Jumat, 19 Oktober 2012 2 Messages

Kejutan Mengerikan


=Hanya fiksi belaka. Jika terdapat kesamaan nama dan tempat itu hanyalah kebetulan yang sengaja dijadikan kebetulan. Karena fiksi itu adalah cerita yang sejatinya terinspirasi dari kejadian disekeliling kita dan kemudian dimasukkan unsur fiktif di dalamnya=

Ku kira aku punya cara sendiri untuk, katakanlah “merayakannya” dengan konsep privasi. Hari ini benar-benar akan menjadi milikku. Di ulang tahun yang ke tiga puluh. Tak ada pekerjaan karena memang aku mengajukan cuti sakit, khusus untuk hari ini dan besok. Bersantai dan melakukan apa saja sepanjang hari. Tentu saja tanpa gangguan dari orang lain. Kecuali mereka yang kuizinkan mengganggu. Dan sejauh ini tak seorangpun. 
Sejak pagi tadi HP memang sengaja ku matikan. Setelah shalat subuh ku lanjutkan lagi tidur. Jika engkau melihat dari luar, tempat tinggalku saat ini laiknya rumah kosong. Tak berpenghuni. Tertutup rapat pintu maupun jendelanya. Liburan yang sangat menyenangkan. Agendanya; sampai menjelang siang akan ku habiskan dengan baring-baring sambil menonton televisi. Dan setelah menjalankan tugas sebagai seorang hamba, lalu makan, baru akan memulai perjalanan ke bagian paling utara di kabupaten ini. Menyisiri pesisir sendirian.
Uh...Aku bangkit dengan malas untuk menanggapi sebuah ketukan pintu dari luar. Gerutuku menjadi namun pelan. Ku intip siapa pengganggu kesenanganku tersebut dari lubang pintu. Tak ada. Apakah setelah manusia berhasil ku sisihkan, makhluk halus juga iseng ikut menganggu hari istimewa ini? Aku tak akan membiarkan itu kalau begitu. Ku memastikannya dengan membuka pintu. Mataku menyipit diterpa cahaya mentari pagi menjelang siang. Setelah beberapa saat baru retina ini mulai menyesuaikan diri. Dengan kondisi semrawut, ternyata aku menyambut kedatangan Ning Amah, tetangga sebelah. Ia menenteng sebuah rantang bertutup piring beling. Pantas saja ketika diintip tadi aku tidak melihat seorang pun, karena memang tubuh wanita berumur itu lebih rendah dari lubang pintu.
“Ning dengar kamu sakit.”
Terlalu berlebihan. Darimana dia tahu? Aku hanya tidak mau seorangpun memasuki kehidupanku hari ini dan esok. Itu saja! Tapi tak mungkin itu ku utarakan di depan Ning Amah. Sebaliknya aku menyusun muka kusut agar sandiwara sakitku mendekati benar adanya.
“Hanya kurang enak badan, Ning.” Tukasku tak jelas.
Ning Amah menyodorkan barang bawaannya. Uapnya masih mengepul ketika ku buka tutupnya. Rupanya sayur lodeh itu seketika membuat perutku berteriak histeris. Benar, sampai jam segini belum ada makanan berat yang ku jejalkan ke dalam perut. Namun untuk menanak nasipun aku sangat tak kuasa melakukannya hari ini. Seperti rencanaku, baru akan mendatangi sebuah rumah makan siang nanti. Jadi tidak keluar dua tiga kali. Sekali jalan, maksudku.
Walau bagaimanapun, tentu saja tidak enak menolak pemberian seorang tetangga yang begitu perhatian dengan kita sebagai tetangganya. Masa bodoh dengan guyonan orang. Yang ku lihat dari raut muka Ning Amah hanyalah keikhlasan dalam memberi. Tak lebih. Beginilah susahnya menjadi orang bujang yang bermuka diatas rata-rata. Tunggu-tunggu. Kalaupun Ning Amah benar memiliki perasaan “aneh” terhadapku, itu wajar. Artinya dia normal. Ha..ha…ha…Yang terpenting itu semua akan berakhir segera. Karena awal tahun baru nanti, statusku tak lagi melajang.    
Aku berucap terima kasih sebelum Ning Amah beranjak dari muka rumahku. Si bocah Anung di jalan ingin bermanja denganku. Tak berminat meladeninya, selekasnya ku rapatkan pintu lagi. Pergi ke dapur dan bermaksud memasukkan gulai itu ke dalam lemari. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak sabar untuk mencicipinya. Menguras semua sayurannya kemudian. Setelah ludes, ku tepikan rantang itu di sisi dinding. Ku lanjutkan pesta ku yang sempat terhenti.
…………
            Jelas pengelolaan di obyek wisata ini tak becus dan apa adanya. Hanya mengandalkan daya tarik alam untuk mengundang turis lokal agar berkunjung ke sini. Makanya, turis manca negara tak tertarik untuk sekedar melihat-lihat. Fasilitas umumnya tak tersedia dengan layak. Misalnya toilet umum yang kotornya minta ampun dan  kondisi penginapan yang sungguh, ku menyebutnya mengharukan.
            Ketika check-in tadi, gadis resepsionis melayani dengan ramah dibuat-buat. Jika bisa, ku ingin menyebutnya terpesona. Dibalik sikapnya itu, jelas ia tak lagi berselera bekerja disini. Mungkin bosan, gaji kecil, musiman, dan kurang menantang. Ku ajukan dua jempol jika yang terakhir benar-benar masuk poin. Kesimpulannya, tidak ada pilihan selain bekerja disini. Dan selain bekerja di negara tetangga tentunya.
Aku masih duduk di ruang tunggu. Menunggu seseorang selesai membersihkan kamar yang kupesan. Ditemani gadis yang duduk di meja resepsionisnya sejauh lima langkah. Sesekali ia melirik ke arahku. Tapi kini mukanya merengut-rengut. Dan satu-satunya alasan mengapa sampai itu terjadi adalah aku telah membuatnya dongkol. Sebenarnya aku sudah memasuki kamar nomor tiga sebaik saja ia memberikan kunci. Hanya saja tak mungkin tiduran di atas kasur yang berdebu. Makanya aku meminta pindah kamar saja. Dengan berat dan muka masam ia setuju. Di kamar empat keadaannya tak jauh beda. Bahkan kamar tiga lebih baik. Lalu, aku meminta pindah kamar lagi. Ia mendesis. Memencet beberapa tombol di HP nya.
Tak berselang lama kemudian datang seorang pemuda dengan senyum mengembang. Layu kemudian setelah melihat muka sang gadis. Berpakaian sekenanya, menandakan pemuda itu penduduk setempat. Tanpa panjang lebar, ia langsung masuk ke kamar nomor tiga. “Tunggu sebentar pak, kamarnya sedang dibersihkan.” katanya. Aku masih ternganga bila mengetahui dirinya adalah seorang cleaning service. Sebagai pegawai tetap, serapan atau cadangan. Apalah bedanya. Menurutku paling tidak atribut apakah yang mencirikannya jabatannya. Ini tidak.  
Dalam sebentar itu, kami sibuk kembali dengan urusan masing-masing. Seperti pertama aku melihatnya tadi, gadis itu tenggelam lagi mengisi Teka-Teki Silang. Sementara aku konsentrasi dengan siaran televisi yang menyala.
Luar biasa, pikirku. Seharusnya negeri ini menjadi negeri yang bahagia. Seperti orang-orang itu. Ketawa-ketiwi lepas begitu saja. Tadi pagi juga ada acara seperti ini. Seingatku tayangan serupa juga bejibun disiang hari. Sore lalu sampai malam pun tak kurang. Lalu apa masalahnya? Kontras sekali saat kita memutar channel sebelah. Pemberitaan tak jauh dari kriminalitas. Kasih sayang orang tua yang kering kerontang pada keturunannya hingga pada tingkat penyiksaan. Masyarakat kecil menjerit masalah perut mereka yang sering tak kunjung terkenyangkan. Kemiskinan, kesehatan, pendidikan yang tak berujung sekaligus menjadi lahan empuk para elit untuk menuju kursi kekuasaan. Aku jadi berpikir, apa mungkin permasalahan itu sengaja dipelihara sebagai komoditas yang menggiurkan.
Cepat-cepat aku menguasai diri agar tak terbuai terlalu dalam. “Ingat!” tegasku membatin. “Waktunya liburan, bukan memikirkan yang bukan-bukan.” Ditambah lagi pemuda si cleaning service sudahpun selesai dengan pekerjaannya. Menyilakan aku masuk ke kamar segera. Ku senyum sebisa mungkin dan berterima kasih. Kamar nomor tiga. Bila dituliskan angka nol dibelakangnya, tepat dengan usiaku saat ini. Aku mengangkat bahu.
Belum sempurna aku menutup pintu kamar, terdengar adu mulut terjadi. Perlahan tapi cukup jelas untuk dikuping.
“Sori yang, mengaku deh. Seminggu ini memang abang tak ada bersihkan kamar-kamar itu.”
Tak ada respon dari orang yang diajak bicara.
Suara pemuda menambahkan, “lagian kan memang sudah lama tidak ada yang mau menginap di tempat seperti ini di luar musim liburan. Jadi, ku pikir tidak apa-apa membiarkannya seminggu dua minggu.”
Resepsionis muda itu pun terlanjur merajuk. Cleaning service yang ternyata pacarnya itupun bertubi-tubi melancarkan permintaan maaf sambil membujuk akan membawanya jalan-jalan akhir pekan nanti. Pastinya tidak sampai disitu saja perbincangan mereka. Aku bukan orang tua mereka untuk melarang dan berceramah. Lagi pula, apakah orang tuanya akan marah melihat anaknya seperti itu.
Agenda malam gagal total. Padahal aku ingin memancing, bakar ikan atau apalah. Begitu menjelang isya langit tak lagi berbintang. Dibungkus oleh kawanan awan yang siap tumpah. Gerimis mulai menjatuhkan diri. Tak lama berselang diikuti pula oleh hujan berangin.
Terperangkap di penginapan bernama Wisma Bahagia bersama satu-satunya manusia yang bisa diajak berbincang, si cleaning service itu tadi. Dengan begitu tahulah aku bahwa namanya Rendy. “Pakai y bang, bukan i.” katanya menegaskan. Panjang lebar ia bercerita tentang bangunan tempat kami bernaung sekarang, tentang asal muasalnya, sampai pada pertama kali mengenal Laila hingga kenapa gadis itu masih enggan berbaikan dengan dirinya.
Lelah menjadi pendengar yang baik, ku pamit untuk segera pergi ke kamar saja. Tapi paling tidak aku sedikit membantu Rendy melapangkan isi hatinya. Baru kusadari bahwa tempat ini begitu sangat menyeramkannya diwaktu malam. Ditambah di ujung lorong, tidak ada penerangan sama sekali.
Menjelajahi internet merupakan pilihan terakhir sebelum tidur. Tekatku masih kuat agar tidak membuka facebook-ku. Sudah bisa ku bayangkan berapa banyak pemberitahuan yang menunggu. Paling-paling isinya mengucapkan selamat ulang tahun dan yang seperti itu. Sementara HP masih bertahan di ransel dalam keadaan off.
………..
Menyesal menghidupkan HP pagi ini. Semuanya sudah benar-benar berantakan. Masih adakah arti liburan jika masalah justru datang menghantui. Dan masalah ini benar-benar gawat. “Jangan-jangan?” pikirku. Secepatnya ku jejalkan pakaian, laptop dan chargernya ke dalam ransel. Tidak ada acara mandi dan sarapan pagi. Di meja resepsionis sudah ada Laila dengan wajah yang lebih manis dari kemarin sore.
“Kuncinya masih ada di kamar. Aku harus segera pergi sekarang.”
Tak perlu menunggu jawaban dari Laila, aku beranjak meninggalkannya dengan muka bingung. 
…………
Bagaimana tidak emosi dibuatnya. Dituduh mentah-mentah bepergian dengan Ning Amah dari rumahnya. Itu gila namanya.
“Tapi Anung melihat Ning Amah ke rumahmu kemarin pagi, bar.” Kata pak RT bertindak seolah ia seorang jaksa penuntut.
Jadi warga telah menarik kesimpulannya sendiri. Karena pertama, Ning Amah ke rumahku kemarin sekitar pukul setengah sepuluh. Kedua, aku ke rumah Ning Amah sebelum jam sebelas lewat lagi. Itu karena aku ingin mengembalikan rantangnya yang lalu batal lantaran sepertinya dirumahnya tidak ada orang. Ke empat, kejadiannya “seolah” bersamaan dengan pemergianku dari rumah tanpa siapapun yang tahu. Dan yang terakhir, HP ku tidak bisa dihubungi sama sekali sejak kemarin.
Aku tak bisa berbicara banyak setelah mengatakan yang sesungguhnya. Lagipula untuk apa seorang briptu “piknik”, meskipun tidak ada yang salah, ku garis bawahi jika beramai-ramai, dengan wanita hampir usia lanjut? Semoga saja pengakuanku tersebut bisa meredakan situasi.
Sampai siang ini. Ning Amah belum juga nampak batang hidungnya. Mendekati dua puluh empat jam atau mungkin lebih. Siapa yang tahu. Salah dirinya pastinya. Bepergian tanpa memberitahukan dengan tetangga kiri kanan. Apa mungkin diculik? pikirku. Itu sangat mustahil dan tidak punya motif sama sekali. Kaya tidak. Cantik mungkin ketika usianya dua puluhan dulu.
Tak lama kemudian, mata kami semua tertuju pada sesosok manusia di ujung gang yang tengah berjalan. Tiap detiknya, tubuh itu semakin besar dan menjelaskan siapa dirinya. Dengan santainya ia menenteng sebuah plastik hitam yang membungkus semacam benda berkotak. Tepat di hadapan kami semua, ia melongo. Ada berita apa gerangan sehingga semua warga se-gang berkumpul didepan rumahnya.
Tawanya pecah setelah menyadari semuanya. “Maafkan Ning telah membuat kalian semua cemas. Kemarin itu, Ning buru-buru pergi. Seseorang bertandang kerumah. Jujur, awalnya saya tidak mengenalinya. Tapi setelah menatapnya lekat, saya benar-benar mengenalinya. Dia Romli, temanku dulu.” Nadanya ditekankan pada kata dulu yang menandakan sesuatu.
Aku tahu maksud kata itu. Romli adalah….
“Dia memperkenalkanku pada anak-anaknya. Dan kami akan menikah.”
Gubraaak....
Bagus, terima kasih, dan selamat! Rasanya hari itu juga aku ingin mengenakan seragam dan berangkat kerja selekasnya. Karena liburan ini sangat, sangat menyenangkan.   

Alhamdulillah, genap lima hari akhinrya tulisan ini kelar juga. Semoga menyenangkan.
Terlebih buat teman-teman yang berbaik hati mengucapkan selamat ulang tahun...'_'
Rabu, 26 September 2012 2 Messages

Antrian Tulisan

        Jaman sekarang, bukan hanya ibu-ibu yang mulai memerankan sebagai pengantri bensin di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Tetapi, ide tulisan di kepalaku juga turut antri ingin ditulis. Hanya saja corongnya lagi tersumbat sana-sini. Jadinya keluarnya gak lancar. 
           Paling tidak sudah ada lima ide cerita pendek yang ingin digarap. Apa-apa saja itu? Tuliskan disini gak ya? mm.....bolehlah. Siapa tahu ada yang berminat ingin menggarapnya. Itulah hebatnya otak seorang penulis, dengan judul yang sama pasti akan memiliki sudut pandang bercerita yang berbeda. 
          "Ini kali yang ketiga ia menikah. Yang pertama harus dipisahkan oleh kematian. Kedua hancur dengan menyiksa. Dan lebih tragis lagi dengan hilangnya sang buah hati dibawa kabur oleh sang suami. Yang terakhir, pernikahannya tak ubahnya hidup dibawah rezim otoriter. (Takdirnya memang begini, namun apakah akhirnya dirinya tinggal sebuah nama?)". Itu yang pertama. Mungkin judul yang tepat untuk sementara adalah Janda ke 3. 
            "Hidup dirantau orang demi meniti pendidikan yang lebih tinggi. Kuliah. Tinggal berdua dengan adik yang masih duduk di bangku sekolah atas. Awalnya tidak apa-apa. Hanya saja, sesuatu terjadi dirumah sebelah. Rumah yang sudah beberapa bulan kosong dan secara kasar mata fisiknya begitu angker. Mungkin pembawaan ocehan warga sekitar yang menjadikan rumah itu semakin seram. (Apakah rumah itu benar-benar tempat tinggal makhluk gaib yang mulai iseng dengan kehadiran kami sebagai tetangga barunya?)". Kisi-kisi yang kedua ini bolehlah kiranya diberi judul Rumah Kosong. 
           "Sebuah televisi berita milik swasta dengan gampangnya menuding kegiatan lembaga kerohanian Islam sebagai ajang penjebol teroris nasional. Mendapatkan kritikan dari berbagai elemen dari mahasiswa yang tergabung dalam lembaga dakwah dan kerohisan ditingkat sekolah atas tentunya. Diantara itu, justru ketegangan terjadi antara dua bersaudara yang masing-masing mewakili pihak terkait. Si adik yang terkenal sebagai akhwat militan dan sang kakak yang berprofesi sebagai Anchor di media pemberitaan. (Orang tua mereka juga merasakan dampak dari perseteruan kedua buah hatinya. Mungkinkah menemukan titik tengah sebagai jalan keluar?)". The Anchor, demikian judul yang kukira sangat tepat. Mengambil sudut pandang pergolakan batin si kakak yang harus memilih antara agamanya berikut hubungannya dengan si adik atau karir yang tengah menanjak. 
        Keempat. "Lidah memang benda yang paling tajam. Bagaimana tidak, kata-kata yang terlontar tak akan bisa ditarik kembali. Terlanjut omong besar menjadikan lelaki itu gelisah atas niat sahabatnya yang ingin berkunjung ke kediamannya. Bukannya asal bertandang, kegiatan kantor yang mengharuskan sahabatnya itu berada disana untuk beberapa hari. Cemas dengan kehidupannya yang bertolak belakang dengan ucapannya beberapa waktu lalu, lelaki itu berharap kunjungan sahabatnya itu batal, tertunda, atau apalah itu namanya. Yang pasti jangan bertandang ke rumahnya dalam waktu dekat ini. (Benarkah sahabat lelaki tersebut masih ingat dengan segala ucapannya?)". Belum ada judul yang tepat untuk yang satu ini. Dusta, Omong Besar. Dua-duanya belum merangkum isinya, kukira.
         Dan yang terakhir adalah tentang prinsip hidup. Ketika fresh graduates lain berbondong-bondong memilih untuk menjadi PNS atau karyawan di perusahaan swasta saja sebagai karir, ia justru memilih berwirausaha. "Namun keinginannya tak sejalan dengan pemikiran kedua orang tuanya. Diakhir perbincangan, ia berada diatas angin dengan satu perjanjian. Dan sekang ia benci menghadapi bulan depan. Dimana ia harus bertekuk lutut pada nasib. Jatuh tempo yang semakin memangkas. Usahanya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Maka, orang tuanya menagih apa yang telah dibuat sebelumnya. (Menyerah? apakah ia benar-benar telah menyerah? Ketika semuanya terasa begitu mati, sesuatu yang membuatnya ingin melonjak setinggi langit terjadi. Ada apa gerangan?)". Ku memilih nama bulan sebagai title. Oktober atau November. Salah satunya, agar momennya tidak basi.
        Well, langkah selanjutnya adalah skala prioritas. Doakan ya. Salah satunya bermaksud ingin dikirimkan ke koran lokal. Semoga semuanya bisa diselesaikan dalam waktu singkat sesingkat-singkatnya. Sambas, 27 September 2012. Tertanda Gho Soe.

0 Messages

"Penampakan" ide

        Diksinya kurang tepat kali ya. Penampakan-yang identik dengan makhluk gaib. Tapi bila dipikir-pikir, bukankah ide itu benda abstrak atau kasat mata. "Engkau datang dan pergi sesuka hatimu", nyangkut ke lagu jadul pula. Memang, ide itu datang dan pergi sesuka hatinya. Tak kita minta, toeeeeng, muncul sendiri disela-sela kesibukan kita. 
         Saat makan misalnya. Tengah asyik-asyiknya santap siang dengan sambal plus ikan asin (sedih lauknya, hee...he...) ide itu bergelayut menari-nari dipiring yang permukaannya didominasi warna merah maron. Kalau demikian adanya, sayang untuk dilewatkan begitu saja. Hidupkan alarm imaginasi tingkat tinggi. Rangkai dengan even-even yang berkaitan. Tentu biasanya berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya. Jadilah, sebuah kerangka tulisan dalam otak kita. Tapi perlu di garis bawahi, terkadang sebelum sempat dituliskan, ia menguap seperti air yang membasahi cucian piring di rak. 
          Atau saat...he..(sopan sedikit, katakanlah dikamar kecil). Benar lo, aktivitas di ruangan kecil itu kadang menjadi tempat paling mudah untuk mendapatkan ide. Menggelinding di dinding-dinding pemikiran dan fantasi. Dari satu slide ke slide lainnya seolah kita tengah menyaksikannya di bioskop Trans TV. Mmmmmm, dah belebih tu. 
            Saya memasukkan-membaca. Apapun itu; buku, majalah, novel, koran dan lainnya. Dan yang paling mengerikan adalah, yang namanya ide itu muncul ketika tengah beribadah. Sholat atau mengaji. Itu tak perlu lagi dipertanyakan. Jelas kita ibadahnya tidak khusyuk. 
           Bab V KESIMPULAN DAN SARAN ('-'). Ingat ini versi si penulis! Ide itu muncul ketika tengah melakukan aktivitas. Hanya menyebabkan sakit kepala jika mencarinya dengan sengaja. Apalagi pas duduk manis di depan kompu atau laptop. Bisa nyot-nyot tu. Saran, catat idenya sebelum diterbangkan angin. Malas mo nulis di buku, buka HP. Kalau malas juga, simpan di memori otak. Kalau malas juga, pergi ke Hongkong!

0 Messages

Tabrak Lari

       Aku berada sekitar tiga puluh meter dari tempat kejadian. Namun dari sini dapat ku lihat sosok itu tergolek kaku di pinggir jalan. Bukan takut untuk mendekati, seperti orang kebanyakan yang lalu lalang, aku malas untuk menghampirinya. Ya, aku sudah menjadi bagian orang-orang yang tak lagi peduli dengan lingkungan sekitar. Bagaimanapun, ketika pemberitaan ini ku muat, hanya dua orang anak kecil yang melintas berniat untuk menolongnya. Pada saat kakinya diangkat, tubuhnya menggenjot pelan. Boleh jadi itu gerakan terakhir sebelum ia benar-benar meninggalkan dunia ini.
       Aku tetap saja tidak tertarik untuk mengetahui apa dan siapa yang melakukan tindakan kejam tersebut. Yang pasti tak bertanggungjawab sama sekali. Seenaknya saja ketika memiliki kuda besi berkaki dua atau empat atau berapapun. Ia juga punya hak untuk dihormati. Tentunya dalam batas-batas sebagaimana kodratnya. 
        Ayam itu berbulu hitam pekat. Sekarang sudah dibawa oleh dua anak tadi. Kekhawatiranku hanya satu setelah korban tak lagi berada di TKP. Ia akan disembelih dan dikonsumsi setelah tidak lagi bernyawa. Semoga saja dugaanku tidak jadi kenyataan.
Selasa, 25 September 2012 0 Messages

Garuda's Eyes


Langit pagi ini terasa berbeda. Puluhan jet tempur menghiasinya. Lalu lalang, saling kejar dan sesekali membentuk formasi. Dari bawah, benda baja bersayap itu tak ubahnya seperti segerombolan elang hitam.
Seperti yang kita ketahui, pagi ini akan menjadi sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Sebuah jet tempur bernama Garuda’s Eyes akan melakukan sebuah demontrasi di udara. Bukan hanya sekedar tontonan yang bakal menakjubkan, Garuda’s Eyes juga lambang kebanggan negeri ini. Ia merupakan jet tempur pertama karya anak bangsa.
Perlu kami informasikan juga bahwa, rombongan kepresidenan baru saja tiba di lokasi. Itu artinya, sebentar lagi kita akan menyaksikan performance dari si  Garuda bermata merah.  
Namun sebelum itu, berikut wawancara singkat kami dengan Nanda Winata atau yang akrab dipanggil De’Nan beberapa waktu yang lalu. Beliau adalah pilot yang dipercaya untuk menerbangkan Garuda’s Eyes untuk pertama kalinya.
Reporter 
Apa yang bapak rasakan saat ini?
De’Nan 
Saya selalu senang, he..he… Maksud saya, ini adalah suatu kehormatan luar biasa yang diberikan oleh bangsa Indonesia.  Saya sudah sering  melakukan atraksi atau demontrasi semacam ini, namun kali ini rasanya …. wah, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Reporter 
Adakah persiapan khusus yang bapak lakukan untuk demontrasi hari ini?
De’Nan 
Kapan dan dimanapun. Saya tetap melakukan persiapan terbaik untuk segala sesuatu. Terlebih yang berkenan dengan profesi saya sekarang ini. Tetap fokus dan disiplin, ku kira itu.
Reporter 
Terima kasih pak, kami ucapkan selamat menjalankan tugas. Dan tentunya rakyat di seluruh pelosok tanah air tidak sabar untuk  menyaksikan performance bapak beserta Garuda’s Eyes. 
Pemirsa, sekarang adalah detik-detik dimana Garuda’s Eyes akan menghiasi langit dengan demontrasi terbaiknya. 
Dapat kita dengar bersama, auman mesinnya yang terdengar kian semakin mendekat. Dari arah selatan, dan itu ……
Itu adalah Garuda’s Eyes yang siap membelah langit Halim Perdana Kusuma!
=wew……Garuda’s Eyes melesat dengan kecepatan luar biasa. Semua mata mengikuti pergerakan jet tersebut. Jet itu kembali melintas dengan laju dari arah berlawanan. Lalu terbang lebih tinggi, tampak hanya sebesar semut. Kemudian turun dengan tajam. Setiap kepala mendongak. Menanti selanjutnya. Wah…..secara tak sadar ucapan itu terlontar begitu saja. Jet semakin mendekati bumi. Makin rendah, rendah dan rendah. Apa yang terjadi? Semua yang hadir terperangah. Degub jantung masing-masing semakin kencang. Was-was dan khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi. Bapak presiden beserta staf spontan berdiri. Gelisah dan berdoa agar keadaan terburuk tidak bakal terjadi. Namun, beberapa menduga itu bagian dari pertunjukan. Tak ada tanda-tanda Jet tempur itu untuk melandai. Moncong pesawat dengan sempurna menghujam ke arah bumi secepat kilat, dan …..=
“De’Nan….” pemanggil maknye dengan sikap protektif. Sementara De’Nan asyik mengawasi ikan dari pinggir parit.
“Iye, mak!” Sahut De’Nan dengan nada kesal.

Semenjak dibuatkan pesawat kertas, hari-hari berikutnya De'Nan terus minta dibuatkan. "Lha, yang kemarin man?" Tukasku.
"Jatoh ke parit, bang." 
Sabtu, 22 September 2012 3 Messages

Turbulensi

       Serasa benar-benar berada di posisi terbawah dalam turbulensi kehidupan. Terperuk dan terburuk. Inilah hidup. Tak selamanya memang berada diatas rasa bernama bahagia. Dan sekarang, harus menjajaki aral bernama cobaan. 
    Dikasihani. Terdengar sungguh menyakitkan. Menyesakkan dada dan aku malu jika harus mengeluarkan air mata. Seolah tak bisa berbuat apa-apa. Walau bagaimanapun ku berucap terima kasih. Selagi bisa, berpegang pada prinsip mandiri. Keteguhanku kian teruji. Tak ingin aku menyerah pada keadaan. Karena insya Allah pasti ada jalan. 
        Boleh jadi saat ini adalah memetik buah keteledoran dan kurang disiplin masa silam. Bermalas-malasan, enggan menerima saran serta kritik yang membangun, ego pada pendapat diri sendiri, dan terlalu anguh untuk berubah menjadi lebih baik. Hm....
        Tak semuanya tampak begitu terlambat. Selagi esok masih ada, selagi itu pula kesempatan tuk berbuat terbuka lebar. Asa terdalamku tuk membahagiakan orang-orang tercinta yang mencintaiku, berkorban pada mereka yang berkorban banyak buatku. Satu lagi, menjemput dia, siapa kah, yang sudi menjadi pendamping sejati dalam perjalanan ini. 
        I wish .... aku punya kesempatan. Insya Allah
Selasa, 18 September 2012 0 Messages

Faridah


            Faridah letih melakoni sebuah rutinitas. Enggan ia, namun tetap juga menyerah kalah pada akhirnya. Menunggu. Kata itu, bagi setiap orang tak lebih baik artinya. Lebih-lebih buat wanita dengan umur kepala lima tersebut. Menunggu bukan hanya melelahkan tetapi juga menyengsarakan. Membuahkan penderitaan dan penyesalan yang berkepanjangan. Serta menghilangkan kesempatan untuk membuat pilihan. Sayang, ia tak kuasa untuk memutar waktu. Alur hidupnya telah terjilid sempurna dalam rentetan masa.
Sekarang genap dua puluh lima tahun lamanya. Ketika ia mendengar janji yang keluar dari mulut seorang lelaki muda impiannya, “Dua bulan lagi, aku akan datang ke rumahmu.”
Ah. Waktu itu, hanya satu ungkapan yang bisa menggambarkan suasana hati Faridah. Musim semi bersemayam disana. Kuncup-kuncup bunga bermekaran. Menebarkan aroma wewangian. Kupu-kupu beterbangan. Dan kumbang hilir mudik dari satu bunga ke bunga yang lain melengkapi keindahan.
Ucapan Rahim itu sampai hari ini masih saja terdengar jelas ditelinganya. Bagaimana suara berat pemuda itu berucap dengan sepenuh kemantapan. Betapa memerah mukanya kala itu. Namun kini semuanya telah berubah. Kenangan itu menjadi sebuah pisau guillotine yang menggorok kehidupannya. Seorang perawan tua. Apa yang lebih jelek dari gelaran itu?
******
Faridah menghidu sesuatu di kamarnya. Dicarinya dengan seksama sumber bau tak sedap tersebut. “Bisa mati tercekik aku kalau begini.” Gerutunya membatin.
Disinsingkannya juntaian kelambu kusam yang melantai. Dilakukannya dengan perlahan-lahan. Bau itu semakin menyengat pada saat ia semakin menghampiri sudut kamar di dekat jendela. “Keti…!” Teriaknya menjadi.
Baunya masam dan busuk. Seperti dugaannya ketika tengah mencari tadi. Siapa lagi kalau bukan pekerjaannya si Keti. Untuk apa ia susah payah mengajari “anak” itu dimana seharusnya buang hajat. Kenyataannya Keti masih bertindak jorok. “Dimana kau, ha!”
Keluar kamar ia langsung menuju dapur. Meraih sapu ijuk di bawah tungku. “Anak itu sesekali harus diberi pelajaran.” Pikirnya.
Dengan kedua matanya, dijelajahinya setiap sudut rumah. Tadi di kamar jelas Keti tidak ada. Didapur juga demikian. Karena Keti tak dibiarkannya bermain sendirian di luar rumah, jadi kemungkinan besar Keti di ruang tengah.
Persis. Keti tergolek diatas kursi yang sofa hanyalah tinggal sebuah nama. Kulit sintetis pembungkus tempat duduk itu telah mengelupas disana sini. Sulit untuk menyebutnya berwarna merah, karena cenderung memudar lebih keunguan. Busanya juga telah mengendap. Bila diduduki, tak ubahnya serasa menduduki kursi kayu. 
Tubuh Keti terperuk di salah satu cekungan sofa. Mengacuhkan Faridah yang membentaknya sambil membawa sapu, Keti tetap pulas.
“Buk.”
Satu pukulan sebagai peringatan mendarat pada sandaran sofa. Dan itu menganggu tidur Keti. Keti mengedipkan mata. Lalu tidur lagi. Melihat itu, Faridah semakin emosi. “Buk.” Pukulan sapu ijuk kembali mendarat di tempat yang sama.
Keti terkesiap. Matanya benar-benar terjaga.
“Berapa kali ku bilang. Buang hajat jangan di kamar. Atau dimanapun. Untuk apa aku mengajarimu dan juga membuat WC. Padahal baju itu baru saja kucuci. Hanya saja belum sempat melipatnya. Sekarang, siapa yang harus mencucinya lagi kalau bukan aku! Jawab, ayo jawab.”
Jendela depan terbuka lebar sejak tadi. Seorang ibu muda melintas dan sempat melirik ke arah rumahnya. Bertemu pandang dengan Faridah yang tengah marah, dia cepat-cepat berlalu. Faridah tahu ibu muda itu mengoceh sesuatu. Faridah juga tahu kata apa yang keluar dari mulut orang tersebut. Gila, sinting. Tak jauh-jauh dari dua kata tersebut.  
Ya, ia memang telah sinting, gila atau apapun namanya. Mendidik Keti, menjadikannya laiknya seorang dokter hewan yang bisa berbicara dengan binatang apapun. “Andai saja Keti benar-benar anakku, tentu itu akan lebih mudah.” Desisnya perlahan. Amarahnya mulai mereda.
Nama Keti diambilnya dari saluran televisi yang memunculkan sosok kartun kucing lucu dan menggemaskan. Ia tak tahu bagaimana tepat menuliskannya. Keti, keti, itulah yang dia dengar. Waktu itu Keti adalah seekor anak kucing yang induknya entah kemana. Mengeong keras di teras rumahnya. Hatinya tergugah. Boleh jadi lantaran merasa senasib dengan kucing tersebut, Faridah memeliharanya. Dan entah bagaimana setelahnya, Keti bagai anak baginya.
Tak mungkin ia memukul anaknya tersebut. Ia takut terjadi apa-apa dengan Keti. Jika itu benar-benar terjadi, siapa lagi temannya dimalam hari. Tempatnya untuk berbagi kisah. Bercengkerama sebelum tidur. Kadang, bercerita betapa cintanya ia pada Rahim dulu. Juga, betapa bencinya ia pada nama itu sekarang. “Tiada maaf baginya.” Itulah biasanya kata penutup obrolannya dengan Keti sebelum berlayar ke alam mimpi.
Faridah menatap Keti lekat-lekat. Kucing itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Seolah mengerti perasaan Faridah. Tingkahnya, dimata wanita lima puluh tahun itu tak ubahnya sebuah ungkapan maaf. Faridah jongkok, “tak apa Ket, aku terkadang sulit mengendalikan emosiku. Kau tahukan bagaimana perasaanku ketika tanpa sadar membuka lembaran-lembaran silam.” Mata Faridah berkaca dan menerawang keluar jendela. Sesekali dilihatnya orang yang melewati rumahnya.
Mengalihkan pandangan kembali ke arah Keti sambil mengelus bulu pirang berbelang hitam binatang berkaki empat tersebut. “Aku benci mengingatinya. Namun, semakin aku mencoba untuk melupakannya, semakin jelas saja dibenakku. Jika saja aku menerima pinangannya Madun kala itu, tentu hidupku tak lah semelarat begini. Hidup sebatang kara dengan kucing yang juga sebatang kara.” Lagi, Faridah mengelus bulu Keti.
Faridah beranjak menjauhi sofa. Amarahnya benar-benar sudah mereda. Ia berbalik badan menuju dapur. Tentu saja untuk menyimpan sapu di tempatnya semula. Baru satu langkah, ia berbalik lagi mengarah pada Keti. Keti kembali tidur. “Kamu pasti akan bertemu dengan ibumu kelak.” Ucapnya pelan. Kata-kata itu sebenarnya ia tujukan kepada dirinya sendiri. Ia sangat sadar bahwa dimulut berucap benci, dihatinya masih menyimpan cinta. Bagaimana jika suatu saat ia harus bertatapan dengan Rahim lagi. Mimpi di siang hari.
Kembali Faridah berbalik badan. Seperti tujuannya semula, dapur. Namun niatnya kembali urung lantaran teringat peristiwa kemarin di rumah sakit. Tadi malam sebelum tidur, ia lupa menceritakannya. Wanita itu menghampiri Keti lagi. Mengusik Keti dengan belaian kasarnya. “Bangun Ket.” Pintanya.
“Aku takut di alam sana engkau akan menuntutku untuk bercerita. Dan aku lebih takut lagi jika engkau minggat begitu saja. Pasalnya aku sudah berjanji sebelum pergi ke rumah sakit kemarin. Bukankah janji harus ditepati. Aku tahu rasanya dikhianati seperti apa.”
Faridah menghela nafas dalam.
“Sewaktu menunggu…..”
*********
=bersambung=


 
;