeda motor yang hilang. Ruang radius kulebarkan seisi kota. Hasilnya? TIDAK TERDETEKSI. 

Jangan menyalahkan. Aku hanya mencoba, kan. Memang ini masih dalam tahap pengembangan.
................
Tahu-tahu aku secara sengaja mendamparkan diri di salah satu pulau terkecil di Indonesia. Masih dalam provinsi yang sama dengan kotaku sebenarnya. Tujuanya, aku memenuhi undangan seorang tetangga yang telah lama berdomisili di sini. Pertama-tama, kedatanganku disambut oleh scene yang menggoda mata untuk menatap lekat. Jernihnya air menyuguhkan ikan-ikan kecil yang berenang dengan riang dibawahnya. Pasir dan kerikil pun seolah menyentuh benakku untuk dijajaki. Luar biasa. Belum lagi lambaian pepohonan kelapa bak penari pantai. Itu semua membuat aku kehilangan pendengaran, ketika seseorang menyebut namaku. Aku tersentak kemudian. 

"Oh, iya. Benar, bang. Maaf, disini sungguh, sungguh indah."
Perawakannya tidak lebih tinggi daripadaku. Usia? kayaknya seumuran. Pukul rata saja, makanya aku memanggilnya abang. Ya, biar lebih santun. 
Aku sudah berada di jok belakang sang utusan tuan rumah dimana aku akan tinggal selama dua hari. Begitulah rencana refreshingku kali ini. Sayangnya, aku belum menjadwal apa-apa saja yang akan kulakukan di pulau menakjubkan ini. Terlintas tentang panen cengkeh, ikut nelayan melaut jika gelombang tenang, membayar rasa terkesan tadi, dan entahlah. Mungkin lebih banyak dari yang bisa kusebutkan. 

Rupanya sumberdaya yang melimpah belum berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat sini. Kebanyakan rumah masih berbinding papan walau beratap seng. Jika aku tidak salah besar. Apa itu? Oho, bagaimana bisa itu terlewat dari perhatianku. Pilihannya adalah antara hiburan juga transportasi dengan tempat berlindung. Terbukti dari bertengger dengan angkuhnya antena parabola disetiap rumah. Selain itu, sepeda motor ikut melengkapi hiasan taman. Kalau bisa disebut taman. 

Sampai juga akhirnya. Perjalanan dari steher sampai ke rumah Cik Mai memakan waktu lima belas kurang lebih. Orang yang kusebutkan itu telah menunggu di depan pintu. Seringainya mengembang tanpa terpaksa. Itu artinya sebenar-benarnya ketulusan. Sulit bagiku untuk membalasnya kelak bagaimana. Apakah dengan menjadi tamu baik-baik sudah mencukupi. Semoga. 

"Ini," aku menyodorkan uang sepuluh ribu rupiah pada tukang ojek tak resmi tadi. Ia menolak dengan halus. Cik Mai juga mengatakan hal yang sama. "Tak usahlah, Soe." Tukasnya. 
Wah-wah. Selain dilafazkan, aku juga berucap terima kasih dengan hati terdalam. Baik benar orang disini. 

Sepeda motor itu melesap saat sang pengendara menarik gasnya lebih kencang. Raungannya tertahan oleh rancangan knalpot sejenis itu. Suaranya bergetar dan teredam. Tidak merasa risih sebenarnya. Hanya saja memperhatikan setiap detil adalah bagian tidak terpisah dari kepribadianku. Jadinya merek motor itu sasaranku. Jidatku berkedut sejenak. Lalu kabar baik pun datang menghampiri. 

(Eit, jangan berprasangka buruk dulu. Pasar gelap untuk barang-barang seperti itu cukup dengan mudah untuk mendapatkan pembeli. Jadi orang itu hanyalah korban. Titik)

Cik Mai mengajakku masuk. Tentu saja aku mengikuti belakangnya. Dari dapur pula, muncul sang istri yang langsung menghampiri dengan sebuah baki berisi gelas mengepulkan asap. Kopi barangkali. 

"Oh, itu namanya Ukil. Baru-baru ini ia memang suka jalan-jalan. Maklum, motor baru. Murah lagi. Ia beli dari temannya teman dia," jelas Cik Mai saat aku menanyakan perihal lelaki yang menjemputku tadi. Aku mengangguk paham. 

Sesi awal istirahat kugunakan untuk membuka netbook. Aplikasi TEROWONGlah yang pertama kali kuaktifkan. Mengulang tindakan dua minggu silam. Memasukkan plat kendaraan bang Ervin yang hilang. Berputar-berputar-dan-berputar. TERDETEKSI. 

Selesai dengan kesan sebuah sinetron ya? Ha....ha....hanya sebuah dongeng.




 
;