Senin, 17 Maret 2014 0 Messages

Planet Cinta Memang Aneh

Jadi ini planet cinta, pikirku.
Tak tahulah menggambarkannya seperti apa. Ku kira cukup terwakili dengan satu kata, PINK. Entah sejak kapan warna itu selalu saja identik dengan cinta.
Gedung-gedung pencakar langit bak pensil raksasa. Tetumbuhan rindang menggelayut mesra. Bisa-bisanya saling berpasangan hidupnya. All in Pink. Planet ini memang cocok dengan namanya.
Banyak yang datang kesini sekadar mencoba mencari cinta. Setelah dibumi, cintanya tak jua berlabuh. Tapi kalau dipikir-pikir, jodoh itu tetaplah takkan kemana. Merenda disini bukan pula suatu jaminan.
"Soe?!"
Suara dua polisi yang menghadang langkahku. Itu terdengar menakutkan.
"Ya," jawabku mencoba tuk tidak gentar.
Ia saling pandang, "silakan ikut kami."
"Tapi, kenapa?" sergapku menantang.
"Biar kami jelaskan di kantor nanti."
Di kejauhan, wanita yang kulihat di lounge bisnis tersenyum masam. Eitts, senyum kemenangan.
Tujuanku ke planet ini bukanlah untuk menemukan cinta. Paling tidak untuk sejauh ini, masih belum. Kalaulah memang harus bertemu, aku terima saja. Yang pasti, sebuah universitas ternama tengah menanti kedatanganku. Sebagai nara sumber sekaligus pemilik lisensi G-X, dalam seminar Teknologi dan Sains.
Namun, nasib malang sejak aku pertama menjejakkan kaki di sini. Bukannya disambut oleh perwakilan universitas, justru mendekam di kantor polisi. Untuk alasan yang tidak aku ketahui sama sekali.
Di kantor polisi setempat.
Seorang polisi lainnya masuk. Tetap berdiri dan bertanya, "maaf pak Soe, kami terpaksa membawa anda kesini."
Apakah ini dugaan teroris? Aku kalut. Meski sebenarnya tak ada yang mesti dikhawatirkan.
"Atas dasar?"
"Atas dasar laporan seorang wanita yang satu pesawat dengan anda. Katanya, anda tidak membalas cintanya."
Gubraakkkkk.
"Anda tersangka melakukan pencurian. Pencurian terhadap hati wanita pelapor."
Rupanya, di planet cinta ini, seseorang bisa melaporkan orang lainnya lantaran cintanya tidak berbalas. Luar biasa!
Planet Cinta Memang Aneh!
0 Messages

Asisten

Punya asisten model gini, jangan kerjakanlah
Pas bongkar-merusak printer, eh ia malah meringkuk tak jelas arah
Mendengkur lagi
Sesekali membuka mata malas, pejam kembali
Punya asisten model gini, jangan kerjakanlah
Ia tengah galau, kemana masa depan
Kan sudah jelas, seterang tengah hari.
Kalau mo melahirkan, jangan disini!
Punya asisten model gini, jangan kerjakanlah
Upps, sejak kapan mengangkatnya jadi asisten ya?
Kan cuma seekor binatang kaki empat bernama.....
Cing, siapa namamu?
Ngeoooooong
Punya asisten model gini, sekali-kali bolehlah.
Kalau-kalau serdadu tikus mulai mengincar rumah
0 Messages

Sedia Menatap Hari, Sedia Menggapai Mimpi

Setelah hujan berbalut dendangan para kodok tadi malam, pagi ini terasa nikmat. Dan lebih hangat dari biasanya. Dari balik dinding, suara lalu lalang kendaraan jadi irama. Uh, pagi yang sempurna. 

Pemuda itu punya semangat baru. Meski melanjutkan tidur setelah subuh, spiritnya tetap membara. Ketika membuka jendela, hari sama sekali tidak menyengat. Sisa-sisa embun, bukan, hujan semalam barangkali, masih ada. Sesekali menetes dari ujung dedaunan. Lalu jatuh ke bumi, menghilang.

Ia menghirup udara dalam-dalam. Bukannya mudah mendapatkan udara sesegar ini, pikirnya. Matanya masih terpejam, saat HPnya berkicau. Sebuah pesan singkat masuk.

Toeeeeenggggggggg...................

Bola matanya membesar hampir lepas. Tangannya bergetar. Mustahil, sungguh-sungguh mustahil. 


Ini tidaklah tentang isi pesan singkat, melainkan angka jam yang tertera di layar mungil tersebut.

11.03

Tidak, tidak! Ini pasti mimpi.

Sedia menatap hari, sedia menggapai mimpi. Tetap berlanjut mesti bangun kesiangan. He...he...just fiction.
Kamis, 13 Maret 2014 0 Messages

KETIKA MATI LAMPU

Ketika mati Lampu,
Aku bertanya sembari kecewa,
Kenapa, kenapa mati lampu?!

Ketika mati lampu,
Bumi gulita, hambar rasanya,
Dan ah, jangan cerita perihal hantu

Satu-satunya cahaya berasal dari sebatang lilin yang hampir ajal. Di kamar lima kali empat, kuberpikir kira-kira apa yang bisa dilakukan ketika mati lampu seperti ini. Sebuah ide tiba-tiba mendesak-desak di kepala. Memohon segera ditunaikan. Aku mengiyakan, bangkit meraih HP, lalu langsung menekan menu kamera.

Oh sayang sekali. Padahal aku ingin mengambil gambar bayangan di dinding. Pastinya seru membentuk sesuatu lewat cahaya lilin, kemudian memotretnya. Sekali lagi, sayang beribu kali sayang, kamera dari alat komunikasiku itu tidak memungkinkan.

Ketika mati lampu,
Pasti ada karya luar biasa,
Apa itu? aku membisu.

Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan kamera ini, pikirku keras. Bla..bla...bla... tak sengaja, kamera menyorot api lilin. Dari layar HP, kumenyaksikan pertunjukan luar biasa. Tak tahulah apa ini namanya dalam pelajaran Fisika. Semburat cahaya bertebaran dan saling bersilangan di sekeliling api. Wah...wah...wah...

Ketika mati lampu,
Kan sudah kukata pasti ada,
Karya yang bisa kutunjukkan kepadamu.

Ketika mati lampu.
.........
By: Soe


NO EDIT






Selasa, 11 Maret 2014 0 Messages

Pernikahan.....

"Capat-capat dah cari tukang masak...."
Oho, tujuan pernikahan tak lah serendah itu. Kalau cuma perihal masak memasak, itu perkara mudah. Toh, sejak kecil ia terbiasa membuat menu makan siang sendiri. Artinya, untuk urusan mengganjal perut, ia sama sekali tak kesulitan.
Lebih dari pada itu. Pernikahan bukanlah ikatan sehari dua. Menyatukan dua kepala beda isi dan tak jarang beda prinsip. Dalam mahligai pernikahan, semuanya saling mengisi dan melengkapi. Makanya, benturan-benturan kecil pun pastinya tak bisa dihindari.
Ini bukanlah tentang mencari pendamping belaka, atau menantu buat ibunda. Cita-cita luhur dalam berumah tangga mustilah dikira serta. Kalau punya visi hidup bersama tentunya akan jauh lebih mudah. Berdua, merenda keluarga SAMARA.
Bagaimana seandainya salah satu tidak sekata? Itu dia. Pilih memilih pasangan memang perlu. He...he..
Ah, itu cuma alasan pemuda tadi. Asal tahu saja, ia belum punya cukup uang tuk sekadar membeli mahar. Macam mana mau menghidupi anak orang???.....
Senin, 10 Maret 2014 0 Messages

Wanita Tua Penjual Kayu Bakar

Saat orang-orang mengeluh tentang panas yang menggila, wanita itu bahkan tak sempat memikirkannya. WALAU SEJENAK.

Debu jalanan membuat mukanya makin kusam. Belum lagi panas yang memanggang kulitnya, menjadikan kian legam. Keringat bercucuran tiada seka, riak keletihan pun jadi suguhan. Aduhai kasihan sekali.

Nanti dulu, orang memandang selalu banyak komentar. Wanita itu tidak merasa begitu. Atau paling tidak, tidak kalut akan hal itu. Yang ia tahu hanyalah, hari ini bisa mengumpulkan segepok uang. Tuk menukarnya dengan keperluan harian.

Sebesar rangkulan bocah SD, kayu bakar terjunjung di kepala. Menjadi perisai ketika sang surya menempa dirinya. Langkahnya tak lunglai sekalipun. Justru kelihatan penuh semangat. Ayuhan kedua belah tangan melengkapi ketakjuban. Wanita tua penjual kayu bakar, tengah-tengah hari mengantarkan pesanan.

= Wanita tua penjual kayu bakar =
Minggu, 02 Maret 2014 0 Messages

Tung-tung

ilustrasi
Tung-tung membuka matanya dengan malas. Meski demikian, ia tahu dengan pasti apa dihadapannya. Semesta malam benderang dengan bulan dan gemintang menggantung diatasnya. Dendangan binatang malam menambah kemeriahan, serta para lalat pengacau.

Ia mengibaskan ekornya, pun dengan setengah hati. Tak banyak yang diharapkan, para lalat pastinya pergi cuma dalam hitungan detik. Secepat itu pula hinggap lagi pada tubuhnya. Tung-tung melengus. Hussss...

Purnama?

Ia tiba-tiba terjaga, sadar sepenuhnya. Ini, kalau tidak salah purnama keempat sejak terakhir kali melihatnya. Sesosok lelaki tua yang selalu mengelus tubuh dan kepalanya dengan apik. Memberi rumput-rumput enak. Tak lupa air minum pun disuguhnya dengan lemah lembut.

Membayangkannya, binatang berkaki empat tersebut mendesah lesu. Kemana lelaki itu sekarang? tanyanya dalam hati. Tung-tung menutup matanya lagi. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dari kejauhan ia melihat lelaki itu tengah menuju kearahnya. Namun, kantuk menyergapnya dari belakang. Sosok itu menghilang begitu saja.
..........
Wanitu itu berusia awal empat puluh.

Setengah karung rumput tampak ringan di pundaknya. Langkahnya gesit dan mantap. Keringat mengalir di jidat, dari balik kerudung putih lusuh yang dikenakannya. Akhirnya, ia menurunkan panggulannya juga. Tepat disamping seekor sapi gemuk yang sibuk merumput. Moooooo.....ooh.

Entah bagaimana, sambutan Tung-tung langsung menghempas letihnya. Disekanya keringat dengan lengan baju. Kemudian, ia menarik nafas sejadi-jadinya, menghebuskannya lewat mulut.

Melihat jatah makan, Tung-tung kian mendekat. Wanita itu menumpahkan seluruh isi karung, dan beranjak pergi. Sapi itu sedang menikmati makanannya, sementara wanita tadi menghampiri sumur.

Moooooo.....ooh. Lagi, Tung-tung menyambut kembalinya wanita itu dengan seember air. Saat binatang peliharaannya itu minum, wanita itu mengelus lembut badan dan kepala Tung-tung. Persis yang dilakukan oleh suaminya. Dulu.
.........

Ah, wanita itu lagi.
Tung-tung selalu berharap, yang datang adalah lelaki itu. Bukannya wanita di hadapannya sekarang ini. Tapi, melihat apa yang dibawanya, Tung-tung menyapa dengan antusias juga.

Kemana lelaki itu?
Ingin Tung-tung bertanya pada si wanita. Sayangnya, Tung-tung faham, tidak ada cara tuk menyampaikannya. Sesekali ia melirik, wanita itu tampak tegar. Wajahnya jelas menyimpan keletihan, tetapi Tung-tung pikir tekadnya mengalahkan segala-galanya.
.........
Mentari menggelinding semakin tinggi. Cahayanya mulai menghangatkan bumi. Tung-tung mencari tempat berlindung.
..........

Sorenya, air berjatuhan dari langit. Tidak lebat memang, tapi cukuplah membasahi sekujur tubuh Tung-tung. Binatang itu benar-benar berharap segera dipindahkan. Tali di lehernya membuatnya tak bisa kemana-mana.

Kresek-kresek-kresek

Setengah berteriak, Tung-tung juga melompat saat menoleh. Mooooo...ooh. Rupanya, tengah berdiri wanita di belakangnya. Mengenakan mantel plastik dan sepatu boat. Melepaskan ikatan pada tiang pancang, lalu menarik Tung-tung agar mengikutinya.

Tung-tung senang.

Hujan tambah lebat. Wanita itu pun mengayun kaki tambah cepat dan pantas.

Berhenti.

Kenapa? Tung-tung ikut berhenti. Tepat di pemakaman keluarga, wanita itu menyambung langkah. Tung-tung bertahan di luar area sambil mengedip-ngedipkan matanya sendiri. Menahan air. Tak perlu jauh masuk lebih dalam, wanita itu jongkok di depan sebuah gundukan tanah. Masih bisa dibilang baru. Pun rerumputan belum banyak yang tumbuh diatasnya. Tapi sepertinya itu hal yang tak bisa dimaafkan oleh si wanita. Tangannya tanpa ampun mencabuti rumput-rumput pada gundukan tanah tadi.

Ia keluar pemakaman tak lama setelah itu. Mengambil tali kekang Tung-tung, lalu beranjak pergi.
..........
"Saya rasa sudah cukup," ucap seorang lelaki berjenggot tipis. Merasai mata parang dengan telapak jempolnya sendiri.

Orang-orang sudah pada berkerumun. Lobang kecil telah pun digali di tanah. Tung-tung tidak mendapati wanita yang membawanya kemarin disitu. Moooooo....ooh. Tung-tung memanggil. Wanita sekaligus lelaki itu. Nihil. Manusia-manusia yang diharapkannya tak jua muncul.

"Sekarang!" perintah terlontar dari mulut seorang lelaki lainnya.

Tung-tung baru saja hendak berontak, namun beberapa pria mengikat sepasang kaki depannya lebih dulu. Jasadnya rebah ke tanah. Giliran sepasang kaki belakang pula yang diikat selanjutnya.

"Ha, angkat kesini. Siap ya, satu, dua, tiga. Uhhh...."

Tung-tung pasrah. Orang-orang menahan tubuhnya. Banyak di bagian punggung, kaki, dan kepala. Kilatan mata parang begitu menakutnya. Lebih-lebih saat matahari memantulkannya tepat ke kedua mata Tung-tung.

Tung-tung menutup mata sejenak. Inilah akhir hidupnya, pikirnya. Ia menelan ludah. Membuka mata lagi.

"Bismillahi........" ucap lelaki berjenggot tipis.

Mata parang terasa dingin di lehernya.
Saat ia membuka mata, Tung-tung melihat lelaki itu. Senyum dan tampaknya ingin membelai kepala dan tubuhnya. Lelaki itu?

Mata Tung-tung langsung berair. Rasa sakit tak lagi dihiraukannya. Lelaki itu bahkan kini telah mendekapnya.
.........

"Ini untuk anak-anak yatim dan kurang mampu."
Hampir separuh daging sapi yang dipotong sengaja wanita itu sisihkan. Untuk membantu sesama, seperti yang sering dilakukan oleh suaminya. Dulu.

 
;