Kamis, 07 Februari 2013 0 Messages

Ah, Virus itu cuma mengada-ada...Kalau kau tahu Julaiha

             Kalau kemarin aku bercerita pada pak Soe tentang galau yang sedang melanda, namun sekarang rasanya begitu konyol dibuatnya. Tidak perlu vaksin khusus ternyata untuk menolak virus tersebut. Semuanya ada pada pemikiran kita. Dan Alhamdulillah, aku berhasil. Bagiku memasak adalah jurus ampuh agar pemikiran menyesatkan itu menguap. Suara gorengan, desisan api berwarna biru, kepulan asap dan aroma yang menyengat hidung. Semuanya menjadikanku lebih bahagia.

Tulisan ini rampung beberapa bulan silam. Fiktif belaka pak Soe!


            Kejam nian kau Julaiha. Setelah menghempaskanku hingga berkeping-keping, tanjidormu pula hampir membuat telingaku pecah. Ditambah lagi mereka yang berduyun-duyun datang dan turut senang atas pernikahanmu hari ini. Itu, itu hampir membuatku gila. Atau kau memang menginginkanku mati berdiri saja. Aduh, malang benar nasibku ini. 
.............
            Lima langkah dari rumah. Karena itulah aku sangat mengenal Julaiha. Dari masih ingusan sampai saat ini, ketika ia jelas sanggup memusnahkan hidupku. Dulunya, selalu saja bersama-sama. Mencebur ke parit dengan anak-anak lainnya juga. Jangan salah, senyumnya mengembang sembilan sentimeter saat ku katakan mencintainya.
Semuanya berubah ketika kami menginjak remaja sampai kedewasaan tiba. Bukan persahabatannya, tapi cintanya. Padahal, andaikan dia tahu, aku sama sekali tidak berubah. Tak setitik pun dan sampai kapanpun.
Hingga akhirnya, datang teman kuliahnya. Langsung meminta Julaiha. Padahal ia baru pertama kali datang ke kampung ini. Lancang sekali melangkahiku. Pemuda itu berjenggot tipis. Sebenarnya tak ingin mengakuinya, tapi ia benar-benar cocok dengan Julaiha yang cantik rupawan dan berjilbab. Tidak sepertiku, cermin bahkan hampir rontok ketika aku berdiri menghadapnya.
Sebaiknya aku mencari kapas untuk menyumpal dua lubang telingaku. Sebuah slayer juga untuk menutupi penglihatanku. Sayangnya, kedua benda itu tidak ada dikamar.
            Hari ini akan mengulitiku sedikit demi sedikit. Dari hati hingga pori-poriku.  Aw…sakit!
            Bantal di kasur melambai-lambai ke arahku. “Tepat!” tukasku membatin. Benda bersarung hijau tua itu menjawab segalanya. “Kau benda yang paling baik di dunia ini,” kataku sendirian. Aku tahu, ia disana tengah menjawab, “itulah gunanya teman.”
            Tak ada lagi Julaiha dan tanjidor sumbangnya. Kalau saja…
………..
            “Kau datang pada orang yang tepat,” Dr. Mock memasang peralatannya di jidatku. “Kau lihat lampu itu? Artinya masalahmu sudah sangat kritis. Untung kau datang lebih cepat,” katanya menjelaskan kebingunganku.
            Lampu itu berwarna hijau, kuning, oranye, dan merah. Dan ketika Dr. Mock berbicara tadi, lampu oranye yang menyala. “Seperti traffic lamp,” kataku.
            Aku dan Dr. Mock duduk saling membelakangi. Aku hanya menatap dinding dimana lampu-lampu tadi bertengger. Sementara lelaki berkacamata itu tengah menghadap ke sebuah layar yang cukup besar. Seperti televisi lima puluh inci saja.
            Karena aku tidak bisa melihat langsung apa yang benar-benar tengah dilakukannya, makanya aku hanya bisa menebak. Mungkin ia tengah memindai isi kepalaku ke dalam program komputerisasi yang telah diciptakannya. Paling tidak seperti itulah pembuka perbicangan kami di awal pertemuan tadi.
            “Menurutmu, kenapa gadis itu sampai tega menolakmu?”
            Aku tetap tidak tahu pastinya apa yang tengah dilakukannya dibelakangku.
            “Entahlah,” Jawabku singkat.
            Dr. Mock berjalan di mukaku. Membetulkan alat yang ditempelkannya tadi. Sepertinya letakknya belum betul. “Itu mustahil,” katanya heran.
            “Baiklah, beritahu aku kenapa Julaiha harus menerimamu?”
            Pertanyaan yang mudah sekaligus sulit. Bagaimana menjawabnya ya? Aku mengerutkan kening. “Kata teman-temanku, aku hanya punya satu kekurangan dan dua kelebihan.”
            “Menarik. Apa itu?”
            Dr. Mock kembali mengambil posisi dibelakangku. Kayaknya dia tengah duduk dengan serius.
            “Kurang muka,” aku terdiam sesaat. “Lebih pesek hidungku dan lebih panjang gigi depanku.”
            “Mengenali diri sendiri itu hal yang bagus, anak muda,” suara Dr. Mock terdengar getir. Kemudian ia mengetik sesuatu. “Lalu bagaimana dengan ‘kanker’ yang kau derita?”
            “Itu penyakit turunan dari nenek moyangku mungkin. Sayangnya semua wanita, kupikir, mempermasalahkan yang satu itu.”
            Dr. Mock mengutarakan kata sepakatnya tentang permasalahan yang terakhir itu. “Siap?” tanyanya kemudian.

            “Jadi, ini sama sekali tiada hubungannya dengan kanker,” tanggapan pertama Dr. Mock setelah mendengar ceritaku.
            “Kalau yang itu aku masih sangsi sebenarnya. Tapi kalau Julaiha tidak mata duitan, pasti orang tuanyalah yang menyarankan agar memilih pasangan berduit. Tidak yang kantongnya super kering sepertiku. Apalagi bisanya cuma mengandalkan uang pensiun ayah untuk bertahan hidup,” kilahku.
            Aku melanjutkan bercerita tentang hari-hari penuh harapan menjelang kelulusan Julaiha. Memang kuliah di kota berbeda, namun gadis itu selalu mengabariku perihal pendidikannya. Motifnya yang menjadi pertanyaanku, sebagai kawan atau sebagai calon suami. Sekarang aku baru sadar, yang pertamalah jawabannya.
            Aku mendesah menutup cerita. Ku harap Dr. Mock melakukan hal yang sama. Rupanya tidak, percuma saja cuap-cuap panjang lebar kalau ternyata ia kebelakang. Lalu, menyodoriku sebuah gelas panas berisi kopi kental. Ku ambil dan uapnya berjejalan masuk ke rongga hidungku seketika.
            “Tentu haus. Silakan,” Lelaki yang memberi gelar dokter pada dirinya sendiri itu juga menyeruput kopi buatannya.
            “Sentuhan terakhir,” katanya. Terdengar suara kursi ditarik. Menandakan ia kini tidak lagi keluyuran seperti tadi.
            “Dr. Mock,” kataku tertahan. “Apakah kau juga menyediakan jasa bedah plastik atau semacamnya?”
             Tak ada salahnya kan bertanya. Penghapus memori otak saja ia temukan, apalagi yang memang sudah ada didunia ini. Ia tinggal memodifikasi sedikit saja. Mudahkan.
            “Untuk yang satu kekurangan dan dua kelebihan tadi.” Tambahkan memperjelas maksud.
            Bodoh sekali aku ini. Kalau memang ia punya, bagaimana mungkin wajahnya lebih jelek dariku. Tunggu dulu, dokter kan tidak bisa mengoperasi dirinya sendiri. Sepertinya ia perlu seorang asisten kalau memang alatnya tersedia.
            Dalam hitungan tiga puluh detik, jeda kesunyian diantara kami.
            “Orang tidak akan menghargai kita, kalau kita membenci diri sendiri,” ucapnya tegas. “Pesek, jongos, atau apapun istilahnya itu, adalah pemberian Yang Maha Kuasa.”
            Aku tercenung.
            “Laila menuntut rasa percaya diriku. Bukan harta melimpah. Waktu itu, aku merasa seperti pungguk. Sedangkan gadis itu kuanggap rembulan di langit malam. Seandainya saja aku memahami ini lebih awal, Laila tidak mungkin marah padaku. Nyatanya suaminya kini lebih jelek daripadaku.”
            Dr. Mock menghentak-hentakkan jemarinya dengan keras diatas tuts. Terhenti sejenak, lalu terdengar keras lagi. Barangkali ungkapan emosinya. Atau otaknya juga perlu di install ulang, sepertinya.   
            Bagaimana ia bisa mendengar suara hatiku. “Oh, jangan!” teriaknya kemudian. Tempat duduknya berdecit. Dr. Mock mendekatiku dengan muka cemas.
            “Kau ingat siapa namamu?”
            “Laila.”

            Beberapa pulau terbentuk di atas bantal. Mungkin ini petunjuk, dimana bisa menemukan Dr. Mock sesungguhnya. Atau tidak sama sekali. Aku tak mau gara-gara lelaki itu, aku harus berganti nama. Dari Suparman menjadi Laila. Meskipun akibat kesalahan teknis.
            Ibu berang di depan pintu kamar. Mendapati anaknya tidak tahu diri. Tidur seeanaknya sementara tetangganya menggelar acara. “Iya, ya,” tukasku sebal. Aku mandi sekenanya. Berpakaian, lalu bergabung dengan mereka menyukseskan acara pernikahan ‘teman’ku.
Dr. Mock benar. Harus apa adanya.
Ah, Julaiha.


Senin, 14 Januari 2013 0 Messages

Sekolah Greater, Kehilangan Murid Paling Jenius

Just illustration. Pic' Source from ranyagroup.com
       Tidak perlulah menyebutnya apa. Kalian bisa menyimpulkan sendiri bagaimana sifat pak Soe itu. Sampai detik ini, aku belum menemukan orang yang lebih menjengkelkan daripada dirinya. Tiga kata dariku; egois, keras kepala dan antipati.
      Nanti saja menjelaskan bagaimana kami bisa bertemu. Satu catatan penting disini, 'jangan menghukum jika beberapa tulisanku nanti terinfeksi virus galau'. Ingat, kita belum deal bapak tua.
     Aku hanya khawatir ini bentuk pengalihan issue. Maksudku, sinyalemen pak Soe untuk tidak melanjutkan tulisannya. Memang sering begitu sih. Awalnya, aku menyukai tulisan beliau. Tapi setelah beberapa entry yang tidak terselesaikan membuatku jengah mengikuti perkembangannya lagi. Ambil contoh, Panggung Cinta Bertopeng, Secangkir Kopi, dan Pedagang Pagi yang sampai detik ini tidak kunjung selesai. Ku yakin ia telah melupakannya. Eh, kenapa dituliskan disini ya. Kalau pak Soe tahu bagaimana? Ah, katakanlah sebuah kritikan yang membangun. Kalau dongkolpun, paling ia kelak murka padaku. Jadi, kalian tidak perlu takut.
        Sebelum kalian membaca tulisan perdanaku, berikut e-mail yang dikirim oleh pak Soe beberapa waktu lalu.
"Belum menemukan titik terang, detektif Dann dan Prita meninggalkan Sarrin dan Vanisha untuk sementara waktu. Beralih pada kasus terbaru yang sama tidak biasanya. Mereka sekarang berada di Greater, sebuah sekolah menengah terpadu swasta terkemuka. Lima lantai pertama untuk jenjang pendidikan menengah pertama. Lima lantai lainnya untuk jenjang menengah atas. Sekolah itu menampung anak-anak paling jenius di negeri ini. Kebanyakan dari mereka bersekolah dengan beasiswa penuh terutama yang berasal dari keluarga ekonomi rendah. Luas areanya mencapai tiga hektar. Berdiri dikawasan itu juga asrama siswa dan guru yang bangunannya harus dibilang lebih dari lumayan. Lengkap dengan fasilitas perpustakaan online, galeri ekstrakurikuler; sanggar seni dan budaya, lapangan dan gedung olahraga. Singkatnya, siswa dikarantina selama masa pendidikan. Kecuali musim liburan tentunya.

Prita membuka berkas yang dibawanya. "Nici, 14 tahun, juara umum setiap tahunnya. Berkali-kali menjuarai berbagai lomba Matematika tingkat sekolah, lokal maupun nasional. Dan awal bulan depan akan mengikuti olimpiade tingkat ASEAN di Bangkok. Kontrasnya, hobinya adalah menulis dan berhasil di muat dikoran kota. Mengukur usianya, ia piawai meramu tulisan bergenre remaja dan anak-anak. Satu-satu teman terbaiknya adalah notebook."

"Anak yang suka menarik diri, kalau begitu. Lalu, latar belakang keluarganya?" Tanya detektif Dann. 
 
"Ayahnya kuli di pelabuhan dan ibunya adalah ibu rumah tangga tulen."

Lelaki itu melonggarkan dasi dengan menarik-nariknya. "Bisa dikatakan bukan motif pemerasan. Kalaupun iya, pelakunya salah besar. Bukankah anak-anak wali kota dan beberapa duta besar juga bersekolah disini." 

"Tepat. Saya juga berpendapat demikian, sir. Hal yang paling mencolok dari Nici adalah otaknya. Mungkin ini bisa kita jadikan batu pertama penyelidikan." Semangat Prita mulai bertunas. 

Dann tersenyum pada Prita sebelum mengangkat alat komunikasinya lalu mendekatkan ke telinganya, "oke, terima kasih." 

"Informasi dari teman sekamarnya dan sekelasnya juga akan sangat bermanfaat. Jadi, jangan terlewatkan. Juga laptop Nici." 

Prita mengangguk dan menjauh meninggalkan detektif Dann. Dann kemudian bertanya kepada salah satu staf sekolah yang ada disana, "bisa saya bicara dengan penjaga gerbang sewaktu Nici pergi?"

"Perempuan?" 

"Ya, berumuran awal lima puluhan ku kira. Mengaku kerabat dari pihak ibunya. Berbadan bongsor dan tingginya diatas rata-rata bentuk fisik wanita. Suaranya juga terdengar aneh. Suratnya yang meyakinkanku hingga memanggil Nici menemuinya."


Dann mengerutkan jidat, "surat?"

"Surat keterangan dari rumah sakit yang menyatakan Salma, ibunya Nici sekarat di sana." Itu prosedurnya. Kalau tidak keadaan darurat, siswa disini dilarang berkeliaran diluar sana." 

Artinya Nici mengenal orang itu. Jika tidak, tidak mungkin ia masuk ke mobil dengan sukarela setelah menggesekkan kartu identitasnya pada mesin pencatat keluar-masuk. 



Sashi, sekuriti itu kembali menambahkan, "kami mulai khawatir ketika Nici tidak kembali dalam waktu dua jam kemudian. Itu adalah batas waktu keluar dari Greater. Kecuali ada pemberitahuan dari yang bersangkutan dengan bukti meyakinkan. Seperti pernyataan dari pihak ke tiga."

Lelaki itu menelan ludah sebentar. Lalu melanjutkan, "Staf bagian kedisiplinan sekolah mengecek langsung ke rumah sakit dan mendapati tidak ada pasien mereka bernama Salma. Bagian administrasi juga menyangkal telah mengeluarkan surat keterangan dengan tujuan ke sekolah Greater."
 ............
Dann dan Prita masih bertahan di ruangannya saat matahari telah tergelincir ke ufuk barat.  Dari situ mereka bisa menyaksikan cakrawala jingga begitu mempesona di balik pancangan balok-balok raksasa.

Diam mereka bukan kebisuan. Tapi mencerna dan menganalisis.

Detektif Dann membuka keheningan dengan mengatakan, "ini." Prita melihat dan mengambil apa yang disuguhkan atasannya. 

Gadis itu membaca dalam hatinya. Kalimat tanya pertama yang ingin diajukannya adalah 'kenapa bisa?' 

"Semakin menarik. Besar kemungkinan ia tahu dimana Sarrin dan Vanisha saat ini. Namun, kita harus melacak keberadaannya terlebih dahulu."

"Profesor Qiman...." 

        Penasaran nih. Terungkap ayah Sarrin ternyata seorang profesor. Profesor macam apa ya dirinya?


Cerbung 4 Dimensi


Minggu, 13 Januari 2013 0 Messages

Kritis! Terpaksa Memindahtangankan pada Pemuda Galau

     Oh, beribu maaf saya haturkan. Ini diluar dari dugaan kami semua. Berawal dari prosesi melahirkan Andira terbilang terlalu pagi, menjadikan keadaan lebih sulit. Daya tahan tubuhnya menurun drastis. Sekarang saja ia terbaring tidak sadarkan diri pasca operasi sesar. Namun, alhamdulillah anaknya lahir dengan selamat. Berbobot 1,8 kilogram dan harus di masukkan ke dalam tabung.
        Karenanya, sama sekali tidak memungkinkan untuk melanjutkan cerita Sarrin dan Vanisha beserta para detektif mereka saat ini. Lagipula Ahmad, pendengar setiaku, saat ini kelihatan jelas ikut khawatir atas keselamatan ibunya. Dan ia terus bertanya bisakah adiknya bermain bola jika dikurung di dalam kaca.
      Aku terburu-buru. Banyak hal yang harus aku lakukan. Menyelesaikan urusan administrasi, juga menghubungi suami Andira yang tengah bertugas diperbatasan Indonesia-Malaysia. Karlan namanya. Semoga titel tidak menghalanginya untuk datang segera ke sini. Selain itu, saudara Andira lainnya harus dikabari juga. Jika tidak, ayahnya ini yang akan menjadi sasaran kekesalan mereka.
          "Pak, perawat menanyakan anda. Katanya masalah administrasi."
         Sudah berapa kali ku bilang padamu Anna. Jangan menukar 'tentang' dengan 'masalah'. Jadinya hidup penuh masalah. Akan terdengar lebih enak jika engkau menuturkan, "Pak, perawat menanyakan anda. Katanya tentang urusan administrasi." Sekarang kita menghadapi masalah. Tapi layaknya benang yang kusut, harus diurai sedikit demi sedikit. Ya, ini berhubungan dengan bagaimana kita menyikapi dan menghadapi masalah tersebut. Oho, bukan waktunya berceramah sekarang.
           "Baiklah," kataku pada Anna. 
          Lihat sendiri, kan? Tapi tenang saja, aku masih punya kabar baik kok. Sampai masa kritis berlalu, aku akan menghubungi seorang rekan untuk mengisi kekosongan ini. Aku harap, bukan! Aku sangat yakin ia tidak kalah hebatnya dengan diriku. Beberapa sisi mungkin lebih. Janji, kalian akan menyukainya. 
        Tunggu sebentar.
       Sebaik saja pin itu dilekatkan pada dinding, dengan cepat keluar cahaya hijau sutra. Berbentuk batangan seperti tebasan pedang. Berputar-putar sejenak, lalu memunculkan sesosok wajah. Ah, ini dia. Wajah itu tengah kusut. Mmm...Selalu saja.
           "Assalamu'alaikum."
           Ia menjawab dengan lesu, "wa'alaikum salam."
       "Urus saja masalahmu segera, anak muda. Bangsa ini tidak perlu generasi yang lembek. Dan aku tidak akan bertanya ada apa denganmu."
    Tanpa diminta, ia menjawab, "virus GALAU tengah melanda. Para pakar belum menemukan vaksin yang tepat. Sebenarnya tinggal selangkah lagi aku akan jadi terkenal. Sayang, virus itu tidak memberiku kesempatan untuk bernafas. Dan ....." 
           "Kedengarannya mengharukan sekali. Semoga saja berhasil dengan vaksinmu nanti."
Ada jeda sejenak diantara kami. 
       "Baiklah, aku harus bergegas. Seperti biasa, tugasmu menggantikanku sampai aku menghubungi lagi. Lakukan yang terbaik. Sampai jumpa."
           Protes pemuda itu tidak kesampaian. Hubungan terputus sebaik saja aku mengambil pin dari dinding. Terkadang, sesuatu itu harus dipaksakan. Terlalu banyak argumen untuk tidak menyetujui. Setumpuk alasan untuk pembenaran. Tapi ingat, segunung sebab kenapa harus melakukan. 
       Sebagai kata perpisahan, aku hanya ingin mengucapkan sampai jumpa lagi. Dan do'anya jangan lupa. Ups, hampir lupa. Pemuda itu namanya Soe Junior.
         
Kamis, 10 Januari 2013 0 Messages

Berkenalan dan Cemas! Ah, Ceritanya Baru Mulai, Nak

         Well, wajah itu masih lekat ke arahku. Tak tahan rasanya untuk meninggalkannya dalam keadaan rasa ingin tahu yang luar biasa. Berhasilkah detektif Dann dan Prita menemukan lorong itu? Lalu, apakah bu Vanisha dan Sarrin kembali lagi ke dunianya? (lihat dua tulisan sebelumnya)
          "Kakek,  apakah di rumah ini juga ada lorong seperti itu?" Ahmad mulai bertanya. Ia adalah cucu yang paling kecil saat ini. Tidak pada bulan depan. 
        Padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi. Saatnya untuk beraktivitas di kebun belakang. Mengerjakan apalah, menanam sayur mayur lagi atau sekedar mengumpulkan keong perusak tanaman. Asalkan tubuh ringkih ini digunakan dengan penuh manfaat. Mengkonversi sinar matahari pagi menjadi sebuah energi. Masa dan waktu tidak akan pernah kubiarkan untuk membelenggu untuk berkarya. 
       Ku jawab pertanyaan itu dengan menyeruput kopi terakhir. Bersamaan dengan itu, lenyap pula kepulan asapnya. Anna yang kebetulan lewat bertanya kepadaku, "mau tambah lagi kopinya, pak?" Aku menggeleng. Dan ia pun berlalu mengejar si tukang sayur berkendara sepeda motor. Selain takut ketinggalan, ia juga tidak mau lepas melihat calon suaminya. Ada-ada saja. 
        "Menurut Ahmad, apa yang akan terjadi selanjutnya?" Tanyaku ulang mengalihkan inti pertanyaan Ahmad.
        "emm, mungkin....."
..........
        "Mungkin," wanita itu meninggalkan lawan bicaranya lalu menyapa Sarrin dengan muka ceria. "Halo anak ganteng." Ia mendekapnya ringan dan beralih pada Vanisha kemudian. "Ini..." ucapnya tertahan. 
           Vanisha memotong, "saya Vanisha, ibunya Sarrin."
        "Saya Loubo. Wah, senang sekali bisa bertemu dengan anda." Wanita itu merapatkan tangannya pada tangan Vanisha. "Anda tampak lebih hebat dari yang diceritakan anak ini."
        Diceritakan? Seharusnya, pikir Vanisha, menggunakan istilah 'menggambarkan' lebih tepat. Bercerita hanya bagi orang-orang yang bisa bersuara. Atau mereka tidak memiliki kosa kata tersebut disini. 
         "Demikian juga saya Nona Loubo, tapi tempat apa ini sebenarnya? Kami tadinya hanya duduk-duduk di tempat tidur, namun tiba-tiba sebuah lorong menggiring ke sini. Jujur, aku takut."
        Sebuah suara lain terdengar kurang bersahabat. "Dilarang bertanya tempat apa ini. Itu syaratnya. Saya Anien." Seorang lelaki renta bergabung dan juga menghulurkan tangannya. "Asal anda tahu saja nyonya Vanisha, bahkan Sarrin juga sama denganmu. Maksudku, sama tidak tahunya." Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak terbatuk. Nyatanya lepas juga.
         Vanisha menyambut Anien dengan menukaskan, "syarat yang aneh, tuan Anien."
        "Begitulah."
..............
       Sementara, tak lebih dari lima belas orang bergerilya dirumah bu Vanisha. Termasuk didalamnya detektif Dann, Prita dan si petugas forensik, Bayu. Kecuali mereka, anggota polisi lainnya memerika setiap sudut ruangan. Garasi, taman depan maupun belakang, dan lemari-lemari digeser dengan harapan suatu keajaiban muncul. Dinding pula diketuk-ketuk, namun tidak satupun yang mengindikasikan rongga disebaliknya.
       Mereka berkumpul di ruang tengah dengan muka kecewa. Prita yang tadinya sangat yakin akan memecahkan teka teki ini juga tampak kusut oleh perasaannya sendiri. Detektif Dann tidak begitu. Rasa optimis masih lekat pada dirinya meski saat ini hasilnya nihil. Sementara Bayu tetap kurang percaya dengan penuturan Prita bahwa dirumah itu ada ruang rahasia. Berpikirlah rasional. Untuk apa?
           "Kami sudah mencari di setiap sudut ruangan, nona Prita. Seperti yang anda lihat, tak satupun dari kami berhasil."
         Gadis itu mengangguk pelan. "Begitu pula dengan kami di kamarnya Sarrin. Tadinya ku kira akan menemukan pintu masuk ke bawah tanah di bawah tempat tidur bocah itu." Prita mengambil jeda sebentar. "Maaf telah mengganggu pekerjaan kalian."
...............
          Anna datang dengan muka cemas. Awalnya ku pikir sesuatu terjadi pada Ahmad. Rupanya ini lebih mengerikan. Air tuban, Andira, putriku sekaligus ibunya Ahmad telah pecah. Kok bisa? Kata dokter pribadinya, ia akan melahirkan paling tidak menjelang akhir bulan depan. Ah, manusia biasa saja salah walaupun dirinya seorang ahli.
          "Cepat Anna, panggil Barito. Siapkan mobil."
          "Baik pak."
          Aku mencuci tangan setelah bergelut dengan tanah basah.
        Ku dapati cucuku itu menangis merespon gelagat buru-buru kami. "Tidak apa-apa sayang," bujukku. "Kamu akan segera melihat adikmu. Ayo."
..............
         
         
          
        

   

0 Messages

Jeda. Local Ads: Film Kembang Polaria


       Kita tinggalkan sejenak tentang Sarrin dan ibunya, bu Vanisha yang memasuki dunia entah apa. Beralih pada berita yang cukup menghebohkan akhir-akhir ini di Kabupaten Sambas. Berikut liputannya. 
Menggemparkan! KEMBANG POLARIA berhasil menduduki peringkat teratas Box Office di bioskop-bioskop Sambas sebulan terakhir ini. Dengan penghasilan perminggu tidak terhitung jumlahnya, telah mengalahkan debut artis papan atas Reza Rahadian dan Bunga Cinta Lestari dalam HABIBIE dan AINUN. Kelanjutan film ini rencananya baru akan digarap pada tahun 2013 dan akan dirilis dalam pada waktu yang belum ditentukan. Yang pasti, masyarakat secara keseluruhan sangat antusias ingin menyaksikan jilid keduanya.

Catatan: Belum ada satupun Bioskop di Sambas. He..he...he....

Jumat, 04 Januari 2013 0 Messages

Jadi, Itu Semacam Pintu Gerbang? Benar Begitu?

     Nah, kira-kira apa yang sesungguhnya terjadi pada Sarrin dan ibunya, Vanisha, yang raib di dalam rumahnya sendiri. Kita telah sepakat sebelumnya kan, bahwa ini bukan angkaranya si monster di bawah ranjang. Jelas, karena itu hanya ada di dalam dongeng  pengantar tidur. Atau lebih tepatnya, cuma plot dalam film dan karangan si ibu agar buah hatinya 'patuh' padanya. Lalu apa kelanjutannya?
.........
       Vanisha histeris mendapati Sarrin tiba-tiba muncul dari tempat tidur. Orang yang mendengar suaranya akan mengatakan wanita itu sangat menderita. Salah, padahal ia sangat, sangat bahagia. Menemukan kembali putri semata wayangnya, lega dan lepas dari rasa kehilangan. 
      Sarrin melompat dari tempat tidur, sementara Vanisha berlari menghampiri bocah itu. Mereka berpelukan seolah tidak bersua dalam waktu yang lama. Demikianlah, pemergian Sarrin yang dikira tidak mungkin kembali lagi sangat menghawatirkan. Vanisha mendekap Sarrin hingga bocah itu sulit bernafas. Deraian air mata, tawa dan kecupan sayang mewarnai pertemuan itu. 
        "Kamu tidak apa-apa kan, sayang?" Kembali Vanisha memeluk anaknya, takut kehilangan. Terasa olehnya anggukan kepala Sarrin di pundaknya. 
       "Ibu khawatir tidak akan bertemu denganmu lagi, nak. Kenapa kamu meninggalkan ibu?"
      Sarrin menggeleng menyanggahan pernyataan dan pertanyaan ibunya. Andai mulutnya bisa digunakan untuk berbicara, maka akan lebih mudah menjelaskannya. 
     Pelukan itu lepas juga. Sarrin menarik tangan ibunya mendekati tempat tidur. Jemarinya mencari-cari sebuah tombol dan ketemu. Ia mendahului ibunya naik. Dengan was-was wanita itu ikut melakukan hal yang sama. Sarrin memberi aba-aba untuk bersiap. Dalam hitungan detik, tempat tidur itu membelah diri dan memakan tubuh ibu dan anaknya. Vanisha panik bukan main dan kembali bersuara nyaring, namun teredam oleh lorong yang mengular panjang.
...........
        "Sarrin?" Vanisha mengharapkan sebuah jawaban ini semua. Kenapa bisa ada sebuah....ia tidak tahu menyebutnya sebuah apa. Sarrin melangkah dengan santai seolah akrab dengan dunia 'baru' tersebut.  
          
Sabtu, 29 Desember 2012 0 Messages

Lenyap, Mungkin Ada Monster di Bawah Ranjang

     "Yang terakhir melihatnya adalah ibunya sendiri."
     Sersan Dann diam sejenak, "katanya, Sarrin tengah tidur."
     Prita, gadis yang bertindak asisten detektif Dann itu mengitari bangkunya. Seperti atasannya, ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin seorang anak bisa menghilang begitu saja ketika tidur. Apakah ini gejala sleepingwalking yang dialami oleh bocah itu? Mereka telah membahas sedikit tentang kemungkinan ini dan kata Detektif Dann peluangnya kecil. Semua pintu rumah dalam keadaan terkunci dengan sempurna. Jadi, sindrom ini langsung diketepikan.  
     "Bagaimana dengan ibu Vanisha? Maksudku, adakah kemungkinan ia yang melakukannya?"
     Detektif Dann berjalan menuju jendela. Matanya menjejalah sudut kota dibawah gedung tempatnya berdiri. "Segalanya bisa saja terjadi. Tapi sejauh ini belum ada motif nyata bagi wanita tersebut melakukan hal itu. Lagi pula, kau lihat sendirikan bagaimana ia merasa sangat kehilangan putri tunggalnya. Sorot dan  mata tidak bisa berbohong. Meski itu bisa dipelajari."
     Prita mengangguk. Mereka berdua sebenarnya menaruh prasangka pada ayah Sarrin yang telah lama berpisah dengan ibunya. Namun, tiga tahun terakhir keberadaannya sama sekali tidak diketahui oleh Vanisha. 
       HP Detektif Dann berbunyi heboh bernada dangdut kontempor di saku celananya. Sulit bagi Prita untuk tidak mengulum senyum pada lelaki empat puluh tahun itu. Begitu juga dengan rekan-rekan mereka yang ada diruangan. Dann merasa konyol dengan nada dering tersebut. Pasti itu ulah anaknya, pikirnya.
        "Hallo. Ya, kami segera ke sana." Dann bergegas meraih jaketnya yang tersampir di kursinya. Sementara Prita menunjukkan muka waspada dan penuh tanda tanya. "Ayo, Vanisha menghilang!"
...........
      "Pak Baidan, tetangga sebelah itu mendengar jeritan bu Vanisha. Ia bergegas mendatangi, namun tidak bisa berbuat banyak karena rumah terkunci dari dalam. Setelah beberapa kemudian, warga berkumpul dan memutuskan untuk mendobrak saja pintu depan. Hasilnya, pintu bisa di rusak sementara mereka tidak menemukan bu Vanisha dimana-mana. Menghilang seperti anaknya."
        Sementara Bayu, ketua tim forensik melaporkan, detektif Dann berpikir dalam dan memicingkan matanya. Prita yang ada disana juga sama sibuk menyimak. Ia tahu atasannya tengah membuat berbagai asumsi serta kemungkinan. Namun, sejauh ini gadis itu menebak ini seperti kasus penculikan yang dilakukan oleh profesional. Ia masih berpendapat bahwa hilangnya Sarrin dan sekarang ibunya berhubungan dengan ayah anak tersebut.
        Detektif Dann mencatat beberapa poin penting di buku sakunya berkenaan dengan laporan Bayu. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun menjelajahi setiap sudut rumah. Berharap menemukan sesuatu yang tidak ditemukannya kemarin. Prita pun mengikuti melakukan hal yang sama. Mereka berpencar.
         Di luar, warga terus berdatangan untuk sekedar melihat dan ingin mengetahui perkembangan terbaru kasus ini. Demikian juga halnya dengan para wartawan yang kehausan berita terkini. Seolah hembusan nafas detektif Dann pun mereka laporkan.
         Prita berteriak memanggil detektif Dann. Dann dengan cepat mendatangi sumber suara yang ternyata berasal dari kamar Sarrin. Prita menunjuk ke arah tempat tidur Sarrin tepat saat detektif tiba. Kali ini sang detektif kalah satu langkah dari bawahannya. Sejujurnya, ia bingung dengan apa yang dimaksudkan Prita. Langkah kaki bergegas berhenti di belakang mereka. Lalu bertanya, "ada apa?" Bayu mendongakkan kepala lantaran tubuhnya tidak bisa dijejalkan antara Prita dan detektif Dann di muka pintu kamar.
         "Apakah ada barang-barang yang sudah disentuh sejauh ini?" Prita bertanya dengan semangat penuh pada Bayu.
"U ntungnya warga tahu sedikit tentang prosedur penyelidikan. Mereka mengatakan sejak masuk ke rumah ini, belum menyentuh atau mengubah sesuatu apapun."
        "Bagus!" jawab Prita. Detektif Daan mengekor Prita yang berjalan mendekat tempat tidur. Sampai detik ini, ia masih juga tidak mengerti apa sebenarnya maksud gadis itu. Satu-satunya yang dilihatnya dari tempat tidur itu adalah spray yang lasak.
          "Tuan detektif," Prita menggunakan kata 'tuan' setiap kali merasa mendahului atasannya. Detektif Dann tahu itu, dan ia sama sekali tidak merasa terkecilkan dengan panggilan itu. Justru lelaki tersebut senang dengan pencapaian anak buahnya. Karena sehebat apapun dirinya seperti yang diberitakan media, suatu saat ia harus memiliki generasa sekompeten atau harus jauh lebih hebat dari dirinya. "Mungkin anda tidak sadar, tapi saya betul-betul ingat kondisi terakhir kita meninggalkannya. Rapi dan seolah tidak tersentuh. Kecuali, kecuali ada orang yang menyentuhnya, bukan?"
          Prita jeda sejenak.
          "Dan kita juga telah melarang bu Vanisha hal itu selama masa penyelidikan."
Detektif Dann mengangguk hampir tidak kelihatan.
          Bayu yang mengelus janggut tipisnya keheranan mencoba menyimpulkan, "jadi ini ulah bu Vanisha?"
Padahal ia bertanya langsung kepada Prita. Tetapi detektif Dann yang menjawabnya dengan singkat, "bukan!".
Prita juga menyambar dengan tegas, "ya, bukan!"
"Jangan-katakan-ini-ulah-monster-di bawah-ranjang?" Bayu tidak percaya dengan ucapannya sendiri. Detektif Dann dan Prita mengulum senyum kemenangan.

   
=nol besar kalau kau menganggap itu ulah makhluk bertubuh jelek=

    
 
;