Kamis, 12 September 2013 0 Messages

Zona Hijau

Sebuh email dari orang asing membuat Dubby bergegas ke ruang bosnya. Ini harus diberitahukan segera, pikirnya. Namun langkahnya tersekat di depan pintu kala mendapati atasannya tengah menerima tamu. Orang yang sampai sekarang tidak disukai. Dulu pernah sebenahnya. Ah cerita lama, batinnya berucap. 
"Saya harus pergi," Darki bangkit langsung menyalami lelaki di depannya. 
Lelaki yang dipanggil bos oleh mereka semuanya melakukan hal serupa. Tetapi tetap dalam posisi duduk di kursi empuknya.

Dua pasang mata saling tembak di ambang pintu. Dubby melemparkan tatapan bertahan, sementara Darki kelihatan menantang. Selalu saja seperti itu. Mereka tidak pernah akur lagi sejak, hadirnya orang ketiga yang kini menjadi istri Darki. Masa lalu terlanjur terjadi, cuma mereka berdua saja enggan berbaikan. Suatu saat ini harus dibicarakan secara serius. Itulah yang terlintas di benak si bos ketika menyaksikan adegan menegangkan antarbawahannya. 

Darki berlalu dengan cepat dan menghilang dibalik lorong yang berbelok. 

"Mau apa dia kesini?" 
Pertanyaan Dubby lebih kepada kesal sebenarnya. Tidak perlu jawaban bosnya. 
Bosnya menjawab dengan pengertian penuh, "hanya ngobrol."

Tak mungkin. Dubby kenal sekali dengan sifat Darki. Lelaki itu oportunis. Dan yang terpenting, dia tidak suka ngobrol. Kecuali memerintah seenaknya pada anak buahnya. Itu saja sudah mewakili keganjilannya muncul pagi ini. 

"Lalu apa yang membuatmu begitu terdesak hingga lupa mengetuk pintu tadi, Dub?"

Nama kecil yang selalu digunakan bos menyapa sekretarisnya itu. Dubby bermimpi itu tidak hanya terjadi dalam struktur organisasi. Lebih dari itu. Wanita itu menginginkan yang sulit terjangkau, tapi tidak mustahil, menjadi pendamping Gurdy seutuhnya dalam ikatan pernikahan. Bosnya itu.

Hampir lupa. Dubby mengatakan, "ya, sebuah email baru saja masuk. Orang asing dan belum terdaftar sebagai member."

Gurdy meluncur cepat ke email perusahaan dan langsung membaca pesan dari X-Ray, nama si pengirim. 

Ia mengerutkan keningnya, kemudian memundurkan kursi. Menjauhi meja. "Oke," katanya sembari menghadap Dubby disampingnya. "Kupikirkan nanti. Terima kasih."

Hanya itu yang diterima Dubby. Ucapan serupa pernah didengarnya jutaan kali selama ia bergabung dengan perusahaan. Entah kenapa, belakangan ini ia menginginkan ungkapan berbeda. Seperti ..... Ah, Dubby justru menjawab, "k". Ia berbalik seratus delapan puluh derajat menuju tempat pertama kemunculannya. 

"Dub..." seru Gurdy yang menyentakkan Dubby serta menghentikan langkahnya. Dug!
"Ada yang tidak beres?"

Apa yang musti dijawabnya. 

Asal keluar dari mulutnya, "Aku cuma tidak ingin Darki menanganinya."

Tidak ada jawaban, memang Dubby hanya memberi saran. Gurdy jelas-jelas merespon dan berupaya memikirkannya kelak. 

...............

Diluar hujan dengan derasnya. Seharusnya itu menyejukkan ruangan secara otomatis. Tapi tidak! Di ruangan itu, tiga kepala tengah bersitegang. Diskusi singkat dan panas telah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Namun, belum ada kata sepakat. Satu orang ngotot. Dan satunya lagi merasa itu haknya. Orang ketiga mencoba sedikit memaksakan kehendak, karena dia si bos. 

Darki menghempaskan tangannya ke meja sambil bangkit, "terserah!". Bantingan pintu keras menandakan kepergiannya. Ia keluar ruangan. 

Begitulah akhirnya. Keputusan telah diambil. Zona hijau yang bersinyal dari Kalimantan Barat paling utara dalam penguasaan dan koordinasi kandidat lainnya yang ada disitu. Adan. 

Terkadang keputusan itu harus diambil dengan membuat seseorang sakit hati. Tapi tidak bagi Dubby. Ketika menyelesaikan urusan surat menyurat resmi tentang keputusan final, hatinya bahagia. Ada rasa kepuasan disana ketika Darki kalah. Balas dendam? Mm...barangkali. 

Zona hijau itu berasal dari Kabupaten Sambas. Banyak sampah botol plastik bergelimpangan dipasar-pasar. Sayangnya pemulung belum masuk ke kawasan ini, seperti kota besar di Kalbar lainnya. Pontianak misalnya. Melalui situs http//pemulung.co.id, aku menyarankan agar mereka memasukkan beberapa anggotanya untuk membersihkan kabupaten Terigas ini. Termasuk peluang bersaingnya juga belum ada. Saat aku menekan 'kirim', yah semuanya terjadi begitu saja. (Just Fiction)

= Selayang pandang =
Ide ini melintas saat aku menyeberangi sungai Sekura rute (PP Tanjung Harapan - Sekura). Di kolong seteher banyak botol-botol bekas. Menjadikan pemandangan kurang enak. Pernah beberapa waktu lalu diadakan kegiatan bersih-bersih. Yah, tahu sendirilah, itu cuma sehari. Sementara manusia membuang sampah itu tiap hari. Bahkan tiap saat. Perbandingan yang sempurna, bukan?




0 Messages

Ibu Menggoreng Telinga

Ibu menggoreng ........... ( 7 huruf )

Jawabnye, mudah jak.

Itu kejadinnya sekitar 20 tahun yang lalu. Tono, bocah kreatif itu menggemparkan kelas sore kami. Kelas tiga yang dua kelas memang terdiskriminasi, harus masuk siang. Lantaran 4 dusun menyerbu satu sekolah yang cuman 6 lokal. Bagaimana coba?

Bu Tia, guru kami kala itu tengah memberikan pelajaran yang sampai sekarang gak aku sukai, Bahasa Indonesia. Tugas kali itu adalah melengkapi kalimat. Cukup simpel.

"Tono," kata Bu Tia yang hampir membuat teman sebangkuku itu jatuh pingsan. Aku sih santai-santai saja. Karena kata ikan telah ku tulis sebagai jawaban.

Tono kelabakan bukan main. Aku gak sempat melirik jawaban di buku kumalnya. Tapi tak disangka dan tak di duga, ia menjawab dengan ganasnya, "Ibu menggoreng telinga."

Bu Tia meledak. Tawanya, maksudku. Kami mengikuti serempak. Kelas menjadi ramai. Tono, Tono, sepertinya bakat komedian menyusup dalam dirinya.


DON'T TRY THIS AT HOME. 
Selasa, 10 September 2013 0 Messages

Redefinisi Cita-cita

Most of us tidak tahu mau jadi apa sesungguhnya. Jangan salahkan diri kita, karena sejak kecil memang tidak pernah diajari bercita-cita sesuai bakat. Paling-paling ketika ditanya, "mau jadi apa?". Otomatis kita (kecil) bakal menyebutkan profesi yang sering kita jumpai atau terlihat di televisi. "Polisi, dokter, guru, dan cari sendiri selebihnya", Kan? 

Bahkan disaat ijazah pendidikan tinggi sudah ada di tangan, kita masih mengambang dalam lautan kebingungan. Mau dibawa kemana hubungan kita? Bukan, mau kemana diri kita? 

Untungnya nih, meski cukup terlambat namun belum terlalu terlambat untuk meralat ulang cita-cita kita. Langkah pertama kenali bakat kita, lanjutkan dengan kiat-kiat harian mengarah kesana. 

Kalau aku sih, suatu hari pengennya jalan-jalan ke toko buku terkenal di seluruh dunia sembari menyaksikan orang-orang pada berebut novelku. He...he...jauh amat masih ya? Ah, namanya juga impian. Dan satu lagi, di samping itu, aku juga ingin tetap menjadi pengusaha (bikin percetakan) dan usaha lainnya dimasa depan. Ini penting. Kita selaku generasi muda pada umumnya, dan muslim pada khususnya harus menjadi kaya, berprofesi sebagai pengusaha. Kalau ingin mengembalikan tampuk perekonomian kembali ke tangan kita.  
Senin, 09 September 2013 0 Messages

Memanggil Cinta

Angin menyeruak masuk melalui celah dinding kayu yang berongga. Tanpa diundang, namun cukup menyenangkan. Mengusir gerah tadi siang yang memanggang. Di kamar sempit seukuran empat langkah kaki orang dewasa ini, aku bergadang didepan monitor. Mousepointer mengajakku bermain-main, tuts pula menggoda untuk dihentakkan. Itulah sebabnya aku terpaku disini sekarang. Pertanyaannya selanjutnya adalah, ide apa yang menarik?

Pencarian itu justru berakhir pada mimpi beberapa malam terakhir. Tentang seorang dibalik hijab raksasa. Setiap kali saat aku hendak menyibaknya, terjaga pula. Selalu seperti itu. Uh. Dan sekarang aku memikirkannya seperti hari-hari sebelumnya. Bodohnya aku, seharusnya itu bisa bahan tulisan, kan?. Nyatanya jemariku kaku. Aku malah memilih menghindari kesumpekan setelahnya. Beranjak dari kursi kayu reot yang berderit saat kubangkit, lalu menuju jendela yang lagi-lagi terbuat kayu. Ku menyebut rumah ini bangunan eksotik yang pernah ada. Hah, terlalu berlebihan mungkin. 

Angin menyerbu saat kubuka jendela perlahan. Engselnya protes lantaran karat yang ada disana. Bergeming, yang kupedulikan hanyalah batuk ibu dari kamar sebelah. Kering, seolah itu suatu lumrah. Ibu menolak saat kuajak untuk berobat. Biasa, orang tua.

Binatang malam berpesta dibalik rindangnya hutan tak jauh dari tempatku berdiri. Jangkrik bernyanyi merdu, burung hantu membuat kuduk merinding, sesekali pula terdengar sesuatu merangsek dengan gesit. Saat ku mendongak keatas, rembulan mengambang tanpa malu. Cahayanya ke bumi disela oleh pohon akasia. Itu membuatku, lega. Entah bagaimana, bulan yang bersinar manja, kini tiba-tiba menggurat sesosok kaum hawa. Membelakangi dengan jilbabnya berkibar pongah. Aku tersentak untuk sesaat. Menggosok mata, meyakinkan itu hanya ilusi semata. Dan tepat, tak lebih dari khayalan belaka. Tetap saja mengganggu benak dan pikiranku. Apa ini suatu kebetulan ataukah sekedar obsesi yang berlebihan? 

Bukan! Ini adalah, "cinta...." aku bergumam pelan.

..........
Gadis itu meletakkan bukunya sesaat. Beranjak dari kasur dan sedikit berlari menghampiri pintu "Ayah mem........" Begitu pintu terkuak, tidak ada ayahnya disana. Ia mengernyitkan jidatnya lantaran merasa heran. Jelas-jelas seseorang tadi memanggilnya. Meski suaranya jauh beda dengan milik sang ayah. Merasa kesal sendiri, ditutupnya pintu kembali sekenanya. Dan belum mencapai kasur lagi, kini benar-benar ada yang memanggilnya. Itu ayahnya.

Ayahnya menyembulkan kepala dari balik pintu, "Suchiro datang, Cin."

Tunangannya itu menuntut penjelasan pastinya. Perihal rencana turnya yang sengaja dirahasiakan, tapi bocor juga. Cintya menganggap ini adalah jalan-jalan sendiriannya untuk terakhir kali. Sebelum ia berstatus istri orang. Ke negeri yang belum pernah dikunjunginya sama sekali. Bahkan tidak pernah berniat kesana sejauh ini, kecuali ada yang harus dilakukannya. Amanah sang almarhum ibu. 

"Baik, ayah. Terima kasih."
..............



Kamis, 05 September 2013 0 Messages

Hand Made VS Kompu Made


Lakak jua nih pic. Demi itu, hujan siang ini semestinya menyenangkan. Memang menyenangkan, tetapi kali ini lebih memilih berteman dengan si kompu menyelesaikan pic diatas. Penasaran dan tanggung saja dibuatnya. Soalnya, ditinggalkan istirahat lunch aja udah hampir kelar. Dan inilah hasilnya. Jelek bagusnya tergantung yang ngeliat sih. Bagi amatiran jelas mereka bakal terkagum-kagum (sok PD), dan profesional pasti memiliki pandangan tersendiri. Juga pastinya banyak yang akan dikomentarinya (Sudah bisa ditebak).

Yah, namanya juga menyalurkan hobi sampingan. Siapa tahu ada yang minat dan minta dibuatin avatarnya kayak gitu. Bisa jadi peluang bisnis tuh. Kan di brosurku include item 'jasa desain'. Sambil promosilah katakan. 

Saat mengentri ini, hari masih saja menangis. Musim hujan mulai masuk di awal bulan sembilan ini. Kasihan orang-orang di kampung yang kerjaannya menyadap karet. Sering tutup "kantor dinas"nya. Gak boleh begitu juga berpikirnya sih, urusan rezeki kan Allah yang ngatur. Saat dia menurunkan hujan yang beruntun kayak gini, ya selalu ada celah lain buat hambanya menjemput rezeki yang tertulis disana. 



Rabu, 04 September 2013 0 Messages

Mesin Pompa Air

Kota kecil, Sambas mandi hujan mulai pukul dua lewat. Dan masih menyisakan gerimis kasar ketika azan isya bergema. Meski demikian, kegusaranku tentang kekurangan air belum jua hilang. Paling tidak sampai matahari menyudahi tugasnya menyinari belahan bumi dimana aku bernaung (Matahari terhijab hujan)

Seharusnya, kan??? Ya, syukurnya rumah sewaku ini berada tepat dibibir sungai. Jadi tidak mengenal istilah kemarau selama pasang-surut masih berlangsung. Satu-satunya yang ingin kudengar sepuluh jam terakhir, sampai menjelang magrib tadi, adalah suara mesin pompa air. Itu dia masalahnya. Kabar buruk datang dari alat itu semenjak pagi. Saat kontak dengan listrik kuhubungkan, mesin itu meraung sebentar, lalu menunjukkan tidak ada lagi kehidupan. Uh...

Aku tidak mau ambil pusing sebab itu harus ditangani nanti. Fokusku adalah pergi "ngantor". Tepat, sepulang istirahat siang, langit menjadi mendung. Angin membawa berita air dari langit. Dan akupun senang bukan main. Hujan, siang hari. Kombinasi luar biasa untuk tidur siang. Disamping itu, solusi mesin pompa air yang macet pun tidak lama lagi akan teratasi. 

Empat lewat baru terjaga. Kedatangan Ashar telah sejam yang lalu. Kalau tidak dipaksakan, godaan materas empuk tidak bisa ditolak. Makanya aku segera bangkit menuju belakang. Menunaikan kewajiban  shalat. Sementara hujan masih membasahi kota bermoto Terigas ini (apa kepanjangannya,ya?)

"Ini ha," 
Pak Ngah menunjukkan benda kotak hitam di atas mesin pompa air. Karena khawatir hari semakin gelap, aku rela-relain deh membelah hujan. Lebih dari itu, sebenarnya ngeri saat melihat bak pada kosong semua. Mau ke kamar kecil saja malas. Tak mandi hari sore ini barangkali bisa dimaklumi sebab dingin. He...he... 

Itulah untungnya punya tetangga semi profesional teknisi permesinan dan sejenisnya, disamping usaha utamanya sebagai pengusaha air galon dan gas elpiji. Ingat urusan bertetangga adalah ibarat cermin. Baik buruknya kita akan dibalas dengan hal serupa oleh mereka. Meski aku bukanlah jenis tetangga yang baik-baik amat, tapi aku tidak ingin menjadi tetangga yang jahat. 

Akhirnya teeetttt. Pasca pemasangan alat yang kubeli dari pasar plus penggantian kabel listrik dengan yang baru, mesin itu berjalan lagi. Lega rasanya bisa melihat air keluar dari pipa paralon ukuran 3/4. 

Terkadang manfaat hal-hal kecil terlupakan sampai kita tersentak sadar bahwa tanpa itu kita bakal kesulitan. Kan?



  

Senin, 02 September 2013 0 Messages

Tebar Pesona, Ups Tebar Pamflet Sebenarnya

Langkah pertama "menaklukkan kampus" dengan menebar pesona. Maksudku sebenarnya adalah menyebarkan pamplet di Politeknik Negeri Sambas (sebelumnya Politeknik Terpikat Sambas). Asli panas luar dalam dibuatnya. Meski berbekal pengalaman kurang lebih setahun setengah bekerja di Pontianak, masih saja sulit menebus kepercayaan diri. Untungnya aku berhasil. 'Panas' itu berhenti ketika seorang kenalan datang menyapa dan tanpa malu menawarkan bantuan. Luar biasanya lagi, ia terus terang agar aku beraktifitas seperti ini meminta izin minimal dengan satpam dahulu. Sebelum sesuatu yang tidak ingini terjadi. Misalnya ditanya, "sedang apa?" Mmmm...betul juga. BTW itu artinya aku tidak sendirian. Terlepas dari ungakapannya yang mengatakan ini adalah teknik kreatif dalam berpromosi, aku cukup puas telah mengalahkan diri sendiri. 

Sasaran tembak selanjutnya adalah kampus tetangga POLNES yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Sultan Syafiuddin Sambas. Nanti, saat mahasiswa baru masuk di beberapa hari setelah pertengahan bulan. Metode yang ingin dicoba sepertinya mirip. Tapi masih ada beberapa hari untuk berfikir, unsur kreatif apalagi yang hendak di include kan. Testimoni, sebenarnya salah satu poin bagus dalam sebuah pamflet. Sayangnya, untuk mahasiswa STAIS sendiri belum banyak yang berinteraksi denganku.  

Dua diatas, agar membawa calon konsumen yang berjumlah kira-kira seribu orang dari dua kampus tersebut ke tempatku. Berhubung belum bisa hijrah ke benar-benar depan kampus mereka, semoga cara ini lebih efektif. Kata orang, sabar. Ya, sabar dengan memaksimalkan sumberdaya yang ada. 
 
;