Selasa, 25 September 2012

Garuda's Eyes


Langit pagi ini terasa berbeda. Puluhan jet tempur menghiasinya. Lalu lalang, saling kejar dan sesekali membentuk formasi. Dari bawah, benda baja bersayap itu tak ubahnya seperti segerombolan elang hitam.
Seperti yang kita ketahui, pagi ini akan menjadi sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Sebuah jet tempur bernama Garuda’s Eyes akan melakukan sebuah demontrasi di udara. Bukan hanya sekedar tontonan yang bakal menakjubkan, Garuda’s Eyes juga lambang kebanggan negeri ini. Ia merupakan jet tempur pertama karya anak bangsa.
Perlu kami informasikan juga bahwa, rombongan kepresidenan baru saja tiba di lokasi. Itu artinya, sebentar lagi kita akan menyaksikan performance dari si  Garuda bermata merah.  
Namun sebelum itu, berikut wawancara singkat kami dengan Nanda Winata atau yang akrab dipanggil De’Nan beberapa waktu yang lalu. Beliau adalah pilot yang dipercaya untuk menerbangkan Garuda’s Eyes untuk pertama kalinya.
Reporter 
Apa yang bapak rasakan saat ini?
De’Nan 
Saya selalu senang, he..he… Maksud saya, ini adalah suatu kehormatan luar biasa yang diberikan oleh bangsa Indonesia.  Saya sudah sering  melakukan atraksi atau demontrasi semacam ini, namun kali ini rasanya …. wah, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Reporter 
Adakah persiapan khusus yang bapak lakukan untuk demontrasi hari ini?
De’Nan 
Kapan dan dimanapun. Saya tetap melakukan persiapan terbaik untuk segala sesuatu. Terlebih yang berkenan dengan profesi saya sekarang ini. Tetap fokus dan disiplin, ku kira itu.
Reporter 
Terima kasih pak, kami ucapkan selamat menjalankan tugas. Dan tentunya rakyat di seluruh pelosok tanah air tidak sabar untuk  menyaksikan performance bapak beserta Garuda’s Eyes. 
Pemirsa, sekarang adalah detik-detik dimana Garuda’s Eyes akan menghiasi langit dengan demontrasi terbaiknya. 
Dapat kita dengar bersama, auman mesinnya yang terdengar kian semakin mendekat. Dari arah selatan, dan itu ……
Itu adalah Garuda’s Eyes yang siap membelah langit Halim Perdana Kusuma!
=wew……Garuda’s Eyes melesat dengan kecepatan luar biasa. Semua mata mengikuti pergerakan jet tersebut. Jet itu kembali melintas dengan laju dari arah berlawanan. Lalu terbang lebih tinggi, tampak hanya sebesar semut. Kemudian turun dengan tajam. Setiap kepala mendongak. Menanti selanjutnya. Wah…..secara tak sadar ucapan itu terlontar begitu saja. Jet semakin mendekati bumi. Makin rendah, rendah dan rendah. Apa yang terjadi? Semua yang hadir terperangah. Degub jantung masing-masing semakin kencang. Was-was dan khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi. Bapak presiden beserta staf spontan berdiri. Gelisah dan berdoa agar keadaan terburuk tidak bakal terjadi. Namun, beberapa menduga itu bagian dari pertunjukan. Tak ada tanda-tanda Jet tempur itu untuk melandai. Moncong pesawat dengan sempurna menghujam ke arah bumi secepat kilat, dan …..=
“De’Nan….” pemanggil maknye dengan sikap protektif. Sementara De’Nan asyik mengawasi ikan dari pinggir parit.
“Iye, mak!” Sahut De’Nan dengan nada kesal.

Semenjak dibuatkan pesawat kertas, hari-hari berikutnya De'Nan terus minta dibuatkan. "Lha, yang kemarin man?" Tukasku.
"Jatoh ke parit, bang." 

0 Messages:

Posting Komentar

 
;