Selasa, 04 Desember 2012 0 Messages

Ibu Tangan Besi?



            Patut ku catat dengan tinta emas. Jika pak Hendro meminta kami menitipkan sesuatu untuk disimpan di museum daerah, aku akan menyerahkan ini. Andai saja. Nyatanya guru kami yang belum juga menikah itu tidak pernah hirau. Apakah kami mengerjakan tugas rumah atau tidak. Jadi, catatan ini sementara ku simpan di tempat yang aman saja.
         “Pai, duduk yang benar. Jangan tengkurap seperti itu!” komentar ibu cantikku. Aku menurut saja, kecuali jika ingin mendengar saran-saran terbaiknya lainnya. Bagaimana mungkin aku bisa menulis dalam posisi duduk seperti ini. Namun ku paksakan terus mencatat.
       Untuk yang ke…ah, anggap saja pertama, ayah, ibu, aku, dan kedua saudara kandungku menonton tv bersama.
            Itu kalimat terakhir yang ku tuliskan. Jam menunjukkan sembilan kurang dua puluh lima menit. Sebenarnya aku sudah ingin pergi ke kamar saja. Tetapi saat ini, yang memegang kendali adalah ibu. Tidak ada yang boleh pergi tidur sebelum pukul sembilan. “Lebih baik ketiduran disini,” tegasnya.
Di luar hujan deras mengguyur disertai desauan angin kencang. Malam minggu yang benar-benar kelabu. Terutama buat Siska yang terus menerus memelototi jam dinding. Gerutu kecilnya demikian pula. Izinnya untuk ke kamar segera, tertolak ibu mentah-mentah. Padahal jemarinya sudah gatal untuk memainkan smartphone kesayangannya. Aku tahu itu.
Aldo, Kakak tertuaku sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Alasan kenapa ia bergabung di ruang keluarga adalah karena tidak bisa keluar rumah. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan peraturan yang ibu buat khusus untuk malam ini. Tingkahnya yang paling banyak mengundang celoteh ibu. Remote control tidak lepas dari tangannya. Ia memindahkan channel TVsesuka hati. Itu yang membuat ibu geram dan naik pitam.
Sedangkan lelaki berkumis dan kepalanya hampir kehilangan rambut duduk di sebelah ibu. Itu ayahku. Memang pantas ia mendapatkan ibuku yang cantik. Muka tirus, hidung bangir meskipun bibirnya agak lebar. Menjadikan wajahnya tampak selalu segar. Berbeda dengan ayah yang hidungnya sedikit besar. Rahangnya keras dan tulang pipinya menonjol. Pembawaannya berwibawa jadinya. Dibandingkan dengan kak Aldo dan Siska, aku memiliki kombinasi hidung besar dan mulut lebar.
Ayah terangguk-angguk. Sesekali kepalanya tersandar di bahu ibu. Ibu menggeser kepala ayah dengan tangannya. Lalu ayah terjaga. Begitu seterusnya. Posisinya sebagai kepala keluarga sepertinya tidak terlalu berfungsi malam ini. Dan jujur, seperti hari-hari sebelumnya juga sih. Mungkin karena mulut ayah lebih kecil dari ibu, makanya selalu kalah kalau berdebat.
Sembilan kurang satu menit. Siska bangkit dari dudukannya. Cekungan sofa tampak dalam lantaran ia membuat dirinya terperuk disana. Wajahnya ku lihat girang seketika. Dari sebelumnya yang penuh dongkol.
“Siska!” bentak ibu tiba-tiba. “Satu menit lagi!” tegasnya kemudian.
Siska bergeming. Terus berlari-lari kecil menuju kamarnya sendiri. Ku dengar dentuman pintu dibanting perlahan. “Terima kasih, nak,” giliran ibu yang agak berteriak. Menandakan peraturannya telah pun usai. Ibu membangunkan ayah dan menyuruhnya tidur di kamar saja. Ayah membuka mata dengan malas. Tanpa banyak omong, orang tuaku itu menuju kamar mereka.
“Dan kau Pai, lekas tidur. Tidak baik anak kecil menonton hingga larut.”
Ayah dan ibu hilang di balik pintu kamarnya. Aku kembali menambahkan di catatanku, berhasil. Ku bergegas pergi meninggalkan kak Aldo sendirian. Sepertinya ia sama sekali tidak berniat untuk tidur awal malam ini. Matanya terus saja mengawasi hujan diluar yang mulai reda. Ketika aku membaringkan diri di atas kasur, terdengar garasi di buka.
Sepeda motor meraung nyaring setelahnya. Garasi di tutup dan kakak tertuaku itu langsung tancap gas. Langkah kaki berlari terdengar pula dari dalam rumah. Pintu depan dibuka, “Aldo…” suara ibu mengecil di ujungnya. Marah ibu tidak kesampaian.
Aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Terasa lebih hangat dari sebelumnya. Paling tidak sesuatu yang ‘lebih baik’ terjadi malam ini.
Minggu, 02 Desember 2012 0 Messages

Pencapaian Baru

      Persis sama dengan yang kurasakan ketika membaca cerpenku muncul di annida-online.com, tepat setahun yang lalu. Senang berbaur dengan rasa syukur atas karunia Allah SWT. Hari ini secara offline, cerita pendekku berjudul Sang Pencerita di muat di koran lokal Kalimantan Barat, Pontianak Post (edisi Minggu, 02 Desember 2012). 
      Tak tahu mau bilang apa. Yang pasti ALHAMDULILLAH atas kemudahan dalam menulis dan mengirimkannya kepada redaksi. Kalian tahu, ini telah kunanti selama tujuh minggu lamanya. Pertama kali mengirim pada alamat email redaksi. Tunggu punya tunggu sampai pekan ke empat, baru sadar ternyata pada kolom apresiasi yang memuat kiriman tulisan, tertera alamat email yang berbeda. Langsung di edit tulisan sebelumnya, dan di kirim ke alamat tadi. Satu minggu setelah pengiriman ternyata belum mendapatkan hasil. Dan akhirnya pada minggu kedua, ketika ku buka site pontianakpost.com, aku hampir tidak percaya.
         
       
Sabtu, 01 Desember 2012 0 Messages

Dora The Adventurer

           Dora sekarang tidak tahu harus melakukan apa. Usianya telah pun beranjak remaja. Anak-anak yang dihiburnya dulu juga telah bertambah usianya. Tidak lagi mau bekerja sama apabila ia mengucapkan, "mau kah kalian membantuku?" Dan tidak mau menunjukkan ketika ditanyanya, "apakah kalian melihat pelangi? Kalian mau lihat isi ranselku? Katakan ransel!" Serta enggan untuk ikut bersorak bila misi telah selesai, "i did it, i did it. We did it, we did it." Bahkan Boo sekarang telah menjadi orang tua bagi si monyet kecil lainnya. 
           "Hello, Dora! Apakah sama sekali tidak ingin mengubah potongan rambutmu?"
           Dora menggeleng keras. Hanya itulah tanda terakhir dari kesuksesannya beberapa dekade lalu. Dan kini semuanya telah usai dan musnah. Dora mulai menangis. "Jangan begitu," tukasku. 
           Tapi gadis berponi dengan rambut sebahu itu bergeming seolah aku tidak ada disini. "Bagaimana dengan Diego dan Alicia?" tanyaku coba mengajaknya berbicara. 
           "Soe, mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Sekarang keduanya tengah menggarap program National Geographic-nya. Menggantikan pasangan suami istri yang dari Australia itu."
            Aku penasaran, "apa itu artinya kamu tidak mendapat tawaran apapun setelah usiamu mencapai lima belas tahun ini. Bagaimana dengan program penjelajahan kawula muda?"
           Untuk kedua kalinya Dora menggeleng. Dipikirannya, dunia nampaknya berhenti seketika. Padahal tidak demikian. Waktu akan terus bergulir. Itu adalah putaran masa yang tidak bisa diubah oleh siapapan kecuali Yang Menciptakan waktu itu sendiri. 
            "Dora," ku berucap lagi. Gadis itu mendongak ke arahku sembari menyeka matanya yang tampak merah. 
             "Jika penjelajahan tidak lagi sesuai dengan usiamu, bagaimana dengan petualangan?"
             Baru kali ini aku melihat jidat Dora berkedut. Tokoh animasi dihadapanku itu ternyata punya rasa bingung juga. "Maksudmu, Soe?" tanyanya heran. 
           "Aku punya sebuah kapal di tepi dermaga. Kukira itu lebih dari cukup untuk kita bertualang ke seluruh penjuru dunia. Apa pendapatmu?"
            "Kapal? Kita?"
            "Namanya bukan lagi Dora the Explorer, tapi Dora the Adventurer! Menarik, bukan. Tapi tenang saja, ini akan tetap menjadi acaramu. Aku perlu banyak belajar darimu tentang mengelilingi semua tempat dan menyelesaikan misi."
             "Oh, Soe...terima kasih, tapi"
             "Tak perlu terpesona dan terperangah seperti itu, Dora."
         "Bukan, bukan maksudku terpukau Soe. Hanya saja, lebih tepatnya petualangan apa nantinya program kita ini?"
         Aku juga bingung sebenarnya. "Teman-teman, maukah kalian membantu kami?"

Adoeh! iseng-iseng saat tetangga sebelah memutar CD Dora. 

Jumat, 23 November 2012 0 Messages

De' Bujangers


            Masih sulit memercainya bahwa ide ini keluar dari kepalanya si Abun. Begitu jenius meskipun sedikit abnormal. Tak masalah sama sekali, justru itu penemuan yang patut dihargai. Dimana-mana, sesuatu yang ‘wah’ hampir semuanya berasal dari ketidaknormalan. Jika tidak, dari yang sederhana. Bukan biasa-biasa, maksudku.
            Abun datang dengan marah-marah. “Dikiranya ini main-main apa?” tukasnya emosional. Aku bergeming dan konsentrasi dengan dunia maya.         “Sudah menikah kok mau masuk De Bujangers. Beranak satu lagi,” lanjut lelaki empat puluh tahun itu.
            Aku membetulkan dudukan dan kacamata, “itulah tugasmu selaku pendiri. Untuk menjelaskan bahwa komunitas ini bukan biro jodoh atau semacam itu. Ini adalah komunitas para lelaki ‘tua’ untuk saling bantu membantu menjemput jodoh. Bukan begitu?” ucapku mengulangi visi Abun dulu.
            “Yang paling parah, ia ingin mencari istri yang ketiga. Bengak gak tu!”
            Temanku itu mendekat. Meraih kursi lalu duduk disampingku. “Kayaknya perlu ditekankan penjelasan itu di blog kita,” kata temanku itu  menunjuk-nunjuk ke layar komputer.
            “Yang bergabung semakin banyak,” aku mengabarkan perihal traffic site kami. Paling tidak sudah ada lebih dari lima puluh orang yang bergabung dalam waktu dua bulan. Peningkatannya di page facebook lebih drastis lagi. Ternyata banyak yang senasib dengan kami. Abun tepatnya.
            Itu akan terus bertambah setiap harinya. Aku yakin. “Siap-siap jadi terkenal, bro,” kataku kemudian.
            “Jelas,” tanggapnya singkat.
            “Sebentar-sebentar.” Abun menyerobot key board dari tanganku. Jelas aku tahu apa yang ingin dibukanya. 
“O..ow, aku harus balas ini segera,” katanya sembari mengetik beberapa kata.
            Masa remaja kurang bahagia!
Tugasku tak lebih sebagai operator. Itu memang pilihan yang kuambil untuk mengembangkan komunitas ini. Mempromosikan De’ Bujangers lewat dunia maya. Sedangkan Abun sendiri, selaku pencetus berhak untuk menjadi ketua. Dan bertatap langsung dengan calon anggota baru. Kalau kebetulan berdomisili di daerah ini juga. Seperti yang tadi itu. Sayang saja, pengalaman pertama tidak terlalu bagus. Tapi itu akan menjadi permulaan yang baik.
…………..
            Ku dapati Abun melongo di kamarnya. Tubuhnya meringkuk dibalik selimut tipis. Agak jorok sih sebenarnya, tapi mau apa lagi. Calon orang terkenal harus di beri dukungan disaat-saat kritis dalam hidupnya. Itulah gunanya kawan. Seperti saat ini. Ku yakin, pertemuan kemarin adalah penyebabnya.
            “Ia kecewa, Ban,” tukas Abun lesu.
            Ah, siapasih sebenarnya yang kecewa. Cewek itu atau Abun sendiri sampai demam seperti ini. Sudah berkali ku katakan agar menjadi apa adanya saja. Tidak perlu lah menggunakan gambar orang lain di profile facebook segala. Ini jadinya.         Tentunya membahas itu lagi sekarang kurang tepat waktunya.
            “Siapa namanya?” ku coba mengurai pertemuannya dengan si cewek kenalannya via facebook itu.
            “Usianya tiga puluh. Sebenarnya tampangnya tak bagus-bagus amat. Namanya Liya.” Abun menarik selimutnya lebih tinggi.
            Aku mengangkat hidung sedikit. Semoga filter didalam benar-benar menyaring debu yang masuk. Dan mengurangi bau apek juga pastinya. Selain itu, jujur aku jengkel dengan sifatnya kekanak-kanakan seperti ini. Meskipun perihal mencari pasangan hidup ini sangat berat buat Abun. Namun, jangan sampai segininya kali.
            Sering ia bercerita tentang rasa irinya ketika melihat teman-teman seusinya jalan-jalan bareng istri dan anak-anaknya. Hatinya kecut setiap kali bertatap muka. Satu pertanyaan yang paling dibencinya adalah, “kapan menikah?”. Aku mengerti perasaan kawanku itu. Karena kami kurang lebih sama. Namun, aku lebih muda tentunya, lima belas  tahun. Dan juga ada beda lainnya, meskipun sama-sama belum menikah. Aku hanya tinggal menunggu si dia menyelesaikan studinya. Jadi, tak perlu mencari yang lain lagi.
            Tak kuasa membujuknya, kedatanganku hanya ingin menyampaikan bahwa seseorang hendak bertemu dengan pendiri De’ Bujangers. Tak jelas tujuannya, mungkin hendak menjadi anggota baru. Soalnya lewat sms saja. Tugas Abun lah itu menerimanya. Semoga kali ini berjalan lancar.
            “Pukul berapa?” tanya Abun lemas.
            “Setengah dua.”
……………
            Kami telah saling kenal, bahkan sejak masih sama-sama ingusan. Ia sering membelaku ketika berkelahi. Ia juga tak jarang membantu mengerjakan tugas sekolah. Seandainya waktu itu aku sudah mengenal kata malu, tentu aku menolak mentah-mentah segala bentuk pertolongannya. Merendahkan martabat sebagai bocah laki-laki yang bisanya berlindung dibalik punggung seorang anak perempuan.
            Kini, Khodijah sudah sangat, sangat berbeda. Kepalanya sudahpun berbalut jilbab. Otomatis, pakaiannya menyesuaikan. Panjang dan menutupi tubuhnya yang sempurna. Menjadikan muka tirus dan hidung bangirnya semakin sepadan dengan wajah ayunya. Metamorfosis tidak hanya bentuk fisiknya saja, perilakunya juga. Ia selalu menjaga jarak antara kami. Bukan mukhrim, alasannya. Meskipun begitu, tak sedikitpun kehangatan persahabatan berkurang, ku rasa. Aku mencoba memahami sebagai teman dan sebagai satu sisi lain lagi.
            Sempat ku tanya, apakah ia masih single sekarang? Ku tahu itu tidak pas ditelinganya. Raut mukanya menunjukkan ketidaksetujuan tentang istilah tersebut. Sebab persisnya, aku bingung. Ternyata Khadijah telah mengetahui banyak hal dari kota. Tentang Islam serta bagaimana menjalankan Islam itu sendiri. Aku kagum dibuatnya. Satu-satunya kata yang menggambarkan setiap kali bersua dengannya adalah minder.
            “Kita tidak boleh seperti itu, Iban,” katanya menjelaskan.
            “Apa yang kita lakukan adalah bagian dari proses perbaikan. Minder hanya layak ditujukan kepada Allah sang pencipta. Makhluknya tak ada yang lebih,” tambahnya lagi.
            Ia menghubungi kemarin, mengatakan bahwa bulan depan prosesi studinya di kota selesai. Pada bulan yang sama juga akan diwisuda. Tiba saatnya. Siapa yang tidak senang. Orang tua pun telah merestui. Aku, tentu saja pewaris tunggal pabrik padi ayah. Tidak perlu tunggang langgang kesana kemari mencari kerja. Ayah pun tidak keberatan, kelak aku mengoperasikan usaha perkebunannya juga. Ditambah, aku sering membantunya. Sekedar belajar dan mencari pengalaman. Sementara, Ibu bahkan sangat senang bermenantukan Khadijah.
            Di sela-sela kesibukan itulah aku membantu teman berumurku, Abun. Abun pasti senang mendengar kabar ini. Tangan kanannya sendiri telah sukses menemukan cintanya. Bangga pastinya dia. Mungkin sedikit terkejut mengenai Khadijah, tapi itu tidak masalah sama sekali. 
            …………….
            Hidup terkadang benar-benar menyiksa. Karena kita tidak bisa memilih sesuka hati. Tapi harus dengan usaha yang mapan, baru apa yang diinginkan akan termakbul. Semakin kasihan aku pada Abun. Apa mungkin sosok yang ditemuinya tadi lelaki yang ingin beristri lagi? Semoga tidak.
            “Bengong, bun!”
            Dia marah jika dipanggil abang hanya lantaran pautan usia. Sebut nama saja, tegasnya suatu waktu dulu. Aku menarik kursi, lalu bergabung dengannya. Jarang alias ini untuk pertama kalinya, secara resmi ia memintaku datang. Katanya, ada sesuatu ingin disampaikannya. Kebetulan sekali, aku juga ingin berbicara dengannya.
            Tatapannya sekilas ke arahku. Abun tak tertarik menjawab lekas. Matanya menyapu lalu lalang pengendara. Pikirannya seolah terbawa merayap juga. Untung mukanya tidak ikut-ikutan. Ya, sore ini kami mangkal di kantin di tepi jalan. Coffee street istilahnya.
            “Orang itu tidak datang. Tapi, bukan itu yang ingin ku katakan,” perhatiannya kini mengarah kepadaku. Ia menghela nafas berat. Seberat perihal yang ingin disampaikannya sepertinya. Aku bungkam.
            “Menurutmu Khadijah bagaimana? Maksudku, apakah aku tidak terlalu tua untuknya. Kemarin, ibunya mengatakan gadis itu akan wisuda bulan depan. Artinya kan, tidak salah kalau aku mencoba keberuntungan. Kau tahu, sebenarnya selama ini aku menyisakan ruang di hatiku untuk gadis itu.”
            Gelas berisi kopi panas, batal ku seruput. Aku mengembalikan pada tatakannnya. Ia disana sebisu diriku sekarang. Kepulan asapnya ku harap mampu memberi saran terbaik. Kata apa yang harus ku ucapkan setelah ini. Kata-kata seolah sirna dari kepalaku. Apalagi harus merangkainya menjadi sebuah kalimat. Ternyata Abun…?
            Sulit membayangkan jika aku berterus terang sekarang. Abun tidak pura-pura. Seingatku baru kali inilah Abun benar-benar serius. Tak pernah ia seperti ini. Apalagi menyangkut seorang wanita. Aku masih belum memberikan tanggapan. Abun menunggu dengan jengah.
            “Begini,” aku memulai dengan gugup.
            Apa yang terjadi terjadilah setelah ini. Di satu sisi, tidak bisa aku membohongi diri yang juga berharap pada Khadijah. Di sisi lainnya, aku enggan ku kehilangan teman seperti Abun. Jalan tengahnya adalah lelaki itu mengurungkan niatnya pada Khadijah setelah penuturanku. Tapi itu kecil kemungkinannya.
Meski nanti akan menghadapi kondisi terburuk lalu pulih kembali, namun itu akan berlainan sama sekali. Ketika tunggul sudah ada, payah untuk menjadikannya seperti semula.
            Aku mulai menata kata-kata lagi, “Khadijah orangnya baik. Ku pikir jodoh tidak pernah mempermasalahkan tentang seberapa jauh jarak usia. Hanya saja….”
            “Hanya saja apa?” pangkasnya.
            “Sudah dipikir masak-masak?”
            Sadar dengan sesadar-sadarnya, aku tidak seharusnya mengatakan tadi. Tapi entah bagaimana kata-kata itu meluncur begitu saja. Dengan demikian aku telah menabuh genderang perang dari belakang temanku. Aku, aku mungkin juga telah menikam jantungnya dengan tidak berkata jujur.
            “Aku mengerti maksudmu, ban. Terima kasih.”
            Muka suram itu berseri seketika. Bumbung harapan menjadikannya seolah hidup kembali. Abun menjabat tanganku erat. Justru kengerian merayap di seluruh tubuhku. Membayangkannya hancur berkecai-kecai nanti. Sempatku berpikir meralat semuanya sekarang. Namun, hati kecilku terus menyayangkan. “biar waktu yang menyelesaikannya, dia pasti mengerti nantinya,” begitu tukasnya.
            Kopi terasa dingin dan rasanya menjadi hambar. Sore mulai mengubur diri di ufuk barat. Jagadnya pelan-pelan berubah mega oranye kemerahan sekarang. Abun telah lama meninggalkanku sendirian disini. Kumandang azan menghentak lamunanku. Mengingatkan saatnya harus beranjak.
…………..
            Dua hari aku disibukkan membantu ayah di perkebunan yang kebetulan letaknya jauh dari kampung. Mau tidak mau, kami harus menginap. Ini pengalaman penting, ban. Begitu kata ayah menekankan pentingnya aku ikut dengannya waktu itu. Buruh di perkebunan menuntut kenaikan gaji. Hal-hal seperti ini mungkin akan terulang dimasa depan. Demikian tambah ayah lagi. Maka, dalam dua hari yang lalu aku telah belajar bagaimana bernegosiasi dengan para pekerja yang ikut mengembangkan perkebunan orang tuaku.
            Abun tidak mengangkat teleponnya dan sms ku pun nihil balasan. Ku pergi ke rumahnya. “Ia pergi kemarin. Tak tahu kemana,” kata ibunya yang telah renta.  
Hanya itulah satu-satunya informasi tentang menghilangnya Abun. Tapi dibalik itu semua, jelas aku tahu sebab pemergiannya yang tanpa kabar. Pergi adalah pelampiasan amarahnya. Pengkhianatan dari kawan sendiri lebih sakit, bukan?  Abun telah mendengarnya.
            Khitbah, istilah yang sering disebutkan oleh Khadijah saja belum. Berita di kampung menyebarnya bahkan lebih cepat dari aliran listrik. Kabar burung mengatakan, sepulang Khadijah nantinya akan langsung menuju ke pelaminan. Banyak warga yang menyayangkan. Terlalu dini, katanya. Yang semakin mereka herankan adalah kenapa harus aku. Bukankah pemuda kota lebih banyak yang lebih. Lebih keren, misalnya. Namun, aku yakin gadis itu enggan membuat telinganya pekak dengan isu murahan tersebut kelak.
            Yang terpenting sekarang adalah Abun. Minta maaf adalah hal pertama yang ingin ku utarakan padanya. Meskipun memaafkan jauh berbeda dengan melupakan. Seperti kata hatiku beberapa hari yang lalu, semoga ia maklum.
            Menepikan Abun sejenak, aku mengkonfirmasi permintaan pertemanan dari banyak orang. Juga membalas pesan-pesan di blog. Ada diantara mereka yang meminta penjelasan bagaimana detilnya komunitas ini. Apakah semacam agen, begitu. Ku jelaskan sekenanya rencana De’ Bujangers kedepannya. Seperti akan melakukan pelatihan pengembangan kepribadian, menginformasikan lowongan  pekerjaan, dan yang serupa dengan itu pokoknya. Intinya, komunitas ini adalah bentuk penanggulangan dari hambatan-hambatan yang memperlancar menjemput jodoh.
            Ada pula yang bertanya tentang muka. Kurang ganteng dan sebagaimana. Aku tersenyum sendiri sebelum menjawabnya. Untuk urusan yang satu itu, kami bahkan tidak memikirkan untuk membuka jasa operasi plastik. Selain melanggar aturan Tuhan, tentu biayanya tidak sedikit. Aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan pada si penanya. Di balasnya dengan, “komunitas macam apa ini! Katanya, katanya, katanya dan bla-bla-bla.” Sebagian lagi mengatakan bahwa komunitas dan blog ini adalah yang paling tersinting yang pernah di temuinya. Itu urusannya.
 Urusanku sekarang adalah Abun. Sebenarnya tadi berhasil sejenak tidak menghiraukan tentang dia, kini kepalaku berdenyut dan rasa bersalah kembali menghinggapi.
Pintu  base kamp sekaligus kamarku diketuk dari luar. Aku penasaran. Satu-satunya orang yang melakukan itu adalah Abun. Benar, sosoknya muncul dari balik pintu seketika. Aku siap menghadapi ini.
“Kau tahu, ban. Berita itu hampir membuatku bunuh diri. Lebih baik terjun saja dari jembatan, pikirku kemarin,” tukasnya terdengar lirih. Mukanya berubah sedih.
Sementara aku mulai menjadi tegang. Kami memang sering saling umpat, tapi tidak pernah bersitegang seperti ini. Kalau hampir, termasuk sering.
“Kejam. Kau benar-benar kejam, ban. Seandainya berkata jujur sore itu, mungkin tidak akan terlalu menyakitkan seperti ini,” tambahnya lagi. Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Persis waktu sore itu. Kepalaku menunduk. Baru hendak berucap, tiba-tiba tawa Abun pecah. Terpingkal dan lama seperti itu hingga air matanya jadi keluar. Ia menepuk pundakku. Heran jadinya.
“Sebaiknya aku ikut audisi pencarian aktor,” ucapnya masih menyisakan tawa.
Aku masih terdiam bingung.
“Ban, kau kira tadi itu benar-benar. Tentu saja tidak oh Iban si anak kacamata tebal.”
Otakku berjalan tidak terlalu cepat. Sulit menyesuaikan keadaan. Dari tegang menjadi sesantai seperti ini.
“Mana mungkin aku melarikan diri dari kampung hanya gara-gara temanku ini akan menikahi gadis yang ku taksir,” Abun menunjukkan jemarinya ke dadaku. “Kau ingat, sudah berapa kali aku ditolak para ladies? Tak satupun yang membuatku kecut. Termasuk yang kemarin itu. Ku tahu kau mengira aku demam lantaran cintaku terbuang, kan?”
Aku mengangguk
“Salah,” Abun menyeka air matanya untuk terakhir kalinya.
Aku tetap tanpa suara.
“Ternyata orang yang tidak datang hari itu adalah seorang perempuan. Heran, kan? Aku juga heran. Aku tahu karena dia datang di hari kau pergi ke perkebunan. Kau tahu maksudnya? Ya itu, ingin bergabung dengan de’ bujangers.”
“Tunggu-tunggu,” aku memotong penjelasan Abun. “Dan kau menolak keikutsertaannya. Karena kau akan datang melamarnya keesokan harinya.”
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah ini. Karena hidup memang misteri. Hak kita adalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Hasil, Allah juga yang menentukan. Semuanya terjadi begitu aneh dan cepat.   
…………..
“Jadi?”
Aku meminta keputusan terakhir sang deklarator. Mati atau maju terus? Meskipun kepastian jawaban itu sudah ada di kepalaku. Aku yakin, pendapat Abun juga sama. Apa lagi yang kami harapkan. Status kami tidak lagi lajang. Menikah dalam satu atap. Aku dan Khadijah di sebelah kanan. Abun dan istrinya, Atiqah tiga puluh dua tahun, di sebelah kiri. Itu sebuah pencapaian baru dalam tradisi di kampung kami. Itu sebulan yang lalu.
Abun meng-klik tanda ‘x’ pada sudut kanan. Aku tahu jawabannya. Setelah ini, de’ bujangers hanyalah kenangan paling lucu dan gila dalam hidup kami masing-masing. Sebagai penutup sejarah, aku mengabarkan bahwa mulai saat ini de’ bujangers tinggal sebuah nama. Permohonan maaf juga ku tuliskan dengan sekhidmat mungkin. Ku harap mereka akan menyesal mendengarnya.
Tak lama berselang, sebuah email masuk. “Aduh, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Padahal aku baru bergabung.”
Aku dan Abun serentak mengangkat bahu. 
Selasa, 20 November 2012 0 Messages

TIDOER


Ketika terjaga, ku dapati tidak lagi berada di kamar di rumah kontrakan. Mungkin itulah sebabnya tidurku tidak punya mimpi. Bau obat-obatan menyeruak dan berjejalan di hidung. Ku lihat ibu meneteskan air mata. Dan ayah pula menyeka matanya sendiri. Muka adikku yang berdiri di sisi dinding mulai mendung. Ada apa gerangan? Aku tidak kenapa-napa atau barang kali sangat kenapa-napa. Hanya aku belum tahu saja.
Sakit kepala seperti kemarin itu sering kali melanda. Ini seingatku yang terparah. Sehingga aku bahkan tidak sadar ketika dipindahkan ke rumah sakit ini. Seorang perawat masuk dan memanggil ayah. Ayah keluar seketika. Ibu mengekor dari belakang. Aku tersenyum getir. Apakah ini benar-benar gawat?
Aku ingat sekarang, kemarin itu….
…………..
Kalian tahu, aku selalu senang kalau hujan di tengah hari. Itu artinya tidak pergi ke kios paling tidak sampai setelah ashar. Dan jika hujan berterusan, malam hari baru aku ke kios lagi. Mengunci gembok saja. Itu juga artinya, aku bisa tidur siang dengan nyaman.
            Perutku tidak lagi bernyanyi ria. Setelah diisi dengan menu super apa adanya. Ya, tak jauh-jauh dari menu hari-hari sebelumnya. (Lebih baik jadi rahasia saja, ya). Aku langsung menunaikan niatan tadi. Merebahkan diri di atas kasur di atas lantai. Cukup empuk meskipun tidak terlalu tebal. Selimut perlahan-lahan mengirimkan hawa panas ke seluruh tubuh. Dingin yang meraja tadi, mulai berkurang.
            Satu hampir lima belas menit. Setelah mendengarkan lagu dari HP sebentar, timbul minatku untuk membaca buku yang dipinjam kemarin di perpusda. Seandainya siang ini tidak hujan, sebenarnya aku ingin mengembalikannya saja. Namun terlanjur tidak ada yang dibaca beberapa hari ini, mau tidak mau. Tak ada rotan akar pun jadilah.
            Buku pertama dari Trilogi Golden Compass. Dibaca serius ternyata seru juga. Aku merasa tengah bertualang ke negeri lapland bersama si bocah Lyra dan daemonnya. Lembar demi lembar terlahap juga. Sembari menguap terus-terusan, ku pikir saatnya untuk tidur. Itu sudah pukul dua lewat hampir lima menit.
            Ku betulkan posisi dari tengkurap menjadi telentang. Ku naikkan lagi selimut semakin tinggi. Ku sisakan untuk mukaku saja. Selalu begitu sedari kecil dulu. Aku masih ingat kenapa itu bisa terjadi. Dan aku tidak ingin bercerita di sini, ok? 
            Alarm sudah di-stel. Pikiran ku biarkan menerawang. Tak ingin berpikir berat, karena pengalaman mengatakan; itu akan membuatku susah tidur. Memikirkan alur cerpen yang tengah ku tulis, misalnya. Tepat, yang seperti itu akan membuatku sakit kepala karena sukar terlelap. Dengan posisi mata tertutup, slide-slide entah tentang apa saja hilir mudik. Silih berganti dengan sketsa ceritanya sendiri. Ku biarkan tetap seperti itu. Hingga akhirnya, kesadaranku sudah diambang pintu. Aku berlayar ….
            “Bruaaak.”
            Aku terlonjak pelan. Spontan tubuhku bergerak. Tidak perlulah untuk melihat ke sosok penimbul suara tadi. Itu adalah adik laki-lakiku yang baru pulang dari sekolah. Ia datang lebih telat dari biasanya lantaran hujan sangat lebat. Berbeda denganku yang sekurus kacang, tubuhnya gemuk. Lantai kayu tak berhasil meredam langkah kakinya yang berat. Seolah paku-paku tercabut dari tempatnya. Aku kesal. Padahal ….
            Itu yang paling ku benci. Ketika tidur siangku diganggu begitu saja. Oleh siapa dan bagaimanapun caranya. Sulit bagiku untuk kembali terlelap. Seolah rasa kantuk sirna tak bersisa. Dengusan dalam benakku menjadi andalan. Pikiranku ikut bergabung. Semuanya jadi kacau. Percuma rasanya memejamkan mata. Yang ada hanyalah kepala mulai berdenyut-denyut.
            Ku raih HP di samping kasur. Dua dua puluh. “tiga puluh menit lagi,” kataku membatin spontan. Tiga puluh menit menjelang shalat ashar. Ku rapatkan mata kembali. Berharap kantuk tak berat hati kembali menyapa. Ku ingin tertidur meskipun sekedar sepuluh menit saja. Itu sudah cukup dan lebih baik daripada tidak tidur sama sekali.
            Sulitnya mengosongkan pikiran kembali. Ku paksakan dan akhirnya berhasil. Mataku mulai sendu. Dan aku senang. Namun, sebuah pesan singkat membuyarkan harapanku. Entah kenapa getaran HP terdengar begitu menggelegar. Mataku terbuka lesu. Tangan otomatis melakukan fungsinya. Membuka isi pesan tersebut. Seperti dugaanku, ada nomor HP yang pulsanya mesti di isi. Sudah resiko berprofesi sebagai penjual pulsa elektronik. Begini jadinya. Pesan itu berasal dari ayah.
            Perlu kurang dari satu menit untuk menyelesaikan urusan dengan pesan singkat tadi. Aku mencoba keberuntungan kembali. Membolak-balikkan badan sekenanya. Ke kiri lalu ke kanan. Ke kiri lagi dan ke kanan lagi. Tak ada yang betul rasanya. Sementara jam terus saja berjalan. Aku meringis kesal.
            Aku tahu tidak akan ada lagi acara tidur siang. Walau demikian, mataku tetap ku suruh untuk meram saja. Biar pendengaran yang menangkap apa yang terjadi di sekitar. Suara gitar adik laki-lakiku. Dan lari-lari bocah tetangga. “Lengkap sudah!”
            “Ih abang gendut,” si Ida masuk ke rumah dan ikut memainkan tali gitar. Aku tidak tahu persisnya seperti apa. Yang pasti hasilnya, “treeeng-treeeng-dan-treeeng.” Adikku marah pada Ida. Jelas ia anak yang bengal dan nakal. Ku garis bawahi itu. Merasa apa yang diinginkannya tidak terpenuhi, langkahnya beralih ke arah kamar. Dimana aku tengah berbaring. Dari dulu ia begitu terpesona dengan kasur ini. Dan kini tiba saatnya untuk melompat merasakan empuknya. Tak tanggung, ia berdiri di pinggir kepalaku. Melompat, seperti yang dimauinya.
            “Ida!” Tentu saja aku marah. Namun suara ku atur pelan. Karena rumah ida sangat berdempet dengan rumah kontrakan ini. Takut saja, orang tua atau saudaranya mendengar. Apalagi kami orang datang disini. Tidak enak saja, sebagai pendatang baru. Tapi, kelakuan Ida sudah keterlaluan. Ku pukul kakinya menggunakan tangan. Tidak sakit memang, tapi bisa menghentikannya. Matanya menjadi sasaran pelototan mataku. Ia bergeming. Berlari-lari keluar sambil bernyanyi. Seolah tidak terjadi apa-apa. Dan seperti itulah Ida. Aku dongkol jadinya.
Satu sisi, aku salut dengan bocah itu. Imunitasnya luar biasa. Tidurnya pukul sepuluh lewat. Dan paginya terjaga awal. Tidak pernah tidur siang dan selalu ceria pembawannya. Tadi saja ku dengar ia bermain di tengah hujan. Meski sendirian saja.
“Allahu akbar, Allahu Akbar, Allah…..” Akhirnya suara merdu Maher Zain dalam tembangnya always be there mengubur cita-citaku siang ini. Ku matikan alarm. Di kejauhan terdengar kumandang azan dari corong Masjid. Mulanya satu saja. Di sambut dengan kumandang lainnya. Dan lain lagi setelahnya. Ashar telah tiba. Saatnya untuk membangkitkan badan. Meski sukar, mengikhlaskan adalah pilihan terbaik, ku kira. Ku tarik nafas dalam. Duduk, lalu bangkit. Belum sempurna ku berdiri, kamar berputar dahsyat. Setelahnya, mungkin aku terjerembab dan tertidur.
………………
Aku masih terbaring di atas ranjang pesakitan. Dugaanku matahari baru saja naik, tetapi ternyata zuhur telah lewat. Saatnya untuk melaksanakan kewajiban, tukasku pada diri sendiri. Kini ibu yang mendahului masuk ruangan. Mukanya tampak lesu dan mayanya hilang entah kemana. Lalu ayah muncul kemudian. Dengan raut muka yang sama. Setelah shalat, stepertinya aku perlu tidur lebih lama untuk mendengar kabar yang mungkin menyakitkan. Ketika aku terjaga lagi, ku harap kabar itu terdengar biasa-biasa saja. Aku ingin bermimpi. Itu saja.

<< Tak lebih dari guratan fiksi semata. Terutama pada poin awal dan akhir. Setelah ini ku harap bisa tidur siang dengan nyenyak. Kalau tidak pun, kedongkolan ini sudahpun tersimpan disini. Jadi untuk apa dibesar-besarkan, kan? He..he..he… >>

Sabtu, 17 November 2012 0 Messages

Koepoe-koepoe

Kupu-kupu yang lucu
Kemana engkau terbang
Hilir mudik mencari 
Bunga yang kembang

        Itu tak masuk dalam kamusnya. Ia justru memilih menjelajahi ruangan dimana aku tengah bersimpuh. Ku perhatikan kemana saja ia merayap. Dan deru benda berputar ternyata mampu memikat dirinya. Dari balik celah yang sempit, di jejalkannya tubuh bersayapnya. Aku masih menatap lekat kearahnya, tanpa bisa berbuat lebih. 
         Dikiranya benda itu sesuatu yang enak untuk dicoba, mungkin. Salah besar! Semuanya tuntas ketika baling-baling tajam menghamtam sosoknya. Sayapnya tidak lagi dua, melainkan terpotong-potong kecil. Sementara tubuhnya lunglai tak bernyawa. Tergeletak di celah-celah besi dimana ia masuk tadi. 
        Kupu-kupu yang malang. Bukan! Sama sekali tidak tepat. Itu adalah cara mati yang telah Allah tentukan bagi binatang bersayap tersebut. Dari telur menjadi ulat yang menjijikkan kebanyakan orang. Dilanjutkan kepada masa kepompong hingga metamorfosis.  Jadilah ia binatang yang bisa terbang. Tak lagi dibenci orang, namun sebaliknya. Kecuali mereka yang benar-benar jahil...

Kamis, 08 November 2012 0 Messages

New One Next Year

    Persis, seperti dugaanku
    Akan begini akhirnya
    Hanya saja, waktunya datang terlalu cepat
    Ketika aku belum mempersiapkan semuanya
    Terlanjur
    Apapun, mau tidak mau musti dihadapi
    Siap tidak siap
    Meninggalkan jejak
    Kenangan dan kepahitan
    Sama menyakitkannya
            Kumenguatkan diri
            Hanya butuh beberapa waktu
            Untuk melupakannya
            Menjadikannya secuil sejarah
            Mungkin, suatu waktu nanti bisa diceritakan
            Baik dengan senyum ataupun kegetiran
            Yang pasti, tidak akan ada bedanya
                       Satu hal
                       Kenyataan itu ada dihadapan
                       Meratapi tidak akan mengubah keadaan
                       Biar mata tercungkil dari rongganya
                       Sia-sia belaka
      Aku punya jalan,
      demikian pula dia
      Kini, hanya mencoba berbaik sangka pada Sang Pencipta
      Ikhlaskan menerima
      Ku kira itu, itu sebaik-baiknya penghambaan
      Tak ingin lumpuh hanya karna seorang wanita
      Disini, ketika menuliskan ini
      Cita-cita semakin jelas saja
      Jangan sampai gugur dikarenakan penderitaan
      Melainkan sebagai penawar hati yang berduka
                Ku yakin tahun depan lebih cerah, Insya Allah
                Begitu juga dengan cintaku yang memudar kini
                Tergantikan
                Terangkat tabir misteri
                Seseorang yang jauh lebih baik
                Merengkuh kesuksesan dan cinta sejati
                Sekali lagi, aku yakin itu.
                Sama sewaktu menanti kelulusan memasuki perguruan tinggi, dulu
                          Insya Allah.....
            
   
 
;