Minggu, 01 April 2012 0 Messages

Panasss, today

    Asli, hari ini terasa mati. Mati kreatifitas. Bisa dibilang seharian terguling-guling dilantai. Bukan dengan bantal guling, tetapi dengan bantal aja. Dari sebelum dzuhur dan lanjut lagi ba'da dzuhur plus makan siang. Sampaaaai adzan ashar berkumandang.
    Dilengkapi dengan panas yang tensinya akhir-akhir ini terasa meningkat ditubuh. Kuat menyengat. Terkadang menyulitkan untuk bernafas. Hujan sesekali dan intensitas sangat ringan. Kurang dari lima menit. Masih untung sedikit sih. Cerita teman, bahkan di kota khatulistiwa, pontinak, gerahnya bukan main. Geografis yang tepat digaris khatulistiwa itu mungkin yang menyebabkan disana lebih panas...
Kamis, 29 Maret 2012 0 Messages

Pindahan

   Wah, tak terasa. Tinggal satu bulan setengah. Masa sewa akan segera berakhir. Sepertinya harus hengkang dari tempat ini. Dan sementara, mencari tempat yang lebih bagus untuk usaha. Lebih comfort dan tidak terlalu menguras kocek. Tempatnya disana. Insya Allah lumayan strategis.
   Tidak apalah. Sudah dua tahun disini. Paling tidak aku paham mengenai kondisi persaingan setempat. Dan ditempat baru itu, aku akan melanglang buana kembali. Membangun dan mengembangkan usaha ini lagi.
    Jangan khawatir, aku tidak akan kemana-mana. Tetap disini. Ingin menghubungiku, bisa send me message @: ssupardi2@gmail.com. 
Rabu, 28 Maret 2012 0 Messages

Menjelang Kenaikan BBM


"Ya, asal jujur saja pembawaannya. Tidak ada back up2an. Yang pasti, kalian hanya akan mengganggu pekerjaanku hari ini. Jam mangkalku di lampu merah jadi berkurang. Ku harap anak yang tengah ku gendong juga mengerti. Mengapa kita tidak makan hari ini."
        Ia masih berdiri di seberang jalan. Menyaksikan konvoi dari berbagai elemen masyarakat. Membawa embel-embel, "atas nama rakyat. Turunkan BBM." Ada juga yang mendesak pemerintah untuk lengser saja dari jabatannya jika sudah tidak mampu mengurus negeri.
"Mereka yang mengaku kritikus juga berkoar. Menganggap kenaikan BBM sebagai pengalihan isu wisma atlit."
        Sebagai warga tak berpendidikan, ia mengikut arus. Dan yang terakhir terdengar masuk akal. Setelah kasus century belum genah, disambut isu-isu lainnya. Termasuk terorisme..
        Apapun hasilnya nanti, ia dan orang-orang sekasta dengannya hanya akan mendapat tempias belaka. Tak lebih. Apalah artinya harga BBM turun hingga sekian ratus persen, jika pendapatannya tetap cukup untuk mengganjal perut sehari.
        Lagi, bara solusi masih jauh dari panggang permasalahan. Mengeluh atau tidak, tetap sama. Namun, agar terdengar lebih heroik, ia memilih tidak akan pernah mengeluh. Hanya saja, sulit untuk memberikan pemahaman kepada bayi yang perlu asupan gizi...


Minggu, 25 Maret 2012 0 Messages

Itu masa lalu

   Tidak seharusnya aku berdiri disini. Tapi itulah pilihan yang kuambil. Tidak salah sama sekali, meskipun mereka menyebutnya ini suatu kebodohan. Ah. Definisi kebodohan yang mana yang mereka maksudkan. Bukankah kebodohan telah menjadi bagian dari bangsa ini. Ku berjingkat mendaki. Kaki ketigaku yang terbuat dari kayu sesekali terperosok ke tanah lembek. Hampir saja tubuhku rebah seketika. Namun tanganku sigap meraih pohon terdekat.
   Ku terus melangkah. Disana adalah tujuanku. Di puncak itu aku ingin bersua. Sudah lama rasanya tidak melakukan ini. Bersua dengan suara alam. Bercengkerama sekaligus mengadu. Berbagi cerita, suka dan lebih banyak duka.
   Umur pertengah berkepala delapan menggertak. Tapi nyali ciutku sudah surut puluhan tahun silam. Dirampas oleh masa dan kondisi. Beruntung disuatu sisi. Jelas harus diganti dengan sebuah bahkan berbuah-buah kehilangan. Ku mendesah. Di puncak nafasku terasa tinggal sejengkal. Ku berhenti. Membiarkan denyut jantung kembali normal. Hamparan alam, kalam ilahi yang pantas untuk dipahami.
    Disanalah seharusnya aku hadir. Menyambut beberapa pejabat dan kaki tangannya. Yang mengumbar senyum serta di iringi janji. Terserah apapun itu namanya.
Minggu, 18 Maret 2012 0 Messages

Tragedi

Dari sekian banyaknya tabrakan dijalan, depan ruko kami, baru kali ini yang tampak fantastis. Ditabrak oleh sebuah sepeda motor dengan kecepatan yang diperkirakan 40km/jam, sosok itu terpental hingga 2 meter. Tak bisa bergerak. Namun, motor tetap melaju. Boleh dibilang tabrak lari. Beruntung memang dan pastinya karena ajal belum tiba. Biar, tergolek, tapi ia masih tidak apa-apa. Di angkat oleh seorang pengendara lainnya. Lalu diletakkan di sisi jalan. Ayam itu baik-baik saja. Berjalan dan kemudian berlari. 
Kamis, 15 Maret 2012 0 Messages

Teman Lama

Masya Allah. Terakhir bertemu itu dua belas tahun silam. Meriwayatkan hal-hal menyebalkan tentang dirinya. Dan hari ini, sebelum shalat Jum'at digelar, kami bersua kembali. Perbauran antara cerita lama dan sebuah pertemuan pun terjadi. Meskipun mungkin dengan pikirannya masing-masing. Kami berjabat tangan. Dan itu berhasil meleburkan kenangan pahit tersebut. Penyempurna buat diriku yang sudah memaafkan perkara itu jauh-jauh hari semenjak tidak lagi melihat sosoknya. Aku Sebenarnya ingin berbicara lebih dan kutangkap ia juga demikian. Katakanlah, sebuah konsolidasi. Karena kami tidak berteman dan tidak pernah menjadi teman selama tiga tahun itu. Namun, khatib sudah diatas mimbar. Insya Allah next time, kawan.
Sekarang, aku menyimpulkan bahwa kejahilannya dulu hanyalah pancaroba dari masa kekanak-kanakan menuju kedewasaan. 
Selasa, 13 Maret 2012 0 Messages

Panggung Cinta Bertopeng (Bagian 11)

Aku tercenung. Bukan karena dia yang ada dihadapanku sepenuhnya, melainkan dua huruf yang merangkai kata "Ko". Terakhir kudengar seseorang memanggil namaku dengan itu sekitar dua puluh lima tahun silam. Saat ini keluar dari mulut yang sama.
     Itu mengingatkan jejak identitasku. Sepenuhnya aku percaya kisah yang terlontar dari ibu pemilik panti asuhan dimana aku tumbuh hingga remaja. Aku tidak punya kuasa untuk mendustakannya. Pertama kali datang disana, usiaku masih dalam hitungan hari. Bertanya alasan ibu kandung menitipkan ku kesini pada bu Sakinah sia-sia belaka. Beliau hanya menggeleng. Tapi aku sangsi jika ia tidak tahu sama sekali. Paling tidak untuk dua nama. Sejak itupun aku tidak pernah mengungkit hal itu lagi. Masa-masa aku mulai mengenal istilah teman, kudapati kebanyakan dari mereka memandang aneh kepadaku. Entah karena apa. Bertambahnya usia menjelaskan alasannya kemudian. Aku berbeda dari mereka. Hanya nama belakang, kulit kuning dan mata sipit yang mengingatkan akan keturunanku. Aku sangat yakin, ama dan apa juga keturunan etnis Tionghoa. Walau akhirnya mereka bisa menerimaku bahwa aku sama bagian dan sama dengan mereka.
.................
    Untunglah suaraku tertahan. Keceplosan yang tidak disengaja tadi bisa jadi membuat pertemuan yang seharusnya hangat bisa berubah dongkol.  
     "Masya Allah, bang Bakar. Sudah lama sekali tidak bersua." Novel-novel dalam genggamannya ku letakkan sekenanya dirak dan aku merangkul tubuhnya. Bang Bakar pun demikian pula. Pertemuan ini seperti sebuah melodrama antara adik kakak. Memang, selain bu Sakinah yang kuanggap lebih dari sekedar ibu kandung, maka usianya yang sepuluh tahun lebih tua dariku bang Bakar bagai saudara sedarah. Dan lagi. Hanya dialah satu-satunya yang menggunakan kata "Ko" ketika memanggilku.
      Rumahnya tepat didepan gedung panti berdiri. Tergolong mewah ukuran kala itu. Keluarga bang Bakar hijrah sebaik saja orang tua mereka meninggal. Dan rumah itupun tergadai. Sejak saat pemergiannya, kami kehilangan kontak. Bahkan surat menyurat tidak pernah melayang walau sekali pun. Memang aku tidak berusaha untuk meminta alamatnya. Yang kuharapkan waktu itu adalah ia akan kembali.   
     "Ya, sudah puluhan tahun. Bagaimana kabarmu. Bu Sakinah dan yayasan Amanah.?" Tanyanya ketika kami menyudahi saling merangkul.
     "Alhamdulillah, baik bang. Bu Sakinah juga demikian. Meskipun akhir-akhir ini saya jarang bertandang kesana, tapi komunikasi tidak putus. Yayasannya, Alhamdulillah berkembang. Abang sendiri?"
       "Syukurlah kalau demikian. Dan saya, seperti yang Ko lihat sekarang."  Bang bakar melebarkan mulut selebar tangan yang direntangkannya. 
       "Banyak yang ingin ceritakan sama abang. Lebih baik kita kebawah. Saya traktir"
       Bang Bakar menjawab singkat, "itu baru mantap. Saya belum pernah sama sekali makan duit mu, Ko."
       Aku merogoh saku celanaku. Mengambil benda persegi kecil dan kemudian merapatkannya ke telinga kanan. 
       "Ya, halo bi. Sudah belanjanya?" Jeda sejenak. 
      "Saya kebawah. Kebetulan bertemu teman lama disini. Nanti hubungi kalau sudah selesai ya bi." Kembali aku mendengarkan suara bi Atin yang tengah bersama Hanny berkeliling di Hypermart.
       "Baiklah." Aku memutuskan sambungan. Baru aku sadari sebuah pesan singkat masuk. Berasal dari nomor yang belum tersimpan di buku telepon. Mengambil waktu sedetik untuk membukanya. Membuang rasa penasaran. Mataku membesar. 
         Kabar buruknya adalah bang Bakar menangkap sesuatu yang tidak seharusnya berlaku. Dan ia pun bertanya kepadaku, "ada apa?"
           Aku berkilah. "ah. Tidak apa-apa, bang." Jelas itu bukan jawaban yang diinginkan olehnya. Baru kali ini aku pandai berdalih darinya. Meski sangat ketara. 
          "Ayo." Aku menghapus tanda tanya dari mukanya. "
     Kami memilih tangga darurat yang langsung menuju pintu masuk dari belakang Mall. Keluar dari pintu kaca, kami memasuki areal parkir.
...................
       

 
;