Senin, 30 April 2012 0 Messages

Langsung Entry, dah

    Alhamdulillah kelar juga. Hampir dua minggu terbengkalai begitu saja tanpa digarap. Semoga hasilnya bisa "memuaskan" meskipun jujur, saya yang nulisnya jauh dari puas. Puas hanya ketika menyelesaikannya. Bukan alurnya, tetapi gaya penulisan yang tidak berkembang. Tak apa, namanya juga proses pembelajaran.
    Mungkin seharusnya di entry besok, bertepatan dengan HARDIKNAS. Tetapi ya untuk apa berlama-lama toh itu sudah selesai di ketik dan di edit. Langsung masuk post aja. Itu aja koq repot ya.
    Semoga bermanfaat. 
0 Messages

Teacher of The Year 2 (The End)


                 Bally tampak sesekali menyisir rambutnya  ke belakang menggukan jari-jemarinya. Jika dibilang parlente ia hari itu, justru berlebihan. Dikatakan hampir, itu lebih mendekati. Dan pembawaannya diatur sedemikian rupa agar lebih berwibawa serta elegan. Merasa menjadi pusat perhatian para siswi, duduknya gusar. Meskipun bukan hanya itu sebenarnya penyebabnya. Kesannya sebagai seorang pengajar psikolog ternyata tidak bisa membantunya kali ini. Walau bagaimanapun harap-harap cemas itu tetap ada.
                Di kursi sebelahnya, disamping Bally ada Donita yang tegang. Muka, tengkuk hingga ke rahang-rahangnya. Tidak ada senyum terulas kecuali dihatinya. Jika bisa, ia ingin melompat hingga kelangit. Ia sangat yakin, hari ini adalah miliknya. Tidak Smarta, tidak Bally, apalagi Soegara. Tentunya setelah apa yang ia lakukan beberapa hari yang lalu. Hari pendidikan nasional tahun ini akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidupnya. Ia ingin mengatakan kepada dunia bahwa dirinya layak diperhitungkan. Hanya untuk tahun ini. Tahun depan? Ia meyakinkan dirinya untuk tidak lagi ambil bagian. “Tidak lah sama antara karyawan yang dipecat dengan mengundurkan diri. Yang terakhir bisa berjalan dengan membusungkan dada.” Pikirnya. Sementara matanya menatap seisi ruangan berkonsep pendidikan berkarakter tersebut. Diluar kendalinya, bibirnya tertarik keras ke kiri dan kanan.
                Dan yang paling rilek adalah Smarta. Walau demikian, mendapat kursi disamping seseorang yang membenci dirinya adalah hal yang tidak mengenakkan. Terlebih karena ajang ini ditahun lalu adalah penyebabnya. Ia akan semakin rilek seandainya duduk disamping Bally. Bagaimana tidak, komunikasinya harus melewati karang yang menjulang tinggi. “Dan, seandainya Soegara datang lebih awal.” Smarta membatin. Kursi disampingnya masih kosong. Memang hal luar biasa jika guru bahasa Inggris itu datang tidak tepat waktu. Smarta membuat daftar hal yang mungkin menyebabkan rekan kompetitornya belum menampakkan batang hidungnya. Sakit, menempati tempat teratas. Tetapi, pikir Smarta, bukankah Soegara bisa mengirimkan pesan singkat atau menelpon. Kedua, ia tengah dalam perjalanan. Bisa jadi sepeda motornya bermasalah ketika ingin datang lebih awal kesini. Itu sangat memungkinkan. Dan yang terakhir, Soegara bermaksud untuk tidak menghadiri acara ini. Namun sepertinya itu tidak masuk akal. Lelaki itu tidak akan begitu saja meninggalkan event yang penting buat sekolah dimana ia mengais rezeki. Tidak akan.
                Dari Bally, mata Smarta mengarah ke pintu masuk. Berharap disana ada Soegara berlari-lari kecil menuju podium. Menyapa dirinya dan mengucapkan maaf karena ia telat. Nihil. Itu hanya ada dalam angan-angan Smarta.
                Di lain pihak, Pak Imtihan berinisiatif bijak. Sebaiknya acara perhargaan Teacher of The Year 2012 dimulai saja. Ia mengangkat tangannya sebagai aba-aba kepada ketua panitia. Dan acara pun dibuka.
                Sambutan hanya oleh sang kepala sekolah. Mengulas singkat tentang ajang ini serta mengucapkan selamat kepada seluruh siswa kelas tiga yang baru saja mengikuti ujian nasional. Dalam kesempatan itu, pak Imtihan juga mengajak semuanya untuk berdoa agar hasil ujian nasional tahun ini bahkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Meskipun ditahun lalu, sekolah Bintang lulus seratus persen dan menduduki peringkat pertama dalam hal nilai.
                Selesai. Sebaik saja pak Imtihan mengucapkan salam penutup dan dijawab oleh seluruh yang hadir diruangan itu, tepuk tanganpun bergemuruh. Lalu sang MC mengambil posisi.
                “Setelah ini kita akan menyaksikan sebuah persembahan spesial dari pihak sekolah. Kepada Mr. Soegara kami persilakan.”
                Bally ternganga. Donita mematung. Dan Smarta terperangah.
                Sesosok bayangan hitam ada dibalik tirai panggung. Semua perhatian tertuju pada benda itu. Perlahan, tirai putih itu disibak menepi. Dan Soegara muncul dengan biola menempel dipundaknya. Gesekan pertama, melambungkan hingga ke awan. Kedua, ketiga dan gesekan demi gesekan pun tercipta. Mengalunkan irama syahdu nan merdu. Semua mata tertuju padanya.
                Dan beberapa saat kemudian, pintu aula terbuka. Burqa muncul disana. Menenteng selembar kertas putih. Ia berjalan menuju podium. Mic kecil terselip ditelinganya. Fokusnya hanya satu, membaca tulisan dikertas tersebut. Langkahnya perlahan, tetapi pasti. Seirama dengan gesekan biola dari sang guru. Perpaduan sempurna.
Puisinya usai tepat ketika ia menginjakkan kaki di podium. Dan suara biola pun berhenti. “Guru Langit. Karya Soegara.” Burqa menunduk memberi hormat pada seluruh yang hadir disana.
Tak ayal lagi, semua meneteskan air mata. Pak Imtihan, Bally, Smarta hingga Donita yang pura-pura tidak tersentuh. Juga staf pengajar, siswa serta pak Burhan yang mengintip dari jendela.
Hening.
Pak Imtihan membuyarkannya dengan bertepuk tangan. Dan kemudian di ikuti tangan-tangan lainnya. Soegara menuju kursi kosong disamping Smarta. Sementara Burqa duduk di jejeran siswa lainnya.
“Orang pendiam memang punya cara sendiri untuk membuat kejutan.” Smarta berbisik kepada Soegara.
Soegara hanya mengangkat alisnya.
“Saya tidak tahu yang pak guru bisa bermain biola.” Ungkapnya lagi.
“Itu buah dari penjajahan oleh ayah sewaktu kecil. Ia memaksa untuk mengikuti kelas musik. Sambil menggerutu, namun aku tetap ikut juga katanya. Akhirnya ayah mengetahui sendiri bahwa saya tidak tertarik untuk terjun ke dunia itu lebih jauh.”
Smarta nyengir.
“Sudah lama sekali saya tidak memainkan itu. Saya takut justru akan memalukan tadi.” Tambah Soegara lagi.
“Itu bagus. Dan tentang puisi itu?”
Di kursi paling ujung, Bally berusaha mencari perhatian. Dan ketika Soegara beralih padanya, ia mengangkat kedua jempolnya. Giliran Soegara yang nyengir.
Donita berpendapat lain. Apa yang dilakukan Soegara itu biasa-biasa saja. Meskipun tadi ia bahkan hampir tidak berkedip. “Anakku yang SMP bisa lebih dari itu.” Kata hatinya.
Sebenarnya ia ngeri ketika hatinya sempat mengingatkan dirinya pada anaknya yang bungsu tersebut. Memang dii bidang musik, anak itu bisa sedikit diandalkan. Tetapi, besar kemungkinan ia akan terlempar ke sekolah lain. Tidak masuk kualifikasi untuk bersekolah di Sekolah Bintang tersebut. Ia menyadari dirinya terang-terang telah gagal.
******
Hanya dalam hitungan detik kedepan, sang ketua osis yang juga bertindak sebagai ketua panitia sudah berdiri dengan amplop terselip di saku jas nya. Amplop tersebut menyimpan sebuah nama rahasia. Satu diantara empat orang yang dinilai, ya beruntung. Demikian menurut pak Imtihan. Karena apa? Pemilihan secara voting seringkali jauh dari fair. Uang, pamor, tampang fisik tetapi mengesampingkan kualitas. Kala itu sang kepala sekolah mengambil contoh dari kontes pencari bakat hingga pemilihan berbagai kepala, “pokoknya kepala-kepala apalah,” tukasnya kala itu.
“Teacher of The Year, tahun ini jatuh pada….”
Sang ketua Osis membuka lipatan amplop dengan hati-hati. Sambil menghadap ke seluruh siswa, ia bertanya, “Siapa?”
“Mr. Bally…..” beberapa siswi berteriak.
Tak mau kalah, para siswa lainnya juga meneriakkan sebuah nama. “Ms. Smarta…..”
Mendengar itu, Bally semakin melebarkan senyumnya. Demikian pula dengan Smarta. Soegara diam tanpa ekspresi antusiasme. Dan Donita menggelegak.
“Tenang-tenang.” Kata sang ketua Osis.
“Dia adalah…..” Suaranya tertahan.
Deg, deg, deg. Suara detakan jantung mengisi sudut-sudut ruang aula.
“Mr. Bally Setiawan.”
Sorak sorai menggema. Histeria pendukung Bally tidak bisa dibendung. Para siswi melonjak kegirangan. Dan siswa pula banyak yang bermuka kecewa.
Sang pemenang hampir lupa bahwa kakinya ternyata masih menginjak bumi. Langkahnya tercipta sembari namanya disebut untuk maju. Disana pak Imtihan berdiri dengan sebuah piagam penghargaan. Jabat tangan, dan berpelukan. Lalu Bally menghadap ke seluruh siswanya. Sorak sorai kembali menggema.
Disela riuh rendah itu, sang ketua Osis sedikit mengurai tentang hasil polling. “Mr. Bally Setiawan mendapat dukungan sebanyak 44%.” Berhenti sebentar.
“Selanjutnya di ikuti oleh Ms. Smarta Nisa dengan perolehan dukungan sebanyak 32%. Lalu Ms. Donita 20%. Dan terakhir 0,4% adalah Mr. Soegara.” Lanjut sang ketua Osis.
Mendengar itu Burqa memicingkan mata pada teman disampingnya, “Itu kamu Len?”
Leni  tidak berkata apa-apa.
Smarta ikut senang atas gelar yang didapatkan oleh Bally, meskipun ia berharap sejatinya Soegara yang seharusnya ada diposisi itu. Namun, ya, itulah kompetisi. Tidak selamanya pemenang selalu yang terbaik. “Mungkin” Smarta membatin. Di alihkan perhatiannya pada pengajar disampingnya.
Soegara berbaur dengan keadaan. Tak berbeda dengan Smarta, ia juga senang atas keberhasilan Bally tahun ini. Itu suatu penghargaan yang layak didapatkan oleh guru muda tersebut, pikirnya. Seandainya ia yang terpilih, akan sangat sulit baginya untuk mempertanggungjawabkan itu kelak. Tepuk tangannya masih berlanjut ketika Bally memberikan sambutan beserta ucapan terima kasih.
Di lain pihak, Donita meremas-remas jari-jemarinya. Mengenggamnya sekuat mungkin. Berharap emosinya tidak tumpah. Tangannya ia sembunyikan di belakang. Ia yakin tidak ada yang mengetahui hal itu. Susah payah ia menonjolkan muka tidak kecewa seperti tahun lalu. Boleh dibilang itu cukup berhasil. Meskipun ia hendak berteriak sekeras mungkin.
“Permisi.” Donita berjalan di muka Smarta dan Soegara. Berniat ingin ke belakang sebentar.
Secepat kilat ia sudah sampai di toilet guru. Menutup pintu tanpa ampun. Dan berhenti di tepat di wastafel. Ia melihat muka pecundangnya sempurna di cermin. Gaunnya yang dikiranya anggun, kini mentertawakannya seperti seluruh siswa di aula tadi yang menurutnya juga mentertawakan kegagalannya.
“Ha………” Donita berteriak histeris. Lalu tangisnya pecah.
Terdengar ketukan dari balik pintu, “bu, anda tidak apa-apa?”
Merasa kepergok, ia berbohong, “saya baik-baik saja. Hanya ada kecoa.”
Donita mendengar langkah kaki menjauh. Sekarang ia kembali sendirian. Tangisnya tertahan menjadi sebuah isakan. Ditatapnya mukanya di cermin kembali. Kusut. Make up nya sudah luntur. Bersamaan dengan harga dirinya. Seperti tahun lalu. Hanya saja tahun ini entah mengapa lebih menyakitkan. Ia bertahan disana lebih dari sepuluh menit.
“Tidak, aku tidak boleh membiarkan ini berlarut-larut. Pengorbananku sudah sejauh ini. Sia-sia jika harus tidak mendapat apa-apa. Aku kalah, mereka juga harus kalah.” Tawa sinis ada dicermin. Sorot matanya menyiratkan dendam yang belum terbalas.
Bergegas Donita mencuci mukanya. Tidak ingin ketahuan bahwa ia baru saja melelehkan gelegak hatinya. Ia kembali bergabung.
Kehadirannya kembali di podium dikejutkan oleh suara sang ketua Osis, “Ms. Donita, kami semua menunggu kedatangannya. Kami persilakan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.”
“Ini saatnya!” Bisik hatinya.
Donita berucap salam lalu berterima kasih atas kesempatan tersebut. Menyusun irama nafasnya agar terdengar normal.
“Selamat kepada Mr. Bally Setiawan. Saya rasa anda memang patut mendapatkan penghargaan itu.” Jeda sejenak.
“Tapi kita semua tahu bukan bahwa sistem pemilihan seperti ini punya kelemahan. Yang menurut saya sangat fatal. Saya salah jika memang ingin mendapatkan pemenang secara instan. Tetapi, bukankah ajang ini untuk memilih pengajar yang terbaik. Saya yakin, diantara yang memilih Bally berasal dari kalangan siswi.”
Para siswi saling pandang sesama mereka. Sementara Bally menelan ludah atas apa yang didengarnya.
“Jika kalian mengira saya kecewa atas keputusan ini, itu tidak benar. Saya hanya ingin sekedar meluruskan. Dan” Donita berhenti untuk menjelajahi seisi ruangan.
“Dan agar sistem pemilihan ini menjadi yang pertama dan terakhir. Kepada para siswi saya ingin menekankan. Bagaimana jika suatu saat Mr. Bally harus meninggalkan sekolah ini? Apakah kalian tetap bersemangat dalam belajar? Begitu juga seandainya Ms. Smarta harus mengajar ditempat lain. Apakah kalian para siswa akan senang pelajaran Bahasa Indonesia?. Di situlah intinya. Jujur, hati terkecilku mengakui bahwa sebenarnya yang layak untuk mendapat gelar ini tahun ini adalah Mr. Soegara. Kita tahu sendiri bagaimana beliau, bukan? Kalian menyukai bahkan mencintainya bukan karena tampang rupa. Melainkan  cara mengajar serta keseriusannya. Ia ingin kalian mendapatkan nilai serta pemahaman terbaik dalam kelasnya.”
Soegara yang disebut-sebut menunduk. Perasaan tidak enak melanda dirinya. Terutama pada Bally. Ia melihat wajah Bally yang tadinya sumringah kini berubah muram. Kata-kata Donita mengenai hingga ke hatinya. Tentu itu menyakitkan. Dan Soegara dilibatkan dalam hal ini. Seharusnya tidak begitu.
Persis seperti Soegara, Smarta menangkap hal yang sama pada Bally. Sekarang guru BK yang ada disampingnya tidak berani mengangkat muka lebih tinggi. Pandangannya menerawangan. Rasa bahagianya menguap pelan-pelan. Semakin lama Donita berbicara disana, selama itu pula ia menunduk. Seharusnya tidak begitu.
“Itu saja, terima kasih. Wassalamu’alaikum.”
Donita bergabung dengan tiga nominator lainnya. Bally yang tidak mengangkat muka, Smarta yang tidak lagi serileks sebelumnya, dan Soegara yang merasa bersalah.
“Puas!”
Melihat itu Donita merasa benar-benar menang.
******
“Sedikit banyak saya setuju dengan ucapan Ms. Donita waktu itu. Sistem pemilihan harus dirubah. Cara lama lebih mempunyai nilai. Dan betul juga, seharusnya yang mendapatkan penghargaan hari itu adalah Soegara. Buktinya sudah didepan mata.” Pak Imtihan berucap kepada empat wakil kepala sekolah.
Sekolah Bintang menduduki peringkat teratas kembali dalam nilai kelulusan. Dan tahun ini lebih istimewa, nilai Bahasa Inggris salah satu siswanya menjadi yang tertinggi tingkat nasional. Itu membanggakan.




                
0 Messages

Ke Walimahan Saudara (3)



Dari kanan, sepupu (apriadi), me, sepupu (Kurniadi), Sepupu (Mustian)

Bang Apri dan Mustian adalah dua bersaudara. Pernikahannya hanya jeda sebulan lebih. 

Pose with mempelai kedua mempelai. Dari kanan, istri Apriadi (Maryam) dan disampingnya, Eka Fitriani (Istri Mustian)

Kamis, 26 April 2012 0 Messages

Ke Walimahan Saudara (2)

   Mm... namanya juga orang sepok atau wong ndeso. Gak pernah pergi ke kota. Maklum..he..he.. Jadilah saya berperan sebagai pandu wisata.
   Perjalanan yang ditempuh sekitar tujuh jam. Dari Sambas menuju Sui Kakap, Kab.Kuburaya dimana sepupu saya menikah disana. (Terasa mimpi, seolah baru kemarin ketika kami masuk SD bersama-sama. Hanya saja dia berhenti di kelas satu. Maunya satu kelas sama saya. Namun ia harus masuk kelas siang. Barakallah saudara. Juga seakan-akan baru kemarin ketika kami bersama-sama selama dua tahun pergi dan pulang SMK yang berjarak belasan kilometer).
   Sekarang aku benar-benar sadar, ternyata waktu bergulir begitu cepatnya. Dan diri ini sudah cukup tua..he..he..
   Kirain bis carteran, eh tau nya gak. Memang, transportasi di negeri ini masih mengerikan....lewat.
Lucunya, setelah puluhan kilo meter, ternyata bukan hanya aku yang menahan ingin buang air. Biasalah wanita lebih suka terus terang. Mak, dan bibi-bibiku yang lain sedikit gelisah akan hal itu. Tidak sabaran menunggu bis berhenti untuk makan siang. Sebenarnya agar bisa melepaskan panggilan alam...(sorry).
   Daaaann, tiba di kota pontianak ini yang lucu. Untung dalam bis itu orang kita semuanya. Maksudnya orang-orang yang memang ingin pergi ke walimahan sepupu. Biak-biak (anak-anak) kecil terkesima melihat rentetan jumbo. Belum lagi kapal feri yang ukurannya lebih besar dari yang biasa dilihat. Plusss, bangunan yang bertingkat-tingkat. Saya yakin yang tua nya hanya terlalu pintar untuk menyembunyikan kekagumannya. Oho...
   Pas didepan tugu menjulang, "Itu tugu khatulistiwa" Ujarku. Itu bakalan ada di pelajaran IPS. Entah mengerti atau tidak yang ku beritahu. Tak berminat aku untuk melanjutkan kenapa tugu itu dibangun. Selanjutnya, ketika melewati jembatan Landak dan Kapuas, "Nah, kalau ini sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia." Kata ku lagi.
   Masuk telinga kanan keluar telinga kiri kayaknya. Tak apa. Karena mereka lebih tertarik untuk melihat pesawat yang menderu di angkasa. Tak heran seperti itu, toh disana kan memang dekat dengan bandara. Jadi badan pesawat yang tengah mengudara terlihat lebih besar. "Mana? Mana? Mana?" Dari yang muda sampaii yang tua...he..he..
   Datang di Sui Kakap tepat pukul Lima kurang sepuluh menit. Badan kami semua letih. Dan harus menaiki pick up agar sampai di tempat tujuan dimana acara pernikahan di gelar.
Uppss photo-photonya gak ada yang bagus...jadi sorry gak bisa dientry....

 

Kamis, 19 April 2012 0 Messages

Ke Walimahan Saudara

Tiga hari mendatang mungkin tidak bakalan online atau update ni blog. Insya Allah pergi ke acara pernikahannya abang sepupu di Sui Kakap, Kab. Kubu Raya. Rame-rame ni pake bis. Semoga selamat hingga tujuan dan demikian pula pulang kembali. 
Untuk dokumentasinya, mudah-mudahan bisa di entry ntar....
Rabu, 18 April 2012 0 Messages

Salahkan Cinta

    "Tidak..tidak...tidak. Apapun alasannya, aku tidak setuju!"
    Pemuda itu beranjak. Meninggalkan wanita yang telah melahirkannya dua puluh tahun silam itu diteras rumah sendirian. Berlalu tanpa pamit sedikit pun. Tak lama, terdengar daun pintu kamar dibanting dengan keras.
    Wanita itu maklum atas penolakan tersebut. Penyebabnya hanya satu. Usia. Benar kata putranya barusan, "memangnya sudah tidak ada pria yang sebaya dengan ibu?".
    Tapi silakan salahkan cinta yang datang dengan tiba-tiba yang tidak bisa ditolaknya. Apakah pantas ia menyebutnya sebagai korban cinta?
..........
    "Memang tidak ada hukum melarang itu. Tapi apakah tidak ada wanita lain dihatimu. Bukankah Tasya terus mengejar-ngejarmu? Ingat, Zach, ia sebaya dengan ibu."
    Zach tercenung. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh ibunya. Tapi benar juga yang mungkin akan dilakukannya tidak ada salahnya. Salahkan cinta yang datang menghampiri. Anggap saja ia korban cinta.
...........
    "Tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia menerimamu. Terutama Deni. Ia sebaya denganmu. Sangkalnya bukan karena tidak bersedia mendapatkan ayah tiri. Tetapi usiamu yang terlalu muda, Zach."
    Zach memandang lautan lepas dihadapannya. Kemejanya di terpa oleh angin pantai. Hingga tertarik-tarik ke belakang. Begitu pula dengan celana panjangnya. Sementara Xena memilih membelakangi pantai. Jadilah kerudungnya berkibar-kibar tepat dihadapannya.
    "Ibuku juga tidak mempermasalahkan cinta ini. Hanya saja diantara kita ada sesuatu yang tidak lazim di masyarakat."
    "Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Xena.
    Zach mengacak-acak rambutnya sendiri. "Ah..." Tukasnya kemudian.
    "Ada ide?" Zach kembali bertanya.
    "Ku rasa kita tidak mungkin lagi melanjutkan ini semua. Bukanlah laut ini cukup luas untuk menampung sampah cinta diantara kita?"
    "Maksudmu?"
    "Tasya dekat dengan ibumu dan bermimpi ingin menjadi bidadarimu, bukan? Begitu pun dengan aku. Oki terus menanyakan kesedianku untuk menerimanya menggantikan posisi ayahnya Deni."
    "Kau rasa itu yang terbaik?"
    Xena mengangguk.
    Zach meraih HP di saku celananya. Menekan-nekan tomboh disana sejenak. Lalu, "Assalamu'alaikum Tasy, ibuku ingin mendapatkan seorang menantu secepatnya. Maukah kau...?
    Xena juga melakukan hal sama. Membuka tas jinjingnya. HP didekatkan ke telinga kakannya. "Hallo, Oki, kurasa anak-anakku tidak keberatan kau menjadi ayah baru mereka...."

    
0 Messages

Anggrek Putih



 “Kita berbisnis.”
Baru disadari sepenuhnya bahwa tidak ada pilhan ketiga. Lama matanya tertahan pada langit yang membumbung tinggi. Seolah menanti adanya mukjizat dari sana. Nihil. Pilihan itu tetap sama. Pengorbanannya adalah kebaikan bagi dia disana. Pengorbanannya juga akan menghilangkan dirinya diatas permukaan. Ia akan pergi untuk selama-lamanya.
Sang pemberi tawaran terus nyengir sinis kemenangan. Tampuk kekuasaan ada ditangannya saat ini. Wanita itu merasa telah melakukan sebuah kebijakan yang paling bijak. Walaupun ia tahu sendiri itu akan menghancurkan laki-laki dihadapannya. Namun mana ia peduli untuk hal itu lagi. Kepemilikan sepenuhnya atas lelaki itu adalah cita-citanya. Dan sekarang kesempatan itu terbuka luas. “Kesempatan kadang tidak datang untuk kedua kalinya.” Pikirnya.
“Bagaimana?” Diana sedikit mendesak. Menunggu jawaban terlalu lama membuatnya tidak kerasan. Itu bukanlah tipenya. Tinggal mengangguk atau menggeleng yang ia maksudkan. Apa susahnya untuk melakukan itu.
Zahir menggangguk. Lalu memalingkan muka sambil berucap, “permintaan terakhirku”.
“Apa itu?”
*****
"Baru aku tahu bahwa kau suka anggrek putih. “
Zahir terus saja mengajak berbicara sosok yang tergolek diatas kasur. Tanpa memperdulikan ucapannya didengar atau tidak. Ia tetap mengoceh. Zahir hanya melakukan saran dari dokter. “Itu akan membantu proses kesembuhannya.” Kata dr. Kamal beberapa waktu yang lalu. Setelah respon yang ditunjukkan oleh Dimitria ketika mendengar suara Zahir.
“Bisa kah kau mencium baunya?”
Sambil terpejam Zahir mendekatkan hidungnya pada anggek yang baru saja disiramnya. Lalu memalingkan pandangannya pada Dimitria. Ia mendesah. Jujur, ia berharap ketika ia membuka matanya saat itu, Dimitria terbangun dan memanggil namanya.
Zahir berjalan menghampiri Dimitria. “Apakah kau bisa mendengarku Dim?”
Sunyi senyap. “Ku harap kau bisa mendengarku.” Tukasnya perlahan.  
Tak lama setelah itu, melangkah pergi. Yang dilihatnya tadi malam tertinggal dibawah selimutnya. Ia bermimpi Dimitria bahkan sudah bisa duduk sendiri. Tanpa bantuan sesiapapun. Mengucapkan terima kasih kepadanya. Dan ia mengucapkan tidak apa-apa. Terbangun ketika mengetahui Diana menunggunya diluar.
Zahir sudah tidak ada lagi diruang A2 tersebut. Seandainya saja lebih lama disana, ia akan melihat Dimitria menggerakkan jari telunjuknya perlahan. Tapi sayang, hanya anggrek putih bisu yang menjadi saksi keajaiban yang diharapkan oleh Zahir itu.
*****
Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar suaranya. Kemana ia pergi? Biasanya  ia akan datang menyapaku. Kenapa tidak hari ini? Marah, kecewa atau putus asa? Aku maklum jika itu yang rasakannya. Aku bahkan tidak bisa untuk menggerakkan anggota tubuhku hanya untuk menunjukkan bahwa aku mendengarnya.
Zahir?
Terdengar kenop pintu di tekan dari luar. Seiring dengan itu juga terdengar langkah kaki menghampiri.
Zahir? Zahir, kau kah itu?”
Dimitria merasakan belaian telapak tangan diatas ubun-ubunnya.
Bukan, itu bukan Zahir. Zahir bahkan tidak pernah menyentuhku. Kecuali ketika membawaku dari tempat kejadian itu menuju rumah sakit ini. Lalu siapa? Ibu? Kulitnya terasa lebih halus. Itu pasti bukan ibu. Ibu tidak pernah menggunakan parfum seperti ini. Siapa kamu?
Belaian itu disudahi sesaat kemudian. Langkah kakinya menjauh dan terhenti sebuah sudut dimana Zahir biasa mengajaknya berbicara tentang anggrek putih.
Orang itu menuju anggrek putih tanaman Zahir. Apakah dia juga menyukai bunga tersebut. Tetapi kenapa ia sama sekali tidak bersuara. Ayo orang asing, perdengarkan suaramu!
Dari situ, langkah itu menuju pintu. Kembali terdengar kenop pintu diputar. Lalu tertutup kemudian. Orang itu pergi begitu saja.
Apa maksudnya?
*****
Diruang itu ada ibunya yang tidak henti-hentinya berucap syukur. Wajahnya tersungkur untuk bersujud ketika didapatinya Dimitria membuka mata. Air matanya merambat hingga ke baju. Berkali-kali disekanya, tetapi persediaan itu tampaknya masih banyak. Ia tumpahkan  untuk menyambut kesembuhan putrinya.
Tak kurang dengan ayahnya. Berkali-kali pula ia mengecup kening semata wayang. Membelai rambut anaknya yang hanya saat seperti ini tidak di hijabi. Setelah tadi juga ikut bersujud.
Susah payah Dimitria untuk mengulas senyum. Otot-otot di mukanya jelas kaku setelah berbulan-bulan tidak digerakkan. “Ibu, ayah…” Panggilnya kemudian.
Haru biru menyelimuti. Kebahagiaan mengisi semua relung hati. Dimitria, ibu dan juga ayahya. Dari kejauhan terdengar panggilan. Undangan Tuhan kepada semua hamba agar merendahkan diri menuju Rumahnya. Ayahnya pamit untuk beranjak memenuhi panggilan itu.
Syukur Alhamdulillah ya Rabb atas kesempatan kedua ini.
Tidak lengkap rasanya ketika tanpa kehadiran seseorang yang telah berkorban banyak untuk kesembuhannya disana. Dimitria menjejaki setiap ruangan dan tertahan pada Anggrek putih di dekat jendela. Baru ia tahu bahwa bunganya sudah mulai layu. 
Tiap detik adalah penantiannya. Doanya, Zahir tiba dari balik pintu dan menanyakan kabarnya. Namun detik terus bergulir.  Penantian itu berubah menjadi kekecewaan. Tertuang dalam muka murung Dimitria. Dan ibunya peka.
Sambil tertuju pada arah yang sama, ibunya menghibur, “ibu tadi sudah mencoba menghubunginya. Tetapi tidak diangkat. Ibu sudah mengirimkan pesan, kok.  Zahir, kita banyak berhutang budi padanya, nak ”
Memerah muka Dimitria hatinya tertangkap basah. Kembali senyum diulasnya sebagai jawaban terima kasih. “Beberapa hari belakangan ini ia juga tidak pernah datang lagi.”
“Maaf, ibu tidak merawat bungamu dengan baik.”
Dimitria menggelengkan kepalanya pelan.
“Ibu yakin, sebentar lagi ia akan kesini, Dim.”
Sambil membetulkan selimut di atas tubuh Dimitria, “lapar?” Ibunya menawarkan.
*****
Akhirnya, engkau menijabah doa hamba ya Rabb…
Diakhir shalatnya Zahir tidak putus-putusnya melafazkan syukurnya. Matanya berkaca-kaca. Kepalanya menunduk. Pengorbanannya berbuah. Dan esok, ia akan menjadi sosok baru. Status baru pula. Tidak lagi menjadi Zahir yang melajang. Tetapi akan menjadi bagian keluarga Diana. Itulah pernjanjiannya.
Diana rela mengeruk koceknya untuk pembiayaan Dimitria di Rumah Sakit. Itu kata lain dari Diana telah membeli dirinya. Membeli? Ah, kata apa yang lebih baik dari itu. Karena itu faktanya. Dan Zahir telah bertransaksi dengannya. Jika bisa dikatakan, Zahir menjual cintanya.
Sulit memang. Ungkapan cinta tidak harus memiliki sukar untuk ditolerir olehnya. Toh hati kecilnya tetap berbicara, bahwa ia hanya mencintai wanita itu. Dimitria.
Sebuah panggilan masuk memecah lamunan Zahir. Menyadarkannya kembali bahwa semuanya telah berakhir. Bisnis mereka berujung dipelaminan esok. Meskipun akan hidup tanpa cinta pada awalnya, tetapi Zahir tetap berusaha memberikan cinta terbaiknya pada istrinya kelak. “Mungkin ini jodoh terbaik buatku.” Hatinya meyakinkan.
“Assalamu’alaikum, Diana.”
“Ya, ya.” Sesekali Zahir mengangguk. Mengiyakan apa saja yang Diana sarankan di seberang sana. Telepon ditutup tidak lama setelahnya. Dada Zahir terasa sesak dan badannya rebah seketika.
*****
“Tidak perlu menyiksa diri seperti ini, Dim.”
Ibunya menemuinya di kamar. Ingin menanyakan perihal keputusannya atas pemuda dan kedua orang tuanya yang ada di ruang tamu.
“Yang lalu biarlah berlalu. Apakah kau ingin menghakimi Allah atas pernikahan Zahir. Wanita itu adalah jodohnya. Dan kita tidak tidak bisa berbuat apa-apa. Allah maha tahu yang terbaik untuk hambanya.”
Dimitria tetap diam. Lalu memeluk ibunya dengan deraian air mata. “Tapi kenapa harus seperti ini? Kenapa ia tidak membiarkan saja aku tetap dipembaringan? Kenapa ia harus menanggung biaya operasi itu? Kenapa bu?”
“Setiap orang punya alasan yang tidak bisa untuk dinyatakan. Termasuk pada Zahir. Kita sama-sama tahu bahwa ia juga mencintaimu bukan?”
Dimitria mengangguk.
“Dim, lihat ibu.” Ibunya menangkupkan kedua telapak tangan dimuka Dimitria.
“Ardhi akan menjadi pemuda ketiga yang kau tolak seandainya keputusanmu sama. Jujur, ibu tidak mau itu.  Kau harus melepas diri dari jeratan ini. Keluarkan dirimu. Karena hanya kau yang bisa membebaskan dirimu sendiri.”
Tatapan Dimitria dan ibunya terus beradu. Dan akhirnya anggukan pelan yang Dimitria pilih. Mereka berpelukan kemudian.
*****
Zahir sudah benar-benar hampir melupakan cintanya pada Dimitria. Tidak seperti yang diperkirakannya dahulu, Diana bahkan telah berubah. Sosok wanita sholehah mungkin bisa di sematkan padanya. Proses itu membutuhkan waktu. Dan Zahir berhasil membangun sebuah keluarga Samara. Ia baru menyadari bahwa rahasia Allah itu nyata. Apa yang kita pandang baik, belum tentu baik pula dihadapan Allah.
Zahir menuruni undakan terakhir. “Ummi, pesanan bu Jamil sudah diantar?”
Diana menoleh ke arah suaminya, “Sebentar lagi Joel akan datang, bi. Sekalian mengantarkan bunga pesanan lainnya”
“oh..”
Zahir berbalik menaiki tangga menuju ruang kantornya. Tiba-tiba dua orang membuka pintu tokonya.
“Assalamu’alaikum. Permisi. Anggrek putih ada mbak?”
Langkah Zahir terhenti mendengar suara itu. Ia menelan ludah. Pandangannya ke arah sumber suara. “Dim….”



 
;