Selasa, 29 Mei 2012 0 Messages

Ceritaku

    Satu kata lebih dari cukup. MENYEDIHKAN. internetan dengan kecepatan dibawah 100 kbps/second. Sungguh terlalu. Tak apa. Membesarkan hati diri sendiri, alasannya "daripada tidak ada!" Ha..Betoel. 99,9%. Meskipun butuh kesabaran tingkat tinggi untuk terus mengklick tanda connect ulang. Dan akhirnya, berhasil. Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Benar gak ya? Tidak benar kalau kita tidak tahu apa kemauan kita, sehingga kita tidak bakalan menemukan jalannya.
    Tapi aku tidak ingin membahas panjang lebar tentang modem ku yang super lemot ini. Dan mungkin masa pengabdiannya tidak lama lagi. Soalnya, mau menggunakannya saja sudah harus disangga dengan benda lain. Sekali lagi. Sediiih.
    Dan yang ingin ku bagi adalah .....
    Angin malam menerpa tubuhku yang tengah kepanasan. Mencari angin segar sambil internetan, pilihanku adalah bersila di tengah-tengah pintu. Kebetulan tidak ada orang lain dirumah ini. Adikku tengah pergi keluar. Kembali, angin sepoi itu berasal dari sungai yang ada didepan rumah. Dari sini ku dengar suara lalu lalang kendaraan roda dua yang tengah menjejaki Jembatan Sabok. Berjarak sekitar 500 meter. Karena jembatan itu terbuat dari kayu, jadilah setiap kali ban mencium papan-papan yang pakunya mulai bercabutan menimbulkan suara yang cukup nyaring.
    Selain itu, dari tempat ku mengetik ini juga ku saksikan speedboad yang melaju di badan sungai. Hanya satu untuk malam ini. Serta sesekali orang-orang yang melewati depan rumah kami. Maksudku rumah kontrakan kami.
     Ya, rumah kontrakan kami. Terbuat dari kayu. Rumah tua yang alhamdulillah cukuplah untuk tempat kami berteduh. Banyak AC alaminya. Sehingga rumah ini terasa adem ketika penghuni lainnya "berteriak" kepanasan. Apalagi disubuh hari. Udara pagi menembusi celah dinding dan dari celah lantai papan. Membuat kami menaikkan lagi selimut. Tak jarang hingga menutupi seluruh tubuh kami.
    Intinya adalah, sekarang kami tengah belajar untuk hidup mandiri. Hidup jauh dari orang tua di kampung halaman. Belajar untuk menjadi dewasa. Memikirkan untuk menyelesaikan masalah sendiri. Persiapan untuk nanti, ketika menjadi seorang kepala keluarga. Membimbing diri sendiri, istri dan anak cucu. 
0 Messages

Siang ini

    Siang yang gerah begini, aku dihadapkan pada hamparan sungai Sambas didepan rumah yang tengah pasang. Airnya naik hingga ke halaman rumah. Rasanya ingin langsung menggabungkan diri dengan mereka, anak-anak yang tengah ketawa-ketiwi bemain di tepian sungai. Jika tidak ingin akan usia diri, maka pilihanku adalah mengikuti jejak mereka.
    Untung kesadaranku masih terjaga. Jadilah aku, setelah makan siang, hanya berteman dengan sebuah kipas angin yang berusaha untuk menyejukkan ragaku. Sambil menunggu bergulirnya waktu hingga pukul satu lewat, aku menyeruput kopi panas.
    Jangan heran. Memang seharusnya di cuaca yang ekstrim seperti ini akan lebih segar jika tenggorokan kita disuguhi dengan minuman dingin. But, mau gimana lagi. Minuman dingin tidak ada. Sedikit demi sedikit kopi panas pun ludes bersamaan dengan jam sudah menunjukkan hampir setengah dua.
    Bersiap-siap untuk kembali ke kios lagi. Mulai aktivitas harian lagi. Menulis kembali. Menyelesaikan proyek yang masih menggantung di awang-awang. Mungkinkah bisa selesai dalam waktu belasan hari. Insya Allah. Hanya mencoba melakukannya sedikit demi sedikit. Jika harus keteteran tenggat waktu nantinya, tidak apa. Disimpan saja untuk kesempatan yang akan datang. 
Senin, 28 Mei 2012 0 Messages

Kapur Ajaib

     Tak bisa kubayangkan ratusan nyawa meregang dalam satu malam. Kudapati mayatnya sudah bergelimpangan di lantai. Hitam dan ada di hampir setiap sudut.
     Salahkah aku? Aku hanya ingin agar mereka tidak merusak apa-apa dan pergi dari sini. Aku hanya menggoreskan beberapa ke beberapa bagian barang. Dan ternyata itu ampuh.
    Pantas jika mereka memberinya nama Kapur Ajaib. Semut yang sejak kemarin-kemarin mengerumuni lemari, rak dan dinding tewas begitu saja. 
Jumat, 25 Mei 2012 0 Messages

Sui Duri & Mempawah, Kal-Bar








Selasa, 22 Mei 2012 0 Messages

Ini Aku!

    Ya, ibaratnya sebuah pen. Dayaku adalah batangnya itu sendiri. Daya yang mencakup  motivasi serta imaginasiku. Ku akui memang, mungkin patah kata yang hampir tepat. Sehingga keinginan untuk menulis memudar dimakan waktu. Disibukkan oleh perkara yang remeh dan tidak terlalu penting, aku alpa untuk mengasah kreatifitas dan memunculkan ide-ide kreatif.
    Dan kini, setelah semuanya hampir kembali normal, aku akan bangkit kembali. Memohon kekuatan dari Ilahi dengan sebuah ucapan "Insya Allah". Aku datang lagi. Memainkan khayali untuk menembus tema-tema unik sebagai bahan tulisanku nantinya.
    Jadi, Insya Allah. Ini aku!
Sabtu, 19 Mei 2012 1 Messages

Bagpacker for 1 day

      Mmmm...hari ini aku kembali melakukan perjalanan. Mengantar pulang keponakan ke pontianak. Dari sambas berangkat pukul 1 siang. Dan sampai di Kota Pontianak beberapa menit sebelum shalat isya. Luar biasa capeknya. Tidak seperti perjalanan sebelum-sebelumnya. Kali ini terasa melelahkan. Walau demikian, esok aku akan kembali ke Sambas. Insya Allah berangkat pukul 3 subuh. Wuihhh...dingin. Tapi bawa enjoy aja.
      Ada yang lucu tadi. Wajar seandainya seorang penumpang ketinggalan bis setelah istirahat makan. Tetapi dalam perjalanan tadi, kernet yang ditinggalkan oleh sang supir. Aneh khan....
     Ceritanya seperti ini. Sang kernet turun untuk memberikan nomor HP kepada salah seorang pelanggan. Tanpa disadari oleh sang supir, kernetnya ketinggalan. Padahal ia baru separoh menagih ongkos kepada para penumpang. 
Jumat, 18 Mei 2012 0 Messages

Pantai Tanah Hitam

       Perjalanan pulangku dari menginap di rumahnya Bankthe Yayan tadi pagi terhenti. Di usik oleh hamparan laut d pinggir jalan. Ku putuskan untuk menikung, lalu memarkirkan sepeda motor. Berniat ingin internetan sambil menyaksikan panorama pantai, sayang jaringan modem ku lemot. Duduk silaku berubah jalan-jalan santai. Jadilah aku menjajaki di pesisir. Memasang indra secakap mungkin. Mencium aroma air laut sambil mencicipi rasa asin airnya. Memanjakan kaki yang tanpa alas di belai oleh buih-buih lautan...emmm..
       Dikejauhan, kapal boat nelayan tak lebih besar dari semut. Beberapa buah masih menepi. Di arah berbeda, ku saksikan beberapa orang yang tengah berenang. Kebetulan surut, sehingga airnya pun jernih. Tak seperti biasanya yang berlumpur berwarna kecoklatan. Ada juga ku melihat sepasang pasutri dengan dua orang anak kecilnya tengah memindahkan pasir pantai ke dalam karung.
Disana ku habiskan kurang dari satu jam...Perjalanan pulang ke rumah pun berlanjut. 
       Keletihan menapaki "mulus"nya jalan kampung pun merayapi. Tak lebih seperti naik kuda adanya. Namun, terus menarik gas. Tiba dirumahpun, langsung merebahkan diri. 


Seharusnya, Tanah Hitam, 17 Mei 2012 , 07.00 WIB








 
;