Faridah letih melakoni sebuah rutinitas. Enggan ia, namun
tetap juga menyerah kalah pada akhirnya. Menunggu. Kata itu, bagi setiap orang
tak lebih baik artinya. Lebih-lebih buat wanita dengan umur kepala lima
tersebut. Menunggu bukan hanya melelahkan tetapi juga menyengsarakan.
Membuahkan penderitaan dan penyesalan yang berkepanjangan. Serta menghilangkan
kesempatan untuk membuat pilihan. Sayang, ia tak kuasa untuk memutar waktu. Alur
hidupnya telah terjilid sempurna dalam rentetan masa.
Sekarang
genap dua puluh lima tahun lamanya. Ketika ia mendengar janji yang keluar dari
mulut seorang lelaki muda impiannya, “Dua bulan lagi, aku akan datang ke
rumahmu.”
Ah.
Waktu itu, hanya satu ungkapan yang bisa menggambarkan suasana hati Faridah.
Musim semi bersemayam disana. Kuncup-kuncup bunga bermekaran. Menebarkan aroma
wewangian. Kupu-kupu beterbangan. Dan kumbang hilir mudik dari satu bunga ke
bunga yang lain melengkapi keindahan.
Ucapan
Rahim itu sampai hari ini masih saja terdengar jelas ditelinganya. Bagaimana
suara berat pemuda itu berucap dengan sepenuh kemantapan. Betapa memerah
mukanya kala itu. Namun kini semuanya telah berubah. Kenangan itu menjadi
sebuah pisau guillotine yang
menggorok kehidupannya. Seorang perawan tua. Apa yang lebih jelek dari gelaran
itu?
******
Faridah
menghidu sesuatu di kamarnya. Dicarinya dengan seksama sumber bau tak sedap
tersebut. “Bisa mati tercekik aku kalau begini.” Gerutunya membatin.
Disinsingkannya
juntaian kelambu kusam yang melantai. Dilakukannya dengan perlahan-lahan. Bau
itu semakin menyengat pada saat ia semakin menghampiri sudut kamar di dekat
jendela. “Keti…!” Teriaknya menjadi.
Baunya
masam dan busuk. Seperti dugaannya ketika tengah mencari tadi. Siapa lagi kalau
bukan pekerjaannya si Keti. Untuk apa ia susah payah mengajari “anak” itu
dimana seharusnya buang hajat. Kenyataannya Keti masih bertindak jorok. “Dimana
kau, ha!”
Keluar kamar ia
langsung menuju dapur. Meraih sapu ijuk di bawah tungku. “Anak itu sesekali
harus diberi pelajaran.” Pikirnya.
Dengan
kedua matanya, dijelajahinya setiap sudut rumah. Tadi di kamar jelas Keti tidak
ada. Didapur juga demikian. Karena Keti tak dibiarkannya bermain sendirian di
luar rumah, jadi kemungkinan besar Keti di ruang tengah.
Persis.
Keti tergolek diatas kursi yang sofa hanyalah tinggal sebuah nama. Kulit
sintetis pembungkus tempat duduk itu telah mengelupas disana sini. Sulit untuk
menyebutnya berwarna merah, karena cenderung memudar lebih keunguan. Busanya
juga telah mengendap. Bila diduduki, tak ubahnya serasa menduduki kursi kayu.
Tubuh
Keti terperuk di salah satu cekungan sofa. Mengacuhkan Faridah yang membentaknya
sambil membawa sapu, Keti tetap pulas.
“Buk.”
Satu
pukulan sebagai peringatan mendarat pada sandaran sofa. Dan itu menganggu tidur
Keti. Keti mengedipkan mata. Lalu tidur lagi. Melihat itu, Faridah semakin
emosi. “Buk.” Pukulan sapu ijuk kembali mendarat di tempat yang sama.
Keti
terkesiap. Matanya benar-benar terjaga.
“Berapa
kali ku bilang. Buang hajat jangan di kamar. Atau dimanapun. Untuk apa aku
mengajarimu dan juga membuat WC. Padahal baju itu baru saja kucuci. Hanya saja
belum sempat melipatnya. Sekarang, siapa yang harus mencucinya lagi kalau bukan
aku! Jawab, ayo jawab.”
Jendela
depan terbuka lebar sejak tadi. Seorang ibu muda melintas dan sempat melirik ke
arah rumahnya. Bertemu pandang dengan Faridah yang tengah marah, dia
cepat-cepat berlalu. Faridah tahu ibu muda itu mengoceh sesuatu. Faridah juga tahu
kata apa yang keluar dari mulut orang tersebut. Gila, sinting. Tak jauh-jauh
dari dua kata tersebut.
Ya,
ia memang telah sinting, gila atau apapun namanya. Mendidik Keti, menjadikannya
laiknya seorang dokter hewan yang bisa berbicara dengan binatang apapun. “Andai
saja Keti benar-benar anakku, tentu itu akan lebih mudah.” Desisnya perlahan.
Amarahnya mulai mereda.
Nama
Keti diambilnya dari saluran televisi yang memunculkan sosok kartun kucing lucu
dan menggemaskan. Ia tak tahu bagaimana tepat menuliskannya. Keti, keti, itulah
yang dia dengar. Waktu itu Keti adalah seekor anak kucing yang induknya entah
kemana. Mengeong keras di teras rumahnya. Hatinya tergugah. Boleh jadi lantaran
merasa senasib dengan kucing tersebut, Faridah memeliharanya. Dan entah bagaimana
setelahnya, Keti bagai anak baginya.
Tak
mungkin ia memukul anaknya tersebut. Ia takut terjadi apa-apa dengan Keti. Jika
itu benar-benar terjadi, siapa lagi temannya dimalam hari. Tempatnya untuk
berbagi kisah. Bercengkerama sebelum tidur. Kadang, bercerita betapa cintanya
ia pada Rahim dulu. Juga, betapa bencinya ia pada nama itu sekarang. “Tiada
maaf baginya.” Itulah biasanya kata penutup obrolannya dengan Keti sebelum
berlayar ke alam mimpi.
Faridah
menatap Keti lekat-lekat. Kucing itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Seolah
mengerti perasaan Faridah. Tingkahnya, dimata wanita lima puluh tahun itu tak
ubahnya sebuah ungkapan maaf. Faridah jongkok, “tak apa Ket, aku terkadang
sulit mengendalikan emosiku. Kau tahukan bagaimana perasaanku ketika tanpa
sadar membuka lembaran-lembaran silam.” Mata Faridah berkaca dan menerawang
keluar jendela. Sesekali dilihatnya orang yang melewati rumahnya.
Mengalihkan
pandangan kembali ke arah Keti sambil mengelus bulu pirang berbelang hitam binatang
berkaki empat tersebut. “Aku benci mengingatinya. Namun, semakin aku mencoba
untuk melupakannya, semakin jelas saja dibenakku. Jika saja aku menerima
pinangannya Madun kala itu, tentu hidupku tak lah semelarat begini. Hidup
sebatang kara dengan kucing yang juga sebatang kara.” Lagi, Faridah mengelus
bulu Keti.
Faridah
beranjak menjauhi sofa. Amarahnya benar-benar sudah mereda. Ia berbalik badan
menuju dapur. Tentu saja untuk menyimpan sapu di tempatnya semula. Baru satu
langkah, ia berbalik lagi mengarah pada Keti. Keti kembali tidur. “Kamu pasti
akan bertemu dengan ibumu kelak.” Ucapnya pelan. Kata-kata itu sebenarnya ia
tujukan kepada dirinya sendiri. Ia sangat sadar bahwa dimulut berucap benci,
dihatinya masih menyimpan cinta. Bagaimana jika suatu saat ia harus bertatapan
dengan Rahim lagi. Mimpi di siang hari.
Kembali
Faridah berbalik badan. Seperti tujuannya semula, dapur. Namun niatnya kembali
urung lantaran teringat peristiwa kemarin di rumah sakit. Tadi malam sebelum
tidur, ia lupa menceritakannya. Wanita itu menghampiri Keti lagi. Mengusik Keti
dengan belaian kasarnya. “Bangun Ket.” Pintanya.
“Aku
takut di alam sana engkau akan menuntutku untuk bercerita. Dan aku lebih takut
lagi jika engkau minggat begitu saja. Pasalnya aku sudah berjanji sebelum pergi
ke rumah sakit kemarin. Bukankah janji harus ditepati. Aku tahu rasanya
dikhianati seperti apa.”
Faridah
menghela nafas dalam.
“Sewaktu
menunggu…..”
*********
=bersambung=

0 Messages:
Posting Komentar