Jumat, 15 Maret 2013 0 Messages
PURNAMA UNTUK PALESTINE.
Vanny Charisma W. made me almost crying. So, how great novel it is. Tadi malam itu, membacanya sambil meringis-ringis kecil. Paduan antara nasi goreng yang extra pedas dan alur novel yang menggugah. Makan sambil membaca adalah hal yang seru juga. 
Selesai dinner, melanjutkan membaca kisah gadis Palestina bernama Palestine sambil merebahkan diri pada tumpukan pakaian yang belum sempat dilipat. Membolak-balikkan badan dan sesekali duduk terpaku. Menjelang pukul sebelas, sampai juga pada halaman terakhir. 

Dan malam ini akan jauh berbeda. Jalan-jalan ke negara ginseng bersama Sansan Hasjim lewat bukunya BUJET PAS-PASAN, KELILING KOREA 60 HARI? BISA!. 

Senin, 11 Maret 2013 0 Messages

Ranah 3 Warna dan Lagu Pak Amat

Wah-wah-wah. Ranah 3 Warna kerreen abis. Berkali-kali berhenti sejenak menyadarkan diri bahwa sebenarnya hanya sedang membaca buku. Tapi, kok tiap kali melanjutkan membacanya, seolah ada diantara tokoh-tokoh fiktif tersebut ya. Terasa berbeda, dengan Negeri 5 Menara (buku satu). Rasanya kurang nendang. Boleh jadi lantaran kurang serius membacanya saja kali. Soalnya, saat membaca buku satu, saya merasa menyaksikan perpaduan antara Harry Potter dan Mohabbatein. Itu tu, di awal-awal cerita. Asli, hanya beberapa bab saja yang dilahap. Dan setelah masa pinjam habis, langsung dikembalikan. 

Jelas berbeda dengan buku dua ini. Ku pikir perpaduan antara Kanada dan cita-cita semasa kuliah menjadi daya tarik tersendiri. Makanya, membacanya terus dan terus hingga lembar terakhir. 

Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Begitu juga dengan yang sabar, maka akan beruntung. Dan bekerja  di atas rata-rata orang lain, menjadi benang merah penting yang saya ambil dari novel itu.

Kebetulan saya ingin share sedikit nih tentang keras kepala yang ternyata menurutku jurus ampuh anak-anak untuk meraih sukses mereka. Bayangkan, setiap kali hendak dibelikan sesuatu, pertama mereka meminta. Tidak dikabulkan, mereka merengek. Tidak dipedulikan juga, mereka merajuk. Tidak juga, mereka mengamuk. Sampai orang tua lebih sering membujuk dengan mengatakan "ya". Diluar terpenuhi atau tidak janji tersebut, yang ingin saya tekankan adalah keras kepalanya itu lho. Ternyata, dalam menggapai sesuatu kita mesti keras kepala. Sekali gagal, coba lagi, lagi, dan lagi. 

Pas nyantai tadi siang, tiba-tiba aku teringat lagu daerah yang ngetren mungkin hanya di kawasan kami. Begini liriknya: 

Di malam sappi, pak Amat jual sapi 
Sapinye lapas, pak Amat jual kipas  
Kipasnye koyak, pak Amat jual Timpuyyak
Timpuyyaknye bosi, pak Amat jual bassi
Bassinye an laku, pak Amat jual paku
Pakunye patah, pak Amat jual gattah
Gattahnya putus, pak Amat dah nak mampus

(sappi=sepi)
(lapas = lepas)
(Timpuyyak/Tempoyak= isi buah durian masak yang di asinkan dan didiamkan beberapa waktu)
(bosi=basi)
(bassi=besi)
(bassinye an laku=besinya tak laku)
(gattah=getah/karet)
(dah nak mampus=hampir mati)

Sampai di situ lagunya. Meski berujung dengan putus asa, perlu kita tambahkan sendiri saja, bahwa pak amat yang hampir mampus itu, bangkit dan mencoba lagi. Tak lama berselang:

Pak Amat jadi urang sukses

Dan kesulitan itu hanyalah karena kita belum tahu saja. Kalau sudah tahu, apanya yang akan dibilang sulit. Proses mencari tahunya terkadang memang membutuhkan kesabaran dan keseriusan. 


Selasa, 05 Maret 2013 0 Messages

Be Sang Juara

Juara, kata itu identik sekali ya dengan namanya prestasi di pendidikan formal. Dan sekarang baru sadar, setelah lepas dari beragam jenjang pendidikan formal tentunya, bahwa juara itu bukan hanya di dunia tersebut. Ketika menatap globalisasi, menurutku juara memiliki arti; unggul berkompetisi di bidang yang digeluti. Ku maksudkan disini adalah dunia bisnis. Cozzz, ini duniaku kini. Ini pilihanku ku kini. 

Kembali ke kata Juara dalam riwayat pendidikan formal. Jujur, riwayat prestasiku tidak terlalu buruk. Namun, bukan pula yang terbaik. Itu masalahnya dan bedanya dengan dunia bisnis. Di dunia bisnis, bertahan bisa dengan menjadi juara utama atau bertahan dengan gelar juara kedua dan ketiga. Sebaliknya, mati tanpa suara!

Rekapitulasi nilai rapor SD yang termasuk diatas rata-rata murid lainnya, menobatkanku menjadi juara 4 di kelas. Anehnya, itu keterusan dari kelas 1 sampai 6. Juara sih juara, tapi bukan yang terbaik seperti yang ku katakan sebelumnya. Memasuki jenjang pendidikan MTs, duduk di kelas 1 (sekarang mereka menyebutnya kelas 7) rupanya tidak membawa perubahan dalam tingkat prestasi. Juara memang, tapi alhamdulillah ke tiga. Lalu, angin segar mulai berhembus ketika telah berada di kelas 2 dan 3. Sering kali menyabet juara satu, namun sekali harus berbagi dengan teman satunya. Beda nilai sangat tipis. 

Lain lagi ceritanya pada saat duduk di bangku SMK. Persaingan bahkan ternyata lebih ketat. Prestasiku bertahan di posisi paling banyak 5 dan sesekali 6. Begitu adanya dari kelas satu sampai kelas tiga. Walaupun posisiku diakhir lima besar, tetapi nilai pelajaran bahasa Inggris selalu yang tertinggi. Tak jarang dibandingkan dengan teman-teman kelas lainnya. Ini bisa dikaitkan dengan konsep diferensiasi dalam dunia bisnis. Ketika kita tidak bisa melawan perusahaan yang lebih besar, maka usaha kita bisa menyelusup melalui celah yang tidak terlayani oleh mereka. Kira-kira seperti itulah. 

Beranjak semakin menuju kedewasaan, tepatnya kala mengenyam bangku perkuliahan (rasa kayu '_'! ), grafik prestasi pendidikan formal seolah berbentuk linear. Maksudnya, bila di tarik garis dari sumbu y (prestasi) menuju sumbu x (jenjang pendidikan), maka akan terlihat sebuah garis lurus utuh. Kecuali melengkung naik sedikit di tingkat MTs. Lagi ku katakan, nilaiku memang boleh di bilang melampaui rata-rata. Dan lagi-lagi, belum menjadi yang terbaik. 

Dunia pendidikan itu kini ada di belakangku. Layarnya mempertontonkan sejarah dan menyiratkan pelajaran yang harus di petik. Sekarang, yang kuhadapi adalah dunia baru, dunia bisnis yang jaaauh berbeda dari dunia sebelumnya. Belajar teori-teori bisnis dan pemasaran di kampus bukan berarti jaminan untuk sukses menapakinya. Ada, bahkan ternyata banyak hal dalam bisnis kongkrit yang tidak terangkum dalam ribuan lembar literatur dalam dan luar negeri di perpustakaan. Ambil contoh, inovasi yang terus bergerak dan kreativitas yang semakin hidup. Ya, itu tidak terjamah dalam tulisan-tulisan mereka selain menekankan pentingnya hal tersebut. 

Oleh karenanya, kesadaran untuk menjadi sang juara itu kini membuncah. Dua tidak lebih baik dari pada satu. Mungkin terlalu idealis jika harus mengatakan BEST IS A MUST! atau BEST OR NOTHING!. Asal tahu saja, kenyataan dilapangan memang mengharuskan dua prinsip diatas. Kecuali mau dilindas oleh pesaing yang terus bergerak. 



Minggu, 03 Maret 2013 2 Messages

New Situation

Satu kata ungkapan terpukau buat BUMI CINTAnya Kang Abik; SEGAR. Insya Allah malam ini melahap sisanya yang tinggal beberapa lembar lagi. Penuturan dan alur plotnya luar biasa. Karakter penokohannya masif banget. Maklumlah, novelis number 1 di negeri Indonesia Raya ini. Iri, jelas. But, positive manner. Jadikan itu sebagai yah, semacam buah mangga yang ranum (apa hubungannya). 

Sengaja tidak dihubungkan, sebab tulisan berikutnya tentang pengalaman tadi kongkow sebentar di waterfront depan keraton Sambas. Kaku, lantaran baru pertama kalinya. Tadinya itu pulang dari menginstall cd driver printer yang rupanya antara printer dan cd nya gak nyambung. Beda versi. Jadinya gagal. 

Sepulangnya, beliau sang kepala sekolah itu membelokkan motornya ke arah sumber musik muda-mudi bertalu-talu. Minyak dan air rasanya. Tapi selama dalam batas kewajaran sih oke2 saja. Hitung-hitung merasakan apa itu namanya, sense-nya mereka itu. Sehingga kalau mau menulis tentang hal terkait jadi dapat pesannya. Begitow. Benar lho, beberapa waktu silam aku sempat membayangkan duduk di situ dan menulis tentang apa yang ada disana. Sepertinya sesekali lagi boleh datang kesana sambil menenteng laptop dan modem. 

ini intinya tentang mimpi. Makanya hati-hati dengan mimpi. Atau lebih tepatnya impian. Gantungkan ia setinggi langit bila memungkinkan menggunakan tangga ajaib. Karena, Allah Ta'ala pasti punya cara tersendiri agar kita bisa meraihnya kemudian. Aku yakin itu. 
Jumat, 01 Maret 2013 0 Messages

Karna kau ISTIMEWA

Karna kau ISTIMEWA. Benar, ambil positif aja. Bela-belain menapaki jarak tempuh puluhan kilometer untuk mengambil barang seukuran kartu nama tersebut, eeh tak bisa di ambil pula tu. Katanya sih, "aturan dari sono no... begitu." Yah, angkat bahu aja, dan melenggang pergi. Meski menurutku sama sekali tidak ada hubungannya. 

Aku sekalipun tak menyalah KTP hilang, hanya saja mesti laporan ke kepolisian. Waktunya itu Nong. Kalau urusan gitu-gituan biasanya paling malas. Meski saat ini cara pelayanan lembaga tersebut sudah jauh lebih baik. Bertahan pada kata "kalau rajin" saja. 

Ada rumor, kalau tak diambil pun ntar dikasihkan. Lucunya, rupanya bukan aku seorang tertimpa hal serupa. Tentu juga tidak banyak jumlahnya. Namanya juga ISTIMEWA, jumlahnya itu pasti sedikit. He..he..

Seorang kakek juga kehilangan ktp aktifnya. Saat disarankan untuk meminta surat keterangan kehilangan ktp, kakek itu berucap santai "sudahlah, untuk apa juga itu ktp." Aha, benar kali kau ini cok! Di kampung, umur tidak lagi muda dan sudah renta, kenapa harus pusing hal yang demikian. 

Diluar itu semua, apa sih sulitnya tinggal memberikan saja itu e-ktp. Toh tak ada hubungannya sama sekali dengan tindak kriminalitas dari ktp yang hilang atau terselip di belakang lemari atau entah kemana. Ktp ku sendiri telah raib sekitar, yah mungkin setahun yang lalu atau lebih. 


Rabu, 27 Februari 2013 0 Messages

Lost One Day

Senja Merah di dua puluh tujuh Februari dua ribu tiga belas. Berbalut gerimis menemani azan maghrib bergema. Esok jika masih ada, adalah ending bulan ini. Waktu, pantas nian berlalu. 

Mengingat dua puluh delapan adalah tanggal penghabisan Februari tahun ini, bergegaslah aku berkendara menuju PLN Wilayah Sambas. Udah tanggal gini? he..he...biasa aja kali. Tapi ada kemajuan, bulan lalu justru sekitar tanggal 29 baru bayar listrik. 

Catatan penting disini bukan tentang tanggal muda atau tua, waktunya yang terasa cepat. 

Balik ke waktu lagi, tapi kali ini yang ku maksudkan adalah 'hari'. Tenyata Rabu! Wow...Padahal aku menyangka hari ini adalah selasa. Kamis itu giliran mengambil e-ktp di kampung. Maka, rencananya besok (dikira rabu) siang baru pulkam. Eh, ternyata besok sudah hari H-nya. Gawat-gawat. 

Koq bisa ya. Padahal ketika berdebat kecil-kecilan tadi sore dengan cik Herzi bahwa menurutku hari ini adalah selasa. Beliau kukuh mengatakan Rabu. Hayo siapa yang benar? Jelas saja beliau yang benar, wong kepala sekolah koq. Hanya 'pengangguran' seperti diriku ini yang tak terlalu pandai menghitung hari. 

Memastikan aku yang salah, ku rogoh HP di saku celana. Barangkali tanggal dan hari di HP lagi sangsot. Benar rupanya, Wed-27-02-2013. Wednesday itu Selasa apa Rabu ya? Selasa itu Tuesday. Alamak, ape nak jadi. Ape nak jadi, belom tue dah lupa hari. 

Runut punya runut, akar permasalahannya terletak pada persepsi yang tersimpan di memori otakku. Patokan yang kupakai, entah bagaimana, adikku libur karena kelas III tryout itu mulai Senin. Padahal mereka libur mulai hari Selasa. Senin masih masuk sekolah. Memang jarang-jarang mulai libur hari itu, terlebih jarang lagi mulai tryout hari setelah Senin. 

He..he...kata temans kuliah dulu "Jangan salahkan ibu mengandung". Memang tak salah kan. Selain dari itu semua, alhamdulillah masih diingatkan bahwa esok hari Kamis. 
Minggu, 10 Februari 2013 0 Messages

Awalnya Panas, tapi Ujungnya Sedih ya

          Kalau dengar orang marah itu biasanya telinga kita itu merah ya. Tapi tidak bagiku ketika pak Soe tiba-tiba muncul dan menyemburkan 'nasehatnya'. Telingaku cuma melar seperti punyanya gajah. Satu sisi ada benarnya juga sih ucapannya. Jeda hampir satu bulan lamanya tidak ada entry yang ku buat. Padahal sudah letih ia memintaku untuk menggantikan posisinya sementara. Letih? Tak segitunya kali. Memangnya siapa dia menyuruh-nyuruh!
            Saat aku mengatakan 'tidak ada mood menulis', marahnya semakin menjadi. Apa-Hubungannya??, katanya. Jelas ada lah. HA ditolak dan HO diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat hubungan erat antara mood dan kuantitas tulisan. (mmm..sok pandai mata kuliah statistik segala).
             Panjang lebar ia mencopot, eh maksudku mengambil setumpuk nama penulis-penulis hebat. Dalam dan luar negeri, wak. Berikut dengan kiat beserta motivasi mereka dalam menulis. Intinya, kata mood hanyalah sebuah kata yang tersampir di kamus bahasa Inggris. Tidak pada otak mereka dalam hal menulis. Mereka menarikan jemari-jemarinya dengan penuh kedisiplinan. Suka tidak suka. Sibuk tidak sibuk. 
       Ah, kalau itu aku juga tahu, Pak Soe. Beberapa buku dan artikel yang pernah ku baca juga mengungkapkan hal serupa. Kau tahu, ketika aku berucap demikian, semakin kuyup pendengaranku dengan hujan kemurkaannya. Uhh...
            Makanya, sekarang aku coba untuk, memakai istilah yang 'Partai Penguasa' di negeri ini menyebutkan solusi bagi internal mereka, RESTRUKTURISASI. Sewaktu kuliah dulu, aku sangat bingung dengan kata itu. Apa itu artinya. Ternyata simpel, barang itu adalah bla..bla...blaa (lihat jendela sebelah, ada mbah google tu). mulai mendisiplinkan diri untuk rutin menulis lagi.
            Beberapa entri sempat dituliskan sebagai update sebenarnya. Salah satunya ingin menceritakan petualanganku bersama John Smith keliling hampir seluruh dunia. Amerika, London, Italia hingga Rusia. Lewat "Cassandra Compact", karyanya Robert Ludlum. Bersama sang pahlawan menyelamatkan negeri untuk mencegah menyebarnya virus yang sangat mematikan bernama Cacar Air. Untungnya kami berhasil.
            Juga terpikir untuk menulis cerpen dalam perjalanan PP Pontianak-Sambas beberapa waktu silam. Berkat penundaan yang terus-menerus, sense menuliskannya menguap dengan perlahan. Padahal cukup unik temanya. Nantilah, kalau rajin. 
         
         Aku merasa sedikit bangga jika Pak Soe begitu ngototnya muncul hanya untuk meneriaki kelakuanku. Ternyata tidak! Katanya sekedar kebetulan ia ingin menyampaikan bahwa putri bungsunya, Andira, ibunya Ahmad ( masih ingat, kan?) sudah keluar dari rumah sakit. Namun, sayang dengan bayinya yang ditabungkan. Hanya singgah sejenak saja untuk menatap dunia. Itupun sebatas dinding kaca yang dilihatnya. Tanya Ahmad ketika menyaksikan adik kecilnya di timbun dengan tanah basah, "kek, apakah adik akan baik-baik saja?"
"Ya, adikmu akan sangat baik-baik saja disana," jawab pak Soe.
         Dari suaranya, teman tuaku itu terdengar mencoba untuk kelihatan tegar. Dengan secepatnya ia berusaha untuk pergi. Bahkan sepertinya enggan menerima ucapan belasungkawa dariku.    T_T
         

 
;