Jumat, 02 November 2012 0 Messages

Misteri Tercabutnya Batang Asam


            Aku sekarang bisa mengangkat kepala lebih tinggi. Bukan hanya itu, kaki juga bisa sebenarnya. Meletakkannya diatas meja sambil menyandar pada punggung kursi empuk. Betapa enakknya ketika memerintah mereka yang sering menganggukan kepala dengan cepat. Ku harap lebih cepat pula kerja mereka. Jika tidak, lebih baik enyah saja dari hadapanku. Satu hal yang lebih penting dari ini semua adalah Mak. Mak tidak akan pernah lagi marah-marah kepadaku. Bukannya tidak pernah, hanya memang tidak sempat. Ia terlalu sibuk dengan mobil baru dan menghabiskan uang delapan digit didalam cek yang kuberikan. Hidup memang terasa begitu indah.
            Itu semua berawal dari sebuah impianku. Tentunya saat ini aku telah berhasil merintis, membangun dan mengembangkannya. Deep Sleeping Hall, itulah namanya. Awalnya aku dicemooh oleh siapapun yang kuberitahu tentang ide ini. Termasuk Mak. Lebih gilanya lagi, dikiranya aku telah gila. Dan sekarang mata mereka hampir keluar dari rongganya ketika mendapatiku benar-benar telah sukses sebagai pemilik gedung pencakar langit ini. Kurasa aku memang sedikit gila.
            Profesi sebagai pengangguran kelas kakap menyebabkanku banyak waktu luang untuk membaca. Juga mempraktekkan pastinya. Kata orang-orang yang mengaku bijak, bisnis dimulai dari apa-apa yang kita senangi. Sulit memang pada mulanya lantaran hobiku adalah tidur sepanjang hari. Tak lepas bermalas-malasan pula. Jenuh dan muak mengikuti keinginan mak untuk terus dan terus melayangkan lamaran ke banyak perusahaan. Bukannya apa, mereka selalu menekankan pentingnya pengalaman kerja. Itulah lingkaran setan sesungguhnya. Fresh graduate memang lihai dalam teori barangkali, namun disisi lain pengalaman sering kali tidak pernah didapat, kecuali dengan bekerja. Dan untuk bekerja harus masuk ke perusahaan.
            Disingkat De Es Ha, bisnisku ini bergerak dibidang jasa. Menyediakan tempat untuk pemuda pengangguran berduit, anak orang-orang kaya misalnya. Juga tempat tidur-tiduran dan bermalas-malasan sepanjang hari. Karena aku tahu, kebanyakan pemuda di negeri ini suka seperti itu. Sukanya menjadi kaya hanya dengan mengucapkan bim-sala-bim.
            Lamunanku tersentak lantaran pintu digedor dari luar. Entah sejak kapan dua tungkai kakiku ternyata telah ada diatas meja. Tak berniat sama sekali menurunkannya ketika mempersilahkan seseorang untuk masuk. Ku pikir itu hakku selaku bos disini. Siapa yang melarang coba? Di tempatmu, kamu bisa melakukan apa saja.
            “Masuk!” Perintahku ketus.
            Wanita paruh baya dengan rambut kusut masai. Mengenakan daster lusuh dan muka lusuh pula. Sepertinya aku mengenal wanita ini, pikirku. Tatapannya nanar ke arahku menandakan amarah tertahan. Berani sekali marah-marah di ruanganku. Memangnya pikirnya dia siapa?
            “Aku ni makmu!” teriak wanita itu sembari menyemburkan lahar panas dari mulutnya. Matanya berubah merah. Menyeramkan.
            “Mak?”
            “Dah jam tujuh ni, Dung. Pokok e jangan sampai wawancaramu di bank hari ini gagal!” wanita itu diam sejenak. “Awas kalau mak datang kau belum bangun juge!” ancamnya lagi.
            Uh…bisa aku tidur lagi? Lima menit pun jadilah.
………..
            Aku senang membaca novelnya S. Marga GD. Detektif dan partnernya yang selalu saja berhasil mengungkap teka teki kasus yang tengah mereka hadapi. Juga senang pemilihan setiap judul novelnya. Sering dan hampir semuanya sebenarnya di dahulu dengan kata ‘misteri’. Gaya tulisannya juga berbeda penulis tanah air pada kebanyakan. Mungkin lantaran nyonya bernama banyak disingkat itu sering menerjemahkan novel besutan Christy Agatha ke dalam bahasa Indonesia.
            Keseringan membaca itu pula menular pada keseharianku. Sedikit-sedikit, seolah selalu saja ada misteri dalam setiap kejadian. Seperti tiba-tiba mak mendapat telepon dari seorang laki-laki. Ku intip dari balik pintu ketika mak berbicara. Apakah ia jatuh cinta lagi? Boleh-boleh saja kalau demikian adanya. Toh ayah sudah sepuluh tahun dikebumikan.
            Waktu itu nada bicara mak jauh dari tersipu seperti yang ditunjukkan oleh seorang wanita yang lagi kasmaran. Jauh sama sekali. Lebih tepatnya biasa-biasa saja. Di balik pintu, aku masih mengintainya. Tak lama berbicara, HP pun beliau matikan. Penasaran menggerayangiku. Tanpa panjang lebar, ku minta penjelasan.
            “Salah sambong tu,” Tukasnya singkat.
            “Iye ke? Aku masih kurang percaya.
            “Iyelah, Dung.” Mak mulai panas.
            Lanjutnya lagi, “ia mo ngomong dengan Syahrini. Mane gak Syahrini ada disini. Kalau Sarimah ade lah.”
            Nama mak memang Sarimah.

            Setelah wawancara di bank, aku melarikan diri ke ‘markas besar’ daripada kenyang makan amukan mak. Disini tentunya lebih aman dan sepi. Aku bisa mengulang mimpi tadi subuh bila perlu. Atau, atau menyusun strategi praktis supaya Deep Sleeping Hall itu segera menjadi nyata. Kira-kira dimana aku akan membangunnya, ya? Di kampung ini jelas tidak masuk akal.
            Di…di…..? Terputus oleh kemunculan si telinga gajah yang masuk tanpa mengucapkan salam. “Saye ade berite bagos ni. Mo dengar tak, Dung?”
            Jujur, telinganya normal seperti milikku juga. Di panggil telinga gajah adalah lantaran informasi apapun seputar kampung seolah tak pernah lepas dari pendengarannya. Dari isu pemilihan kepala desa beserta calon-calon yang bakal berkompetisi, sampai pada rencana laki-laki lajang berumur yang akan membuat semacam klub para bujang. Dan kali ini aku penasaran, apakah berita yang dibawanya benar-benar bernilai.
            “So?” tanyaku sok keren.
            “Tadi pas aku lewat tu ye, nek Ripah marah besar. Bukan ke aku. Tapi menuduh semue orang yang lewat depan rumah e.”
            “Masalahnye?”
            “Batang asamnye tu ha. Di cabut orang. Padahal baru jak besar segini ni.” Jumadi mengangkat tangannya sepingang.
            “Dapat dak orangnye?”
            “Kate nek Ripah, orang itu kejam benar…gak. Tak pe lah kalau ditepi jalan atau di tengah jalan. Ni tidak. Di halaman rumanye sorang.” Jumadi menjelaskan lagi.
            Aku tak tertarik untuk bertanya lebih jauh. Lebih menarik jika kembali tenggelam ke urusanku sebelumnya. Aku berpaling dari Jumadi. Ia bergerak ke mukaku, “barang siape bise menemukan pelakunye, ade bayarannye.”
            Uang. Kita memang perlu uang untuk sekedar mengisi pulsa. Hitung-hitung sampingan daripada terus menggerogoti uang pensiun almarhum ayah. “Berape?” Aku mulai berminat lagi.
            “Pokoknye ade. Nek Ripah tak mo bilangnye berape.”
            “Markas besar” yang hanyalah posko siskamling seolah berubah menjadi kantor detektif. Dimana aku, Badung, sebagai Hakim dalam novel S.Mara GD dan Jumadi sebagai Ghazali. Dan saraf-saraf otakku pun mulai tersambung satu sama lain. Langkah pertama kali yang harus dilakukan adalah mendatangi TKP untuk membuat hipotesis dasar. Sempurna.

…………..
            “Wuihh..udah kerje dimane, Dung?”
            Pertanyaan nek Ripah seolah sindiran ditelingaku. Jelas-jelas kemarin ia berkunjung ke rumah dan berbincang banyak dengan mak. Tak luput pula perihal hari ini aku mengikuti sesi wawancara di bank. Atau lantaran tidak seperti biasanya, aku saat ini mengenakan kemeja panjang yang digulung sampai siku serta mengenakan celana kain. Boleh jadi. Tapi kan tidak secepat itu diterima kerjanya.
            “Nek…” Bla-bla-bla. Aku mulai mengecek kebenaran yang disampaikan oleh Jumadi. Sementara Jumadi benar-benar bertindak sebagai asisten luar biasa hebatnya. Duduk seperti patung di sampingku dengan buku saku dan pena di tangannya. Mungkin ia telah mencatat semua ucapanku. Juga bagaimana nek Ripah duduk menghadapi kami.
            Jidat nek Ripah yang secara alami berkerut, makin berkedut-kedut karena pertanyaan yang ku lontarkan. Susah payah ia membuka folder-folder memori di storage otaknya. “Oh iye, betol tu, Dung.” Katanya hampir membuatku lepas jantung.
            Cerocosnya berlanjut,”kurang asam benar gak budak tu yang tege-tegenye mencabut batang asam saye. Kalau dapat orangnye, ku buat sambal asam die tu.” Tangannya memperagakan mengulek sambal.
            “Kire-kire siape, nek?” Tanyaku lagi.
            “E…eh, manelah saye tau. Kalau tau tak perlu saye marah-marah macam ni. Ha, kita’ bedua nak ngape jak datang ke sini? Atau jangan-jangan kita’ yang cabut batang asam saye.”
            “Tadaklah, bukan kami, nek.” sergahku cepat. “Justru kami ni mo bantu nenek cari pelakunye. Gimane?”
                “Baguslah kalau macam tu.” Raut lega yang ditampilkan nek Ripah.
            Bukan itu jawaban yang ku inginkan tepatnya. Ku harap nek Ripah segera menyebutkan nominal upah yang akan diberikannya kepada kami jika berhasil. Dan aku yakin akan berhasil.
            Baiklah. Daripada mendesaknya yang akan membuatnya naik darah, aku mulai bekerja. “Kembali ke awal, nek. Kire-kire siapa yang nenek pikir melakukan ni?”
            “Kan udah saye katekan tadi, nenek tak tau!”
            “Kire-kire jak nek.”
………….
            Sela yang pertama kali menemukan batang asam muda itu yang sudah layu pagi itu. Artinya, kejadian pencabutan itu telah lebih dari dua puluh empat jam. Ia menemukannya di tepi jalan. Orang super jahil seperti apa yang sanggup melakukan ini. Tepatnya, apa motif utamanya. Balas dendam? Mungkin saja. Terlebih bocah yang sering di halau oleh nek Ripah bermain dihalamannya. Dapat satu.
            Namun dalam penyelidikan, kita harus bisa melihat apa yang kecil dan mungkin tidak terlihat. Dari pertemuan dengan nek Ripah siang tadi, kami mengetahui bahwa ternyata ia suka memelihara kucing. Sekedar mengusir sepi keseharian. Bukannya ia tidak memiliki anak, nek Ripah mengatakan ia di sia-siakan anak-anaknya. Berseberangan dengan pendapat kami, nenek itu keras kepala. Setiap lebaran Budi, anak lelakinya selalu datang. Selalu pula meminta agar maknya itu tinggal bersamanya. Nek Ripah menolak keras. Demikian pula dengan Mala, putri sekaligus si bungsu, seolah kehabisan kata untuk membujuk maknya pindah bersamanya. Jadi siapa yang harus disalahkan? Masalahnya nek Ripah ingin anaknya tinggal dikampung ini saja bersamanya. Lalu, mau makan apa mereka nanti semuanya. Mencari kerja dikampung ini sesulit menemukan jarum di dalam gudang jerami.
            Nek Ripah benci anjing. Itu memang suatu perilaku terpuji, pikirku. Dan kami pun bertanya orang-orang yang akhir-akhir ini berinteraksi dengannya. Ia menyebutkan Sumi, si tukang jamu sepeda. Memang disini tukang jamu sudah modern. Tak lagi menggendong, bahkan pakaiannya pun kadang seperti orang mau ke pasar. Leging, bu!
            Yang kedua, Sela. Itupun pada saat melaporkan batang asam muda pada nek Ripah. Jadi tak ada salahnya jika memasukkannya dalam kategori tersangka. Selanjutnya ia menyebutkan satu per satu anak-anak yang selalu bermain dihalamannya. Di bumbui dengan betapa bencinya ketika tidur siangnya terus diganggu oleh mereka itu. Tukang sayur pun tak lepas. Rutinitas harian lelaki legam berkumis itu menjajakan dagangannya di kampung. Ia warga kampung sebelah. Dan terakhir yang mampu disebutkannya adalah wanita berjilbab pink yang satu hari sebelum kejadian itu datang untuk minta sumbangan. Dalam hal beri memberi, nek Ripah bisa dibilang sedikit pelit, menurutku. Juga seperti saat itu, wanita yang jelas-jelas membaca proposal pembangunan mesjid palsu pulang dengan tangan hampa. Merengut-rengut tak jelas sepanjang jalan.
………….
            Aku dan Jumadi menggelar rapat tertutup dan sangat rahasia di markas besar. Agendanya menetapkan tersangka potensial dari beberapa orang yang disebutkan oleh nek Ripah. Motif utama pelaku tentunya. Kami menggugurkan satu per satu tersangka. Filterisasi selesai. Dan aku mengeraskan rahang. Sepertinya pekerjaan kedepannya sangat sulit. Satu-satunya nama yang muncul adalah wanita tak bernama. Bukan tak bernama, kami tak tahu namanya. Nek Ripah pun tak akan tahu siapa wanita peminta sumbangan waktu itu. Wanita itulah satu-satunya yang punya alasan untuk marah besar pada nek Ripah. Mencabut batang asam merupakan luahan amarahnya. Tentunya setelah nek Ripah menutup pintu depan.
            Mencari sosok tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Biasanya mereka bergerombolan meskipun daerah opreasinya berbeda-beda. Sayangnya lagi, mereka bukanlah warga setempat. Kesulitan pertama yang harus diselesaikan. Kemudahannya adalah, peristiwa ini masih baru. Kemungkinan besar para peminta sumbangan tersebut masih beroperasi di daerah dekat-dekat sini.
            Kami memutuskan nek Ripah kembali untuk meminta informasi lebih ciri-ciri wanita berkerudung yang disebutkannya. Dikejauhan, aku melihat nek Ripah membawa galah untuk memukul seekor anjing. Ia berlari-lari kecil mengejar anjing tersebut. Kurang kerjaan sepertinya.
            “Assalamu’alaikum, nek.”
            Aku yang membonceng Jumadi memarkirkan motor sekenanya. Lalu kami pun menghampiri nek Ripah yang kebingungan atas kemunculan kami. “Mo ngape?” tanyanya judes.
            “Mak e nenek ni. Kite mo nolong, die marah-marah pula.” hatiku dongkol.  
            Aku dan Jumadi bungkam. Mengikuti nek Ripah yang melangkah menuju rumahnya. Ia berhenti sejenak, menancapkan galah seukuran tiga meter pada tanah becek. Tepat di dekat batang asam muda dulunya tumbuh.
            “Siape jak di kampong kite ni yang suke piare anjing. Kurap lagi tu.”
            Jelas itu bukan pertanyaan kepada kami berdua. Ucapannya lebih kepada kekesalan terhadap binatang berkaki empat yang terus mengincar jemuran kerupuk basahnya.
            “Kalau tak pakai galah ni, tak mo peggi anjing tu. Tau die. Uh, kurang ajar. Uhuk..uhuk..” Nek Ripah terus saja berkicau. 
            “Nek, mo nanya…” Aku mencoba memutus ucapan nek Ripah.
            “Tau ke kita’? su Milahmu tu pinjam galah ni macam tak mo balikkan. Berape hari ye. Due atau tige gitulah. Nenek ambek di rumahnye, baru tau die. Besumpah tak mau agek saye minjamkan galah tu ke die.”
            Apa? Ucapan nek Ripah mengangguku. Sedikit banyak juga melunturkan niat untuk bertanya wanita peminta sumbangan. Mungkinkah?
            “Nek, batang asam nenek dimana?” tanyaku meyakinkan.
            Ia linglung. “Oh batang asam? Di sini ha. Ia berjalan mendekati galah yang tertancap. Matanya membesar. “Mane, mane batang asamku? Asamku……”
………….
            Ini bukan mimpi. Bukan mimpi. Aku memastikannya dengan mencubit kulitku sendiri. Sakit. He..he...senangnya.
Aku masih diruanganku. Masih pula duduk di kursi empuk dengan kaki tersangga meja. Lekat memandangi bingkai foto keluarga, ayah, mak dan aku didinding. Ada seorang wanita lain disana. Siapa kah dia? Oh ya ampun. Mana mungkin aku tidak mengenali istriku sendiri. Purnama pujaan hati yang wajahnya seindah purnama. Rambutnya tergerai bergelombang. Aduhai. Tunggu-tunggu! Ada bayi ditangan istriku. Dia anakku? Ya, anakku yang pertama. Tapi siapa namanya? Terngiang-ngiang suara menyebutkan ‘Topan’. Betul, Topan namanya. Kini segalanya telah sempurna. Kesuksesan dan keluarga telah kumiliki semuanya.
Aku beranjak menuju dinding kaca. Dari sini bisa melihat pemandangan kota di bawah. Betapa sudah majunya kota ini. Gedung pencakar langit berdiri tegak seperti balok raksasa yang ditancapkan ke bumi.
Suara teriakan bersahut-sahutan di bawah. Manusia berlari tunggang langgang tak tentu arah. Menjerit-jerit. Bumi bergetar. Di ruanganku, bingkai foto terhempas ke lantai. Telepon di meja demikian pula.
Apa ini? Raksasa? Berperawakan nenek tua sambil menenteng pohon asam luar biasa besar. Di ayunkannya sembarangan. Meruntuhkan gedung-gedung diseberang sana. Aku gemetar. Bagaimana mungkin nek Ripah berubah menjadi monster seperti itu. Matanya melotot ke arahku berdiri. Ceringainya menyeramkan. Tamatlah. Ia berpaling menuju Deep Sleeping Hall ku. Tidak………….Ini mimpi. Pasti ini mimpi...
Aku terjaga. Muka mak menyeruak di balik pintu. “Bagos, tidok jak agek!”


<sudah sangat lama ingin menulis kejadian ini. Alhamdulillah meskipun hasilnya belum maksi, kelar juga. Have a nice reading>
Selasa, 30 Oktober 2012 0 Messages

Juru Masak Dusun


            “Yakin, Od?”
            Kedua rahangku mengeras mendengar pertanyaan tak berbobot Jaidi. Ternyata ia masih juga sangsi perihal niatanku untuk ikut kompetisi itu. Kurang asam sekali, pikirku.
            “Sumpah pemuda!” tegasku singkat.
……………
             Aku senang tidak berada diantara mereka yang berkerumun di lapangan. Karena tempat kami berbeda yaitu diatas panggung. Dengan satu orang protokol, tiga juri yang menurutku bisanya cuma mengatakan enak atau tidak. Juga dua pesaing yang tak satupun dari mereka membuatku minder. Karena dengan seyakin-yakinnya, hari ini adalah sejarah hidupku terukir. He…He…!
            “Tes-tes-tes…” Pak ngah Judin memastikan kondisi mic-nya bisa berjalan sempurna. Sama seperti yang ia selalu lakukan setiap menjadi protokol di acara pernikahan warga. Karirnya dalam dunia protokoler memang cukup populer. Sayang saja hanya berkubang dilingkup dusun.
            Ia berucap salam. Lalu mengucap hormat pada jajaran pemerintah desa yang enak-enakan bernaung di tenda di sisi kiri panggung. Dilanjutkan dengan menyapa warga yang antusias dan meringis di bawah sinar mentari pukul delapan lewat.
            Di depan kami selaku peserta, ada tiga meja yang disusun agak berjauhan. Tak perlu ditebak apa diatasnya meskipun tertutup. Itu adalah inti dari kompetisi ini. Namun, saat ini aku lebih berselera untuk menekan sainganku. Bukankah itu biasanya yang harus dilakukan sebelum bertanding. Katakanlah sebagai pemanasan. Atau uji kesiapan mental.
            Tepat duduk disampingku seorang ibu muda yang sok cantik. Itu pendapatku. Dan ketika kutanyakan kepada Jaidi kemarin, ia juga berkata serupa. Jadi, kesimpulanku tidak salah. Namanya Jelita. Ah, nama dan orangnya seperti pinang di belah dua. Ketika membelahnya menggunakan parang tumpul. Buah pinang pun pecah bertaburan.
            Gayanya glamor ala kampung. Tahukan maksudku? Jika tidak, bayangkan saja sendiri. Kalau bicara keramahannya, aku mengakui. Dari pertama datang sampai setelah kurang lebih satu jam disini ia selalu tersenyum. Baik kepada kami sebagai saingannya maupun kepada warga yang kebanyakan mengharapkan kemenangannya. Itu wajar. Ku harap setelah acara ini, ia tidak sakit pipi. Terlebih ketika melihat aku memegang trofi kemenangan nanti.
            Jujur, aku merasa terganggu dengan ikutnya wanita itu dalam kompetisi ini. Tetapi justru karena itu juga kenapa aku ada disini. Cukup sudah Mak Ude selama 32 tahun memangku kepala juru masak dusun. Dan Jelita merupakan cucunya yang berusaha meneruskan “rezim” keluarganya. Tak sopan sekali.
            Lengsernya Mak Ude dari kursi juru masak kampung terjadi secara otomatis. Ia menutup usianya dengan angka 65 tahun. Seperti kebanyakan lansia, faktor penuaan dan komplikasi penyakit tersembunyi menyebabkan kematiannya. Beberapa hari sepeninggalnya, kepala dusun berembuk dengan warga untuk menentukan pengganti beliau. Maka kompetisi ini adalah cara penentuannya.
            Tatapku kepergok Jelita. Secepatnya kualihkan pandangan kepada warga yang masih saja antusias mendengarkan ocehan pak ngah Judin. Ku coba melakukan hal yang sama dari Jelita, tersenyum manis. Yang muncul kemudian hanyalah senyum masam. Karena aku sangat sadar, satu-satunya orang yang, itupun dengan terpaksa, mengandalkanku hanyalah Jaidi. Setelah ia mengatakan bahwa aku sedikit stres dengan cengiran gigi jongosnya. Sergahku pada pandangan Jaidi kemarin, “mungkin kau betul sob. Lantaran terlalu banyak menganggur, makanya pikiranku tidak lagi normal.” Aku diam sejenak sebelum melanjutkan, “asal tahu saja Je, tingkatan stres itu bertingkat-tingkat. Ku yakin berada pada tingkat yang produktif kok.” Jaidi menggeleng mendengar ucapanku.
            Alamak. Jelita mendapat poin satu dariku. Aku merasa menjadi pecundang dengan tidak membalas tatapannya tadi. Ia berhasil mengintimidasiku hingga ke pojok panggung. Aku terkucilkan. Rilek, tenang, dan tidak apa-apa. Kali ini mungkin ia bisa bertingkah seperti itu. Setelahnya, ku pastikan matanya akan keluar dari rongganya saking terperangah melihat kemampuanku dalam mengolah rempah-rempah. Menciptakan masakan terbaik untuk dusun ini. Lihat saja nanti.
            Rasanya tidak adil dan terlalu lengah jika mengabaikan saingan tertua kami. Jehan itulah namanya. Aku menyesal jika harus mengatakan ia sebaiknya tidak ikut saja kompetisi seperti ini. Lebih baik ia merias diri dikamar, lalu menunggu seseorang datang melamarnya. Belum sempat mengadakan penelitian memang, tapi dugaanku sepanjang hidupnya terlalu diberatkan dengan menjadi asisten Mak Ude. Terlalu antusias menjadi juru masak dusun suatu hari nanti. Itu menjadikannya lupa untuk mencari pendamping. Padahal masa kedewasaannya telah melampaui tiga puluh tahun.
            Berbicara pengalaman, ia nomor wahid tentunya. Namun sebuah perubahan tidak cukup hanya dengan itu. Perlu pemikiran yang segar dan kreatifitas. Pengalaman sebagai landasan agar berbuat lebih baik. Bila dipikir-pikir posisiku berada dimana ya?. Pengalaman atau kreatifitas. Ternyata Jaidi benar, bekalku hanyalah dekat dan ambisi tak jelas.
Bagaimanapun sungguh tak tega melihat Jehan meratap diakhir pertandingan kelak. Sembari mendengar bahwa dirinya menjadi runner up atau juara terakhir. Menyedihkan sekali. Pucuk dicinta ulam tak tiba. Tapi itulah kompetisi dan ia bersikap untuk mengambil resiko.
……..
Dan peluit pun berbunyi. Tepuk tangan dan dukungan dari bawah bergema. Menyebut-nyebut nama Jelita dan Jehan. Lalu dimana Jaidi yang kutugaskan untuk mengumpulkan anak-anak muda agar menjadi supporter-ku. Sampai saat ini aku bahkan belum melihat batang hidung tetanggaku tersebut.
Tantangan pertama adalah ayam masak merah. Merupakan seperti menu wajib di acara syukuran atau pernikahan di dusun. Gampang, pikirku. Antisipasiku tepat. Bagaimana memasaknya telah kupelajari dari bunda tercinta dua hari yang lalu. Bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan santan kelapa. Dengan tambahan cabe bubuk sebagai pewarna. Ada yang kurang. Tapi apa? Tak penting. Biasanya kalau masak-masak itu diberi kunyit, cengkeh, dan kapulaga juga boleh mungkin.
Waktu berlari begitu lajunya. Rasanya aku baru saja menghidupkan kompor gas dan memasukkan rempah-rempah. Menyatukannya dengan bahan utama yaitu daging ayam. Tiba-tiba tinggal lima menit tersisa. Sedikit lega ketika melihat dua pesaingpun sepertinya cukup kelabakan mengetahui hal itu. Pak ngah Judin tak henti-hentinya memberitahukan bahwa waktunya sebentar lagi berakhir. Jadi kepada peserta diharapkan untuk segera melakukan pekerjaan terakhir.
Aba-aba dari suara peluit nyaring terdengar. Secara spontan pula menghentikan tindak-tanduk kami diatas meja. Sayangnya aku tidak bisa melihat riak mukaku sendiri. Yang pasti, masakanku cukup sempurna.
Tak tahan untuk tidak memandang hasil lawan. Masakan Jelita menjadi sasaran pertama. Sakit rasanya untuk berkata jujur bahwa wanita itu memang pandai dan gemar memasak. Lauk pauk hingga beribu variasi kue. Informasi yang beredar, Jelita tak pernah alpa untuk membeli majalah seputar masak-memasak. Atau jangan-jangan?
Ku menyelidiki barangkali ada sesuatu di dalam saku celemeknya. Seperti catatan resep atau semacamnya. Di telapak tangannya boleh jadi juga ada. Kosong. Diatas meja? Semuanya bersih. Ternyata ia menyontek lewat memori otaknya.
Aku menggunakan istilah plating yang kuyakin Jehan tidak pernah tau apa itu artinya. Itu ku dapatkan dari seringnya menonton reality show Masterchef. Dan plating yang Jelita suguhnya sangat, sangat elegan. Ayam masak merah dengan wahana mangkuk kaca transparan. Bawang goreng bertabur diatasnya, potongan cabe merah, dan beberapa batang sawi di pinggirnya.
Sementara wanita paruh baya diujung sana mengukuhkan statusnya sebagai generasi tahun enam puluhan. Seperti kataku tadi, pengalaman mengekangnya untuk berkreatifitas lebih. Mangkuk yang dipilihnya adalah kaca yang berwarna susu. Hanya taburan bawang goreng diatas sebagai hiasannya.
Entah aku yang mengikuti Jehan atau ia yang justru meniru plating-ku. Sama persis soalnya. Apapun, aku sangat yakin diantara kami bertiga, Jelita justru melakukan kesalahan besar. Ia pikir ini kompetisi untuk menjadi juru masak di restoran atau rumah makan. Dusun nona. Ingat! di Dusun Karya!
Para juri telahpun melakukan tugasnya. Mencicipi, mengangguk-ngangguk sebentar lalu menuliskan poin di kertas. Bila dilihat dari latar belakang juri sih, besar kemungkinan nilaiku bakal tinggi. Juri pertama adalah sepupu dua kali dengan bapak. Tak mungkinlah ia tega melihat keponakan jauhnya ini ternista menanggung malu. Di runut dari silsilah keluarga pula, kakeknya ibu dengan kakeknya juri kedua masih saudara kandung. Itu juga nilai tambah buatku. Dan yang terakhir, tidak ada hubungan darah sama sekali. Dengar-dengar ia pendatang dulunya di dusun kami.
Tantangan kedua dan ketiga dilakukan dalam satu waktu. Yaitu Semur Sapi dan Sup Jamur. Durasinya dua kali lipat dari sebelumnya. Begitu aba-aba berbunyi kami pun mulai memasak. Lagi-lagi dalam hatiku berucap terima kasih kepada bunda tercinta yang susah payah mengajariku memasak semur sapi. Juga dua hari yang lalu. Tapi aku terus saja menggerutu sendiri. Siapa yang harus disalahkan? Jelas bunda tercinta juga karena tidak mengingatkanku bahwa acara dusun biasanya tak lepas dari Sup Jamur. Dan aku belum belajar apa saja rempah-rempahnya.
Lebih dari separuh waktu yang diberikan, aku telah menyelesaikan hidangan pertama. Kali ini memang agak susah buatku. Ketika aku hendak beranjak ke masakan ke dua, dua pesaingku sepertinya sudah sedikit santai. Tinggal menunggu air supnya mendidih lalu memasukkan bahan-bahannya. Tanpa sadar aku menyeka keringat. Bisa gawat jika keringatku masuk ke dalam rebusan air.
Teng! Semua beres. Aku menghela nafas panjang ketika telah menyiapkan dua hidangan diatas meja. Jelita lewat senyumnya mencoba menyemangatiku yang ketinggalan. Jangan sok baik deh, pikirku. Jehan tadinya juga serius memerhatikanku. Asal jangan perhatian lebih saja, tidak apa-apa. Tapi mungkin ia berdoa agar memasakku berjalan lancar.
………..
Jeda sejenak melepas lelah. Tenggorokan kami dimanjakan dengan es kopyor dan kue melimpah. Sementara pendengaran dan penglihatan di hibur oleh suara sumbang sukarelawan yang tak kaca diri. Itu lebih baik, lebih baik tidak usah menyanyi. Dikiranya tengah mengikuti audisi mencari bakat barangkali. Anehnya, warga seolah terpana dan terpesona mendengarkan alunan lagunya. Tepat! Bukan suaranya yang mendayu merdu. Namun musik dangdut selalu ada tempat di hati warga. Tak level.
Dari satu menjadi dua yang siap menyumbangkan suara sumbangnya. Yang kedua lebih baik dari yang pertama. Sama juga sih, lebih baik tidak usah saja. Bedanya ia membawakan lagunya ST12 dengan penuh penghayatan. Baru aku sadari rambutnya juga benar-benar Charli dan ada anting-anting kecil di kuping kanannya. Huh.
Sementara kumbang bernyanyi, dewan juri sibuk mendiskusikan torehan poin yang tertera di kertas masing-masing. Tentunya selain mengkalkulasikan hasil keseluruhan, mereka juga mempertimbangkan untuk kebaikan Dusun Karya kedepannya. Bagaimana kalau si anu menang? Dan bagaimana jika si dia? Sesekali satu atau dua dari mereka melihat ke arahku. Aku tahu artinya itu? Itu artinya aku!
Di kerumunan di bawah, akhirnya aku menemukan Jaidi juga. Ia sepertinya baru datang entah dari mana. Mungkin hilir mudik mencari anak-anak muda yang rela menjadi supporter-ku. Semuanya itu tidak lah bermakna sekarang. Buktinya tanpa Jaidi menjadi pendukung tunggal maupun rekan-rekan kaum muda pun, aku bisa melakukan tugasku dengan sebaik mungkin.
…………
Tak sabar rasanya melihat Jelita kecewa, menangis lalu berlari tunggang langgang. Juga, sebenarnya tak sampai hati dengan Jehan, kalau harus mengusap pipi keriputnya. Seolah menjadi seorang penghianat bagi pengorbanan wanita tua tersebut. Tapi, pikirku. Aku kan tidak bisa menyenangkan setiap orang. Kecuali aku dengan suka rela menyerahkan trofi kemenangan kepada Jehan. Tidak tentunya kepada Jelita.
Pak ngah Judin berdehem. Memandangi kami bertiga sekilas. Dimatanya, bisa saja kami seperti patung liberty yang pucat tertimbun salju.
“Dengan pertimbangan seksama serta hasil masakan yang diperoleh, dewan juri memutuskan….”
Aduh pak ngah Judin berlagak seperti MC dalam tv saja. Menunda-nunda untuk mengumumkan siapa pemenangnya. Degub jantungku semakin kencang. Aku seolah kehilangan nafas. Jelita disampingku pias, tapi dengan senyum tetap menyungging di bibirnya. Jehan pula menunduk kebawah. Apa mungkin ia melihat keriput pula dibuku jemari kaki-kakinya.
“Selamat, kami ucapkan kepada Jehan.”
Padahal disini tidak ada gunung. Bagaimana mungkin bumi tiba-tiba bergetar. Panggung ikut bergoyang. Meja melompat-lompat. Warga berlari kelimpungan. Berteriak histeris memanggil anak-anak, istri, dan suami mereka. Pak ngah Judin sekuat mungkin menenangkan, “harap tenang, tidak apa-apa,” katanya. Akhirnya ia tidak sanggup juga. Menyelamatkan diri entah apa. Yang pasti bumi berguncang hebat.
Itu hanya terjadi padaku. Sulit di percaya wanita itu memangku jabatan juru masak kampung. Lalu apa arti pandangan dewan juri beberapa waktu lalu. Apakah itu artinya meremehkan kemampuanku. Padahal aku sudah mulai memasak sejak kelas enam SD. Ketika bunda tidak menyiapkan lauk yang ku sukai, aku membuat hidangan sendiri. Nasi goreng misalnya. Dan itu berjalan bertahun-tahun. Saat kuliahpun tak jarang aku memasak untuk diri sendiri. Biarpun paling sering mi instan.
Itulah masalahnya ternyata. Puluhan tahun itu, aku tidak pernah memasak menu seperti kompetisi kali ini. Ayam masak merah, semur sapi, dan sup jamur. Oho, lihat sisi baiknya saja lah. Tidak mungkinkanlah pemuda sepertiku harus menjadikan juru masak dusun sebagai karir. Tidak mungkin!. Bagaimana tulisanku nantinya jika setiap minggu harus memasak dalam acara syukuran atau pernikahan di dusun. Terlebih bulan haji seperti saat ini akan ada banyak rentetan acara.
Ku dapati Jehan berjalan ke muka. Mengambil trofi kemenangannya dari salah satu dewan juri yang menyerahkan secara langsung. Tak lama, tepuk tangan bergema di seantaro lapangan. Baru kali ini sejak tadi, senyum Jehan mengembang. Mungkin, “wah akhirnya…” itu yang diucapkannya dalam hati.
Wanita disampingku tidak lagi seperti sebelumnya. Seolah kata senyum telah hilang dari kamusnya. Menguap ke udara dan berbaur dengan angin. Matanya mulai berkaca. Rautnya menunjukkan kekalahan. Apakah seperti ini ketika ia terdepak dari audisi Masterchef beberapa bulan lalu? Satu hal yang kutarik dari kesepakatan dewan juri. Pengalaman nomor satu.
………….
“Kemana saja?” Jelas aku marah dengan Jaidi yang lalai akan tugasnya. Kemunculannya diakhir acara sangat mengecewakanku. Meskipun kumaafkan setelahnya.
“Bawa ayah ke rumah sakit. Cuma salah makan kata dokter.” Jaidi membela diri.
“Alhamdulillah, untuk ayahmu.” tukasku kemudian melembek.
Diam sejenak.
“Je, bagaimana menurutmu jika aku ikut saja audisi Masterchef season 3 nanti?”
Jaidi terjungkal di belakangku.

By the way, namaku Oddy (Odd=aneh/ganjil)


           
           
                       

Jumat, 19 Oktober 2012 2 Messages

Kejutan Mengerikan


=Hanya fiksi belaka. Jika terdapat kesamaan nama dan tempat itu hanyalah kebetulan yang sengaja dijadikan kebetulan. Karena fiksi itu adalah cerita yang sejatinya terinspirasi dari kejadian disekeliling kita dan kemudian dimasukkan unsur fiktif di dalamnya=

Ku kira aku punya cara sendiri untuk, katakanlah “merayakannya” dengan konsep privasi. Hari ini benar-benar akan menjadi milikku. Di ulang tahun yang ke tiga puluh. Tak ada pekerjaan karena memang aku mengajukan cuti sakit, khusus untuk hari ini dan besok. Bersantai dan melakukan apa saja sepanjang hari. Tentu saja tanpa gangguan dari orang lain. Kecuali mereka yang kuizinkan mengganggu. Dan sejauh ini tak seorangpun. 
Sejak pagi tadi HP memang sengaja ku matikan. Setelah shalat subuh ku lanjutkan lagi tidur. Jika engkau melihat dari luar, tempat tinggalku saat ini laiknya rumah kosong. Tak berpenghuni. Tertutup rapat pintu maupun jendelanya. Liburan yang sangat menyenangkan. Agendanya; sampai menjelang siang akan ku habiskan dengan baring-baring sambil menonton televisi. Dan setelah menjalankan tugas sebagai seorang hamba, lalu makan, baru akan memulai perjalanan ke bagian paling utara di kabupaten ini. Menyisiri pesisir sendirian.
Uh...Aku bangkit dengan malas untuk menanggapi sebuah ketukan pintu dari luar. Gerutuku menjadi namun pelan. Ku intip siapa pengganggu kesenanganku tersebut dari lubang pintu. Tak ada. Apakah setelah manusia berhasil ku sisihkan, makhluk halus juga iseng ikut menganggu hari istimewa ini? Aku tak akan membiarkan itu kalau begitu. Ku memastikannya dengan membuka pintu. Mataku menyipit diterpa cahaya mentari pagi menjelang siang. Setelah beberapa saat baru retina ini mulai menyesuaikan diri. Dengan kondisi semrawut, ternyata aku menyambut kedatangan Ning Amah, tetangga sebelah. Ia menenteng sebuah rantang bertutup piring beling. Pantas saja ketika diintip tadi aku tidak melihat seorang pun, karena memang tubuh wanita berumur itu lebih rendah dari lubang pintu.
“Ning dengar kamu sakit.”
Terlalu berlebihan. Darimana dia tahu? Aku hanya tidak mau seorangpun memasuki kehidupanku hari ini dan esok. Itu saja! Tapi tak mungkin itu ku utarakan di depan Ning Amah. Sebaliknya aku menyusun muka kusut agar sandiwara sakitku mendekati benar adanya.
“Hanya kurang enak badan, Ning.” Tukasku tak jelas.
Ning Amah menyodorkan barang bawaannya. Uapnya masih mengepul ketika ku buka tutupnya. Rupanya sayur lodeh itu seketika membuat perutku berteriak histeris. Benar, sampai jam segini belum ada makanan berat yang ku jejalkan ke dalam perut. Namun untuk menanak nasipun aku sangat tak kuasa melakukannya hari ini. Seperti rencanaku, baru akan mendatangi sebuah rumah makan siang nanti. Jadi tidak keluar dua tiga kali. Sekali jalan, maksudku.
Walau bagaimanapun, tentu saja tidak enak menolak pemberian seorang tetangga yang begitu perhatian dengan kita sebagai tetangganya. Masa bodoh dengan guyonan orang. Yang ku lihat dari raut muka Ning Amah hanyalah keikhlasan dalam memberi. Tak lebih. Beginilah susahnya menjadi orang bujang yang bermuka diatas rata-rata. Tunggu-tunggu. Kalaupun Ning Amah benar memiliki perasaan “aneh” terhadapku, itu wajar. Artinya dia normal. Ha..ha…ha…Yang terpenting itu semua akan berakhir segera. Karena awal tahun baru nanti, statusku tak lagi melajang.    
Aku berucap terima kasih sebelum Ning Amah beranjak dari muka rumahku. Si bocah Anung di jalan ingin bermanja denganku. Tak berminat meladeninya, selekasnya ku rapatkan pintu lagi. Pergi ke dapur dan bermaksud memasukkan gulai itu ke dalam lemari. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak sabar untuk mencicipinya. Menguras semua sayurannya kemudian. Setelah ludes, ku tepikan rantang itu di sisi dinding. Ku lanjutkan pesta ku yang sempat terhenti.
…………
            Jelas pengelolaan di obyek wisata ini tak becus dan apa adanya. Hanya mengandalkan daya tarik alam untuk mengundang turis lokal agar berkunjung ke sini. Makanya, turis manca negara tak tertarik untuk sekedar melihat-lihat. Fasilitas umumnya tak tersedia dengan layak. Misalnya toilet umum yang kotornya minta ampun dan  kondisi penginapan yang sungguh, ku menyebutnya mengharukan.
            Ketika check-in tadi, gadis resepsionis melayani dengan ramah dibuat-buat. Jika bisa, ku ingin menyebutnya terpesona. Dibalik sikapnya itu, jelas ia tak lagi berselera bekerja disini. Mungkin bosan, gaji kecil, musiman, dan kurang menantang. Ku ajukan dua jempol jika yang terakhir benar-benar masuk poin. Kesimpulannya, tidak ada pilihan selain bekerja disini. Dan selain bekerja di negara tetangga tentunya.
Aku masih duduk di ruang tunggu. Menunggu seseorang selesai membersihkan kamar yang kupesan. Ditemani gadis yang duduk di meja resepsionisnya sejauh lima langkah. Sesekali ia melirik ke arahku. Tapi kini mukanya merengut-rengut. Dan satu-satunya alasan mengapa sampai itu terjadi adalah aku telah membuatnya dongkol. Sebenarnya aku sudah memasuki kamar nomor tiga sebaik saja ia memberikan kunci. Hanya saja tak mungkin tiduran di atas kasur yang berdebu. Makanya aku meminta pindah kamar saja. Dengan berat dan muka masam ia setuju. Di kamar empat keadaannya tak jauh beda. Bahkan kamar tiga lebih baik. Lalu, aku meminta pindah kamar lagi. Ia mendesis. Memencet beberapa tombol di HP nya.
Tak berselang lama kemudian datang seorang pemuda dengan senyum mengembang. Layu kemudian setelah melihat muka sang gadis. Berpakaian sekenanya, menandakan pemuda itu penduduk setempat. Tanpa panjang lebar, ia langsung masuk ke kamar nomor tiga. “Tunggu sebentar pak, kamarnya sedang dibersihkan.” katanya. Aku masih ternganga bila mengetahui dirinya adalah seorang cleaning service. Sebagai pegawai tetap, serapan atau cadangan. Apalah bedanya. Menurutku paling tidak atribut apakah yang mencirikannya jabatannya. Ini tidak.  
Dalam sebentar itu, kami sibuk kembali dengan urusan masing-masing. Seperti pertama aku melihatnya tadi, gadis itu tenggelam lagi mengisi Teka-Teki Silang. Sementara aku konsentrasi dengan siaran televisi yang menyala.
Luar biasa, pikirku. Seharusnya negeri ini menjadi negeri yang bahagia. Seperti orang-orang itu. Ketawa-ketiwi lepas begitu saja. Tadi pagi juga ada acara seperti ini. Seingatku tayangan serupa juga bejibun disiang hari. Sore lalu sampai malam pun tak kurang. Lalu apa masalahnya? Kontras sekali saat kita memutar channel sebelah. Pemberitaan tak jauh dari kriminalitas. Kasih sayang orang tua yang kering kerontang pada keturunannya hingga pada tingkat penyiksaan. Masyarakat kecil menjerit masalah perut mereka yang sering tak kunjung terkenyangkan. Kemiskinan, kesehatan, pendidikan yang tak berujung sekaligus menjadi lahan empuk para elit untuk menuju kursi kekuasaan. Aku jadi berpikir, apa mungkin permasalahan itu sengaja dipelihara sebagai komoditas yang menggiurkan.
Cepat-cepat aku menguasai diri agar tak terbuai terlalu dalam. “Ingat!” tegasku membatin. “Waktunya liburan, bukan memikirkan yang bukan-bukan.” Ditambah lagi pemuda si cleaning service sudahpun selesai dengan pekerjaannya. Menyilakan aku masuk ke kamar segera. Ku senyum sebisa mungkin dan berterima kasih. Kamar nomor tiga. Bila dituliskan angka nol dibelakangnya, tepat dengan usiaku saat ini. Aku mengangkat bahu.
Belum sempurna aku menutup pintu kamar, terdengar adu mulut terjadi. Perlahan tapi cukup jelas untuk dikuping.
“Sori yang, mengaku deh. Seminggu ini memang abang tak ada bersihkan kamar-kamar itu.”
Tak ada respon dari orang yang diajak bicara.
Suara pemuda menambahkan, “lagian kan memang sudah lama tidak ada yang mau menginap di tempat seperti ini di luar musim liburan. Jadi, ku pikir tidak apa-apa membiarkannya seminggu dua minggu.”
Resepsionis muda itu pun terlanjur merajuk. Cleaning service yang ternyata pacarnya itupun bertubi-tubi melancarkan permintaan maaf sambil membujuk akan membawanya jalan-jalan akhir pekan nanti. Pastinya tidak sampai disitu saja perbincangan mereka. Aku bukan orang tua mereka untuk melarang dan berceramah. Lagi pula, apakah orang tuanya akan marah melihat anaknya seperti itu.
Agenda malam gagal total. Padahal aku ingin memancing, bakar ikan atau apalah. Begitu menjelang isya langit tak lagi berbintang. Dibungkus oleh kawanan awan yang siap tumpah. Gerimis mulai menjatuhkan diri. Tak lama berselang diikuti pula oleh hujan berangin.
Terperangkap di penginapan bernama Wisma Bahagia bersama satu-satunya manusia yang bisa diajak berbincang, si cleaning service itu tadi. Dengan begitu tahulah aku bahwa namanya Rendy. “Pakai y bang, bukan i.” katanya menegaskan. Panjang lebar ia bercerita tentang bangunan tempat kami bernaung sekarang, tentang asal muasalnya, sampai pada pertama kali mengenal Laila hingga kenapa gadis itu masih enggan berbaikan dengan dirinya.
Lelah menjadi pendengar yang baik, ku pamit untuk segera pergi ke kamar saja. Tapi paling tidak aku sedikit membantu Rendy melapangkan isi hatinya. Baru kusadari bahwa tempat ini begitu sangat menyeramkannya diwaktu malam. Ditambah di ujung lorong, tidak ada penerangan sama sekali.
Menjelajahi internet merupakan pilihan terakhir sebelum tidur. Tekatku masih kuat agar tidak membuka facebook-ku. Sudah bisa ku bayangkan berapa banyak pemberitahuan yang menunggu. Paling-paling isinya mengucapkan selamat ulang tahun dan yang seperti itu. Sementara HP masih bertahan di ransel dalam keadaan off.
………..
Menyesal menghidupkan HP pagi ini. Semuanya sudah benar-benar berantakan. Masih adakah arti liburan jika masalah justru datang menghantui. Dan masalah ini benar-benar gawat. “Jangan-jangan?” pikirku. Secepatnya ku jejalkan pakaian, laptop dan chargernya ke dalam ransel. Tidak ada acara mandi dan sarapan pagi. Di meja resepsionis sudah ada Laila dengan wajah yang lebih manis dari kemarin sore.
“Kuncinya masih ada di kamar. Aku harus segera pergi sekarang.”
Tak perlu menunggu jawaban dari Laila, aku beranjak meninggalkannya dengan muka bingung. 
…………
Bagaimana tidak emosi dibuatnya. Dituduh mentah-mentah bepergian dengan Ning Amah dari rumahnya. Itu gila namanya.
“Tapi Anung melihat Ning Amah ke rumahmu kemarin pagi, bar.” Kata pak RT bertindak seolah ia seorang jaksa penuntut.
Jadi warga telah menarik kesimpulannya sendiri. Karena pertama, Ning Amah ke rumahku kemarin sekitar pukul setengah sepuluh. Kedua, aku ke rumah Ning Amah sebelum jam sebelas lewat lagi. Itu karena aku ingin mengembalikan rantangnya yang lalu batal lantaran sepertinya dirumahnya tidak ada orang. Ke empat, kejadiannya “seolah” bersamaan dengan pemergianku dari rumah tanpa siapapun yang tahu. Dan yang terakhir, HP ku tidak bisa dihubungi sama sekali sejak kemarin.
Aku tak bisa berbicara banyak setelah mengatakan yang sesungguhnya. Lagipula untuk apa seorang briptu “piknik”, meskipun tidak ada yang salah, ku garis bawahi jika beramai-ramai, dengan wanita hampir usia lanjut? Semoga saja pengakuanku tersebut bisa meredakan situasi.
Sampai siang ini. Ning Amah belum juga nampak batang hidungnya. Mendekati dua puluh empat jam atau mungkin lebih. Siapa yang tahu. Salah dirinya pastinya. Bepergian tanpa memberitahukan dengan tetangga kiri kanan. Apa mungkin diculik? pikirku. Itu sangat mustahil dan tidak punya motif sama sekali. Kaya tidak. Cantik mungkin ketika usianya dua puluhan dulu.
Tak lama kemudian, mata kami semua tertuju pada sesosok manusia di ujung gang yang tengah berjalan. Tiap detiknya, tubuh itu semakin besar dan menjelaskan siapa dirinya. Dengan santainya ia menenteng sebuah plastik hitam yang membungkus semacam benda berkotak. Tepat di hadapan kami semua, ia melongo. Ada berita apa gerangan sehingga semua warga se-gang berkumpul didepan rumahnya.
Tawanya pecah setelah menyadari semuanya. “Maafkan Ning telah membuat kalian semua cemas. Kemarin itu, Ning buru-buru pergi. Seseorang bertandang kerumah. Jujur, awalnya saya tidak mengenalinya. Tapi setelah menatapnya lekat, saya benar-benar mengenalinya. Dia Romli, temanku dulu.” Nadanya ditekankan pada kata dulu yang menandakan sesuatu.
Aku tahu maksud kata itu. Romli adalah….
“Dia memperkenalkanku pada anak-anaknya. Dan kami akan menikah.”
Gubraaak....
Bagus, terima kasih, dan selamat! Rasanya hari itu juga aku ingin mengenakan seragam dan berangkat kerja selekasnya. Karena liburan ini sangat, sangat menyenangkan.   

Alhamdulillah, genap lima hari akhinrya tulisan ini kelar juga. Semoga menyenangkan.
Terlebih buat teman-teman yang berbaik hati mengucapkan selamat ulang tahun...'_'
 
;