Mm... namanya juga orang sepok atau wong ndeso. Gak pernah pergi ke kota. Maklum..he..he.. Jadilah saya berperan sebagai pandu wisata.
Perjalanan yang ditempuh sekitar tujuh jam. Dari Sambas menuju Sui Kakap, Kab.Kuburaya dimana sepupu saya menikah disana. (Terasa mimpi, seolah baru kemarin ketika kami masuk SD bersama-sama. Hanya saja dia berhenti di kelas satu. Maunya satu kelas sama saya. Namun ia harus masuk kelas siang. Barakallah saudara. Juga seakan-akan baru kemarin ketika kami bersama-sama selama dua tahun pergi dan pulang SMK yang berjarak belasan kilometer).
Sekarang aku benar-benar sadar, ternyata waktu bergulir begitu cepatnya. Dan diri ini sudah cukup tua..he..he..
Kirain bis carteran, eh tau nya gak. Memang, transportasi di negeri ini masih mengerikan....lewat.
Lucunya, setelah puluhan kilo meter, ternyata bukan hanya aku yang menahan ingin buang air. Biasalah wanita lebih suka terus terang. Mak, dan bibi-bibiku yang lain sedikit gelisah akan hal itu. Tidak sabaran menunggu bis berhenti untuk makan siang. Sebenarnya agar bisa melepaskan panggilan alam...(sorry).
Daaaann, tiba di kota pontianak ini yang lucu. Untung dalam bis itu orang kita semuanya. Maksudnya orang-orang yang memang ingin pergi ke walimahan sepupu. Biak-biak (anak-anak) kecil terkesima melihat rentetan jumbo. Belum lagi kapal feri yang ukurannya lebih besar dari yang biasa dilihat. Plusss, bangunan yang bertingkat-tingkat. Saya yakin yang tua nya hanya terlalu pintar untuk menyembunyikan kekagumannya. Oho...
Pas didepan tugu menjulang, "Itu tugu khatulistiwa" Ujarku. Itu bakalan ada di pelajaran IPS. Entah mengerti atau tidak yang ku beritahu. Tak berminat aku untuk melanjutkan kenapa tugu itu dibangun. Selanjutnya, ketika melewati jembatan Landak dan Kapuas, "Nah, kalau ini sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia." Kata ku lagi.
Masuk telinga kanan keluar telinga kiri kayaknya. Tak apa. Karena mereka lebih tertarik untuk melihat pesawat yang menderu di angkasa. Tak heran seperti itu, toh disana kan memang dekat dengan bandara. Jadi badan pesawat yang tengah mengudara terlihat lebih besar. "Mana? Mana? Mana?" Dari yang muda sampaii yang tua...he..he..
Datang di Sui Kakap tepat pukul Lima kurang sepuluh menit. Badan kami semua letih. Dan harus menaiki pick up agar sampai di tempat tujuan dimana acara pernikahan di gelar.
Uppss photo-photonya gak ada yang bagus...jadi sorry gak bisa dientry....
Perjalanan yang ditempuh sekitar tujuh jam. Dari Sambas menuju Sui Kakap, Kab.Kuburaya dimana sepupu saya menikah disana. (Terasa mimpi, seolah baru kemarin ketika kami masuk SD bersama-sama. Hanya saja dia berhenti di kelas satu. Maunya satu kelas sama saya. Namun ia harus masuk kelas siang. Barakallah saudara. Juga seakan-akan baru kemarin ketika kami bersama-sama selama dua tahun pergi dan pulang SMK yang berjarak belasan kilometer).
Sekarang aku benar-benar sadar, ternyata waktu bergulir begitu cepatnya. Dan diri ini sudah cukup tua..he..he..
Kirain bis carteran, eh tau nya gak. Memang, transportasi di negeri ini masih mengerikan....lewat.
Lucunya, setelah puluhan kilo meter, ternyata bukan hanya aku yang menahan ingin buang air. Biasalah wanita lebih suka terus terang. Mak, dan bibi-bibiku yang lain sedikit gelisah akan hal itu. Tidak sabaran menunggu bis berhenti untuk makan siang. Sebenarnya agar bisa melepaskan panggilan alam...(sorry).
Daaaann, tiba di kota pontianak ini yang lucu. Untung dalam bis itu orang kita semuanya. Maksudnya orang-orang yang memang ingin pergi ke walimahan sepupu. Biak-biak (anak-anak) kecil terkesima melihat rentetan jumbo. Belum lagi kapal feri yang ukurannya lebih besar dari yang biasa dilihat. Plusss, bangunan yang bertingkat-tingkat. Saya yakin yang tua nya hanya terlalu pintar untuk menyembunyikan kekagumannya. Oho...
Pas didepan tugu menjulang, "Itu tugu khatulistiwa" Ujarku. Itu bakalan ada di pelajaran IPS. Entah mengerti atau tidak yang ku beritahu. Tak berminat aku untuk melanjutkan kenapa tugu itu dibangun. Selanjutnya, ketika melewati jembatan Landak dan Kapuas, "Nah, kalau ini sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia." Kata ku lagi.
Masuk telinga kanan keluar telinga kiri kayaknya. Tak apa. Karena mereka lebih tertarik untuk melihat pesawat yang menderu di angkasa. Tak heran seperti itu, toh disana kan memang dekat dengan bandara. Jadi badan pesawat yang tengah mengudara terlihat lebih besar. "Mana? Mana? Mana?" Dari yang muda sampaii yang tua...he..he..
Datang di Sui Kakap tepat pukul Lima kurang sepuluh menit. Badan kami semua letih. Dan harus menaiki pick up agar sampai di tempat tujuan dimana acara pernikahan di gelar.
Uppss photo-photonya gak ada yang bagus...jadi sorry gak bisa dientry....
"Tidak..tidak...tidak. Apapun alasannya, aku tidak setuju!"
Pemuda itu beranjak. Meninggalkan wanita yang telah melahirkannya dua puluh tahun silam itu diteras rumah sendirian. Berlalu tanpa pamit sedikit pun. Tak lama, terdengar daun pintu kamar dibanting dengan keras.
Wanita itu maklum atas penolakan tersebut. Penyebabnya hanya satu. Usia. Benar kata putranya barusan, "memangnya sudah tidak ada pria yang sebaya dengan ibu?".
Tapi silakan salahkan cinta yang datang dengan tiba-tiba yang tidak bisa ditolaknya. Apakah pantas ia menyebutnya sebagai korban cinta?
..........
"Memang tidak ada hukum melarang itu. Tapi apakah tidak ada wanita lain dihatimu. Bukankah Tasya terus mengejar-ngejarmu? Ingat, Zach, ia sebaya dengan ibu."
Zach tercenung. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh ibunya. Tapi benar juga yang mungkin akan dilakukannya tidak ada salahnya. Salahkan cinta yang datang menghampiri. Anggap saja ia korban cinta.
...........
"Tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia menerimamu. Terutama Deni. Ia sebaya denganmu. Sangkalnya bukan karena tidak bersedia mendapatkan ayah tiri. Tetapi usiamu yang terlalu muda, Zach."
Zach memandang lautan lepas dihadapannya. Kemejanya di terpa oleh angin pantai. Hingga tertarik-tarik ke belakang. Begitu pula dengan celana panjangnya. Sementara Xena memilih membelakangi pantai. Jadilah kerudungnya berkibar-kibar tepat dihadapannya.
"Ibuku juga tidak mempermasalahkan cinta ini. Hanya saja diantara kita ada sesuatu yang tidak lazim di masyarakat."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Xena.
Zach mengacak-acak rambutnya sendiri. "Ah..." Tukasnya kemudian.
"Ada ide?" Zach kembali bertanya.
"Ku rasa kita tidak mungkin lagi melanjutkan ini semua. Bukanlah laut ini cukup luas untuk menampung sampah cinta diantara kita?"
"Maksudmu?"
"Tasya dekat dengan ibumu dan bermimpi ingin menjadi bidadarimu, bukan? Begitu pun dengan aku. Oki terus menanyakan kesedianku untuk menerimanya menggantikan posisi ayahnya Deni."
"Kau rasa itu yang terbaik?"
Xena mengangguk.
Zach meraih HP di saku celananya. Menekan-nekan tomboh disana sejenak. Lalu, "Assalamu'alaikum Tasy, ibuku ingin mendapatkan seorang menantu secepatnya. Maukah kau...?
Xena juga melakukan hal sama. Membuka tas jinjingnya. HP didekatkan ke telinga kakannya. "Hallo, Oki, kurasa anak-anakku tidak keberatan kau menjadi ayah baru mereka...."
Pemuda itu beranjak. Meninggalkan wanita yang telah melahirkannya dua puluh tahun silam itu diteras rumah sendirian. Berlalu tanpa pamit sedikit pun. Tak lama, terdengar daun pintu kamar dibanting dengan keras.
Wanita itu maklum atas penolakan tersebut. Penyebabnya hanya satu. Usia. Benar kata putranya barusan, "memangnya sudah tidak ada pria yang sebaya dengan ibu?".
Tapi silakan salahkan cinta yang datang dengan tiba-tiba yang tidak bisa ditolaknya. Apakah pantas ia menyebutnya sebagai korban cinta?
..........
"Memang tidak ada hukum melarang itu. Tapi apakah tidak ada wanita lain dihatimu. Bukankah Tasya terus mengejar-ngejarmu? Ingat, Zach, ia sebaya dengan ibu."
Zach tercenung. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh ibunya. Tapi benar juga yang mungkin akan dilakukannya tidak ada salahnya. Salahkan cinta yang datang menghampiri. Anggap saja ia korban cinta.
...........
"Tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia menerimamu. Terutama Deni. Ia sebaya denganmu. Sangkalnya bukan karena tidak bersedia mendapatkan ayah tiri. Tetapi usiamu yang terlalu muda, Zach."
Zach memandang lautan lepas dihadapannya. Kemejanya di terpa oleh angin pantai. Hingga tertarik-tarik ke belakang. Begitu pula dengan celana panjangnya. Sementara Xena memilih membelakangi pantai. Jadilah kerudungnya berkibar-kibar tepat dihadapannya.
"Ibuku juga tidak mempermasalahkan cinta ini. Hanya saja diantara kita ada sesuatu yang tidak lazim di masyarakat."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Xena.
Zach mengacak-acak rambutnya sendiri. "Ah..." Tukasnya kemudian.
"Ada ide?" Zach kembali bertanya.
"Ku rasa kita tidak mungkin lagi melanjutkan ini semua. Bukanlah laut ini cukup luas untuk menampung sampah cinta diantara kita?"
"Maksudmu?"
"Tasya dekat dengan ibumu dan bermimpi ingin menjadi bidadarimu, bukan? Begitu pun dengan aku. Oki terus menanyakan kesedianku untuk menerimanya menggantikan posisi ayahnya Deni."
"Kau rasa itu yang terbaik?"
Xena mengangguk.
Zach meraih HP di saku celananya. Menekan-nekan tomboh disana sejenak. Lalu, "Assalamu'alaikum Tasy, ibuku ingin mendapatkan seorang menantu secepatnya. Maukah kau...?
Xena juga melakukan hal sama. Membuka tas jinjingnya. HP didekatkan ke telinga kakannya. "Hallo, Oki, kurasa anak-anakku tidak keberatan kau menjadi ayah baru mereka...."
“Kita berbisnis.”
Baru disadari
sepenuhnya bahwa tidak ada pilhan ketiga. Lama matanya tertahan pada langit
yang membumbung tinggi. Seolah menanti adanya mukjizat dari sana. Nihil.
Pilihan itu tetap sama. Pengorbanannya adalah kebaikan bagi dia disana.
Pengorbanannya juga akan menghilangkan dirinya diatas permukaan. Ia akan pergi
untuk selama-lamanya.
Sang pemberi
tawaran terus nyengir sinis kemenangan. Tampuk kekuasaan ada ditangannya saat
ini. Wanita itu merasa telah melakukan sebuah kebijakan yang paling bijak.
Walaupun ia tahu sendiri itu akan menghancurkan laki-laki dihadapannya. Namun
mana ia peduli untuk hal itu lagi. Kepemilikan sepenuhnya atas lelaki itu
adalah cita-citanya. Dan sekarang kesempatan itu terbuka luas. “Kesempatan
kadang tidak datang untuk kedua kalinya.” Pikirnya.
“Bagaimana?”
Diana sedikit mendesak. Menunggu jawaban terlalu lama membuatnya tidak kerasan.
Itu bukanlah tipenya. Tinggal mengangguk atau menggeleng yang ia maksudkan. Apa
susahnya untuk melakukan itu.
Zahir
menggangguk. Lalu memalingkan muka sambil berucap, “permintaan terakhirku”.
“Apa itu?”
*****
"Baru aku
tahu bahwa kau suka anggrek putih. “
Zahir terus
saja mengajak berbicara sosok yang tergolek diatas kasur. Tanpa memperdulikan
ucapannya didengar atau tidak. Ia tetap mengoceh. Zahir hanya melakukan saran
dari dokter. “Itu akan membantu proses kesembuhannya.” Kata dr. Kamal beberapa
waktu yang lalu. Setelah respon yang ditunjukkan oleh Dimitria ketika mendengar
suara Zahir.
“Bisa kah kau
mencium baunya?”
Sambil
terpejam Zahir mendekatkan hidungnya pada anggek yang baru saja disiramnya.
Lalu memalingkan pandangannya pada Dimitria. Ia mendesah. Jujur, ia berharap
ketika ia membuka matanya saat itu, Dimitria terbangun dan memanggil namanya.
Zahir berjalan
menghampiri Dimitria. “Apakah kau bisa mendengarku Dim?”
Sunyi senyap.
“Ku harap kau bisa mendengarku.” Tukasnya perlahan.
Tak lama
setelah itu, melangkah pergi. Yang dilihatnya tadi malam tertinggal dibawah
selimutnya. Ia bermimpi Dimitria bahkan sudah bisa duduk sendiri. Tanpa bantuan
sesiapapun. Mengucapkan terima kasih kepadanya. Dan ia mengucapkan tidak
apa-apa. Terbangun ketika mengetahui Diana menunggunya diluar.
Zahir sudah
tidak ada lagi diruang A2 tersebut. Seandainya saja lebih lama disana, ia akan
melihat Dimitria menggerakkan jari telunjuknya perlahan. Tapi sayang, hanya
anggrek putih bisu yang menjadi saksi keajaiban yang diharapkan oleh Zahir itu.
*****
Rasanya sudah lama sekali aku tidak
mendengar suaranya. Kemana ia pergi? Biasanya
ia akan datang menyapaku. Kenapa tidak hari ini? Marah, kecewa atau
putus asa? Aku maklum jika itu yang rasakannya. Aku bahkan tidak bisa untuk
menggerakkan anggota tubuhku hanya untuk menunjukkan bahwa aku mendengarnya.
Zahir?
Terdengar
kenop pintu di tekan dari luar. Seiring dengan itu juga terdengar langkah kaki
menghampiri.
Zahir? Zahir, kau kah itu?”
Dimitria
merasakan belaian telapak tangan diatas ubun-ubunnya.
Bukan, itu bukan Zahir. Zahir bahkan tidak
pernah menyentuhku. Kecuali ketika membawaku dari tempat kejadian itu menuju
rumah sakit ini. Lalu siapa? Ibu? Kulitnya terasa lebih halus. Itu pasti bukan
ibu. Ibu tidak pernah menggunakan parfum seperti ini. Siapa kamu?
Belaian itu
disudahi sesaat kemudian. Langkah kakinya menjauh dan terhenti sebuah sudut
dimana Zahir biasa mengajaknya berbicara tentang anggrek putih.
Orang itu menuju anggrek putih tanaman
Zahir. Apakah dia juga menyukai bunga tersebut. Tetapi kenapa ia sama sekali
tidak bersuara. Ayo orang asing, perdengarkan suaramu!
Dari situ,
langkah itu menuju pintu. Kembali terdengar kenop pintu diputar. Lalu tertutup
kemudian. Orang itu pergi begitu saja.
Apa maksudnya?
*****
Diruang itu
ada ibunya yang tidak henti-hentinya berucap syukur. Wajahnya tersungkur untuk
bersujud ketika didapatinya Dimitria membuka mata. Air matanya merambat hingga
ke baju. Berkali-kali disekanya, tetapi persediaan itu tampaknya masih banyak.
Ia tumpahkan untuk menyambut kesembuhan
putrinya.
Tak kurang
dengan ayahnya. Berkali-kali pula ia mengecup kening semata wayang. Membelai
rambut anaknya yang hanya saat seperti ini tidak di hijabi. Setelah tadi juga
ikut bersujud.
Susah payah
Dimitria untuk mengulas senyum. Otot-otot di mukanya jelas kaku setelah
berbulan-bulan tidak digerakkan. “Ibu, ayah…” Panggilnya kemudian.
Haru biru
menyelimuti. Kebahagiaan mengisi semua relung hati. Dimitria, ibu dan juga
ayahya. Dari kejauhan terdengar panggilan. Undangan Tuhan kepada semua hamba
agar merendahkan diri menuju Rumahnya. Ayahnya pamit untuk beranjak memenuhi
panggilan itu.
Syukur Alhamdulillah ya Rabb atas kesempatan
kedua ini.
Tidak lengkap
rasanya ketika tanpa kehadiran seseorang yang telah berkorban banyak untuk
kesembuhannya disana. Dimitria menjejaki setiap ruangan dan tertahan pada
Anggrek putih di dekat jendela. Baru ia tahu bahwa bunganya sudah mulai
layu.
Tiap detik
adalah penantiannya. Doanya, Zahir tiba dari balik pintu dan menanyakan kabarnya.
Namun detik terus bergulir. Penantian
itu berubah menjadi kekecewaan. Tertuang dalam muka murung Dimitria. Dan ibunya
peka.
Sambil tertuju
pada arah yang sama, ibunya menghibur, “ibu tadi sudah mencoba menghubunginya.
Tetapi tidak diangkat. Ibu sudah mengirimkan pesan, kok. Zahir, kita banyak berhutang budi padanya,
nak ”
Memerah muka
Dimitria hatinya tertangkap basah. Kembali senyum diulasnya sebagai jawaban
terima kasih. “Beberapa hari belakangan ini ia juga tidak pernah datang lagi.”
“Maaf, ibu
tidak merawat bungamu dengan baik.”
Dimitria
menggelengkan kepalanya pelan.
“Ibu yakin,
sebentar lagi ia akan kesini, Dim.”
Sambil
membetulkan selimut di atas tubuh Dimitria, “lapar?” Ibunya menawarkan.
*****
Akhirnya, engkau menijabah doa hamba ya
Rabb…
Diakhir
shalatnya Zahir tidak putus-putusnya melafazkan syukurnya. Matanya
berkaca-kaca. Kepalanya menunduk. Pengorbanannya berbuah. Dan esok, ia akan
menjadi sosok baru. Status baru pula. Tidak lagi menjadi Zahir yang melajang.
Tetapi akan menjadi bagian keluarga Diana. Itulah pernjanjiannya.
Diana rela
mengeruk koceknya untuk pembiayaan Dimitria di Rumah Sakit. Itu kata lain dari
Diana telah membeli dirinya. Membeli? Ah, kata apa yang lebih baik dari itu.
Karena itu faktanya. Dan Zahir telah bertransaksi dengannya. Jika bisa
dikatakan, Zahir menjual cintanya.
Sulit memang. Ungkapan
cinta tidak harus memiliki sukar untuk ditolerir olehnya. Toh hati kecilnya
tetap berbicara, bahwa ia hanya mencintai wanita itu. Dimitria.
Sebuah
panggilan masuk memecah lamunan Zahir. Menyadarkannya kembali bahwa semuanya
telah berakhir. Bisnis mereka berujung dipelaminan esok. Meskipun akan hidup
tanpa cinta pada awalnya, tetapi Zahir tetap berusaha memberikan cinta
terbaiknya pada istrinya kelak. “Mungkin ini jodoh terbaik buatku.” Hatinya
meyakinkan.
“Assalamu’alaikum,
Diana.”
“Ya, ya.”
Sesekali Zahir mengangguk. Mengiyakan apa saja yang Diana sarankan di seberang
sana. Telepon ditutup tidak lama setelahnya. Dada Zahir terasa sesak dan
badannya rebah seketika.
*****
“Tidak perlu
menyiksa diri seperti ini, Dim.”
Ibunya
menemuinya di kamar. Ingin menanyakan perihal keputusannya atas pemuda dan
kedua orang tuanya yang ada di ruang tamu.
“Yang lalu
biarlah berlalu. Apakah kau ingin menghakimi Allah atas pernikahan Zahir.
Wanita itu adalah jodohnya. Dan kita tidak tidak bisa berbuat apa-apa. Allah
maha tahu yang terbaik untuk hambanya.”
Dimitria tetap
diam. Lalu memeluk ibunya dengan deraian air mata. “Tapi kenapa harus seperti
ini? Kenapa ia tidak membiarkan saja aku tetap dipembaringan? Kenapa ia harus
menanggung biaya operasi itu? Kenapa bu?”
“Setiap orang
punya alasan yang tidak bisa untuk dinyatakan. Termasuk pada Zahir. Kita
sama-sama tahu bahwa ia juga mencintaimu bukan?”
Dimitria
mengangguk.
“Dim, lihat
ibu.” Ibunya menangkupkan kedua telapak tangan dimuka Dimitria.
“Ardhi akan
menjadi pemuda ketiga yang kau tolak seandainya keputusanmu sama. Jujur, ibu
tidak mau itu. Kau harus melepas diri
dari jeratan ini. Keluarkan dirimu. Karena hanya kau yang bisa membebaskan
dirimu sendiri.”
Tatapan
Dimitria dan ibunya terus beradu. Dan akhirnya anggukan pelan yang Dimitria
pilih. Mereka berpelukan kemudian.
*****
Zahir sudah
benar-benar hampir melupakan cintanya pada Dimitria. Tidak seperti yang
diperkirakannya dahulu, Diana bahkan telah berubah. Sosok wanita sholehah
mungkin bisa di sematkan padanya. Proses itu membutuhkan waktu. Dan Zahir
berhasil membangun sebuah keluarga Samara. Ia baru menyadari bahwa rahasia
Allah itu nyata. Apa yang kita pandang baik, belum tentu baik pula dihadapan
Allah.
Zahir menuruni
undakan terakhir. “Ummi, pesanan bu Jamil sudah diantar?”
Diana menoleh
ke arah suaminya, “Sebentar lagi Joel akan datang, bi. Sekalian mengantarkan
bunga pesanan lainnya”
“oh..”
Zahir berbalik
menaiki tangga menuju ruang kantornya. Tiba-tiba dua orang membuka pintu
tokonya.
“Assalamu’alaikum.
Permisi. Anggrek putih ada mbak?”
Langkah Zahir
terhenti mendengar suara itu. Ia menelan ludah. Pandangannya ke arah sumber
suara. “Dim….”
Tiga pasang
kaki diatur sedemikian pelan langkahnya. Agar tidak terdengar nyaring dan
kepergok kemudian. Mengendap-ngendap di kegelapan. Setelah sampai, menyandarkan
punggungnya di dinding bercat kuning pudar. Berhati-hati dan nyaris tidak ada
suara.
“Yang
kuketahui, diruang ini.”
“Kau
yakin, Dit?”
Adit
mengangguk.
“Kurasa
satpam sudah pulas diluar. Jadi kita bisa mulai beraksi.”
“Bagaimana
jika…?”
“Diam,
Ger. Kalau takut, kenapa mau ikut. Kamu tidak ingin lulus? Dan kita akan kaya
setelah ini.”
“Mar,
linggisnya.” Adit membuka telapak tangan kirinya. Dan Dimar memberikan linggis
yang diminta.
“Pelan-pelan.”
Bisik Dimar kemudian.
Sementara
itu, tubuh Geri mulai menggigil. Bayangannya akan sosok bang Sudirman memergoki
mereka bertiga. Dan itu bisa celaka. Reputasi diri dan keluarga. Juga terancam
divonis dari pihak sekolah. Paling buntung, dikeluarkan.
“Berhasil?”
Adit
menggeleng.
“Biar
aku coba.”
Dimar
memasukkan ujung pipih linggis ke celah-celah diantara bingkai jendela dan
dinding semen. Berkali-kali namun tak ada hasil.
Geri
yang sedari tadi bersikap pasif mencoba bertindak. Kali ini, ia memilih daun
jendela yang lain. Pikirnya, keberuntungan bisa saja menghampiri. Pesuruh
sekolah mungkin lupa mengunci salah satu jendela-jendela ini.
“Tek.”
Berhasil pada percobaan jendela ke dua.
Adit
dan Dimar berpandangan. Keduanya saling melemparkan senyum kemenangan.
Rintangan pertama telah teratasi. Selanjutnya adalah membongkar teralis besi
yang menghalangi. Itu gampang. Juga dengan menggunakan linggis yang sama.
Dicari celah yang memunggikan untuk menancapkan ujung linggis kembali. Baut
perekatpun tercabut. Selesai.
Ketiganya
masuk. Ruang kepala sekolah gelap. Berbekal cahaya dari senter kecil yang
dibawa, mereka mulai memeriksa satu per satu amplop oranye di lemari. Tak lama,
usaha mereka berbuah. Kunci jawaban itu ada ditangan mereka. Secepat kilat,
Dimar mencatat isinya. Tak hanya satu mata pelajaran. Seluruh jawaban soal-soal
ujian sekolah ada ditangan mereka. Geng ADG. Tajinya terbukti.
**********
“Ini
pekerjaan beresiko, ten. Satu juta itu tawaran termurah kami. Dengar ya, dengan
orang lain, kami hargai ini hampir tiga juta.”
“Bagus,
pukul 5 di depan gang.”
Adit
memasukkan kembali handphone ke saku celananya. Puas dengan usaha mereka malam
ini. Juga puas dengan penjualan yang baru saja dilakukannya.
“Aku
harus pulang. Sebentar lagi ibu akan membangunkanku. Memaksa shalat subuh.”
Tukas Geri.
“Tidak
apa-apa Ger. Jadilah anak baik. Jangan khawatir, bagianmu akan kamu dapatkan.”
Geri
sangat yakin ucapan Dimar barusan. Persahabatan berjalan tiga tahun itu
menumbuhkan kepercayaan diantara ketiganya. Tak terkecuali untuk urusan ini.
Geri
berlalu. Tak lama kemudian, tubuhnya hilang didekap kegelapan. Tinggal Adit dan
Dimar yang mulai sibuk menghubungi koneksi di sekolah lain untuk menawarkan
“barang” mereka.
Masing-masing
sibuk dengan percakapan-percakapan singkat. Berisi negosiasi harga. Patokan
yang ditawarkan pun bervariasi. Mulai dari satu sampai tiga juta rupiah.
Tergantung kepada siapa mereka menjual kunci jawaban tersebut.
“Ku
rasa semuanya sudah. Dan kita harus bergerak cepat. Berbagi tugas. Kita tidak
punya banyak waktu. Hampir pukul setengah empat. Mulai dari lokasi terdekat.”
Adit memberi komando.
“Berapa
kira-kira yang akan kita dapatkan pagi ini?” Dimar mencoba menghitung
pendapatan mereka.
Adit
memandangi jari-jemarinya yang tengah berhitung. “Dariku sekitar sepuluh.”
Dimar
melakukan hal yang sama. “Delapan juta sekian.”
**********
Pukul
6.43 WIB, seharusnya masih menyisakan udara dingin. Tapi tidak berlaku pada pak
Raden. Kumis tebalnya terasa semakin menusuk lubang hidung ketika mendapati
kunci lemarinya dijebol. Dan seperti dugaannya, ujung map oranye sobek.
Meskipun tidak ada yang hilang. Sekolah yang dipimpinnya kecolongan tadi malam.
Sudirman
adalah orang pertama yang layak untuk disalahkan. Atas kelalaiannya mengawasi
berkas penting tersebut. Murka sang kepala sekolah tumpah kepadanya. Dan ia
terima, karena tadi malam dirinya memang ketiduran diluar ruangan.
Kedua,
Bayu, si pesuruh sekolah. Sudah berulang kali pak Raden menyuruhnya untuk
memperbaiki kunci jendela yang rusak. Entah kenapa selalu tidak menghiraukan.
Dan akibatnya, itu menjadi pintu masuk bagi sang pencuri kunci jawaban.
Bayu
hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya ketika dimarahi. Dengan masygul ia
mendengarkan ocehan pak Raden. Dalam hatinya berjanji akan memperbaiki jendela
tersebut segera. Paling tidak agar tidak kecolongan lagi nanti.
Pertemuan
singkat antar guru pun digelar. Rapat mendadak, ketika para guru yang juga
bertugas sebagai pengawas ujian hari ini.
“Seperti
yang saya katakan tadi, mereka melakukan ini bukan sekedar untuk melingkari
setiap pertanyaan. Mereka berbisnis.”
“Setuju,
pak.” Tukas bu Wardah, wakil kepala sekolah seksi kesiswaan.
“Dan
juga kita seharusnya bisa menetapkan beberapa tersangka saat ini.” Lanjut bu
Wardah kemudian.
Sementara
guru-guru lainnya mengangguk-ngangguk.
“Adit,
Dimar, dan aku tidak tega jika harus memasukkan Geri didalamnya. Tapi siswa
berkacamata itu selalu ada diantara keduanya.” Lagi, bu Wardah mengklasifikasi.
“Kita
tidak punya bukti, tapi berdasarkan jejak mereka disekolah ini, itu masuk
akal.” Tambah pak Handi, guru honorer BK.
Pak
Raden memutuskan, “kita lihat hasil nilai mereka bertiga. Apakah terjadi
kejanggalan. Begitu juga dengan beberapa siswa lainnya yang selama ini terkenal
dibawah rata-rata. Terakhir, kita akan melakukan koordinasi dengan
sekolah-sekolah di kota ini tentang hal ini. Karena jika benar mereka
berbisnis, maka pasar mereka tentu bukan sekolah ini saja. Rapat selesai. Kita
bicarakan langkah preventif selanjutnya, nanti.”
Ujian
sekolah berjalan dengan lancar. Seluruh siswa sepertinya sangat jujur dalam
mengerjakan soal. Dan juga begitu serius. Seakan daun jatuh ketanah pun akan
mengganggu konsentrasi mereka. Itu berlangsung hingga seluruh mata pelajaran
diujiankan tuntas dalam satu minggu.
Terlalu
bodoh jika Adit, Dimar dan Geri
melakukan aksi penyontekan secara konvensional. Membuat catatan kecil dan
diselipkan dibawah lembar soal. Pengalaman memberikan pelajaran. Banyak metode
pembelajaran saat ini yang semakin berkembang. Mereka mencontoh salah satunya.
Menomori setiap orang yang ada didepan, belakang, kiri, dan kanan. Si anu
adalah soal no sekian, dan jawabannya itu.
Itu
cerdas. Guru pengawas yang sejatinya
memeloti gerak-gerik mereka, bertekuk lutut. Tidak mendapati sesuatu yang
ganjil dari tingkah mereka bertiga selama ujian. Hal tersebut mampu mengurangi
dugaan para guru.
**********
“Ini
Ger. Tiga juta.” Adit menyodorkan uang hasil penjualan mereka.
Geri
diam. “Hanya tiga juta,”pikirnya.
“Geri,
kita hanya dapat 9 jutaan. Kami tidak bisa menjual dengan harga selangit.
Karena ini hanya ujian sekolah. Dan nanti, di ujian nasional, kita akan
mendapatkan lebih.” Dimar meyakinkan Geri yang mulai sangsi dengan jumlah
pendapatan mereka.
Mau
tidak mau, Geri menerima juga. Menyanggah, hanya sia-sia belaka. Kecuali ia
ikut sampai akhir subuh itu. Sayang, ia keburu pulang cepat-cepat.
Sambil
memasukkan uang tersebut kedalam dompetnya, Geri berujar, “sepertinya pihak
sekolah mencurigai kita. Mereka mengawasi kemarin, seakan-akan ingin
memakanku.”
“Benar.”
Kata Dimar kemudian.
“Tapi
mereka tidak ada bukti untuk menuduh.” Tambah Adit.
Ketiganya
tertawa sejadi-jadinya. Rencana refresh sejenak
pasca ujian nasional pun diurai. Adit akan menghabiskannya dengan memancing
bersama teman-temannya yang lain. Sementara Dimar akan hiking. Juga bersama teman lainnya. Tak satu pun mengajak Geri ikut
bersama. Padahal Geri tidak punya rencana apa-apa untuk menghabiskan uang tiga
juta rupiah di dompetnya. Sepertinya uang itu hanya akan menambah saldo
tabungannya di bank. Atau untuk membelikan obat ibunya.
**********
“Cerdik
sekali. Mereka tidak membiarkan kita membuat alasan untuk menuduh mereka.
Semuanya terlihat normal. Lebih tinggi satu dua poin itu normal, bukan? Bisa
jadi mereka meningkatkan intensitas belajarnya. Mereka termotivasi oleh mulut
kita, para guru, yang berkoar-koar saat upacara bendera.”
Pak
Raden kembali menghisap rokok di tangan kanannya. Dalam-dalam dan membuangnya
lewat hidung.
Terasa
kaku dari pertemuan sebelumnya. Tidak hanya pak Raden dan Bu Wardah, namun
semua guru yang hadir dalam pertemuan khusus tersebut. Setiap orang mengetahui
penyebabnya. Dan tidak satu pun yang berani mendahului membukanya.
Bu Wardah
angkat bicara, “pak.”
Ada jeda
sejenak. Bu Wardah menarik nafas dalam-dalam. “Tentang Riko,” lanjutnya
kemudian.
Jelas pak
Raden kebakaran jenggot. Lambat laun, ruas akan bertemu buku. Guru-guru menduga
anaknya termasuk salah satu orang yang melakukan pencurian jawaban malam itu.
Mengetahui dimana berkas tersebut disimpan juga sangat memungkinkan. Toh
ayahnya sendiri adalah kepala sekolah.
Tapi pak Raden
sangat yakin, anaknya tidak terlibat dalam hal ini. Hanya saja ini terjadi
begitu instan. Kapten yang bernama asli Riko memang digenjotnya agar belajar
dengan keras akhir-akhir ini. Tidak ada waktu luang selain belajar. Dan Kapten
mentaati itu. Maka, wajar Kapten mendapat nilai tinggi. Meskipun dalam
keseharian, anaknya tidak pernah masuk dalam 20 besar di kelasnya. Sekarang,
mungkinkah ia akan melontarkan alasan tersebut. Itu tidak objektif. Dan
terkesan melindungi.
Pak Raden
berkata bijak, “Aku mengerti. Semua bisa dijadikan tersangka. Termasuk putraku.
Tidak fair jika aku membela Riko.
Asal kalian tahu, minggu-minggu terakhir ini, saya menekankan kepadanya agar
belajar dengan gigih. Dan ia menuruti.”
Suasana rapat
hening tiba-tiba. Bu Wardah, begitu juga guru lainnya berusaha mencari kata
yang tepat untuk menanggapi hal tersebut. Begitulah, rasa “tak enak sama”
seharusnya dibuang jauh-jauh.
“Lantas, apa
langkah yang harus kita tempuh?” Handi yang belum sampai dua tahun mengabdi di
SMA itu memecah kebungkaman.
Bu
Wardah berusaha bersuara netral. “Kita perketat penjagaan. Bukan begitu pak
Raden?”
“Tepat.”
Pak Raden menambahkan.
Keputusannya
adalah penjagaan dilakukan oleh tiga orang pada malam menjelang Ujian Nasional.
Handi, Sudirman, dan Bayu dikerahkan untuk melakukan hal tersebut. Handi
menyanggupi. Pasti begitu pula dengan dua orang lainnya. Rapat juga memutuskan,
hal itu lebih efektif dan terjamin.
**********
Tiga
minggu berlalu. Pak Raden memaksa Riko mengaku jika memang ia beraksi malam
itu. Namun anaknya kuat-kuat menutup mulut. Apapun resiko terburuknya, sudah
diperhitungkan oleh anak itu. Tidak mungkin berterus terang begitu saja.
Tindakan ugal-ugalannya dalam kamar sepanjang hari akan tersingkap. Belum lagi
dirinya menjadi salah satu konsumen geng ADG tersebut. Tak ada pengakuan yang
keluar dari celah-celah giginya. Akhirnya pak Raden percaya juga.
Sementara
itu, seseorang laki-laki muda bertamu disore menjelang Ujian Nasional yang akan
digelar keesokan harinya. Laki-laki itu antusias. Membawa kabar baik dan sebuah tawaran kerja sama.
Juga, ia tahu siapa yang akan ditemuinya. Adit si ketua geng.
“Masih
tidur kayaknya. Duduk dulu, pak.” Setelah mempersilakan, wanita paruh baya itu
menuju kamar anak bungsunya. Mengedor-ngedor pintu kamar. “Dit, ada tamu. Gurumu.”
Tak
ada sahutan dari dalam. Maka, wanita itu pun memaksakan diri masuk ke kamar
anaknya. Nihil. Adit tidak ada ditempat.
“Wah,
pak Handi. Aditnya ternyata keluar. Tidak ada pamit. Tapi sepertinya kumpul
sama teman-temannya di rumah Dimar.” Ibu Adit merasa bersalah.
“Oh,
saya langkah kiri ya bu. Mungkin saya bisa minta nomor HP nya Adit?”
Belum
selesai wanita itu menyebutkan dua belas angka, sesosok remaja belia itu datang.
“Lha,
panjang umur ini anak.” Tukas ibu Adit.
Adit
terkesima sebentar. Angin apa gerangan yang membawa guru BK nya bertandang
kerumahnya sore-sore begini. Pasti ada hal yang penting. “Atau jangan-jangan…”
Adit was-was.
“Eh,
pak Handi. Ada apa pak?” Adit berlakon sewajar mungkin. Menyamarkan rasa
khawatir di pundaknya. Berharap bukan kunci jawaban itu yang membawa lelaki
muda dihadapannya datang kerumahnya.
Sementara
ibu Adit beranjak ke dapur. Berniat membuatkan barang segelas air manis untuk
tamunya. Itu adat dirumahnya. Khusus, tidak akan ditemui dirumah warga lainnya
di kota itu.
Suara
pak Handi lebih kepada berbisik, “lebih baik kita bicara diluar saja.”
Tentu
saja. Insting sebagai ketua geng ADG terbukti. Adit mencium sebuah muslihat
dari guru dihadapannya. Tapi ia belum bisa menyimpulkan apakah itu sebuah bentuk
tawaran atau sebuah perangkap.
“Tentang
apa, pak.” Adit pura-pura tidak tahu dan berupaya menyelelidiki lebih jauh.
“Di
luar.” Pak Handi bersikukuh.
**********
Itu
membuat hati ibu Adit sedikit gelisah. Apa yang lakukan anaknya dengan guru
sekaligus tamunya barusan. Dua-duanya menghilang dari ruang tamu. Dan tidak
berpamitan. Apa itu urusan sekolah? Ia
terduduk di kursi tamu. Menyeruput kopi panas yang dibuatnya sendiri.
Rumah
Dimar dalam keadaan kosong, kecuali dirinya sendiri. Sekarang bertamah dua,
Adit dan pak Handi. Jadilah tiga kepala berada
disana. Siap untuk melakukan pembicaraan serius. Hanya pak Handi saja yang
mengetahui tingkat keseriusannya.
“Bapak,
eh lebih enak gunakan saya saja.” Pak
Handi melontarkan pandangan bergantian. Kepada Adit, lalu ke sepasang mata
Dimar.
“Saya
tahu kalian sudah punya planning untuk
malam ini.” Tukas Handi. Mencari titik-titik pengakuan diwajah kedua muridnya.
“Maksud
bapak?”
“Gak
perlu bertele-tele. Saya datang kesini untuk menawarkan kerjasama.” Pak Handi
berbicara sambil mencondongkan tubuh ke arah Adit. Adit kecut.
Pak
Handi membalikkan badan. Sementara Adit dan Dimar saling mengkode menggunakan
mata. “Kalian ini payah. Tawaran saya, 50-50. Adil bukan, kalian tidak perlu
mengendap-ngendap dikegelapan maupun mencungkil daun jendela. Tugas kalian
hanya menjual. Itu saja.”
“Maksud
bapak apa?” Dimar mencoba mengalihkan.
“Jadi,
bapak menuduh kami yang mencuri kunci jawaban itu?” Adit menimpali.
“Sekarang
baru kalian mau mengaku. Bagus.” Pak Handi menjawab.
“Siapa
yang mengaku. Kami tidak mencuri. Betulkan dit,” Lagi-lagi Dimar menyangkal.
Mereka
pikir tengah berbicara dengan siapa. Ingat, guru BK. Pak Handi sangat paham
mengenai arti body language. Sejak
awal percapakan tadi, baik mata Adit maupun Dimar keluyuran. Tidak berani menatap langsung pada dua bola mata
gurunya. Bukan karena segan, tapi jelas mereka berbohong.
“Sepertinya
mereka perlu sedikit tekanan.” Pikir pak Handi.
“Sekarang
katakan, aku tidak mencuri. Sambil
mengarah ke mataku.” Pak Handi menekan.
Gawat.
Semuanya akan terbongkar. Bisa jadi pak Handi merekam semua pembicaraan mereka
itu. Dan pengakuan yang terucap dari mulut Adit dan Dimar pasti menjadi bukti
bagi sekolah untuk menghukum ketiganya.
Tak
ada kata-kata terucap. Adit dan juga Dimar diam dalam kegelisahan. Bentrokan
antara harus berkata jujur atau menghindar. Tidak ada pilihan sama sekai. Jalan
buntu.
Adit
bertindak diplomatis. Terlanjur usahanya terkuak. Dan jika benar dugaannya
bahwa pak Handi diutus sekolah untuk menyelidiki mereka, ia pasrah. Karena
memang tidak bisa lari kemana-mana lagi. Guru BK itu bisa membaca hatinya.
“Apa
tawaran bapak?” Adit berujar
“Hah,
itu dia. Akhirnya mengaku juga. Tapi jangan khawatir, saya kesini ingin belajar
bisnis dengan kalian.”
Ada
riak kelegaan tergambar diwajah Adit beserta Dimar. Dua-duanya penasaran,
tawaran apa yang disuguhkan oleh partner barunya
itu.
“Kunci
jawaban untuk esok ada ditangan saya. Rekan dari pusat berbaik hati. Ini
peluang besar.” Kata pak Handi mengutarakan.
“Tapi
50-50 itu berat sebelah, pak.” Dimar berkomentar.
“Berat
sebelah? Berat sebelah dari hongkong! Saya punya kunci dan kalian hanya
menyebarkan. Bahkan persenan itu terlalu bermurah hati saya pikir.”
Pak
Handi menambahkan, “malam nanti, saya, Sudirman, dan Bayu yang jaga malam.
Jadi, jika kalian masih berminat dengan bisnis ini. Pilihan kalian hanyalah
menerima apa yang kubawa.” Pak Handi mengeluarkan beberapa lembar kertas dari
balik jaket hitamnya.
**********
Kali
ini Geri disingkirkan. Anak itu tidak diperlukan dalam hal ini. Seperti ucapan
Adit dan Dimar padanya, bahwa mereka harus berhenti dari perbuatan ini. Saatnya
untuk bertobat. Geri percaya begitu saja. Jadilah ia alpa. Paling tidak, rasa
bersalahnya tidak bertambah.
Begitulah.
Pak Handi, Sudirman, dan Bayu berjaga di ruang kepala sekolah. Memakan gorengan
yang ditemani seceret air kopi panas. Berbicara ke sana kemari. Sesekali
berkeliling seantaro sekolah. Mengantisipasi kemungkinan adanya penyusupan. Dan
nihil.
Sampai
pukul 12 malam, ketiganya masih terjaga. Hanya Bayu yang menguap berkali-kali.
Dan mulai merebahkan diri di sofa di ruang tamu kepala sekolah. Pak Handi sibuk
berlayar ke dunia maya. Dan Sudirman yang sering mondar-mandir. Keluar masuk
ruangan. Sesuatu mengaduk isi perutnya. Kamar mandi menjadi langganannya hampir
sepanjang malam.
Syahdan.
Ujian Nasional sekota berjalan tanpa kendala. Meskipun ada desas desus
kebocoran soal, namun hal tersebut tidak menular kemana-mana. Hanya dianggap
angin lalu. Itu biasa. Juga terdengar kasus, beberapa oknum guru yang terlihat
membantu siswanya selama ujian berlangsung. Guru yang terlalu sayang pada
muridnya. Atau sekedar ingin sekolahnya dinilai berprestasi. Semua alasan itu
menjadi tabu dan belakangan semakin bisa dinalar.
Diluar
dari tetek bengek prosesi Ujian Nasional itu, ada pihak yang tengah kejatuhan
buah durian dari langit. Tak tanggung-tanggung, harga per paket jawaban yang
ditawarkan mulai 3 sampai 4 juta rupiah.
Orang kaya baru pun muncul.
Terkumpul
hampir empat puluh juta. Hanya sayang, harga selangit itu tidak diikuti oleh
daya beli konsumen. Banyak siswa yang membeli harus berpatungan uang terlebih
dahulu. Setelah itu ada juga yang menjual kembali. Begitulah seterusnya.
Tiga
anak manusia itu bersyukur. Bersyukur atas sesuatu yang tidak layak untuk
disyukuri. Berkhianat kepada dunia pendidikan bangsa sendiri. Cita-cita untuk
mewujudkan pendidikan berkarakter pupus ditelan bumi. Tergadai dalam lembaran-lembaran
uang bernominal lima dan enam angka.
**********
Adit
hampir pingsan. Sementara Dimar mematung tidak percaya. Lembar putih
ditangannya umpama badai tornado yang menyapu beberapa wilayah Amerika. Dan
dipodium, pak Raden lesu mendapati 80% muridnya harus mengikuti ujian ulang
atau mengambil paket C. Riko, si Kapten ada diantaranya.
Riuh
rendah tangis pecah didalam aula. Tidak hanya dari siswa yang bersangkutan,
tetapi juga berasal dari orang tua yang hadir. Haru biru. Banyak yang meraung.
Seolah-olah kerasukan jin yang tersesat. Padahal, sebuah bentuk penyesalan.
Sisanya,
mengukir senyum dihati. Tidak mungkin melompat-lompat ditengah kesedihan
kebanyakan siswa lainnya. Geri, nilainya hanya terpaut 0,5 dari standar
kelulusan. Ia bangga, bisa membuat ibunya menangis bahagia. Dalam hatinya
terbersit untuk membersihkan uangnya dari hasil penjualan malam itu. Sebelum
semuanya terlambat. Dan jika harus menghadapi sangsi, ia terima.
Pak
Handi beralasan mengambil cuti panjang. Sehingga ia tidak menyaksikan langsung
penderitaan murid yang dibohonginya. Sejak kapan ia punya relasi dipusat. Ia
hanya bosan hidup dari hasil honorer yang tak seberapa. Prestasinya didikannya
di sekolah tidak mendapat penghargaan yang sesuai. Dua puluh juta, itu pantas. Pandai-pandai
mencari untung ditengah buntung, itu motto hidupnya.
Potret
kehidupan. Hanya saja belum dibingkai. Sudah terjadi dan tidak bisa diulangi.
Tidak ada rekonstruksi kriminalitas pendidikan. Semuanya bungkam. Adit dan
Dimar menjadi mangsa. Amukan konsumennya mengarah pada mereka berdua. Mau apa
lagi. Menjelaskan yang sebenarnya tidak ada gunanya. Kejadian terparahnya,
beberapa lebam menghiasi rupa mereka. Di muka, punggung dan beberapa bagian di
dada.
Keduanya
kompak, beralasan kepada orang tua bahwa mereka terjatuh ketika berkendara. Orang
tua masing-masing memendam berang. Tidak mungkin itu alasannya. Namun, sama
seperti Kapten, Adit dan Dimar diam seribu bahasa dengan berjuta dalih.
N/B: di kirim ke annida-online.com, tapi sepertinya tidak ada di inbox email mereka. Jadi saya entry disini aja deh....
Pantas jika ia membanggakan diri
atas nama pengalaman serta track record
tahun-tahun sebelumnya. Ms. Donita, 45 tahun, pemegang gelar Teacher of the
Year selama 10 tahun berturut-turut sejak ajang ini digelar. Guru matematika
itu terkenal keras serta disiplin tingkat tinggi. Dimana jaman ini siswa tidak
lagi banyak yang hormat dan segan pada guru-guru mereka, tetapi tidak terjadi
pada wanita itu. Ia tetap menjunjung karakter dan nilai-nilai pendidikan.
Sering di hujat dan dibenci oleh siswa yang berotak dibawah rata-rata karena
tidak ada toleransi, namun sertifikat sebagai guru teladan hampir memenuhi
dinding-dinding rumahnya. Hanya sayang, tahun lalu, ia harus rela melepaskan
gelar tersebut pada seorang guru muda. Itu membuatnya jengkel. Tahun ini ia
kembali berambisi untuk mengembalikan dimana gelar itu seharusnya disematkan.
*****
Adalah
Ms. Smarta Nisa. Guru Bahasa Indonesia itu hadir memunggungi prestasi akademik
yang mencengangkan. Selain itu, masa abdinya yang masih dalam status honorer,
berjalan baru setahun sudah mampu membawa sekolah itu sebagai perwakilan daerah
di ajang seni dan sastra Indonesia tingkat nasional. Ceria, tegas, elegan dan
ramah itulah karakter yang melekat padanya. Semua siswa menyukainya, bahkan
beberapa guru laki-laki sering melirik ke arahnya. Tak salah bukan jika tahun
itu ia menyabet gelar Teacher of The Year. Untuk pemilihan tahun ini, ia bahkan
sedikit dipaksa untuk bersedia mengajukan diri sebagai salah satu nominator.
*****
Seleksi
terus berlanjut, hingga memunculkan nama Mr. Bally Setiawan. Kepiawaiannya
menangani siswa-siswa bermasalah di sekolah patut diacungi jempol. Gaya
komunikasi yang fleksibel dan mudah bergaul itu modal utama yang dimilikinya.
Tentunya disamping rupa yang membuat para siswi histeris dan bermimpi untuk
menjadi pendamping hidupnya. Guru muda BK itu tidak hanya pasang tampang dalam
karirnya, profesional adalah prinsipnya. “Setiap orang berhak untuk bahagia.
Bolehkah saya membantu anda?” itu motto hidupnya. Mencalonkan diri sebagai
Teacher of The Year tahun ini sepertinya bukanlah hal yang berlebihan, bukan?
*****
Ia
merasa dirinya hanya sebagai pelengkap saja. Susah payah sang kepala sekolah
membujuknya agar mau dicalonkan sebagai nominator Teacher of The Year tahun
ini. “Lebih banyak, lebih baik.” Kata Mr. Imtihan. Dan akhirnya Mr. Soegara
mengangguk pelan. Guru Bahasa Inggris itu bertahan pada pandangan pengajar lain
pada cara mengajarnya. Dalam mentransfer ilmu, ia tidak mau setengah-setengah.
Tak jarang ia datang lebih awal ke sekolah hanya untuk sekedar mempersiapkan
perlengkapan pembelajaran. Cita-citanya, siswa yang diajarnya bisa menerima
dengan kualitas terbaik. Ia juga terkadang risih jika harus dibilang
perfeksionis.
*****
Sekolah
bintang masih telalu pagi untuk mulai beraktivitas. Jam dinding yang melekat di
gerbang sekolah berjalan lambat. Belum sampai pukul enam lima belas.
Setibanya
ia di sana, pintu pagar tidak terkunci. Bertanda bahwa pak Burhan dan
rekan-rekannya sudah mulai rutinitas hariannya. Lalu pemuda itu pun membuka
pagar besi sekenanya agar sepeda motor yang membawanya bisa masuk dengan leluasa.
Parkir khusus guru menjadi tujuannya.
Baru
saja akan memasuki ruang guru, ia berpapasan dengan pak Burhan.
“Assalamu’alaikum, gimana kabarnya pak?” Sambil melemparkan senyum terbaiknya.
“Alhamdulillah
baik, pak Soegara.” Lelaki lima puluh tahunan itu menjawab dengan cengirannya.
“Jika
bisa, saya dukung bapak.” Pak Burhan berbicara berbisik seolah takut ketahuan.
Soegara
geli. Tak perlu sembunyi-sembunyi untuk menyatakan dukungan itu. “Terima kasih,
pak.” Ia berucap sambil mendorong daun pintu dihadapannya.
*****
Sengaja
Soegara datang awal ke sekolah hari itu. Perlengkapan pembelajaran harus persiapkannya untuk menunjang pemahaman
kelasnya. Daya tangkap siswa dalam bahasa Inggris masih beragam. Kesenjangannya
sangat kontras antara mereka yang bisa dan “bodoh”. Ia berharap dengan
memasukkan permainan-permainan singkat dalam proses belajar-mengajar dapat
mengurangi jarak itu.
Ditengah
kesibukannya memelototi laptop, suara ketukan terdengar. Pak Burhan datang
dengan segelas kopi dan sepiring gorengan. “Saya beli tadi.” Katanya. Lelaki
itu berlalu tak lama kemudian setelah Soegara mengucap terima kasih.
Aroma
minuman pekat panas begitu menggoda. Soegara menghentikan pekerjaannya.
Menyeruput minumannya setelah sangat sadar bahwa tadi pagi ia tidak sempat
melakukan itu. Perpaduan pas antara kopinya AhSeng dengan tiga sendok teh gula
pasir. Mantap.
Apa
yang ditekuninya tuntas sebelum pukul tujuh tepat. Kepala sekolah, guru dan
siswa bintang sudah mulai berdatangan. Geliat sekolah siap untuk penyebaran
ilmu dari sang pemilik kepada penerima. Profesionalisme dijadikan dasar
pengembangan sekolah bertaraf intenasional tersebut.
*****
Persis
sejak ajang itu mengumumkan nama Smarta sebagai Teacher of The Year, Donita
tidak lagi punya senyum jujurnya. Itu sudah berbaur dengan getir dan muka
sedikit masam. Tidak kepada setiap orang, hanya kepada sang perebut gelar
tahunannya itu. Namun, Smarta Nisa tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Ia
berinteraksi secara wajar dengan wanita paruh baya itu. Meskipun sering yang
diajak bicara jelas menjaga jarak.
Juga
seperti kali itu. Tak diduga mereka harus beriringan menuju ruang guru.
“Bagaimana
kabarnya, bu?” Smarta menyapa dengan senyum memukaunya. Wajah putih bersih dan
sempurnanya membuat siapapun, terutama para siswa tak sabar untuk menjawab
salamnya.
“Alhamdulillah,
baik.” Jawab Donita ketus dan sedikit dipaksakan.
Lalu
mereka berjalan tanpa melanjutkan pembicaraan. Begitu saja hingga memasuki
ruangan dan duduk di kursi masing-masing. Setibanya dimejanya, Donita langsung
sibuk meraih cermin kecil dari tas jinjingnya. Mengamati barang kali ada
binatang nakal yang tertarik bermukim di wajahnya. Beruntung, tidak ada.
Diam-diam ia melirik sinis ke arah Smarta. Sementara
itu, Smarta menunjukkan keterkejutan yang pura-pura dibuatnya ketika mengetahui
Soegara sudah ada diruangan.
“Assalamu’alaikum,
sir. Wah-wah, pagi-pagi sudah datang. Ada apa ini?”
Padahal
Smarta sudah sangat hafal bahwa guru bahasa Inggris itu selalu menjadi nomor
wahid dalam hal kehadiran di sekolah. Paling telat menduduki nomor dua.
“Alhamdulillah,
baik girl.”
Soegara menatap lekat ke arah
guru bahasa Indonesia tersebut. Menyangga dagunya dengan kedua telapak tangan.
Siapa yang belum pernah melihat kebiasaan itu akan mengira bahwa Soegara tengah
menggoda Smarta.
“Jangan menatapku seperti itu
lagi!. Ingat, bapak guru telah berjanji kemarin.”
Soegara tertawa lepas.
Melemaskan otot-otot serta otaknya yang dipaksa untuk bekerja terlalu banyak.
Lalu ia pun berlalu keluar.
Sebelum mencapai pintu, Smarta
memanggil Soegara, “aku dukung bapak guru deh.”
Soegara berpaling.
“No..no..no..Kita bersaing.” Katanya. Kemudian menghilang dibalik pintu.
*****
Pergelaran Teacher of The Year
tahun ini di SMA Bintang di lakukan berbeda. Sebelumnya, pemilihan langsung
oleh Kepala Sekolah beserta empat wakilnya. Para kandidat terpilih akan
dikualifikasi lagi berdasarkan prestasi pengajaran dan diluar pengajaran.
Kali ini mereka akan menggandeng
elemen sekolah lainnya, yaitu Osis dan eskul seni dan budaya. Tugas Kepala
sekolah beserta wakilnya hanyalah menentukan kandidat yang layak untuk
dijadikan nominator.
*****
Riuh rendah dari perbincangan
hingga tawa terpingkal-pingkal terdengar di Kantin Camar. Hot news yang
diangkas mengerucut ke satu topik. Teacher of The Year.
“Kamu, Burq?”
Burqa White, gadis indo itu
sibuk memutar-mutar penyedot didalam gelas tinggi berisi jus mangga.
Menyipitkan matanya mendengar pertanyaan Dion.
Lalu jawabnya, “Kita? jelas mendukung
yang paling ganteng dong.”
“Mr. Bally, aku datang.” Burqa merentangkan tangan sambil
matanya terpejam.
“Sama.” Leni menimpali.
“Sepertinya Ms. Smarta dan Mr.
Bally yang diunggulkan. Ms. Donita? Ah, lewat. Masa keemasannya sudah berlalu.”
Jay berucap.
“Perfect!” Dion mengacungkan
jempol ke arah Jay.
Leni menengahi, “Mr. Soe? Rasa salut
menggugah keinginanku juga untuk mendukungnya.”
“Terserah!”
“Ehem..ehem…” Sosok Bally
Setiawan muncul dibelakang Burqa. Gadis itu kelabakan. Mukanya memerah seketika.
Namun sang guru melemparkan senyum yang membuat jantung Burqa hampir lepas.
Denyutnya mengencang.
“Eh, bapak.”
“Boleh saya duduk disini.”
Semua setuju. Dion, Burqa, Leni
dan Jay duduk merapat memberikan ruang kepada guru BK itu untuk mendapatkan
tempat duduk. Guru itu tepat duduk berhadapan dengan Burqa.
“Sepertinya ada yang tengah
membicarakan saya tadi.”
Jay menetralkan suasana. “Tenang
saja pak. Kami mendukung bapak.”
“Terima kasih anak muda. Tidak
perlu dilebih-lebihkan hal ini. Siapapun yang terpilih nantinya, itu adalah
yang terbaik. Betulkan?”
Burqa perlahan menjawab, “itu
bapak sendiri.”
*****
Akhir-akhir ini hujan sering
kali mengguyur bumi dimana SMA bintang bernaung. Seharusnya mendinginkan raga,
tetapi tidak dengan Donita. Ia merasa gerah luar dalam. Jelas ia tidak ingin
kecolongan lagi tahun ini. Semakin merasa dihimpit oleh sistem pemilihan yang
melibatkan siswa langsung. Dapat diterka, banyak siswa yang tidak menyukainya.
“Ah. Memang apa sih untungnya
gelar itu?” Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Hatinya juga menjawab, “gengsi.”
Itulah dia. Donita lelah
memikirkan kata itu. Kata yang membuat tidurnya tidak lagi punya mimpi.
Makannya hanya sampai ditenggorokan. Bahkan ia tidak lagi kenal pasti antara
sang maupun malam.
Donita masih ingat ketika ia
sangat bersemangat di podium tahun lalu. Ia rela merengguh kocek lebih dalam
untuk membeli kostum terpajang di etalase sebuah toko. Khusus ia beli untuk
menerima penghargaan hari itu. Lalu buminya berguncang dahsyat ketika mendapati
bukan namanya yang disebutkan. Tetapi nama gadis seumuran jagung. Ia tidak
kecewa. Tetapi ia sangat kecewa. Mukanya jatuh seiring dengan harga dirinya
sebagai juara permanen. Singgasana kebesaran runtuh berkeping-keping.
“Aku harus menang. Bagaimanapun
caranya. Smarta hanya masalah kecil. Disana sisanya Bally menunggu poin.”
Donita mendesah.
*****
Asli! Mandek idenya....bagi teman2 yang berminat ngelanjutin atau punya ide lanjutannya gimana, inbox ke ssupardi2@gmail.com ya....thanx a lot
Langganan:
Postingan (Atom)



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact