Selasa, 19 Agustus 2014 0 Messages

KORBAN LAKA

Tubuhnya menggelepar, tepat di tengah-tengah badan jalan! Darah bersimbah disamping ia tergeletak. Mengucur dari kepalanya yang tidak lagi sempurna bentuknya.
Bukannya membantu, yang ada kerumunan menjadi-jadi. Tapi bila dipikir-pikir, apa yang bisa dilakukan oleh mereka. Para bocah bercelana atau rok merah, dengan atasan berwarna putih. Ya, murid sekolah dasar bergerombol berdatangan menghampiri korban laka tersebut. Kesemuanya hampir melontarkan sumringah. Sampai hati sekali.
Kini, giliran kakinya pula yang kejang-kejang. Panas berpadu dingin, mungkin ini yang namanya sekarat, pikirnya. Ia bisa melihat, langit tak lagi biru dan makhluk-makhluk asing beterbangan. Antara sadar dan tidak, telinganya menangkap ucapan, "minggir-minggir." Saat itu, si korban tak lagi bergerak.
Lelaki dewasa yang baru saja datang tersenyum misterius. Bibirnya tertarik kesebelah kanan ketika ia menyentuhkan telunjuk pada si korban tadi. Barangkali gerakan terakhir, si korban agak terkejut dibuatnya.
Tak lama berselang, yang dirasakannya tinggal tangan manusia memegang kepalanya, tangan lainnya pula membujurkan kedua kakinya. Nafasnya naik turun teramat sangat lamban. Tiba-tiba, ada benda sejuk menyentuh leher. Pelan tapi pasti, merobek kulit hingga ke tenggorokannya. Makhluk yang beterbangan tadi menghampirinya sukacita......
............
Just fiction, but based on true story when i was on the way to Sambas yesterday morning. 

Kematian terus mengekor dan kita tak pernah tahu kapan ia menyapa.
Selasa, 12 Agustus 2014 0 Messages

ADA APA DENGANNYA??

Tak seperti biasanya, hari ini dia memilih banyak diam. 

Walau demikian, rutinitas harian tetap dilaksanakannya. Setelah shalat subuh, dia menghidangkan teh panas berikut dengan kue yang dibuatnya tadi malam. Berusaha keras tuk tersenyum padaku, ia berlalu mencuci piring dan pakaian yang menumpuk. Saat aku menawarkan bantuan, ia berucap, "tak usahlah, pa." Dan aku pun mundur perlahan. 

Pagi bertandang...

Dia telah selesai membersihkan rumah, kemudian bersantai sejenak di kamar sembari mendengarkan murottal. Ok, sampai disini semuanya normal. Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal, kukira.

"Mama baik-baik saja?"

Aku telah selesai mandi dan langsung mendapati dia siap dengan pakaian yang harus kukenakan hari ini. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia hanya tersenyum. Lagi, bukan senyum yang dulu-dulu. "Apa yang salah?"

"Ada...."
Aku mencoba memaksa dia sedikit bicara. Tapi sia-sia ketika dia berucap, "sudah hampir jam tujuh." Matanya mengarah ke jam dinding.

Artinya dia tidak mau angkat bicara. Padahal lima belas menit kedepanpun masih ada waktu tersisa sebelum aku memang harus keluar rumah.

Mobil membawaku ke perusahaan dengan gedung berlantai lima belas.

Aroma pengharum ruangan, ditambah pendingin dengan suhu yang tepat, begitu menyegarkan setelah berjibaku dengan kemacetan lalu lintas. Itu semua minggir pabila kumelihat telepon diatas meja kerja.

"Assalamu'alaikum ma...."

Kubiarkan ia menjawab salamku yang terasa bertahun-tahun lamanya.

"Mama baik-baik saja?"

Telingaku menangkap ia berupaya untuk seceria mungkin. Tapi hambar. What wrong!!!
...........
#Justfiction_and_what_next?
0 Messages

CAFE KUCING DALAM KHAYALAN

Sempurna! Ini kelanjutannya.....

Papan nama bertuliskan CAFE KUCING agak miring menghadap ke jalan. Cocok sekali dengan bangunannya yang berumuran puluhan tahun. Dan catnya pula sudah kusam bukan main. Namun, lelaki pensiunan itu tetap memarkirkan kendaraan anaknya yang ia pinjam. 

"Assalamu'alaikum, permisi mbak..."
"Wa'alaikum salam."

Wanita muda yang dipanggil mbak tersebut membetulkan dudukannya. Dari layu diatas meja, jadi tegak posisinya. Ia menyembunyikan Hapenya pada laci meja.

"Ada yang bisa dibantu?" tukasnya sembari mempersilakan duduk.
Lelaki itu pun menjawab dengan hati-hati, "begini mbak, saya kesini ingin menjadi relawan dalam seminggu ini. Yah, daripada tidak ada kerjaan dirumah."

Begitulah...... dan ia pun bertemu dengan Soe, seseorang yang menghubunginya dihari ketika hatinya berkeinginan pulang segera.

#Tamat_and_just_fiction_fifty_fifty
0 Messages

MASALAH NANNY

#Ini_yang_terjadi

Mumpung belum ada konsumen datang, perhatian pada Kompu kugeser sesaat. Ini kondisi darurat dan tak perlu ditunda-tunda lagi! Mana, mana kartu nama yang kemarin?

Di kamar, aku membolak-balikkan tumpukan pakaian. Juga menepikan kardus bekas printer yang sekaligus meja bekerjaku, lemari dorong dibongkar-bongkar. Hasilnya nihil saudara-saudari. Kemungkinan terakhir adalah di dalam dompet. Aha....tidak ada juga.

Haruskah aku mengalah. Ya, sayang sekali. Menyerah, aku rujuk lagi dengan kompu. konsumen yang kesekian untuk hari ini datang. Terreeeng...tik-tik-tik, tak-tak-tak

Dan ditengah sibuknya itulah, kartu nama yang kucari-cari sejak tadi mengintip dari bawah keyboard. Luarbiasa, kan?

Setelah konsumen pergi, aku meraih hape. Menekan nomor yang tertera disana secepat kilat. Tuttt....tutt...tutt... pada detik ke enam, sebuah suara berat diujung sambungan.

"hah. halo. Assalamu'alaikum."

Ku dengar yang disana cuma mengucapkan, ya. Agak-agak kebingungan, seperti itu.

Tanpa memberi jeda, aku terus berbicara,"
.....saya punya empat kucing, si induk dengan tiga anaknya yang baru berumur kisaran dua bulanan. Awalnya sih fine-fine saja, tapi sejak dua hari yang lalu, anak kucing tersebut mulai bertingkah. BAB dimana-mana. Karenanya, saya perlu bantuan kalian. Soe, beralamat di Sentras, Senyawan, Sambas. Terima ka....

Sambungan tiba-tiba putus. Padahal aku belum selesai mengoceh. Aneh, benar-benar aneh. Aku mencoba menghubungi nomor itu lagi, dan ketika itulah, aku tersadar, empat digit pertama dari nomor kontak tersebut terbalik. Seharusnya 0821sekian-sekian, aku justru menekan 0812sekian-sekian.

Agaknya, siapalah orang yang beruntung tadi.

Dan ini baru betul. Menghubungi nomor yang tepat, teleponku di sambut oleh suara wanita yang mungkin, tengah bahagia. Aku mengulangi ucapannya seperti panggilan pertama, dan si costumer Cafe Kucing disana mengatakan agar aku tidak perlu khawatir. Mereka akan mengirimkan orang tuk melatih kucing-kucingku agar BAB atau buang air kecil dimana seharusnya.
........
Udah Magrib, ntar aja melanjutkannya...kalau rajin
0 Messages

AYAH INGIN PULANG!

"Ayah ingin pulang,"

Deena menghentikan adukan kopinya, berikut menghela nafas sejenak. Ia berpaling ke arah ayahnya yang duduk di meja dapur dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Lalu dengan membawa mug berisi kopi panas, wanita itu bergabung dengan ayahnya. 

"Ayah ingin pulang," lagi, sang ayah mengutarakan maksudnya dengan nada datar. 

Deena mencoba mengorek alasan lembut-lembut, "lho, ayahkan baru kemarin datang ke sini. Masa sudah mau pulang?"

Lelaki itu diam tak menggubris ucapan anak perempuannya.

"Susu?"

Ayahnya menggeleng.

Deena menyodorkan kopi rasa istimewa kegemaran ayahnya, kental dan agak lebih manis. "Tapi kenapa, yah?"

Seruputan pertama luar biasa nikmatnya. Setelah almarhum istrinya, hanya Deenalah yang bisa membuat kopi seenak ini. Maklum, dua zuriatnya yang lain adalah laki-laki.

Hening sesaat pecah lantaran suara bayi bersumber dari kamar. Deena bergegas berlari-lari kecil menuju kamarnya.

Tinggal sendiri di dapur, lelaki itu merasa cuaca tengah mengerti suasana hatinya. Di luar, turun gerimis kasar. Namun terlalu dini untuk menyebutnya hujan.

Satu alasan yang ingin diutarakannya pada Deena kelak adalah, disini tidak ada yang bisa dilakukannya. Dengan kata lain, membosankan!! Segala tindak tanduknya tak terijin. Ini itu, semuanya tidak boleh. Bisa-bisa mati berdiri kalau begini, pikirnya.

Deena masih belum muncul dari kamarnya ketika Hape lelaki itu bergetar. Sebuah nomor tak dikenal masuk. Dan hubungan dengan seseorang disanapun terjadi.

"Ya....."

Cuma dua kata itu yang sanggup terlontar dari mulutnya. Setelahnya, ia khusyuk kebingungan mendengarkan ocehan teman bicaranya. Yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dan hei, salah sambung itu entah bagaimana berhasil membuatnya ingin tinggal lebih lama disini.
"Sepertinya cukup menantang," ia berbicara pada dirinya sendiri dengan mata berbinar-binar.
.........
#Apa_yang_terjadi?
Senin, 04 Agustus 2014 0 Messages

Good Job, Nanny!

H-2 menjelang lebaran, Nanny beserta tiga anaknya "kuusir" dengan paksa. Ia meraung ketika buah hatinya masuk dalam kardus lalu kuletakkan di sisi luar rumah. Ada tanda-tanda hendak melawan dari si Nanny.

Aku berlalu, lalu mengunci pintu.

Dalam berkendara menuju kampung halaman, tak luput doa terhatur untuk keselamatan dalam perjalanan, rumah yang ditinggalkan beserta isinya, dan Nanny dengan anak-anaknya. "Kalau berjodoh, panjang umurlah kalian itu." Bagaimana tidak, pemangsa setiap saat bisa saja mengancam nyawa bayi kucing tersebut. Biarlah seleksi alam yang berbicara, toh Nanny juga punya insting induk yang bersedia melindungi zuriatnya, kan???

F1zer terus berlalu hingga sampailah di rumah orang tua. Keluarga besar menyambut, berkumpul dan tak lama setelah itu, acara berbuka puasa bersama-sama kian seru. Setahun sekali belum tentu seperti ini.

.........
H+3 kembali lagi ke Sentras. Aku meyakinkan ini bukanlah buka kantor secara resmi. Meski kenyataannya, alhamdulillah ada transaksi-transaksi yang mesti dilayani. Once again, alhamdulillah. Bisalah kiranya menggendutkan rekening. Menabung buat menjemput sang bidadari, salah satunya tujuannya...he..he...

Tinggal kardus yang berantakan. Nanny dan tiga anaknya Moca, Bleki serta Ori lenyap. Innalillahi, kalau faktanya mereka tinggallah sebuah nama saja.

"Ngeooong..."
Syukurlah, tetapi Nanny datang bak kucing baru. Terasa asing dan saat kupanggil, gesitnya tiada lagi. Lima hari yang telah merubah banyak hal. It's oke lah. Nanny kan cuma kucing.

Aku menghampiri Nanny dan bertanya, "Nanny, dimana anakmu?"

Jelas saja Nanny cuma bisanya mengedipkan mata. Dan hengkang keluar rumah tak lama kemudian. Nanny tak datang lagi sampai malam menjelang. Begitupun keesokan harinya, Nanny datang lagi tanpa anak-anaknya. Sebentar cuma, ia kembali keluar. Sampai terang berganti gelap, Nanny tak kunjung pulang. Santai saja....

Barulah.....

Pagi menghadap siang esoknya, Nannya dengan penuh semangat berlari-lari kecil sembari menggigit anaknya. Si Moca terkait erat di rahang ibunya. "Anak kucing...." Keponakanku berteriang girang. Sementara entah bagaimana, kakak yang di dapur pula berteriak histeris. Anak-kucing-phobia!, apa istilah ilmiahnya ya??

Rupanya, dua hari pertama adalah masa menjejaki. Nanny memastikan apakah aku cuma datang barang sesaat lalu pergi lagi? Dan tidak adanya. Setelah itu, ia menjemput anaknya satu persatu dari tempat persembunyian.

Good job, Nanny!

(dah lama tak nulis, kire dah tak bise agek)
Rabu, 04 Juni 2014 0 Messages

DEMI

Air tumpah ruah dari langit. Berpasangan dengan bayu yang garang dan melecut pepohonan dan dedaunan rimbun. Awan masih tak ingin beranjak terang. Sepertinya, hujan masih lama baru reda.

Para petani sudah pada pulang semua, tiga bocah itu justru senang-senang. Bermain dalam genangan air di parit kecil di pinggir ladang. Debur air yang deras, hujan yang mengguyur, menjadikan mereka seolah lupa segalanya.

"Kalak barro' be," bantah salah satu bocah yang duduk di bangku TK.

Wanita separuh baya itu menggeleng, tiada tawar menawar. "Dah capat, kite balik udde'."

Si bungsu berkali-kali hendak turun dari gendongan dalam perjalanan pulang ke rumah. Bagaimana tidak, beberapa titik genangan air yang mereka lewati begitu menarik di mata hitamnya.

"Ooh, sodahlah. Ujan yo. Capat kite balik." Wanita paruh baya itu membetulkan posisi gendongannya.

Tap-tap-tap. Langkahnya semakin laju dan terhenti ketika sadar dua bocah lainnya berjarak jauh di belakangnya. Ia berteriak membelah derasnya hujan. "Ngape nak maing agek ye. Ooh, bang ngah capat sikitlah!"

Anak yang nomor dua berlari meninggalkan si sulung. Si sulung tak mau ketinggalan begitu saja. Jadilah, kesempatan sedikit itu, entah bagaimana tiba-tiba menjadi arena lomba lari bagi keduanya.

"Aku dolok," si Sulung puas, merasa menang.
Si tengah diam.
..........
"Oh awok. An ape-ape ye be."
Diam barang sejenak mendengar suara di ujung sambungan. "Hey kita' nak ngomong dengan umakmu ke?"

Si sulung tak mendengar dan langsung menghilang ke dapur. Si bungsu belum mengerti sama sekali, dan si tengah pula menggeleng kuat.

"Daan mao' biak ye, Lin. Tuahlah, ntah ngape jak kerjaannye ye."

"Awok, wa'alaikumsalam."
..........
"Assalamu'alaikum," wanita berumur menginjak empat puluh itu mematikan telepon selulernya. Sesuai restu ibunya di kampung, ia ingin melanjutkan masa kerjanya di Malaysia ini. Demi tiga buah hatinya, orang tua, dan rumah impian mereka semua. 
 
;