Kamis, 26 September 2013 0 Messages

Hujan Mengejutkan

Jam berapa?

Saat tiba-tiba dibangunkan oleh hujan yang mengejutkan, aku bertanya-tanya, jam berapa sekarang ini? Seolah itu penting. Alasannya, paling tidak akan menjadi bahan perbincangan keesokan harinya. Namun, mendapati HP lagi off dan malas mengaktifkannya, sepertinya bertanya kepada seseorang esok juga merupakan bahan perbincangan, bukan?

Hujan yang mengejutkan lambat laun menyusupkan rasa ngeri. Intensitasnya yang lebat tampak tengah melempari atap rumah kami tanpa ampun. Otakku jadi berpikir yang tidak-tidak. Badai, topan, dan yang paling ringan adalah atap bocor. Aku membayangkan, rumah kami yang kondisinya memprihatinkan ini, tercabut lalu terbawa angin. Bersyukur, itu hanya sesaat. Kemudian berpindah pada atap daun di bagian dapur, aku mengira akan terangkat semuanya. Ah, hanya khayalan yang tidak masuk akal. Dan terakhir, kekhawatiranku pada Sentras tercinta. Menguap seiring keyakinan bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kecuali air merembes melalui plafon lewat atap seng yang bocor. He...he..

Semua kegusaranku menghilang bersamaan dengan aku memasuki alam mimpi lagi. Untungnya itu semua tidak terbawa-bawa sampai ke sana.

5:49

Dari tempat tidur. Ditemani secangkir Kapal Api Grande White Coffe (berlari ke dapur, baru ingat tengah menjerang air) dan sekantong kue. Mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan tidur. He...he...
Selasa, 24 September 2013 0 Messages

Rahasia Soe

"Kamu ini keras kepala sekali ya. Aduh, atau jangan-jangan sudah jadi manusia benaran. Ayah, dimana ayah?"

Lile melemparkan tas tangannya ke sofa begitu saja, lalu berlalu cepat. Tadi malam saja sudah hampir membuatnya pingsan. Membahas ini lagi? Oh, sorry jack. Kalau Soe masih enggan mengubah keputusannya, ia peduli apa. Gadis itu menekan tombol di balik lukisan. Dinding mundur perlahan, kemudian menyamping. Satu demi satu lampu menyala sepanjang lorong. Itu adalah jalan menuju ruang kontrol.

Soe menghela nafas. Di rumah ini, pikirnya, tidak ada yang benar-benar mengerti dirinya. Bukan, dirinyalah yang punya masalah. Mereka semuanya benar.

"Kalau ada telepon, katakan aku menghilang." Lile keluar lagi untuk berpesan. Tak perlu jawaban. Tubuhnya menghilang secepat kemunculannya.

Seorang wanita yang mereka sepakati memanggilnya ibu, bergabung. Duduk dengan anggun bak nyonya rumah sejati, yang penuh sopan santun serta ramah. Memerhatikan lekat-lekat ke arah Soe. Soe, merasa bersalah mendapat perlakuan seperti itu. Lebih baik ia menghindar.

"Tunggu, Soe," tukas Marlina perlahan saat Soe hendak bangkit.

Ketika tatapan mereka bertemu, Marlina mendapati bara dibalik mata Soe. Penolakan menerima nasihat atau semacamnya. Ia tahu, tidak ada gunanya mengulangi petuah-petuah tadi malam di ruang utama. Keputusan Soe final. Mereka berdua sama-sama tahu apa konsekuensinya.

Soe duduk kembali dengan terpaksa. Menatap ke lantai dimana kakinya tidak diam.

"Kita tahu semuanya sulit, bukan? Bagimu dan bagi kita semuanya. Ibu tidak pernah menyalahkan apa yang kau pertahankan. Dan sekali lagi, ibu berjanji mendukung sepenuhnya."

Tiba-tiba kilatan dimata Soe hilang. Melunak dan menerima kehadiran Marlina, ibunya.

Seperti bisikan, Soe mengatakan, "terima kasih."

Keheningan hadir sejenak diantara kebungkaman mereka. Menimbang-nimbang untuk memulai. Marlina tahu kapan seharusnya diam. Dan ia benar. Soe, ketika punya kesempatan, pemuda itu akan mengatakan yang sebenarnya.

"Namanya Arunia," ucap Soe singkat.
......................

Next......Dr. Mock Series


Minggu, 22 September 2013 0 Messages

Alamak, Remote di Bajak Nenek!

Alamak, remote sudah dibajak "NENEK"

Artinya sejak sinetron Gajahmada nampil, di temani Damar Wulan pada chanel sebelah, sampai Raden Kian Santang kelar, aku gak bisa menguasai TV. Untung-untung, nenek sudah terkuap-kuap saat memaksakan diri memelototi Take Me Out Indonesia. 

Baru diatas jam itu, aku bisa bernafas lega. Kelegaanku sebenarnya masih menyisakan perasaan dongkol. Tadi setelah shalat Isya, aku berharap bisa menekan chanel no 7, metro TV. Mendulang motivasi dan pengembangan kepribadian bersama bapak Mario Teguh. Apa boleh buat, nenek sudah nongkrong disana. Dan aku mundur setelah memelas tapi ditolak. Pak Mario, ketemu di dunia maya saja, ya.

Istilah periklanan menyebut jam-jam segini dengan prime time. Harga iklan yang ditampilkan jelas jauh lebih tinggi dari waktu lainnya. Namun bukan itu yang ingin kubahas. Yang kusesalkan adalah, kenapa sinetron itu gak ada habis-habisnya sih. Bicara sedikit, kelahi. Hidup-mati-hidup lagi. Penjara-bebas-penjara lagi. Berputar-putar disitu saja alur ceritanya. Tanpa arah. Herannya, nenek koq suka ya?

Pada kesempatan lain di beberapa pekan yang lalu, nenek mau mengalah sedikit. Nah, dalam peluang emas itu, aku berharap nenek kepincut dengan program yang amat sangat ingin kutonton. Pak Mario dengan senyum memukaunya, menghipnotis para audiens di studio. Aku yakin yang dirumah juga demikian. Saran-saran membangunnya mampu menggerakkan jiwa untuk menjadi pribadi yang unggul. Ku lirik ke arah nenek sekilas, beliau terkesima.

Haruskan aku mengatakan wowwwww!!! Nenek meresapi setiap kata pak Mario tanpa sisa. Pandangannya lurus, pikirannya konsentrasi, dan mukanya tegang. Wah-wah, ini baru nenekku. Meski kita orang kampung, nek, tapi jangan kampungan.

Hingga tibalah detik yang membuat aku terjungkal. Pertanyaan nenek yang spontan membuatku terbelalak dan ingin ngakak. Ternyata aku salah seratus persen. Apa yang tampak tidak selalu sama dengan kenyataan sesungguhnya. "Ape be yang die omongkan?"

Guabraaakkk.... Sejak saat itu, nenek jera.

Aku berpikir sejenak. Memang tidak ada yang salah dengan nenek. Begitu pula pak Mario Teguh. Apalagi diriku. Rupanya ada media komunikasi yang tidak berjalan dengan seharusnya. Lihat saja, pak Mario berbicara menggunakan bahasa, yang yah, kita anak kuliahan mungkin gak kesulitan menerjemahkannya. Tetapi tidak bagi nenekku. Dikiranya orang di TV itu tengah berbicara bahasa langit. Kronologi, diskriminasi, kontroversi, dan yang semacam itu. Bahasa-bahasa tersebut tentu saja tak pernah nenek temukan di sekolah rakyat dulu. Ah, setiap generasi mungkin ada bahasa tersendiri.

Aku manggut-manggut. Oh, pantas saja nenek suka nonton sinetron. Bahasanya mudah dimengerti. Tak pedulilah ceritanya kesana kemari. Yang penting nyambung.

Itu bukan berarti setiap malam senin aku menyerah membujuk nenek. Cuma kuharap nenek pikun dengan kejadian waktu itu. Ya nek ya......nenek baik deh.

===Fiksi semata. Kesamaan cerita dan tokoh hanya kebetulan belaka===
Jumat, 20 September 2013 0 Messages

CINTA SUCI ABAH

CINTA SUCI ABAH

"Anak-anakku yang ganteng dan cantik. Abah ni heran, tetangga udah pada ribut mau ngejodohin Abah dengan si anu yang depan gang. Apa Abah sudah kelihatan cukup tua, ya. Padahal, belum juga menginjak Sweet 28. Bagaimana menurut kalian?"

Si Abah memandang ketujuh anaknya satu persatu. 

"Kalau menurut saya nih, bah," si Along angkat bicara. "Itu artinya tetangga peduli sama Abah. Sampai-sampai masalah pendamping pun mereka perhatiin. Tapi berkenaan setuju atau tidak, itu urusan lain. Mending Abah minta petunjuk saja sama Allah. Insya Allah ada jalannya."

Ke enam anak Abah lainnya sepertinya setuju-setuju saja tuh. Kecuali, yang nomor tiga. "Kalau Ude lain, bah. Memang perjodohan gak dilarang sama sekali dalam agama kita, cuma, ini yang penting ni. Apa abah ada pilihan lain?"

Abah menghela nafas berat dan terdiam untuk sesaat. Ia mengingat perbincangannya di warung kopi Acoi dengan kawan lama. "Kau ini banyak nampik!" begitu kata teman Abah yang masih hangat dalam memori otaknya.

Dengan hati-hati abah menjawab, "ya." Diam lagi.

"Namanya Zahrana. Seorang dosen."

=== LO, KOQ NYAMBUNG KE FILMNYA CINTA SUCI ZAHRANA. GIMANA INI? GAK BENAR YANG NULIS NIH......PEACE===
Selasa, 17 September 2013 0 Messages

Gak No Wahid, Minimal Beda lah

Siapa yang gak mau jadi yang pertama?

Tentunya kita semua ingin, bukan. Cuma, ada saat-saat dimana kita BELUM bisa menjadi yang utama dan harus memaksimalkan potensi sumber daya yang ada. Dalam kontek persaingan bisnis misalnya. Seandainya saat ini usaha kita belum bisa berperan sebagai pemimpin pasar, paling tidak berusahalah untuk beda. Demikian kira-kira petuah para punggawa bisnis yang sering kita temukan dalam buku-buku sukses berwirausaha.


Mmm....teringat tentang itu, pikiranku terlempar pada masa-masa sekolah dulu. Yah, tepatnya sekitar sepuluh tahun silam. Kala itu, aku sesungguhnya dan mau tidak mau harus puas duduk diperingkat lima atau enam. Begitu seterusnya dari kelas satu sampai tiga SMK. Sayangnya, seolah kompetisi menjadi barang yang diremehkan. Ditambah lagi, tidak adanya motivasi eks dan int untuk menjadi yang nomor wahid. Dan demikianlah.

Meski seperti itu, kontek "gak bisa yang utama, paling tidak beda" itu rupanya telah ada dalam diriku. Bahasa Inggris. Sang juara kelas dan empat orang pintar tiga orang diatasku bertekuk lutut dalam pelajaran bahasa asing itu. Sampai terkadang aku ingin bungkam saat sang guru melontarkan pertanyaan pada seisi kelas. Masalahnya aku tahu jawabannya. Sengaja diam memberikan kesempatan pada teman-teman yang lain. Nihil. Mau tidak mau, guru pun seolah telah bersekongkol denganku dalam diam, maka akulah yang musti menjawab.

Pernah suatu hari, sepeda motor yang kugunakan mogok. Konsekuensinya, aku kehilangan mata pelajaran Bahasa Inggris. Ketika datang ke sekolah, kelas telah usai. Sempat-sempatnya seorang teman berceloteh kepadaku, "bapak itu ngajarnya gak semangat, gak ada kamu."

Satu yang ingin kutekankan disini adalah, bukan tentang ceritaku sepuluh tahun yang lalu diatas. Melainkan, setiap kita harus bisa menemukan keunggulan diri kita pribadi. Jangan harap menjadi sukses besar kalau kita tetap berharap bisa menjadi seperti orang lain. I am my self. Keunikan ada dalam jasad kita. Ayo, temukannya!
Jumat, 13 September 2013 0 Messages

Miss Galau 2013

Warga desa Pelangi juga ikut menolak keras lho pergelaran ajang Miss World di Indonesia. Tapi tidak untuk
yang satu ini. Saat wartawan lokal mewawancarai salah satu peserta, jawaban yang didapatnya sangat keras, "jelas saja beda mas. Kalau disana itu buka ini buka itu. Kita disini buka itu saja." Itu? Itu yang mana maksudnya nih. Gak nyambung. 

Memang gak pernah nyambung. Ide itu menjalar bak virus. Galau merebak lebih cepat dari aliran listrik. Kayak corong-corong mulut ibu-ibu ketika bergosip ria. Oleh karena itu, pantas memang diadakan Miss Galau 2013 edisi perdana. Edisi percobaan. Barangkali ada desa lain yang ingin melakukan hal serupa. Jadi desa Pelangi dalam hal ini pemegang trade mark. Artinya desa mana saja hendak mengadakan Miss galau, mustilah meminta persetujuan plus membayar 'fee' pada desa pelangi. Sejauh itu pemikirannya. Luar biasa ide bisnisnya. 

Barulah terkuak arti "itu" yang disebutkan tadi. Itu bermaksud, peserta terbuka untuk umum. Tak pedulilah anak remaja, ibu-ibu sampai nenek-nenek gaul pun bisa bergabung. Dan konsekuensi dari terbukanya tadi, karakteristik peserta mencengangkan panitia. "Ini ajang apa sih? Arisan atau bagaimana?" salah satu panitia geleng-geleng kepala. 

Antusias wanita desa pelangi untuk menjadi yang tergalau menjadi-jadi. Terjaring lebih dari lima puluh kandidat yang terdaftar. Tapi dengan amat sangat terpaksa, sepuluh diantaranya digugurkan tanpa belas kasihan. Inikan ajang "miss," kok mereka yang "miss palsu" ikut-ikutan. Mending ke laut aja dah. '-'
Berkurang lagi jumlahnya ketika seorang nenek menyatakan mundur secara suka rela. Ia dapat mimpi dibentak almarhum suaminya karena ikut acara itu. Kasihan, tapi panitia tak ada satupun yang menjatuhkan air mata. Gila!

Dari total tiga puluh sembilan yang bertahan itulah, panitia melakukan seleksi selama tiga minggu. Mengamati secara diam-diam, siapa-siapa saja yang galau benar-benar dan yang bohong-bohongan. Ketahuan? langsung dicoret namanya. Kalau di ajang miss sana itu istilahnya karantina dan ikut berbagai kegiatan kali ya. Dan cara ini very-very efektif. Lebih dari lima puluh persen tersingkir secara otomatis. Sisanya bertahan hingga puncak. Pertanyaannya, berapa orangkah yang bertahan kalau begitu? Mulai berhitung, kan?

Dua belas (koreksinya belakangan. Soalnya saya lagi malas ngitung). 

Dua belas yang tersisa berhasil naik kepanggung. Dekorasi bangunan itu jauh dari elegan. Seadanya, ya. Ah, namanya juga acara dadakan dan suka-suka. Paling benar adalah kurangnya dana. Mengongkosi tiga dewan juri yang sok glamor saja hampir bangkrut. Belum lagi konsumsi panitia dan hadiah bagi pemenang. Dalam diskusi antar panitia, tersinggung juga masalah, "tobat mau ngadain ini lagi. Tak ada sponsor yang mau."

"Ehem..." juri pertama mempersiapkan diri memberikan pertanyaan. Wanita itu terkenal sebagai calon anggota legislatif dapil berapa kali. Pokoknya, fotonya akhir-akhir ini menyebar banyak di desa pelangi. "Menurut teman-teman sekalian, apa itu galau?" Teman? bijak sekali kata yang dipilihnya. Maklum caleg gitu loh! Soalnya peserta bervariasi umurnya. Disebut adik, ntar yang tua tersungging. Di bilang ibu, eh yang muda malah tergiling.

Marfuah : "Mmm...galau itu....mm..galau itu....." 
Waduh, banyak titik-titiknya. Marfuah mundur dengan muka merah padam. Berbisik kesamping, "apa sih galau?"

Widuri : "Menurut aku, galau itu keadaan dimana kita merasa...gak ada yang benar. Bisa disebabkan oleh hal-hal yang terjadi sama kita. Misalnya diputusin pacar, jerawat lagi tumbuh, dosen ngasih nilai pelit. Misalnya lagi...."
Si caleg wanita menyetop paksa. 

Mira, Ima, dan tiga wanita lainnya (kecapekan cari nama) mengikuti jejak teman satu gengnya, Marfuah. Banyak mmm....dan engg....nya. Pasti mereka memikirkan hal yang sama. Kenapa gak belajar dirumah, apa itu galau. Aduh, mereka semestinya sadar dirilah. Galau itu kata khusus anak muda. Mereka kan angkatan enampuluhan, kecuali Mira yang anak generasi sekarang. 

Si caleg wanita mulai gusar. Bedaknya hampir luntur dan senyum pura-puranya mulai pudar. Untungnya sebelum berangkat tadi, ia menekan dirinya sendiri agar tetap menjaga bibir simetris. Kiri-kanannya. Ini demi masa depan. Ingat, ia penyokong dana utama acara ini. Harapannya, pundi-pundi suara akan mengalir deras dari desa pelangi ini. 

Lima orang sisanya berhasil mengekori Widuri lepas dari eliminasi. Rata-rata mereka semuanya remaja usia sekolah menengah atas hingga kuliahan semester bawah, selain Siti yang ibu rumah tangga ajaib. 

Juri kedua adalah lelaki dengan kepala hampir selicin batu. Tinggal beberapa jumput rambut di pinggir. Yang membawanya masuk dalam tim juri adalah statusnya sebagai kepala desa. Debat kusir para panitia terjadi dalam penunjukkan sang kepala desa tersebut. Dan inilah hasilnya. Dengan amat sangat terpaksa dan dibuat enak-enak saja, ia ada disitu. 

Sok berwibawa, ia bertanya kepada semua peserta, "apa yang paling membuat kalian galau? Uhuk...uhuk...maaf. Lagi batuk."

Ya tahulah sedang batuk, pikir salah satu peserta. Masa bersin. 

Sista : "Pacarku" (Setiap hari dalam tiga minggu terakhir di FB nya, ia terus menerus meratapi pacarnya)
Widuri : "Cinta sebelah tangan" (Terpesona pada setiap cowok ganteng. Padahal cermin hampir retak saat ia berkaca. Jodohkan tidak tergantung rupa. Katanya cinta itu buta, ya? pikirnya)
Siti : "Kehabisan duit" (Mikir kiriman suaminya dari malaysia belum datang)
Dian : "Cinta sih" (Nasibnya kurang lebih dengan Sista)
Cinta : "Terlalu banyak. Sulit diterjemahkan. Salah satunya sih ..." (Padahal ia tidak benar-benar tahu apa yang menyebabkannya galau. Sepertinya apa saja bisa membuatnya galau). 
Lissa : "Yang membuatku galau adalah aku sulit mencintai. Banyak yang mengejar, tapi tak satupun yang cocok denganku" (Sok cantik )

Tiga harus tersisih di sesi ini. Anggota juri bingung mau memilih siapa saja. Soalnya kalau dipikir-pikir semuanya gak ada yang menjanjikan menyandang gelar Miss Galau 2013. Akhirnya Siti, Lissa, dan Widuri lolos ke tahap selanjutnya. Yang lain mengisak diam. Mungkin begini rasanya tereliminasi di X-Factor Indonesia. 

Juri ketiga wanita muda. Satu-satunya alasan masuk akal ia dipilih panitia adalah karena berhasil masuk tiga puluh besar audisi dangdut di sebuah televisi swasta. "Bagaimana kalian menghilangkan galau?"

Ini ajang apa sih tujuan dan manfaat kedepannya. Kalau duta anti narkoba misalkan ya, nanti mereka akan bersosialisasi tentang bahaya narkoba. Atau duta pariwisata, mereka yang terpilih bakal mempromosikan tempat-tempat eksotis di daerahnya. Begitu seharusnya. Lah ini? Miss galau, apakah akan mensosialisasikan pentingnya galau dalam kehidupan kita. Mungkinkah demikian? Bodo amat!

Lissa : "Kalau aku jadi Miss Galau 2013, caraku menghilangkan galau adalah dengan melakukan apa yang kusukai." (Udah mikirnya jadi Miss Galau 2013 nih orang).
Widuri : "Aku kan suka main game tuh. Jadi lama-lama deh didepan komputer. Mau gempa atau apa, aku gak peduli. Yang penting gak galau gitu. (Jangan-jangan ada gempa dalam dirinya kalau tidak terpilih nanti).

Dan yang paling bijak jawabannya adalah ...
Siti : "Saya sih berencana menutup akun FB saja setelah ini. Saya terus saja menuliskan masalah demi masalah disana. Gak ada yang tak masuk dalam status. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bukannya solusi yang didapat, eh masalah itu malah melebar. Begitulah yang kutemukan pada teman-teman muda FB lainnya. Status mereka cuma dua. Lagi senang-senangnya dan lagi susah-susahnya. Seolah masalah cuma mereka yang punya. (Dewan juri tersentuh meski kurang sependapat).

Saat yang ditunggu-tunggu tiba juga. Detik mendebarkan penuh penasaran. Tiga peserta telahpun berdiri berbanjar, ditemani seorang moderator yang terus saja memuji setiap jawaban mereka tadi. Gak peduli bagus maupun jelek. Seolah mulutnya cuma bisa mengucapkan, "wah hebat sekali jawabannya. Silakan mundur kebelakang." 

Bapak kepala desa membuka amplop dan siap-siap menyebutkan satu nama. Wanita yang berhak menggondol gelar Miss Galau 2013. "Dia adalah ........" kalau di TV itu akan di shoot wajah peserta satu persatu. Menonjolkan ketegangan antara mereka. Terreeeng-terreeeeng-terreeeeng. "Selamat kepada Widuri." 

= Namanya juga Miss Galau 2013. Mengatasi galau ya pergi ke galau yang lain. Galau ya galau aja. Untung saja penulisnya gak ikut galau. Kalau galau, bakal galau deh yang baca. He..he..hanya fiksi ya. Semoga terhibur =







0 Messages

The Monkey Hunters

Serunya sore ini begitu heboh. Bermula ketika anak-anak berlarian sambil berteriak kegirangan. Menunjuk-nunjuk pada sebuah objek bergerak bernama, "kera....kera....."

Aku yang tengah membaca buku dan bermaksud lelap sejenak, menjadi pikun akan tujuan. Tanpa komando apapun, aku bangkit. Rasanya pengin ikut berteriak juga sama anak-anak. Mmm....

Kera berlari sekencang angin. Melabuhkan diri pada pepohonan di tepi sungai. Cukup menyulitkan buat kami melihatnya, kecuali mengintip-intip dengan seksama. "Itu...." teriak salah satu bocah. Semua mata mengarah kesana. Pepohonan bergoyang ketika si kera melompat ke dahan yang lain.

Suasana perburuan semakin menggila. Jumlah monkey hunters bertambah ramai. Di kejauhan, tampak lelaki hampir bisa dibilang berumur digandengi remaja muda bergegas menghampiri. Lelaki tersebut membawa satu-satunya senjata yang barangkali bakal ditakuti binatang berbulu itu. Kami terus mengawasi setiap gerakannya, sementara ia tetap berpindah-pindah.

Dusss....senapan angin mengena. Kena dedaunan. Itu jadi lelucon kami semua. Si kera terus saja bergerak agresif namun terkepung Lelaki tadi menarik senapannya berkali-kali. Duss....dan dusss.... mengena sasaran pada tembakan ketiga. Rupanya kera itu kebal juga. Ada darah menyembul diantara bulu kelabunya. Gesitnya tak berkurang. Kesana-kemari ia tetap mencoba melepaskan diri. Seolah-olah tengah menanti sebuah keberuntungan.

Kami lengah meski terus mengamati. Si kera berhasil berlari ke rerumputan masih di bibir sungai, berlari lagi sampai menemukan kerangka pintu tanpa daun. Satu-satunya peluang menyelamatkan diri.

Disini lebih lucu lagi. Tiga orang penghuni rumah berhamburan saat kedatangan tamu tak diundang dengan tiba-tiba. Kami ngakak bareng-bareng. Apa mungkin kera juga begitu? "Hallo, permisi ibu-ibu."

Pemburu utama masuk ke dalam rumah menenteng senapan. Duss...mengenai pinggang dan darah keluar lagi dari tubuh kera. Dasar keras kepala. Binatang itu belum lumpuh juga tuh. Berhasil menyelinap dan berlindung. Kami memanjangkan leher, mencari-cari.

Tidak lama berselang. "Dibawah!" teriak ibu pemilik rumah. Entah bagaimana caranya, si kera bisa merangkak ke bawah rumah dan berlari menuju arah barat. Arah dimana ia mulai datang. Sayangnya, nasib memang tidak selalu baik. Ia salah perhitungan ketika tubuhnya mulai letih dan sakit. Merasa tidak mampu lagi, ia akhirnya berhenti tepat dibawah rumah yang lumayan gelap. Oh, namanya juga pemburu. Pasti penasaran sampai buruannya ketangkap. Perlahan tetapi pasti, binatang yang tak berdaya itu bisa juga dikarungkan.

Ia berakhir ditangan seorang pembeli. Bagaimana nasibnya kini? Aku cuma bisanya mengangkat bahu. Satu hal yang kupastikan, remaja muda yang menjualnya mendapatkan uang 40 ribu rupiah. Memprihatinkan!


 
;