Minggu, 08 Januari 2012 0 Messages

Kerja ku

Semester pertama di kelas tiga SMK N diawali dengan magang di Pemda Kab. Sambas. Aku lupa berapa lama. Mungkin sekitar tiga bulan. Hari pertama diwaktu itu cukup menyenangkan dan membosankan setelahnya. Aku jadi tahu sedikit banyak tentang pekerjaan di instansi pemerintah. "Sangat Sibuk", hingga waktu banyak untuk bergosip ria bagi ibu-ibu dan keluyuran bagi bapak-bapak. Hingga akhirnya hari terakhir di tempat itu berakhir. 
Di semester VI semasa kuliah kami ada mata kuliah magang. Aku ditempatkan, sebenarnya memilih di sebuah BUMN. Itu terjadi selama sebulan. Asli! membosankan. Meskipun secara makanan disana cukup mewah dibandingkan yang tidak dapat jatah makan di instansi pemerintah dulu. Sebulan terasa lama. Aku tidak sendirian. Anak SMK swasta juga tengah magang disana. :Lebih dulu kami sekitar seminggu. Pegawai disana lebih sibuk. Hanya kami yang tidak diberi tugas yang jelas menjadi bingung. Mau berbuat apa di ruang luas itu. Penataan ruangan bergaya jepang. Terbuka antara antasan dan bawahan. Di bagian keuangan itu, hanya ruangan kepala bagian yang tertutup. Seingat ku, hanya sekali melihat kepala bagian. itupun dari jarak jauh. 
Di hari terakhir, aku merasa terbebas dari penjara. Hampir lupa, seminggu sebelum masa sebulan itu berakhir, Aku pulang lebih awal dua jam dari seharusnya. Kassubag keungan memberikan izin untuk itu. Aku di diberi kesempatan untuk menjadi admin di sebuah lembaga bahasa inggris. 
Setahun lewat lima bulan ku habiskan terpaku di meja admin. Lebih menggairahkan, tetapi ku baru merasa betapa tidak enaknya bekerja di bawah telunjuk orang. Aku tidak lagi mampu bertahan. Memecat diri sendiri. 
Lepas dari sana, aku jadi bingung sendiri. Skripsi ku mengambang dan aku tidak berniat sama sekali untuk menyelesaikannya. Bertemu dosen menjadi pobia tersendiri. Bahkan untuk bertandang ke kampus pun aku merasa enggan. 
Sekarang berkesempatan untuk membangun usaha sendiri. Alhamdulillah ada kakak yang bersedia memberikan kesempatan. Merelakan sedikit modal untuk di putar dan kami bertanggung jawab untuk mengembalikannya dalam waktu yang tidak di tentukan. Perjuangan itu telah dimulai sejak setahun lebih yang lalu....
0 Messages

Teruskan

Akhirnya dia mengaku juga dan itu yang pernah ku rasakan sebelumnya. Tapi ku menguatkan dirinya untuk tidak perlu menyerah sekarang. Kita telah merintisnya bersama-sama. Semua kesuksesan itu perlu proses, dan itu yang tengah terjadi pada bisnis kita. Kira-kira seperti itu.
Memang, itu memerlukan tidak sedikit tenaga. Aku paham itu. Dan aku lebih paham, dia tidak akan sekuat itu. Disana ada tanggung jawabnya yang lebih besar sebagai konskuensi status yang ia sandang.
Ku ambil resiko itu untuk menjalankan dan melihat perkembangan ini kedepannya. Biarlah berjalan dibawah wewenangku. Dibantu dengan beberapa orang di sini dan bantuan Yang Maha Membantu tentunya....
Jumat, 06 Januari 2012 0 Messages

My Thanx

Saya ingin mengucapkan kepada seseorang, siapapun itu, yang lama maupun baru, dimana telah setia memberikan reaksi terhadap sesuatu yang ku tuliskan didalam blog ini. Harap masukan dan kritik yang membangun agar tulisan ku lebih baik ke depannya.
Kamis, 05 Januari 2012 0 Messages

Asli, Tak Ada Resep!

Ku minta sepupu untuk mengayak tepung gandum. Ia lakukan. Setelah shalat isya, kami beraksi. Masukkan telur 2 biji. Gula halus tidak ada takarannya, jika hati berkata "cukup" ya cukup. Dan mentega semaunya. Tapi tidak habis satu bungkus. Dikocok semuanya, entah sampai kembang atau apa. Yang pasti tampak berbutir-butir. Baru sadar, seharusnya gula dan mentega dikocok terlebih dahulu, baru dimasukkan telur.
Tak apalah. Selanjutnya masukkan tepung gandum yang sudah dicampur dengan baking powder, cokelat bubuk dan susu bubuk. Semuanya di takar dengan hati. Lupa, adonan dalam wadah di kasih garam secukupnya. Masuklah, tepung terigu dan kawan-kawannya ke dalam adonan sedikit-demi sedikit. Ternyata belum habis separo tepung yang telah dicampur ini dan itu tadi, adonan mengental dan agak mengeras untuk ukuran membuat kue. No problemo. Kami kasih air panas kuku. Kurang lebih tiga per empat gelas kecil. Jadilah semuanya mencair sesuai dengan yang di inginkan dan pastinya hati berkata ya. Ingat dengan fermipan (pengembang kue) ada di dalam tas. Diambil dan dimasukkan kedalam adonan dan di kocok hingga merata. Semuanya terjadi begitu saja.
Adonan di masukkan kedalam handlepan. Diletakkan diatas kompor gas. Kurang dari setengah jam. Was-was dengan hasilnya. Alhamdulillah bagus. Tapi belum di coba rasanya seperti apa. Jika mantap, siap lah untuk di jual besok. Jika rasanya kurang pas, masuk perut aja deh!
0 Messages

Kami Sibuk

Aku berlari-lari kecil mengekor ayah menuju belakang ruko. Disana ada tumpukan kursi-kursi santai. Ayah sangat kuat, memikulnya dalam jumlah banyak, sepuluh sampai 15 buah. Pantas saja, lengannya berotot baja tampaknya. Dan aku tidak membantu apapun. Hanya sebagai ekor dan penonton sejati.
Ayah kemudian menyusunnya di halaman parkir utama pasar. Empat kursi untuk masing-masing meja. Disana ada ibu yang tengah memukul-mukul balok es. Ibu juga sibuk. Sibuk mempersiapkan posisi gerobak dorong beserta barang-barang jualan di dalamnya. Dan jangan lupa aku juga sibuk, memungut botol minuman yang tidak lagi berisi. Ku lempar, ku tendang-tendang.
Setiap hari itu terjadi, tak terkecuali hari ini. Dan semuanya terjadi di kala senja. Dimana matahari mulai mingin merebahkan diri ke ufuk barat. Tetapi mega merah belum muncul. Mungkin hanya orang dewasa yang bisa memperkirakan berapa menit lagi suara panggilan untuk bertamu ke rumah Tuhan bergema.
Selesai. Ayah mendudukkan diri dikursi yang terongok di depan gerobak. Tetapi kesibukannya ternyata tidak berhenti. Memencet tombol-tombol kecil pada benda canggih yang orang sebut alat komunikasi. Tak kalah jauh beda dengan ibu, juga sama adanya terpaku di depan layar kecil sibuk dengan Hp berkondom pinknya. Hanya aku yang tidak lagi sibuk. Mataku tertuju pada seorang laki-laki yang tengah duduk di atas motornya di arena parkir di sebelah barat kami. Dan aku tidak tahu, sejak kapan ia memperhatikan kami dengan seksama. Dan aku lebih tidak tahu lagi apa yang tengah di pikirkannya tentang kami. Melecehkan, mengumpat atau mengasihani kedua orang tuaku yang sibuk dengan usaha dunia mereka tanpa ingat untuk mengajari ku mengeja huruf-huruf Arab. Juga lupa untuk mengajariku bagaimana seharusnya menghadap Allah.
Tatapan ku menyadarkannya. Pandangannya beralih. Seorang wanita menghampirinya. Membawa barang yang dibelanja. Mengaitkan ketubuh motor dan kemudian berlalu. Aku memandanginya hingga sosoknya hilang di persimpangan.
Aku tidak peduli melihat orang-orang berkopiah yang menerima undangan Tuhan sama tidak pedulinya ibu dan ayahku akan hal itu. Karena kami ternyata semua sibuk. Sibuk yang merugikan kehidupan kelak!

Rabu, 04 Januari 2012 0 Messages

Setelah belum seminggu

Sudah sejauh ini, tak adil rasanya jika harus mundur. Tetapi jika harus, kenapa tidak. Perlu pembicaraan lebih lanjut dan barangkali hanya seputar sisi manajemen, meskipun aku tidak pasti itu. Aku terlanjur sudah jatuh cinta pada sesuatu yang ada dalam diriku yang tidak atau jarang dimiliki oleh orang lain. Jadi, aku tidak ingin menguburnya setelah susah payah aku menggali.
Atau barangkali aku belum siap untuk suatu pekerjaan yang menumpuk? tidak! bukan itu. Jujur pikirku akan ada yang siap bertanggung jawab penuh atas itu. Kenyataannya, aku juga. 
Kekhawatiran merajaiku, aku takut impianku semakin jauh jika tidak diikat dengan suatu kebiasaan. Dan akhirnya sirna...
Ini mesti di selesaikan segera. Win-win-solution...
Senin, 02 Januari 2012 0 Messages

Experience

Alhamdulillah kelar, meskipun masih tampak amatirnya. Tak apalah. Namanya juga proses pembelajaran. Ternyata dalam menulis fiksi fantasy ada kemudahan dan tantangannya tersendiri. Mudah untuk mendeskripsikan lingkungan, tempat, bangunan, tokohnya. intinya yang bersifat fisik. Tetapi kesulitannya terletak pada pemberian nama (jika harus di sesuaikan dengan unsur indonesiananya). Selanjutnya adalah dalam menentukan karakter, temparamen. karena saat ini sudah banyak tokoh fantasy baik yang animasi manga, novel2 dan cerita2, memiliki ciri-ciri yang unik dan beragam....
So, jika terlalu memikirkan itu, kita tidak akan pernah berkarya. Di situlah tantangannya. Putar otak kita lebih, dan temukan tokoh2 yang lebih unik. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak. Ini hanya tentang "waktu dan kemauan". Berjuanglah!!!!
 
;