Selasa, 18 September 2012

Faridah


            Faridah letih melakoni sebuah rutinitas. Enggan ia, namun tetap juga menyerah kalah pada akhirnya. Menunggu. Kata itu, bagi setiap orang tak lebih baik artinya. Lebih-lebih buat wanita dengan umur kepala lima tersebut. Menunggu bukan hanya melelahkan tetapi juga menyengsarakan. Membuahkan penderitaan dan penyesalan yang berkepanjangan. Serta menghilangkan kesempatan untuk membuat pilihan. Sayang, ia tak kuasa untuk memutar waktu. Alur hidupnya telah terjilid sempurna dalam rentetan masa.
Sekarang genap dua puluh lima tahun lamanya. Ketika ia mendengar janji yang keluar dari mulut seorang lelaki muda impiannya, “Dua bulan lagi, aku akan datang ke rumahmu.”
Ah. Waktu itu, hanya satu ungkapan yang bisa menggambarkan suasana hati Faridah. Musim semi bersemayam disana. Kuncup-kuncup bunga bermekaran. Menebarkan aroma wewangian. Kupu-kupu beterbangan. Dan kumbang hilir mudik dari satu bunga ke bunga yang lain melengkapi keindahan.
Ucapan Rahim itu sampai hari ini masih saja terdengar jelas ditelinganya. Bagaimana suara berat pemuda itu berucap dengan sepenuh kemantapan. Betapa memerah mukanya kala itu. Namun kini semuanya telah berubah. Kenangan itu menjadi sebuah pisau guillotine yang menggorok kehidupannya. Seorang perawan tua. Apa yang lebih jelek dari gelaran itu?
******
Faridah menghidu sesuatu di kamarnya. Dicarinya dengan seksama sumber bau tak sedap tersebut. “Bisa mati tercekik aku kalau begini.” Gerutunya membatin.
Disinsingkannya juntaian kelambu kusam yang melantai. Dilakukannya dengan perlahan-lahan. Bau itu semakin menyengat pada saat ia semakin menghampiri sudut kamar di dekat jendela. “Keti…!” Teriaknya menjadi.
Baunya masam dan busuk. Seperti dugaannya ketika tengah mencari tadi. Siapa lagi kalau bukan pekerjaannya si Keti. Untuk apa ia susah payah mengajari “anak” itu dimana seharusnya buang hajat. Kenyataannya Keti masih bertindak jorok. “Dimana kau, ha!”
Keluar kamar ia langsung menuju dapur. Meraih sapu ijuk di bawah tungku. “Anak itu sesekali harus diberi pelajaran.” Pikirnya.
Dengan kedua matanya, dijelajahinya setiap sudut rumah. Tadi di kamar jelas Keti tidak ada. Didapur juga demikian. Karena Keti tak dibiarkannya bermain sendirian di luar rumah, jadi kemungkinan besar Keti di ruang tengah.
Persis. Keti tergolek diatas kursi yang sofa hanyalah tinggal sebuah nama. Kulit sintetis pembungkus tempat duduk itu telah mengelupas disana sini. Sulit untuk menyebutnya berwarna merah, karena cenderung memudar lebih keunguan. Busanya juga telah mengendap. Bila diduduki, tak ubahnya serasa menduduki kursi kayu. 
Tubuh Keti terperuk di salah satu cekungan sofa. Mengacuhkan Faridah yang membentaknya sambil membawa sapu, Keti tetap pulas.
“Buk.”
Satu pukulan sebagai peringatan mendarat pada sandaran sofa. Dan itu menganggu tidur Keti. Keti mengedipkan mata. Lalu tidur lagi. Melihat itu, Faridah semakin emosi. “Buk.” Pukulan sapu ijuk kembali mendarat di tempat yang sama.
Keti terkesiap. Matanya benar-benar terjaga.
“Berapa kali ku bilang. Buang hajat jangan di kamar. Atau dimanapun. Untuk apa aku mengajarimu dan juga membuat WC. Padahal baju itu baru saja kucuci. Hanya saja belum sempat melipatnya. Sekarang, siapa yang harus mencucinya lagi kalau bukan aku! Jawab, ayo jawab.”
Jendela depan terbuka lebar sejak tadi. Seorang ibu muda melintas dan sempat melirik ke arah rumahnya. Bertemu pandang dengan Faridah yang tengah marah, dia cepat-cepat berlalu. Faridah tahu ibu muda itu mengoceh sesuatu. Faridah juga tahu kata apa yang keluar dari mulut orang tersebut. Gila, sinting. Tak jauh-jauh dari dua kata tersebut.  
Ya, ia memang telah sinting, gila atau apapun namanya. Mendidik Keti, menjadikannya laiknya seorang dokter hewan yang bisa berbicara dengan binatang apapun. “Andai saja Keti benar-benar anakku, tentu itu akan lebih mudah.” Desisnya perlahan. Amarahnya mulai mereda.
Nama Keti diambilnya dari saluran televisi yang memunculkan sosok kartun kucing lucu dan menggemaskan. Ia tak tahu bagaimana tepat menuliskannya. Keti, keti, itulah yang dia dengar. Waktu itu Keti adalah seekor anak kucing yang induknya entah kemana. Mengeong keras di teras rumahnya. Hatinya tergugah. Boleh jadi lantaran merasa senasib dengan kucing tersebut, Faridah memeliharanya. Dan entah bagaimana setelahnya, Keti bagai anak baginya.
Tak mungkin ia memukul anaknya tersebut. Ia takut terjadi apa-apa dengan Keti. Jika itu benar-benar terjadi, siapa lagi temannya dimalam hari. Tempatnya untuk berbagi kisah. Bercengkerama sebelum tidur. Kadang, bercerita betapa cintanya ia pada Rahim dulu. Juga, betapa bencinya ia pada nama itu sekarang. “Tiada maaf baginya.” Itulah biasanya kata penutup obrolannya dengan Keti sebelum berlayar ke alam mimpi.
Faridah menatap Keti lekat-lekat. Kucing itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Seolah mengerti perasaan Faridah. Tingkahnya, dimata wanita lima puluh tahun itu tak ubahnya sebuah ungkapan maaf. Faridah jongkok, “tak apa Ket, aku terkadang sulit mengendalikan emosiku. Kau tahukan bagaimana perasaanku ketika tanpa sadar membuka lembaran-lembaran silam.” Mata Faridah berkaca dan menerawang keluar jendela. Sesekali dilihatnya orang yang melewati rumahnya.
Mengalihkan pandangan kembali ke arah Keti sambil mengelus bulu pirang berbelang hitam binatang berkaki empat tersebut. “Aku benci mengingatinya. Namun, semakin aku mencoba untuk melupakannya, semakin jelas saja dibenakku. Jika saja aku menerima pinangannya Madun kala itu, tentu hidupku tak lah semelarat begini. Hidup sebatang kara dengan kucing yang juga sebatang kara.” Lagi, Faridah mengelus bulu Keti.
Faridah beranjak menjauhi sofa. Amarahnya benar-benar sudah mereda. Ia berbalik badan menuju dapur. Tentu saja untuk menyimpan sapu di tempatnya semula. Baru satu langkah, ia berbalik lagi mengarah pada Keti. Keti kembali tidur. “Kamu pasti akan bertemu dengan ibumu kelak.” Ucapnya pelan. Kata-kata itu sebenarnya ia tujukan kepada dirinya sendiri. Ia sangat sadar bahwa dimulut berucap benci, dihatinya masih menyimpan cinta. Bagaimana jika suatu saat ia harus bertatapan dengan Rahim lagi. Mimpi di siang hari.
Kembali Faridah berbalik badan. Seperti tujuannya semula, dapur. Namun niatnya kembali urung lantaran teringat peristiwa kemarin di rumah sakit. Tadi malam sebelum tidur, ia lupa menceritakannya. Wanita itu menghampiri Keti lagi. Mengusik Keti dengan belaian kasarnya. “Bangun Ket.” Pintanya.
“Aku takut di alam sana engkau akan menuntutku untuk bercerita. Dan aku lebih takut lagi jika engkau minggat begitu saja. Pasalnya aku sudah berjanji sebelum pergi ke rumah sakit kemarin. Bukankah janji harus ditepati. Aku tahu rasanya dikhianati seperti apa.”
Faridah menghela nafas dalam.
“Sewaktu menunggu…..”
*********
=bersambung=


0 Messages:

Posting Komentar

 
;