Sabtu, 15 September 2012 0 Messages

Turut Senang

     Lebih dari sekedar melayani seorang konsumen. Mereka, kuanggap sebagai adik tingkat perkuliahan. Meskipun pada akhirnya tetap membayar atas jasa yang kuberikan, namun hakikatnya bantuan yang sedapat mungkin yang terbaik. Berbagi hal-hal yang menyangkut kisi-kisi perkuliahan. Teknik penulisan makalah, laporan (sedikit) misalnya, hingga pembuatan abstrak tugas akhir. 
      Well, tentunya tak lupa ku ingin mengucapkan terima kasih atas bertransaksi selama ini. Kekurangan disana-sini tentunya masih ada saja. Kepercayaan atas jasa yang kuberikan menjadi perhatian kalian. Terakhir, tak ada yang lebih ku senangi adalah turut sedikit saja berkontribusi atas kelulusan mereka. Menyandang sebuah gelar Amd dibelakang nama masing-masing sebagai lulusan Politeknik Terpikat Sambas.
Minggu, 09 September 2012 0 Messages

Penari Pedang


       
         Dari dulu dia menolak untuk disekolahkan disana. Ayahnya bersikeras menentang. Pendapat ibu malah lebih. "kamu akan menjadi pemain pedang yang tangguh." 
         Kenyataannya, dia tetap saja bingung. Apakah dia benar-benar bisa bermain pedang, sementara justru tari-menari yang dipelajari setiap harinya.
          Baru setelah semester ini berlalu, sang kepala sekolah mengatakan bahwa, penemuannya setahun yang lalu belum berjalan dengan sebagaimana mestinya. Haruskah memberitahukan kedua orang tuanya? "Kami disini tak lebih dari kelinci percobaan sang kepala sekolah?"
Selasa, 04 September 2012 0 Messages

Kotak Ajaib

      Luar biasanya luar biasa. Ku kira telah menemukan kotak ajaib!.
     Paling tidak lima judul tulisan yang belum rampung ketika aku buka-buka penyimpanan di drive D. Luar biasa. Tiga diantaranya adalah yang telah ku entri di sini, Menguapnya Selebritas, Pedagang Pagi part 1 dan Pak Bondot. Dua diantaranya terlalu sayang jika harus dihapus. Tingkat "menggantung" nya masih sangat tinggi. Suatu hari, ku ingin melanjutkan ceritanya.
      Ketika membacanya aku bahkan tak percaya, dulu aku pernah menulis itu. Tanpa sadar, aku iri pada diriku sendiri yang itu. Dimana apa yang ku tulis begitu mengalir seperti air setiap pragrafnya. 
      Tepat! Tulisan itu ada sebelum pindah ketempat ini. Bukannya berbicara tentang pengaruh sebuah tempat. Aku menulisnya sebelum disibukkan oleh prosesi pindah tempat usaha dan rumah. Ya, itu dia. Waktu menganggur menulis melumpuhkan kapabilitasku. Nyatanya, tiga bulan terakhir ini aku bahkan belum mampu menulis seperti itu lagi.  Paling tidak menyamainya.
          Ku harap bisa lagi menulis seperti itu...Pasti bisa seiring latihan dan bergulirnya waktu. Insya Allah.

2 Messages

Pedagang Pagi Part 1


       Pemuda itu membuka mulut sejadi-jadinya. Melepaskannya dan bersuara. Dan kemudian ia baru sadar untuk menutup mulutnya. Sudah terlambat. Lupa, suatu hal yang pantas untuk dimaafkan. Matanya memerah. Kurang tidur merupakan satu hal yang pantas disalahkan di pagi ini. Dia juga tidak tahu secara pasti apakah harus menyalah waktu atau dirinya sendiri. Yang pasti kata “kurang tidur” sangat tepat menjadi biang kerok.
       Bila dipikir lebih jauh lagi, tak seharusnya dia mengkambing hitamkan dua kata tadi. Bukankah salahnya sendiri jika harus menumpuk materi tiga bulanan untuk diropol habis dalam satu malam. Itu penyiksaan. Penyiksaan terhadap diri sendiri. Tetapi ya. Sepertinya sudah menjadi lumrah bagi kebanyakan mahasiswa di sini. Sardi mentertawakan dirinya sendiri.
      Ujian semester genap hari ini akan berakhir dan ditutup dengan mata kuliah perpajakan. Mata kuliah yang sangat tidak disukainya. Kedua-duanya, antara dosen pengampu maupun materi-materinya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan maraknya desas-desus penyimpangan pajak belakangan ini. Dia hanya tidak suka. Tidak perlu alasan rinci mengapa itu bisa.
   Sardi masih mengucek-ngucek matanya hingga makin memerah. Berharap akan merangsang kesadarannya. Melihat jam di layar HP. Pukul tujuh lewat satu. Masih ada dua puluh sembilan menit untuknya bersantai ria. Mempertimbangkan untuk tidur kembali dan bangun pukul tujuh lima belas. Tak butuh waktu lama untuknya mandi dan berangkat kemudian. Toh dia tinggal di RUSUNAWA. Bermotor dua menit, sampai.
       Ketika tangan kanannya mulai meraba-raba bantal yang masih tergeletak diatas kasur, tangan kirinya meraih HP kembali. Menyetel alarm agar terbangun tepat waktu.
         “Lumayan, lima belas menit.” Pikirnya
         Baru saja akan kehilangan kesadaran. Sardi terlonjak. Cepat-cepat dia bangkit dan mencopot handuk dari gantungan. Berlari-lari kecil menuju kamar mandi. Dan kali ini ia cukup beruntung, karena kamar mandi tengah kosong.
       Buru-buru dia berpakaian. Mengambil tas, memasukkan laptop kedalamnya. Menyisir rambut yang telah diminyaki seadanya. Tanpa bercermin. Begitu keluar dari kamar, langsung menguncinya. Meraih sepatu dan menuju parkir gedung yang ia tempati.
        “Uhh…” Ternyata dia meninggalkan kunci motornya dikamar. Dan bergegas menaiki tangga menuju lantai tiga. Terengah-engah ketika sampai didepan pintu kamarnya. Membukanya kemudian dan secepat kilat meraih kunci motor. Sepertinya ada sesuatu yang tertinggal. Tapi dia tidak tahu apa itu.
         Sardi mengabaikan perasaannya. Menuruni tangga lagi. Namun belum sampai dilantai dua, dia teringat bahwa kartu ujiannya tertinggal. Itu dia. Kemarin kartu itu ia simpan di saku baju. Dan sepulang ujian, dia langsung mencuci baju tersebut. Untungnya sempat dikeluarkan sebelum ikut tercuci.
         Sardi kelabakan, ternyata dia lupa dimana meletakkan kartu penting itu. Sambil mengelap keringat yang mulai berkeluaran dan diikuti oleh detakan jantung yang semakin mengencang, Sardi mengingat-ingat.
     “Dekat kamar mandi” Hatinya memberi tahu dirinya sendiri. Berlari-lari menuju kamar mandi. Didapatinya pintu kamar mandi tertutup.
         “Siapapun didalam. Tolong ambilkan kartu ujianku di dekat tempat sabun. Tolong cepat!”
         Sosok Danu yang keluar. Menyodorkan kartu kecil persegi tersebut. Sardi berterima kasih.
         “Ya.” Jawab Danu singkat dan berjalan menuju kamarnya sendiri.
     Sardi kembali berlari menuruni tangga yang berjumlah enam. Meraih sepeda motor dan langsung menghidupkannya. Dia menyesali dirinya. Seharusnya membetulkan settingan jam di HP nya.
       “Pantas saja ketika terbangun pukul lima untuk shalat subuh tadi, hari sudah mulai terang.” Batinnya berucap.
        Pengaturan jam di HP nya sengaja perlambatnya selama dua puluh lima menit tadi malam. Karena bahan perpajakan cukup banyak, maka dia mensimulasi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa malam belum lewat. Masih banyak waktu untuk belajar. Padahal biasanya dia malah mensetting jamnya lebih cepat hampir tiga puluh menit yang menyebabkan teman-temannya terkadang berang jika bertanya waktu dengannya.
         Setibanya dikampus hijau, Sardi melihat hanya beberapa mahasiswa yang keluyuran dan nongkrong di parkiran. Ia yakin mahasiswa-mahasiswa tersebut baru akan ujian pada jam kedua. Tidak seperti dirinya yang pasti sudah sangat terlambat. Paling tidak sepuluh sampai dua puluh menit.
……………..
       “Jadi bu. Inysa Allah besok. Ada yang mau dipesan?” Lama dia mendengarkan jawaban seseorang yang tengah diajaknya bicara.
       “Ya, Insya Allah. Assalamu’alaikum.” Tak banyak yang dia bicarakan dengan ibunya. Kurang lebih hanya memberitahukan bahwa ujian telah selesai dan libur panjang pun sudah dimulai. Kurang lebih dua bulan. Cukup lama untuknya melepas rindu dan membantu ibu dan ayahnya nanti disana. Di kota yang dulu pernah terkenal dengan nama serambi mekah setelah Aceh.
         Tak banyak waktu untuknya tiduran di sore ini. Otaknya mulai menyusun rencana perjalanan mencari barang-barang yang dipesan oleh orang tuanya sebelum pulang kampung. Habbatusauda, minyak urut, dan beberapa CD bajakan yang dipesan adiknya. Dan tempat itu berbeda-beda lokasi. Makanya dia harus memilih kemana dulu harus pergi agar tidak bolak-balik.
      Beberapa saat kemudian Sardi telah mantap. Ia memastikan kartu SIM, STNK dan ATM tidak tertinggal. Semuanya lengkap. Dan dia pun keluar.
        Jalanan Ayani memang ramai di sore akhir pekan seperti saat ini. Ini adalah jam pulang kantor dan jalan-jalan bagi mereka yang dinasnya berakhir hari jum’at kemarin. Jalanan juga ikut diramaikan oleh muda-mudi yang tengah mencari tempat nongkrong. Didukung pula dengan matahari yang mulai menggelinding kearah barat.
       Sardi hanya berharap toko-toko yang menjadi tujuannya belum tutup. Makanya ia pandai-pandai mencari celah untuk menerobos di antara kerumunan di jalanan. Beberapa kali ia hampir menyenggol belakang motor dari pengendara lainnya. Sumpah serapah dan tatapan tajam pun terlontar. Tapi Sardi tidak ambil peduli.
          “Enam”
          “Dua-duanya?”
          “Habbatusauda enam dan minyak urut dua saja.”
          Penjaga toko herbal itupun membungkus dan kemudian menghitung total belanja.
          “Dua ratus tiga puluh ribu rupiah” ucapnya gadis berjilbab lebar tersebut.
        “ini ukhti.” Sardi menyodorkan uang dua ratus lima puluh ribu rupiah yang masih baru. Memang baru saja ditariknya dari ATM di depan toko ini.
         Sardi mengambil bungkusan dari sang penjaga toko.
         “Kapan pulkam?”
         “Insya Allah besok.”
         “Anti?”
         “Ana sih mungkin gak pulkam. Kerja. Susah juga.”
         Sardi mengangguk pelan mencoba mengerti.
         “Oke. Syukron”
       Belum sempat gadis berjilbab itu menjawab, Sardi langsung keluar toko. Masih ada satu barang yang belum dibelinya. CD bajakan. Mengingat benda itu, hatinya antara mau dan tidak untuk membelinya. Namun ketika mengingat wajah adiknya yang berusia enam tahun, ia tidak tega. Pilihan terberat harus ia lakukan juga. 

Insya Allah jika kapabilitas menulis mulai pulih, akan secepatnya di lanjutkan...
0 Messages

Pak Bondot


        Tak tanggung-tanggung. Dua puluh balok kayu itu dirampung dalam hitungan kurangan dari satu jam. Pak Bondot memang luar biasa tenaganya. Soal kegigihannya dalam mencari nafkah, jangan pernah ditanya. Kebaikannya? Oh, apalagi. Siapa sih penduduk kampung yang tidak kenal dengannya. Dari yang tua sampai yang muda. Dari yang baru naik kepelaminan sampai janda tua. Kampung tidak punya banyak warna tanpa polahnya.
          “Terima kasih pak, atas bantuannya.”
         Pak RT mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribu dari saku bajunya. Dengan senyum khas yang tidak perlu dipaksakannya, ia menyodorkan benda kertas tersebut.
         Pak Bondot termangu. Tubuh kecil berototnya sangat tidak sesuai dengan riak muka culunnya. “Untuk apa, pak RT?”
        Sekarang giliran pak RT pula yang manyun. Mengerutkan keningnya sendiri. Menerima pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Tentunya untuk usaha keras orang yang diajaknya bicara saat itu. Karena telah memanggul semua balok kayu dari tepi sungai ke rumahnya yang berjarak seratus meter lebih.
            “Atas bantuannya pak Bondot.”
            “Lha, tadi pak RT perlu bantuan, kan. Kita membantu harus ikhlas. TANPA PAMRIH?”
           Tanpa pamrih digaris bawahi dengan setebal mungkin oleh pak Bondot. Itulah prinsip hidupnya yang banyak disukai oleh warga setempat.
           Pak RT mengeraskan rahang-rahangnya. Bisa saja ia hanya cukup mengucapkan terima kasih kepada pak Bondot. Sebab itu sangat menguntungkan dan memungkinkan. Tapi pak RT sosok yang punya pandangan jauh ke depan. Bisa saja ia mengibuli lelaki dihadapannya, namun ia tidak siap dengan gosip yang akan tersebar dalam beberapa hari selanjutnya. RT yang tidak berperikemanusiaan.
       “Jadi begini pak, anggap saja uang rokok.” Dengan sedikit memaksa pak RT meraih tangan pak Bondot agar menerima saja uang itu. Dan lagi, pak Bondot tidak menerima begitu saja.
         “Saya tidak merokok, pak” Ungkap pak Bondot seraya melepaskan tangan dari cengkraman pak RT.
      Pak RT memalingkan muka. Ia menggerutu sendirian. Memberi upah saja sulitnya minta ampun. Salahnya sendiri, terhadap orang seperti itu harus bicaranya yang terang, jujur dan jelas. Tidak ada istilah kiasan-kiasan dan semacamnya.
      Agak mulai emosi, pak RT menegaskan, “Saya punya utang sama bu Maimun. Tolong berikan ini padanya, ya pak.”
        Tak ada jalan lain, pak RT harus berbohong sedikit agar pak Bondot mau menerima upah dari jerih payahnya siang itu.
           Masih berusaha untuk menyangkal, “Utang apa, pak.” Pak Bondot bertanya.
           “Sudah-sudah. Sampaikan saja. Istri bapak akan mengerti.”
          Sebelum berlalu, pak RT mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Bondot. Lalu ia pun beranjak dengan hati sedikit dongkol.
*******
           Mencari orang berkata apa adanya dan tidak sombong sulit di dunia ini. Demikian adanya, istrinya, Maimun, seharusnya bersyukur mendapat suami sebagai orang yang langka tersebut. Tapi jika sudah keterlaluan, emosinya sering tidak bisa dibendung. Jebol seperti Situ Gintung di Ciputat.  
             “Uang belanja masih cukup pak.”
             Maimun menanggapi sodoran uang dari suaminya. Seperti katanya, untuk keperluan dapur.
             “Itu dari pak RT. Memangnya utang apa pak RT sama kamu mun?”
         Maimun tidak jadi meniup bara di perapian mendengar pertanyaan itu. Sama seperti suaminya, ia sendiri bertanya-tanya utang apa pak RT bernama Siswo itu padanya. Upah mencuci sudah bu Siti bayar kemarin. Uang memasak di acara kenduri juga sudah ia terima. Tidak ada utang yang tertangguh lagi dari keluarga itu.
            Istrinya itu berdiri mematung seketika. “Bapak mengambil upah apa dari pak RT?”
           Pak Bondot geleng kepala. Lalu mengatakan hari ini ia tidak mengambil upah apa-apa. Dikarenakan ia membantu pak RT memindahkan balok kayu.
       Maimun menghela nafas panjang. Membungkuk dan memuncungkan mulutnya. Meniup perapian berkali-kali hingga api mulai bergoyang-goyang dibawah panci. Meleburkan emosi yang tengah mendidih bersama keladi didalam benda aluminium tersebut. Maimun mendesah. Kemudian mengambil uang dari suaminya.
Minggu, 02 September 2012 1 Messages

Interaksi versi Rumus Matematika


Extrovert (+) dan Introvert (-)
+  x  +  =  +
          Tentu saja dua orang yang bertemu dengan karakter sama (extrovert) akan menciptakan suasana hidup lebih hidup. Berbagi apapun dengan keterbukaan. Interaksinya cair seperti air mengalir.

+  x  -   =  -
         Menurut anda, siapa yang lebih tersiksa diatas kondisi diatas. Seperti ini. + akan cenderung untuk membuat suasana secair mungkin dan lebih mendominasi. Namun, lawan bicaranya justru berusaha membentengi diri dengan sikap tertutup. Perlu keahlian extra untuk menciptakan interaksi lebih cair. Ingat, lebih cair. Meskipun kenyataannya interaksi yang dibentuk akan tetap terlihat kaku. Keduanya memilih untuk segera mengakhiri ini saja. Terbih - berharap itu telah terjadi sejak tadi. 
 
-   x  -  =  +
          Seperti halnya interaksi dua orang extrovert, rumus diatas akan menemukan gaya interaksinya sendiri. Entah bagaimana caranya dua orang yang cenderung pendiam dan tertutup bisa merasa cocok. Tanpa mereka sadari, keterbukaan terjadi dengan sendirinya. Interaksi cair ala mereka pun mengalir seperti air. Tentu saja dengan versi berbeda dari diatas. 

 
               
7 Messages

Sepertinya, Sasuke

       Iseng-iseng mencoba salah satu aplikasi di FB yang menebak, kira-kira seperti karakter siapa kita dalam animasi manga Naruto. Jadi penasaran, hasilnya seperti apa. Dan....Tertera---> Pendiam, Hebat, Berkarakter, dan ...(lupa). Bagi kamu yang suka nonton Naruto, ayo siapa kira-kira? 
      Persis. Dalam film animasi jepang tersebut, Sasuke, ya boleh dikatakan tokoh yang tanpa disadari di jagokan. Tak jelas alasannya, mungkin pembawaan karakter yang mengantarkan kita menyukai sosok seseorang.
      Tak perlu terbahak-bahak walaupun sejatinya tengah senang. Cukup dengan semburat senyum sebagai tanda. Dan bila perlu tak harus dikatahui oleh siapapun. Sebaliknya, kesedihan tidak harus dibicarakan lewat air mata.
       Ketika semua mencari kesenangan dengan berkunjung kesuatu keramaian, justru terkadang menyendiri dan melakukan sesuatu sendirian adalah hiburan terindah yang pernah ada.
 
;