Minggu, 28 September 2014 0 Messages

GAS BERACUN



Alhamdulillah, setelah menuntaskan orderan undangan barusan, menjelang mandi sore, ingin menuliskan ini.....

*****
 "Kami berpencar dan tidak mengetahui nasib masing-masing. Hamba sudah berusaha menyusur lokasi-lokasi yang kemungkinan menjadi tempat persembunyian pemimpin dan rakyat lainnya. Namun tak seorang pun ada disana."
Ia terdiam sejenak sembari menahan air yang hendak meluncur dari biji matanya. Lalu melanjutkan, "hamba berfirasat, hambalah satu-satunya warga negara selatan yang selamat dari gas beracun tersebut Yang Mulia."
Sang pemimpin negara Utara menyimak penuturan sosok di hadapannya. Beberapa kali mengangguk dan menyeka matanya, bertanda simpati.
Sunyi menjadi jeda diantara mereka di ruang utama istana. Pemimpin utara menggeser dudukannya.
"Bagaimana menurutmu tangan kanan?"
Ia akan mempertimbangkan usulan tangan kanannya. Meski sejatinya pilihan telahpun dibuatnya. Tak ada cara lain selain mengungsi ke tempat yang lebih aman. Untuk sementara sampai situasi memungkinkan kembali lagi kesini.
"Kita belum mengetahui secara pasti seperti apa keadaan dilapangan, Yang Mulia. Bisa saja apa yang kita dengar sekarang ini taklah separah faktanya."
Ia menarik nafas dan dengan agak dag-dig-dug menyampaikan sarannya. "Menurut hamba, alangkah baiknya kita menunggu barang sehari dua Yang Mulia. Atau sampai situasi di negara Selatan kita ketahui secara detail. Jika Yang Mulia menitahkan, hamba akan mengutus beberapa pengawal pergi kesana."
Masuk akal juga, pikir pemimpin negara Utara.
"Tapi yang mulia...." secara lancang rakyat biasa sebagai pelapor tadi mencoba meyakinkan. "Maafkan hamba Yang Mulia, tetapi keadaan sekarang ini sudah teramat genting. Hamba hanya tidak ingin negara Utara ini lenyap seperti negara kami."
Sang Tangan Kanan merasa dongkol mendengar penyanggahan tersebut. Padahal ini adalah kesempatan emas untuk menggeser kedudukan pemimpin Negara Utara. Ia tahu, akibat yang disebabkan oleh gas beracun tersebut. Nyawa, itulah dia. Ia sengaja untuk menunda-nunda pemimpin mengungsi. Agar ketika gas beracun sudah memasuki gerbang perbatasan, sang pemimpin sudah tidak punya waktu untuk melarikan diri. Dirinya? jauh-jauh hari harus sudah mencari tempat persembunyian yang aman.
"Kamu boleh pergi."
Raja ingin membuat keputusan sendiri dengan tangan kanannya. Rakyat negara Selatan yang sudah lemah di papah untuk keluar.
"Baiklah, kita tunggu situasi dan tetap bertahan disini untuk sementara waktu. Tapi ingatkan seluruh negara agar tetap waspada."
"Junjung perintah Yang Mulia."

*****
 Sementara itu gas beracun semakin menghampiri perbatasan antara negara Selatan dan Utara. Rakyat telah bergelimpangan tak bernyawa.
Alarm raksasa berdentang keras memekikkan sesisi negara. Rakyat panik seketika, gas beracun telah menjalar di desa pertama di perbatasan. Tanpa menunggu waktu lama, rakyat yang menghirup udara tersebut nahas. Sang Pemimpin dan aparat kalut serta panik. Terutama sang Pemimpin negara Utara, disamping mengkhawatirkan keselamatan keluarga, ia juga tersiksa membayangkan kematian rakyatnya secara mendadak.
"Cepat Yang Mulia, kita tidak punya banyak waktu. " Sang Tangan Kanan menuntun pemimpin dan keluarga menuju tempat persembunyian 'palsu'. Yang ia ketahui sendiri tidak bakal menyelamatkan dari gas beracun. Ia berniat, ditengah perjalanan kelak, ia akan memisahkan diri. Menuju jalurnya sendiri.
Ia tersenyum sinis tanpa seorangpun tahu.
Dan plaakkkkk
"Yo, bassar lalu nyamok tok."
Tangan Kanan tewas ditangan wanita gendut yang dengan asyik menyaksikan proses Fogging dari rumah ke rumah. Tiga setelah ini, adalah rumahnya.....

Jumat, 26 September 2014 0 Messages

KAKEK ITU



Kumal dan dekil.
Tak ada beda seperti pertama kali mengenal beliau. Bukan, bukan. Bukan mengenal, tetapi berinteraksi dengan beliau.
Kala itu, beliau menunggu di simpang tiga menuju Senyawan dan melambaikan tangan pada siapa saja. Termasuk aku, yang saat melintas di hadapannya.
"Nak kemane, ki?"
Beliau adalah lelaki paruh baya berusia, barangkali sekitar tujuh puluhan. Jalannya tak lagi tegap dan dipaksa-paksa. Boleh jadi, melihatnya, kamu akan bersimpati.
Kakek tersebut mengatakan ingin menumpang. Minta dihantarkan ke sebuah kampung yang letaknya cukup jauh. "Ketinggalan oto..." demikian beliau beralasan.
Aku percaya, namun tak bisa memberikan bantuan. Maaf.
.........
Itu telah berhari-hari sebelumnya ketika aku melihatnya lagi di area sekitar. Baju yang sama, topi yang sama, kumal dan dekilnya. Menenteng beberapa kantong plastik juga. Berjalan dengan badan tak lagi tegap sembari melihat kiri-kanan, entah apa maksudnya.
"Nek aki iye...." tukasku dalam hati.
.........
Dan itu pun berhari-hari terlewati. Hingga jawaban atas siapa kakek itu sebenarnya terkuak juga.
Hari ini, Jum'at barokah, pada saat kami memacu kendaraan menuju masjid besar Tumuk untuk shalat Jum'at.
Masih baju yang sama, topi yang sama, kumal dan dekilnya. Beliau bersimpuh letih di pinggir jalan, tepat dibawah naungan pohon rindang. Tangannya tak terulur, tetapi ada sebuah wadah kecil plastik dihadapannya. Uang dua ribu beberapa lembar dan uang recehan teronggok di dalam sana.
Oh, rupanya....
Sayang teramat sayang. Bukan cara beliau mengais rupiah yang disayangkan. Saat khatib naik mimbar, azan berkumandang, dan khutbah dibacakan, beliau tetap bersimpuh di tempatnya.
.........
Di simpang tiga menuju Senyawan, beliau kembali berdiri dan melambaikan tangan. Berharap kebaikan seseorang memberikannya tumpangan. Tak tahulah apa alasan yang bakal beliau lontarkan.

*Aki = kakek

Selasa, 16 September 2014 0 Messages

OH MALAYSIA

Deja vu. Tak pernah ia sangka ketika harus mengulang lagi. Menyerah pada nasib, merantau ke luar negeri, negeri Jiran Malaysia. Seharusnya itu menyenangkan jika tujuannya jalan-jalan, liburan, dan bersenang-senang semata. Nyatanya TIDAK!

Dan kali ini jelas-jelas berbeda. Status suami cuma tinggal catatan di Kartu Keluarga saja. Lelaki itu lenyap tanpa jejak. Tiada nafkah bahkan sejak dua tahun lamanya. Makanya, mau tidak mau, demi semata wayang hasil dari pernikahan mereka, bocah perempuan berusia empat tahun, ia mesti mendulang ringgit ke sana. Duh, Malaysia, kalau lah boleh memilih, tak ingin dirinya meninggalkan orang-orang yang dicintainya.

Tanpa menahan-nahan air mata yang mengalir deras, berkali-kali di peluk-ciuminya bocah perempuannya. Tiada kata-kata, karena sepertinya ikatan batin punya cara tersendiri berbicara. Sang bocah hanya terdiam dan heran.

"Ma, aku minta belikan sepatu ya."

Semakin menohok hingga ulu hati. Sekali lagi, cuma peluk-cium ia berikan sebagai jawaban. Dan stok air matanya seolah tak habis-habis meski ia tahu, kinilah saatnya harus berangkat segera.

Dua tas besar telah siap sejak semalam, yang bakal menemani perjalannya ke negeri orang. Sanak keluarga berkumpul di ruang tengah, ingin sekedar mengucapkan selamat jalan. Tak lepas tentunya, menghatur doa agar selamat sampai tujuan hingga pulang kembali ke kampung halaman.

Dua tahun. Wanita itu menghela nafas dalam. Ia berharap rentang waktu tersebut tidak mengubah apa-apa, kecuali kehidupan yang lebih baik. Tetapi tetap saja, sulit baginya tuk tidak khawatir dengan kondisi psikologis sang anak. Jangan-jangan, saat ia pulang kesini lagi, ikatan anak-ibu memudar, lalu tak bersisa sedikitpun.
Selasa, 02 September 2014 0 Messages

Nanny Mencari Alamat Palsu


Berhari-hari, seingat Soe sejak hari itu hingga dalam minggu kemarin, Nanny tetap mencari. Teriakannya nyaring, nyaring sekali. Kalau tidak berlebihanlah ya, kamu yang mendengarnya akan merasa 'agak' miris.

Bermula, berminggu-minggu yang silam, dan begini ceritanya......
...........
Apa tidaknya, sepulangnya dari kampung halaman, Soe mendapati tiga anak Nanny menyebar kotoran di ruang tamu. Alias ruang kerja Soe sendiri. Takkan pula, baru datang mesti mengurus yang demikian lagi. Huh...

Timbul rasa geram juga dibuatnya.

Sebelum pulang kampung, Soe telah memasukkan Nanny beserta satu anaknya yang berhasil ditangkap ke dalam kardus. Untuk dikeluarkan selama ia pergi. Tetapi dua ekor lainnya mengumpat semakin dalam dan jauh ke bawah tangga. Bergabung dengan tumpukan kardus. Demi, demi menjangkaunya harus bongkar itu tumpukan? Tidak lah. Soe menyerah setelah mencoba berulang-ulang kali mengumpan agar mereka keluar.

Jadilah Nanny dan tiga anaknya, dengan berat hati tetap berada di rumah.

Kembali ke awal.
Beruntung belum ada konsumen yang datang ke Sentras kala itu. Soe berkutat dengan cepat dan jengah, membersihkan buangan tiga anak Nanny. Nanny, sewaktu ditinggalkan, entah dari mana ia keluar rumah tapi sampai Soe datang, ia tak bisa masuk lagi. Pintar sekali!

Sementara  Soe sibuk, Nanny menyusui ketiga anaknya yang teramat sangat lapar.

Tuntas!
Namun masih menyisakan nada-nada kedongkolan di hati. Bagaimana ya caranya agar ini tak terulang lagi?

Baiklah, konsumen pun datang, dan Soe lupa sejenak permasalahannya.

Beberapa jam kemudian.
Eh, bara geram masih ada rupanya. Ketika tiga anak Nanny bermain-main, Soe menyuruhnya masuk lagi ke bawah tangga. Terdengar kejam, bukan? Dan Soe menyesal setelah semuanya terlanjur terjadi.

Tiga anak Nanny ketakutan, berlari menuju 'rumah' mereka. Di bawah tangga. Nanny hanya mengerjapkan mata. Itu terus berulang beberapa kali. Sampai.....

Ini teramat...ah sudahlah.

Nanny menjemur diri di muka pintu belakang. Anaknya yang sudahpun kenyang berlari-lari di sekitarnya. Soe pun dengan teganya menutup pintu. Yang berakibat menggeser tubuh Nanny ke luar rumah. Dua anaknya berlari ke 'rumah' mereka.

Pintu tetap tertutup. Nanny memanggil anaknya. Soe bekerja keras menangkap mereka tadi. Dan berhasil! Mengeluarkan mereka kesemuanya, merapatkan pintu dapur lagi.

Padahal Soe tidak benar-benar ingin "mengusir" mereka.

Inilah awal pencarian alamat palsu Nanny.

Tak lama setelah kejadian itu, Nanny dengan santainya melenggang masuk dari pintu depan tanpa ketiga anaknya. Ia terus melangkah menuju dapur. Soe yakin, buah hatinya masih ada di balik pintu dapur.

Nanny meringkuk di lantai kisaran setengah jam-an begitu. Lalu, ia pun keluar lagi.
Soe tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Saat siang bertandang, Nanny sendiri saja. Sore pun tak beda. Hingga keesokan harinya dan esok-esoknya lagi, Nanny tetap sendiri saja. Kemana anak-anaknya?

Kupikir hijrah ke rumah tetangga lantaran merasa terusir. Soe tanya kesana, jawaban mereka, "sean" alias "tidak ada". Soe barangkali bertanya pada penghuni rumah yang salah, yang tak tahu keberadaan anak kucing tersebut.

Nanny mengunjungi rumah tetangga. Ah, barangkali, pikir Soe, memang di rumah itu.
Hari berganti hari. Nanny mulai memanggil-manggil anak-anaknya. Setiap kali naik ke rumah, arah bawah tangga lah ia mengeraskan suara. Soe membayangkan keajaiban, tiga anak kucing keluar dari sana. Nyatanya, KOSONG.

Nanny meraung-raung lagi. Bila kau mendengarnya, barangkali akan terharu.

Soe bertanya lagi ke tetangga kiri kanan, barangkali anaknya Nanny ada di rumah mereka. Tetap sama.  Mereka, menghilang tanpa jejak. 
Jumat, 29 Agustus 2014 0 Messages

SURAT CINTA

Selesai.
Burhan alot-alot melihat surat cintanya. Nanti, ia akan memberikannya pada Linda. Di taman penuh bunga warna-warni, tempat mereka selalu bertemu. Semoga saja.

Lalu, lipatan kertas tersebut telah pun tersimpan apik di saku bajunya.
........
Taman penuh bunga warna-warnai, seperti biasa, sepi. Cuma Linda yang ada disana dengan penantian sepenuh hati. Selalu, dia mengenakan pakaian serba putih, kerudung sampai baju terusan yang melekat di tubuhnya. Burhan, entahlah, ia sendiri tidak terlalu memedulikan. Apakah baju yang ia pakai sesuai untuk pertemuan tersebut. Sering kali juga begitu. Siapa yang ambil pusing, toh Linda tak pernah menyinggungnya.

Linda berpaling saat merasa seseorang ada dibelakangnya. Tepat, Burhan diam-diam mengeluarkan amplop biasa dari sakunya. Ia memang tidak pandai untuk urusan beginian. Linda paham, mudah-mudahan.

"Apa ini?"
Burhan menyerahkan kejutannya, kemudian duduk disamping Linda.

"Boleh dibuka?"
Burhan menggeleng. "Nanti saja, dirumah."
Tanpa membantah, Linda menaruhnya hati-hati ke dalam tas tangannya yang juga berwarna putih. Kumbang dan kupu-kupu lalu lalang diantara mereka. Menghisap manisnya madu dan bunga pun merasa ditemani.

Hamparan taman bunga warna-warna seolah tak pernah berujung, keindahannya sejauh mata memandang.

"Bagaimana kabar Bima?'
Linda memecah kesunyian sesaat antara mereka. Burhan hampir muak sebenarnya, kenapa selalu saja pertanyaan itu yang terlontar diawal perjumpaan mereka. Dan tak bermaksud menyakiti hati wanita dihadapannya, ia berucap, "baik-baik saja. Seperti kemarin juga." Seperti kewajiban, kalau pertanyaannya serupa, jawabannya tetap sama.
..........
Malam berikutnya, Burhan kembali duduk di meja kerjanya di kamar. Sejenak saja, karena tubuhnya tak lagi muda. Ia menggurat kata demi kata, berisi ungkapan hati, kalimat penuh cinta. Tak luput, kalimat terakhir yang lelaki itu tulis, "salam rindu."

Lagi, alot-alot Burhan melipat surat cintanya, memasukkannya lagi ke saku bajunya.
.........
Taman bunga warna-warni tetap sepi. Hanya Linda dengan para kumbang dan kupu-kupu, entah bagaimana mereka seolah menyatu. Linda menjadi bidadari disitu.

Linda melepas seekor kupu-kupu ketika Burhan tiba.

"Maaf membuatmu lama menunggu."

Linda rupanya memberikan surat balasan yang kemarin. Amplopnya putih bersih polos. Burhan cepat-cepat, tak sabar hati ingin membacanya, ia pun duduk disamping Linda.

Linda menggeleng. "Nanti di rumah saja."

Merasa kecewa, Burhan setuju.

"Kupu-kupu tadi menanyakan siapa dirimu." Linda bangkit, merapat ke serumpun bunga, menghidu baunya. Tersenyum halus.

"Oh ya, " Burhan pura-pura kaget. Itu pasti bohong, bagaimana mungkin kupu-kupu bisa berbicara.

Linda terdiam.

"Bagaimana kabar Bima?" Ia duduk lagi dengan bunga yang terpetik di tangannya. Berwarna merah, kontras dengan pakaian putih yang ia kenakan.

Itu-itu lagi! Tidak ada pertanyaan lain kah?

"Bima, baik-baik saja. Seperti kemarin juga."
..........

"Bima......."

Burhan memanggil anaknya dari kamar. Bima cepat-cepat datang meski ia sebenarnya harus 'ngantor' segera.

"Ya, bapak. Ada apa?"

"Kamu lihat surat dari ibumu di saku baju bapak."

"Surat? Surat dari ibu?" Bima mengernyit.

Bima menyadari keadaan bapaknya semakin memburuk. Berbagai upaya telah dilakukannya untuk menghibur, jalan-jalan keluar kota, menghabiskan banyak waktu di rumah, sampai menyuruh anak-anaknya bercanda dengan sang kakek. Tetapi semua itu belumlah menutup luka ditinggalkan wafat. Bapaknya, benar-benar terpukul.

Bima tentu saja merasa teramat kehilangan sang bunda. Walau demikian, hidup tetap berlanjut. Orang yang datang akan pergi, yang kita cintai meninggalkan jua.

"Semalam bapak simpan di sini," Burhan meraba saku bajunya. Ada dua lipatan kertas disana. Ia keluarkan, lalu buka pelan-pelan.

CUMA LIPATAN KERTAS KOSONG.
"Benar, kemarin ibumu memberikannya pada bapak. Bapak simpan disini. Tapi ke..na..pa...hi...lang..."

Bima merangkul bapaknya.

(Selesai)
Rabu, 27 Agustus 2014 0 Messages

ALYA VS MIRA

"Alya?"
Aku terpana!

Lekat-lekat Alya menatapku. Oh sudah lama sekali aku tidak menemukan mata itu. Alya membelai tubuhku.

"Jangan!"
Larangan keras ibunya menyentak bocah tersebut. Pandangannya pun beralih cepat pada sumber suara. "Tak ah, mari kita pergi."

Aku kecewa sama dengan dia pastinya. Untuk kali terakhir sosok di hadapanku itu mengarah pandang. Dan wajahnya telah berubah. Ia bukan lagi Ayla, melainkan anak perempuan asing yg belum pernah kulihat sekalipun. Tetapi mereka punya persamaan. Cara melihat itu....

"Ayla, dimana kamu?"
.......
Di belahan bumi lainnya, Alya melemparkan setiap hadiah yg dibelikan kedua orang tuanya k dinding.
.......
"Barung...."
Ayla tak bisa menahan kakinya untuk tidak berlari. Tak peduli teriakan ibunya yg melengking serta tarikan tangan ayahnya. Ayla terlepas, bengal dan terus berlari menyebrang jalan.

"Ayla, benarkah kamu itu....Ayla....."
Aku membalas tanpa bisa menghampirinya yg ada d seberang jalan.

Sekali lagi, "barung..."
Ayla sudah d bahu jalan. Tetap berupaya menerobos mendekat n semakin mendekat. Dari arah kiri, tiba-tiba sebuah sepeda motor melesat cepat. Tak lama setelah itu, terdengar ban kendaraan roda dua tersebut berdecit. Menginjak rem mendadak. Namun apa hendak dikata. Tubuh Ayla terlanur terpental beberapa meter jauhnya....braaaaakkkk

Dan aku terjaga. Tahu-tahu mataku sudah basah. Dalam lirih ku berucap, "moga itu tak jadi nyata."

Sepasang tangan meraih tubuhku, lantas melemparkanku sesukanya. Jadilah aku tersungkur dan tertelungkup. Tak sempat kulihat wajah anak itu.

"Ini mau?"

Tak ada jawaban. Aku hanya tetap bisa mendengarkan.
"Yang ini berapa bg?"
Orang yg paling kubenci d dunia ini menjawab singkat, "empat puluh."
...........
Di kamarnya Ayla mulai luluh melihat hadiah bibinya. Sebuah boneka panda raksasa yg diberinya nama Panda.
...........
Tubuhku ditarik oleh tangan yg kasar dan agak gemetar. Ia seorang lelaki tua yg kulihat tadi memarkir sepeda ontelnya tepat d hadapaku.

Tanyanya kemudian, "yg ini berapa mas?". Ia terbatuk sekali.
"35, pak long."
.........
Aku berharap keajaiban terjadi. Lelaki tua itu adalah utusannya Ayla yg bertugas menjejaki keberadaanku. Rupanya salah besar!
Di rumahnya yang jauh lebih kecil dari milik Ayla, disanalah aku berada kini.
"Mira, lihat apa yg ayah bawa." Ia terbatuk lagi.
Mira yg dipanggil menggeser dudukannya k arah sang ayah. "Apa ayah." Raut mukanya seketika girang, sumringah sekaligus.
"Coba tebak..." sang ayah mendapatkan tangan Mira, meletakkan kejutan yg dibawanya.
Mira membuka bungkus plastik, langsung merabaku, "boneka..!"

Mira melonjak-lonjak di tempat duduknya.
"Mak mana?"

Saking senangnya, Mira mengesampingkan bicara ayahnya. Ia justru bertanya, "ayah, ini boneka apa? Apa warnanya ayah?"

"Ini boneka beruang, Mira. Warnanya coklat."

"Beruang, coklat? Seperti apakah itu?"
Sang ayah terenyuh terdiam. Bisanya menyeka matanya yg mulai sembab.
"Bisakah Mira melihatnya suatu hari kelak?"

Aku sudah dalam pelukan hangat bocah yg tak bisa melihatku sekalipun.

0 Messages

"SELAMAT HARI JUM'AT, PAK"




"Selamat hari Jum'at pak...."

Soe tersadar sepenuhnya saat mendengar suara asing yang menyapanya dalam tidur. Dan saat membuka mata, tahu-tahu wanita itu ada di dekatnya berbaring. Siapa dirinya? Soe menunjukkan raut muka penuh tanya.

Dengan senyum termanis, wanita itu lagi berucap, "sudah pukul sebelas, mendingan bapak siap-siap sekarang."

Pernahkah kalian mendapati yang sebuah mimpi itu kian nyata?. Itulah yang terjadi pada Soe. Sepuluh lewat tadi ia tengah baca buku, eh tahu-tahunya terlelap tidur. Namun ketika terjaga, seorang wanita justru berada di kamarnya. Tengah menyetrika baju pula...

Baju???

Itukan baju koko yang sering dipakai oleh Soe!

Pasti ini, ini pastinya mimpi. Soe belum pernah melihat wanita tersebut atau barangkali pernah melihatnya, tapi dimana.

"Kenapa bengong begitu," kata si wanita seraya menghentikan gosokkan setrika. "Ntar telat. Kan lebih awal lebih baik. Itu sunnahnya kan pak...."

Soe bangkit, masih dengan muka bingung. Ia berjalan agak menjauh dari wanita tadi. Seolah dia adalah seseorang yang tiba-tiba masuk ke rumahnya tanpa ijin.

Dan saat keluar kamar, Soe tercengang.

"Aval sudah siap, bapak. Kita mau shalat Jum'at di Masjid Raya hari ini, kan?"

Bocah ini.....siapa lagi. Memanggil bapak segala padaku, pikir Soe. Tanpa babibu, si bocah tadi berlalu. Sementara itu Soe masih mematung. Pasti, ini, pasti mimpi. Atau barangkali, entah bagaimana caranya, Soe terlempar kemasa depan.

Ketika sepasang mata Soe memandang bingkai foto di dinding itulah, dunia tiba-tiba berputar. Wanita di kamar, bocah itu, dan Soe sendiri ada disana.

Soe terjaga....
Betulkan cuma mimpi. He..he..he...
Alarm berbunyi nyaring sekali. Menandakan jam sebelas siang.
.............
Selesai?? belum lagi. Soalnya, wanita itu muncul lagi tak lama kemudian.


.............
Sudah pukul sebelas rupanya. Soe bangkit dan tenggorokannya tiba-tiba gatal. Entah mengapa pula, tubuhnya terasa letih sekali, kian renta. Apakah efek samping dari mimpi barusan? Boleh jadi....

Belum sempat melangkah keluar kamar, seorang lelaki muncul dari balik dinding.
"Eh, bapak sudah bangun. Ayo anak-anak sini, salim dengan kakek dulu."
Ia senyum dan memalingkan muka ke arah dapur.

Lelaki itu, begitu akrab wajahnya. Mirip....Aval?! Ah, tidak mungkin. TIDAK MUNGKIN ITU!

"Bapak mandi saja dulu. Mobil sudah siap. Kita kan mau shalat Jum'at di Masjid Raya hari ini."

Soe tercengang!

Terdengar hentakan kaki berlomba-lomba yang semakin lama semakin dekat.

Terrreeeenggg!!!

Dua bocah perempuan kembar menjelma. Berkerudung pink, berbaju muslimah sembari tertawa menunjukkan gigi susunya

Soe makin tercengang! Keringat dingin mulai keluar.

Tak banyak bicara, dua bocah tadi langsung meraih tangan Soe, yang bagaimana berwujud keriput. Dalam hitungan detik, jidat mereka menyentuh punggung tangannya.

Berlari lagi, dan lelaki itu masih berdiri dihadapan Soe.

"Bapak, kenapa?"

Soe teringat mimpinya barusan. Cepat-cepat ia melihat bingkai foto yang lekat di dinding. Tak ayal lagi, dunia bukan hanya berputar, malah terbalik-balik sepertinya. Soe disana, berwajah tua dengan uban menutupi kepalanya. Wanita yang menyetrika dalam mimpinya pun serupa. Keriput wajahnya, tapi tetap cantik. Mereka, di dampingi oleh banyak orang. Enam laki-laki, termasuk sosok yang berdiri dihadapannya, enam perempuan, gadis dan pemuda remaja, beserta bocah yang entah berapa jumlahnya. Oh, itu ......

"Pak, itukan foto lebaran tahun lalu."

Wanita tua yang ada di foto, bergabung bersama Soe dan lelaki tadi. Menyentak lamunannya...

Sekaligus menyentak kesadarannya. Alarm nyaring berbunyi lagi. Sebelas lima belas. Saatnya benar-benar bangun, siap-siap shalat Jum'at.

Selamat hari Jum'at

Selesai (mmmm....seharusnya Jum'at lalu nulis ini, kan?)
 
;